
Rafa hanya tersenyum di balik helmnya ada rasa yang tak di bisa di ucapkan dengan kata kalau bersama dengan Karin.
"Awas ya kamu Raf, kalau sampai berani membuat aku galau."
"Sudah 'lah jangan terus cemberut nanti aku makin gemes," ucap Rafa.
Karin terdiam mendadak hati menjadi was was sendiri.
"Rin, ko malah diseriusin 'sih perkataan aku? aku 'kan cuma bercanda!" Rafa yang peka dengan perubahan sikap Karin, merasa ga enak hati.
"Raf entahlah mengapa sekarang aku merasa takut banget kalau ngebayangin pisah dari kamu." Ucapan Karin terdengar menjadi melow.
"Ih kamu Rin, ko jadi mikir yang aneh aneh 'sih? aku 'kan hanya bercanda."
"Aku tahu ko, tapi entahlah ...." Karin mendadak bersandar ke bahu Rafa.
Rafa kaget mendapatkan kepala Karin bersandar ke punggungnya.
"Rin, istighfar!" Ucapan Rafa membuat Karin langsung menarik kepalanya.
"Maaf !"Karin merasa malu sendiri.
"Ga apa apa Rin." Rafa tersenyum dibalik helmnya.
"Ga usah di bawa perasaan Rin, kita berbuat yang terbaik saja !" Rafa memotivasi Karin.
"Ia Raf, " lirih Karin.
Tiba di halaman rumah Karin , Rafa langsung minta ijin untuk langsung pergi. Setelah pamit Rafa membelokan motornya hendak pergi tapi telepon Karin berbunyi, sontak Rafa berhenti.
"Siapa yang menelepon Rin?"Rafa mendadak ga enak hati.
Karin melihat ke benda pipih itu.
"Bundanya Adit Raf," ucap Karin sambil memperlihatkan ponselnya ke Rafa.
"Oh, coba kamu angkat tapi sambil di louspicer, boleh?" Pinta Rafa ke Karin.
Karin menggangukan kepalanya tanda setuju.
"Assalamualaikum Bun,ada apa menelepon Karin?"Karin tanpa basa basi lagi menanyakan maksud Bundanya Adit menelepon dirinya.
"Wa'alaikumsalam 'nak Karin maaf ya kalau Bunda ganggu waktunya 'nak Karin, Bunda hanya mau memberi tahu kalau jadwal Adit buat konsul besok jam empat sore.Kira kira 'nak Karin bisa ga?" Tanya Bundanya Adit di sebrang telepon sana.
"Insyaallah Bun, kalau Karin sendiri bisa soalnya besok kebetulan ga ada pemantapan.Tapi maaf Karin harus ijin dulu sama Ibu.Nanti bisa atau enggak nya Karin kabarin ya,"ucap Karin menjawab pertanyaan Bundanya Adit.
"Ia 'nak Karin , baik kalau begitu karena cuma itu ko maksud Bunda menelepon, sebelumnya makasih banyak."
"Sama sama Bun."
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
Karin menutup teleponnya dan melihat ke arah Rafa.
"Menurutmu gimana 'nih, boleh ga besok aku pergi ?" Tanya Karin ke Rafa.
Rafa menarik napas kasar , jika saja Karin belum mengatakan kesanggupannya untuk membantu Bundanya Adit kemarin tentu jawaban Rafa sekarang adalah tidak.Tapi Karin sudah terlanjur menyatakan kesiapannya kemarin untuk membantu Bundanya Adit , jadi kini Rafa merasa dilema.
"Terserah kamu Rin, cuma aku minta kamu hati hati yah!" Pinta Rafa penuh penekanan.
Karin merasakan betul ucapan Rafa barusan penuh dengan kekhawatiran yang sangat.
"Ia Raf pasti aku akan hati hati, kamu jangan terlalu menghawatirkan aku yah." Pinta Karin pada Rafa.
Rafa tersenyum kecut.
"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu!Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam.Hati hati di jalan yah!" Karin melambaikan tangannya pada Rafa.
Setelah Rafa menghilang dari pandangan. Karin segera masuk ke dalam rumahnya.
Segera Karin membersihkan dirinya.Setelah suasana santai Karin baru meminta ijin ke Ibu.
Ibu menatap Karin lekat, terdapat gurat keyakinan di dalam manik mata itu.
"Ya sudah Ibu ijinkan tapi Karin harus hati hati !"
"Ia Bu."
Mendapatkan ijin dari Ibu dan Rafa adalah dukungan tersendiri buat diri Karin.
****
Keesokan harinya Karin yang sudah janjian sama Bundanya Adit untuk bertemu di rumah sakit.Kini sedang berjalan di koridor tersebut.
Karin mencari cari mereka tiba tiba pundaknya di tepuk seseorang dari belakang.
Karin menoleh ke belakang dan ternyata Adit 'lah yang berdiri di sana.
"Hai..." Sapa Adit kepada Karin.
"Assalamualaikum...Adit."Ucap Karin sambil menormalkan rasa kagetnya.
"Wa'alaikumsalam Karin."
"Bunda mana ?" Karin melirik ke kanan kekiri mencari cari Bundanya Adit.
"Bunda lagi ke toilet dulu." Jawab Adit .
"Bolehkah kita duduk di sana sambil nunggu Bunda?"Adit menunjuk ke jajaran kursi deket sebuah ruangan.
__ADS_1
Tanpa menjawab Karin melangkahkan kakinya ke arah kursi yang di tunjukan Adit.Sementara Adit langsung mengekor Karin dari belakang.
"Terima kasih ya Rin, kamu masih perduli sama aku!" ucap Adit pada Karin.
"Ga usah bilang terima kasih sama aku Dit, seharusnya kamu berterima kasih pada Bunda, karena Bunda kamu itu yang selalu perduli sama kamu tanpa pamrih apapun." Karin terlihat menahan kesal.
"Hehe sama Bunda sering 'kan bilang terima kasih tapi kalau sama kamu 'kan belum." Adit menjawab Karin secara asal membuat Karin merasa pingin apa gitu.
Baru saja beberapa menit dengan Adit ,Karin sudah merasa jengah. Untung tak berapa lama Bundanya Adit sudah datang ketengah tengah mereka.
"Eh 'nak Karin , udah lama? maaf ya Bunda abis dari air dulu."Jelas Bundanya Adit.
"Ia Bun, kapan mau konsulnya?"Karin tidak banyak basa basi lagi.
Bundanya Adit melihat jam dipergelangan tangannya."Kayanya sepuluh menitan lagi."
Setelah menunggu kini nama Adit di panggil.
Mereka bertiga masuk ke ruangan itu.
Ruangan yang sangat nyaman sekali di modifikasi seperti tempat pribadi untuk bersantai.
Tak lama Sang Psikiater datang menghampiri, dia berbicara dari hati ke hati dengan Adit.
Sementara Bunda dan Karin di minta duduk di tempat yang agak jauhan, membuat keduanya tak mendengar apa yang sedang di bicarakan oleh Adit dan Psikiaternya.
Setelah lumayan lama Karin dan Bundanya Adit menunggu .Psikiaternya Adit datang menghampiri.
Sementara Adit ditempat lain sedang melakukan tes urine untuk mengetahui separah apa dan men tes akan kemungkinan ada kecanduan ke pada obat obatan.
"Gimana Dok keadaan anak saya?" Bundanya Adit terlihat sangat cemas.
"Tenang ya Bun," ucap Sang Psikiater.
"Sekarang anak Bunda, sedang melakukan serangkaian tes dulu, biar kalau sudah mendapatkan hasil makin memudahkan kita untuk menanganinya."
"Ia Dok, tapi bolehkah saya tahu penyebab kenapa anak saya bisa jadi begitu?"
"Anak saya dulu tidak begitu Dok, ya walaupun dia agak sedikit nakal tapi setidaknya dia masih suka mendengarkan kalau saya berbicara, tapi sekarang____." Bundanya Adit menjeda ucapnya,lalu menarik napas dalam.
"Dok, masih bisa 'kan anak saya kembali lagi seperti anak saya yang saya kenal?"
Dengan mata yang berkaca kaca Bundanya Adit terus berkata.
"Dokter Psikiater hanya mangut mangut mendengarkan keluhan sekaligus pertanyaan dari orang tua pasien'nya itu.
"Bunda tenang ya , ambil napas dalam lalu keluarkan ! Dokter Psikiater mengintruksi Bundanya Adit.
Bundanya Adit 'pun mengikuti saran dari Dokter Psikiater'nya Adit.
Setelah merasa sedikit lega, Bundanya Adit terlihat agak rileks sekarang.
__ADS_1
Dokter Psikiater melirik ke arah Karin.
"Anak cantik ini siapa Bun ?"