Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Keputusan Raina.


__ADS_3

Ayahnya Raina menarik napas dalam dan menghempasnya.


Rasanya kenyataan yang di sampaikan oleh Dokter Rafa seperti sebuah pisau yang sangat tajam.


Sejenak Ayahnya Raina termenung mengingat ingat tentang sosok istrinya. Tak bisa dipungkiri oleh dirinya istrinya itu semasa hidup seperti sosok yang paling sempurna dia mengetahui segala hal yang oleh dirinyapun tidak ketahui. Dulu dia sempat berpikir darimana kepintaran yang dimiliki oleh istrinya itu sementara dia terlahir dari keluarga yang betul betul sederhana.


Sekarang dia baru mengerti dari mana kepintaran yang dimiliki oleh istrinya itu.


"Raina ....bagaimana aku harus menjelaskannya pada dia? dan apa bisa aku berpisah dari putri semata wayang ku?" Angan Ayahnya Raina melayang jauh.


Setetes air mata jatuh di pipinya bagai sibuah simalakama untuk dirinya kini ayahnya Raina sungguh merasa dilema.


"Dok...saya minta waktu untuk merenung sebentar...apa boleh?"


"Silahkan pak....pikirkan apa yang terbaik untuk kedepannya." Rafa tersenyum pada Ayahnya Raina.


"Permisi Dok... assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah keluar dari ruangannya Rafa, ayahnya Raina bergegas menemui Raina.


Begitu masuk ke ruangan Raina ayahnya Raina langsung berhambur memeluk putrinya itu.


Raina terdiam, tidak seperti biasanya ayahnya memeluk dirinya seperti itu. Raina sejenak membiarkan sang ayah memeluk dirinya sambil menumpahkan air matanya, meski dia sendiri tak tahu apa penyebabnya.


Kemudian dengan memberanikan dirinya, Raina menatap manik mata lelaki paruh baya yang selama ini telah membesarkan dirinya.


"Maaf ayah, ayah kenapa ? apa Raina bikin kesalahan ?"Tanya Raina sendu.


"Tidak sayangku...putri ayah ga pernah melakukan kesalahan hanya saja ayah merasa takut Raina!"


"Ayah takut ? takut apa ?apa ada yang menyakiti ayah ? apa Dokter Rafa menyakiti ayah?" Raina begitu penasaran karena mengingat ayahnya bersikap seperti itu sehabis menemui Dokter Rafa.


"Tidak Raina, Dokter Rafa hanya dewa penyelamat yang dikirimkan kepada kita. Cuma ayah takut kamu akan meninggalkan ayah setelah tahu jati diri kamu yang sebenarnya." Jelas sang ayah sambil menatap Raina dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah...jati diri? maksud ayah apa ?" Raina makin tidak paham akan ucapan ayahnya.


"Sayangku putri ayah, tadi Dokter Rafa memberi tahu ayah akan sesuatu yang penting. Tetapi sebelum ayah katakan padamu segalanya berjanjilah sama ayah kamu akan bijak dalam menghadapi kenyataan ini" Pinta sang Ayah.


"Apa itu ayah..? jangan buat Raina merasa penasaran!"


"Berjanjilah nak...kamu akan menjadi orang yang bijak dalam segala hal." Sang ayah kembali meminta pada putrinya itu.

__ADS_1


"Insyaallah ayah...semua yang ayah ajarkan pada Raina ga akan Raina lupakan. Cepat lah Yah... katakanlah apa?" Desak Raina merasa begitu penasaran.


Sang ayah menarik napas dalam dan menghembusnya pelan. Rasanya begitu berat harus menceritakan semua ini tetapi ini adalah kenyataan yang Raina juga berhak mengetahuinya.


"Tadi Dokter Rafa memberi tahu ayah tentang_____" akhirnya dengan suara terbata bata sang ayah memberi tahu Raina apa saja yang dibicarakan oleh dirinya dengan Dokter Rafa tanpa ditutup tutupi.


Raina mendengar ucapan sang ayah dengan begitu perhatian. Setiap kata yang keluar dari mulut sang ayah selalu membuat dirinya merasa kaget.


Raina terdiam setelah sang ayah selesai menceritakan semuanya. Begitu pun ayahnya Raina terdiam dia menatap ekpresi wajah anaknya itu.


Cukup lama mereka saling diam sehingga pada akhirnya sang ayah memberanikan diri bicara.


"Raina, apa kamu akan meninggalkan ayahmu ini?" Pertanyaan yang sangat ditakuti olehnya akhirnya lolos juga.


Raina melirik ke arah ayahnya lalu berjalan dan langsung memeluk sang ayah dengan tangisan yang pecah begitu saja.


"Kenapa ayah berkata seperti itu? apa Raina mu ini begitu sangat buruk hingga ayah sendiri berpikiran aku akan meninggalkan ayah." Ucap Raina dalam tangisnya.


"Tidak sayangku...Raina ayah adalah orang yang paling baik di dunia ini. Tetapi ayahmu ini hanya orang biasa sementara keluarga ibumu nak, kakek mu adalah orang besar." Jelas sang ayah dengan mata berkaca kaca.


"Sebesar apa mereka ayah, ayahlah yang selalu ada buat Raina sampai Raina sebesar ini. Jangankan harta nyawa Raina sekalipun kalau ayah yang memintanya akan Raina berikan. Asal ayah bisa bahagia." Tutur Raina penuh keyakinan.


"Subhanallah...putri ayah. Terima kasih sayang." Ucap sang ayah sambil mengeratkan pelukannya pada putrinya itu.


"Ayah..." Ucap Raina begitu sang ayah mengendorkan pelukannya.


"Ia Raina, apa?"


"Apa ayah mengizinkan Raina untuk bertemu kakek?" Tanya Raina sedikit ragu.


Sejenak sang ayah terdiam."Ia sayang...ayah mengijinkan nya." Jawabnya sendu.


"Terima kasih ayah...Raina hanya ga mau ambil resiko yah." Tutur Raina.


"Maksud kamu apa nak?"


"Mereka yang menginginkan nyawa Raina pasti juga membahayakan ayah, sementara mereka penuh dengan kekuasaan. Kalau kita diam saja bukan ga mungkin kita berdua dalam bahaya besar. Karena kita tidak tahu yah...apa pergerakan mereka selanjutnya." Jelas Raina yang membuat ayahnya Raina menggangukan kepalanya tanda mengerti akan ucapannya putrinya itu.


"Ia sayang, ayah mengerti maksud ucapan kamu."


"Kalau begitu ayo ayah kita ke ruangan Dokter Rafa.Kita minta tolong untuk mengantarkan kita ketempat kakek." Ajak Raina.


Setelah menganggukkan kepalanya sang ayah dan Raina pergi keruangan Dokter Rafa.

__ADS_1


Sementara di ruangan Dok Rafa. Rafa tengah asyik Vidio call sama Karin. Rasanya tidak ada waktu senggang yang terbuang kalau tidak menelepon Karin.


"Sayang ayo dong...kan di sana ga ada siapa siapa kaya tadi , di ruangan itu cuma ada kamu saja."


"Raf...ga ...sekali tidak tetap tidak." Sikap Karin terlihat manja meskipun menolak.


"Ya sudah kalau tetap ga mau aku samperin sana saja. Bodoh amat dengan tugas tugas aku. Aku ga bisa ngapa ngapain kalau kamu belum ngasih vitamin."


"Rafa...!" Teriak manja Karin.


"Makanya ayo..." Rajuk Rafa ga mau kalah.


"Muach..."


"Kurang, kurang manyun."


"Astagfirullah...Rafa." Teriak Karin.


"Makanya yang ikhlas...suaminya Lo yang minta." Ucap Rafa sambil tertawa.


Akhirnya Karin dengan senang hati memberikan ciuman jarak jauhnya dengan gaya sensualnya. Membuat Rafa tersenyum bahagia.


"Terima kasih sayang... astagfirullah lihat kamu seperti itu aku jadi pingin cepat pulang." Ucap Rafa sambil terkekeh.


"Ia dong...cepat pulang cepat beresin semua masalah nya." Rengek Karin manja.


"Kamu kangen aku juga?"


"Nanya lagi...ya kangen lah ..." Ucap Karin sambil menekuk wajahnya.


"Sabar ya ..setelah aku antar Raina dan ayahnya aku segera pulang."


"Ok...."


"Ya sudah Raf aku mau menandatangani berkas dulu banyak banget nih."


"Ok...makasih buat ciuman jarak jauhnya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..."


Rafa menatap layar ponsel yang sudah tak terhubung lagi. Senyumannya mengembang sempurna tak kala melihat layar depan ponselnya terdapat wajah Karin.


Sementara tanpa Rafa sadari ayahnya Raina dan Raina dari tadi sudah berada di depan pintu ruangan kerjanya. Raina jelas mendengar percakapan Dokter Rafa dengan istrinya itu.

__ADS_1


Ada rasa kecewa dan sakit dalam hati Raina mendengar percakapan kedua insan itu.


__ADS_2