
Karin melihat jam yang melingkar di Tangannya..."Ya ini agak terlambat pasti Ibu sudah menunggu." Pikir Karin dalam hatinya.
Dia bergegas masuk ke dalam mobilnya menuju ke rumah.
Karin melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dia tak mau Ibunya menunggu terlalu lama dirinya.
"Alhamdulillah..." Ucap Karin setelah sampai du depan rumahnya.
Dia bergegas masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum...Bu...Bu...suara Karin sangat nyaring.
Ibu yang merasa lama menunggu ternyata ketiduran di sofa.
Karin memandangi Ibunya yang tidur di sofa.Langkahnya mendekati ke arah sofa.
Karin duduk di samping Ibunya dia tidak berani membangunkan wanita paruh baya itu yang telah banyak berjasa dalam hidupnya.
Lama Karin menatap Ibunya tak lama Ibu nya terusik dan membuka matanya.
"Karin..." Guman Ibu karena melihat anaknya ada di hadapannya.
"Sudah lama 'nak?"
"Ga ko Bu, Karin baru datang." Ucap Karin bohong.
"Maaf ya Bu Karin meeting dulu tadi, jadi telat banget pulangnya." Ucap Karin penuh penyesalan.
"Ga apa apa sayang, Ibu yang harusnya minta maaf karena terus mengganggu kamu."
"Ko gitu 'sih Bu ngomongnya , Karin ga suka, buat Karin Ibu dan Ayah segalanya." Karin sudah berkaca kaca.
"Ia ...ia anak Ibu yang cantik, jangan melow gitu dong.Ibu doakan kebahagian hidup dunia akhirat menyertaimu 'nak." Ucap Ibu sambil mengecup kepala Karin.
Dia sangat tahu Karin anaknya sangat sibuk, tapi jika dia tidak bicara tentang mau kontrol atau pun apa pun, pasti Karin akan sangat sedih.
"Ibu jangan pernah lagi bilang kaya gitu ya Bu, janji ! hidup Karin buat berbakti sama Ibu.Semua yang Karin punya ga ada artinya jika tidak bisa membuat Ibu bahagia." Karin 'pun memeluk Ibunya.
"Ih malah baper 'sih ini udah jam berapa ?" Ibu mengalihkan perhatian Karin.
Karin melihat jam yang menempel di dinding.
"Bu udah hampir magrib apa kita batalin aja ? kalau besok gimana?" Tanya Karin.
"Ga apa apa Rin, lebih baik sekarang aja siapa tahu masih keburu kita sholat magrib nya di sana aja." Ajak Ibu tanpa ragu.
Karin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Dia menggandeng Ibunya dan membuka kan pintu mobil buat sang Ibu.
Ibu yang melihat kelakuan Karin tersenyum hangat.
Rasanya dia sangat beruntung memiliki putri se solehah Karin.
__ADS_1
"Bu, dimana alamatnya sih?"
"Kata teman Ibu di Jl seledri no 24."
"Ok..."
Tiba di tempat tujuan Karin memasuki ke sebuah klinik yang terlihat sangat mewah dan megah.
Terlihat pasien pasien sudah banyak yang antri.
Karin berbisik pada sang Ibu.
"Bu sebanyak ini apa Ibu mau nunggu?" Karin meneliti antrian yang panjang.
"Ia Rin tanggung, lagian kata teman teman Ibu Dokter hebatnya datangnya hari ini saja besok besok dia pegang Rumah Sakit yang di luar kota, dan katanya dia pemilik Rumah Sakit ternama yang ada di kota B dan katanya lagi dia masih muda dan tampan."Ibu berbisik pada Karin.
"Ish...Ibu sejak kapan jadi suka bergosip." Karin mencibirkan bibirnya.Sedikit lucu dengan tingkah Ibunya yang sangat antusias mau kontrol ke Dokter itu.
"Hehe...ga apa apa 'kan Rin lama antri?"
"Ia buat Ibu apa 'sih yang engga?"Jawab Karin.
Karena pasien sangat membludak terpaksa antrian di stop dulu.
Petugas terlihat kewalahan dengan banyaknya pasien.
Petugas berlari menuju ke ruangan Dokter.
Setelah dari ruangan Dokter petugas itu keluar.
"Maaf buat para pasien Dokter Rafa , barusan Dokter Rafa memberikan saya instruksi antrian untuk sore ini saya tutup sampai antrian nomor 120 dan sisanya insyaallah Dokter Rafa sebelum kembali ke kota B akan praktek dulu tapi jadwalnya di ubah jadi pagi jam 04.00.Hal ini di karenakan Pak Dokter ada tugas di kota B untuk hari besok.
Karin melihat nomor antrian yang ada di tangannya.
"Alhamdulillah Bu kita kebagian terakhir."Karin menunjukan nomor 120.
Ibu senyum melihat Karin."Ga apa apa 'kan menunggu?"sekali lagi Ibu bertanya pada Karin.
"Ia Ibu, tapi kita lebih baik sholat magrib dulu deh sampai sholat Isya soalnya ini baru antrian 50 Bu .Baru setengahnya juga belum."
"Kita makan malam dulu nanti Ibu masuk angin lagi." Karin menatap Ibunya cemas.
Setelah Ibu menyetujui ide Karin mereka menuju mesjid yang di sediakan di mushola itu .Setelah solat magrib mereka menyempatkan diri dulu untuk mengganjal perut di kantin Klinik.
"Bu mau makan apa ?"Tanya Karin sambil meneliti menu yang tersedia.
"Rin boleh ga Ibu minta kwetiau goreng kayanya enak banget." Ibu mencium wangi kwetiau yang harum.
"Ah Ibu, maunya yang kaya gitu," Keluh Karin tetapi dia ga tega juga kalau melarang.
Setelah pesanan datang Ibu memakannya dengan lahap."
Karin nyengir melihat Ibunya yang menikmati makanya.
__ADS_1
"Abis ini jangan lupa obatnya." Peringatan dari Karin membuat Ibu sedikit merenggut.
"Tahu ko Rin ga usah di ingetin , Ibu lagi nikmat nih." Keluh manja Ibu.
"Iya deh maaf." Karin mengelus tangan Ibunya yang sekarang Karin lebih merasa Ibunya agak kekanak-kanakan.
"Ayo Bu kita ke mesjid lagi." Ajak Karin.
"Rin kayanya ke klinik dulu deh takut ketinggalan .Lagian waktu isya lama 'kan Rin."
"Ibu sholat Isya juga bentar ko." Karin menuntun Ibunya menuju mesjid.
Ibu hanya pasrah saja.
Setelah sholat Isya mereka bergegas menuju ke klinik.
Di klinik ternyata sudah kosong.
"Pak pada kemana orang orang?" Tanya Karin pada petugas.
"Udah selesai neng." Jawab petugas santai.
"Ko udah selesai sih pak aku kan antrian ke 120." Karin menunjukan nomor antriannya.
"Ih ci Neng, dari tadi di panggil panggil , Pak Dokter nunggu sampai sepuluh menit neng." Tutur petugas.
"Besok saja Neng pagi Dokter masih ada ko."Tutur petugas sangat ramah.
"Terus sekarang Dokternya kemana?"
Petugas celingukan perasaan saya dia baru pergi deh neng ke sana.Petugas menunjukan arah Dokter Rafa baru pergi.
"Bentar ya Bu." Setelah itu Karin berlari mencari Dokter itu.
Dengan berlari kencang napas Karin terengah-engah.Tapi setelah orang yang di cari nya terlihat berjalan di depannya hati Karin merasa lega.
"Mungkin itu yang namanya Dokter Rafa." Karin menatap punggung seorang pria yang memakai jas dokter dan sedang berjalan di depannya.
"Dokter Rafa tunggu !" Karin berteriak sangat keras.
Orang yang merasa namanya di panggil menghentikan langkahnya.
"Dokter Rafa tunggu !" Karin menyeru sekali lagi dengan melangkah agak cepat mendekati sosok Dokter yang sangat terkenal itu.
Rafa membalikan badannya ingin melihat orang yang menyeru nya barusan.
Rafa membalikkan badannya dan Karin yang melangkah cepat sehingga badan Karin tanpa sengaja membentur badan Rafa.
"Bukkk..." Mereka beradu.
"Aww..." Keluh kedua orang itu.
"Deg..."Mata keduanya membulat sempurna.
__ADS_1