Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Kesederhanaan Karin


__ADS_3

"Maaf.... sebenarnya bukan ngagetin sih lebih tepatnya Ibu Karin ini yang wujudnya disini tapi hatinya ada di tempat lain sehingga tidak menyadari kalau dari tadi aku sudah berdiri disini." Jawab Sifa menggoda sahabatnya itu.


"Ah kamu Sif....makanya cepat nikah biar tahu rasanya merindu itu seperti apa." Jawab Karin tak kalah menggoda.


"Ya Allah....aamiin pertemukan jodoh hamba secepatnya.Kasihan hamba ini yang jomblo." Sifa mengangkat kedua tangannya.


"Aamiin." Jawab Karin sambil nyengir kuda.


"Sudah ah ....jadi ga makan siangnya?"


"Jadi dong..,kita nyobain cafe yang diujung jalan itu yuk...." Ajak Karin.


"Boleh ....aku lihat banyak terus pengunjungnya."


"Makanya aku juga penasaran pingin ke sana katanya di cafe itu ada menu andalannya yang bikin orang orang antri makan di sana."


Karin dan Sifa berjalan keluar menuju cafe yang berada di ujung jalan itu.


"Sifa kita minta antar sama OB saja pakai motor toh Deket juga kan." Ajak Karin pada Sifa.


"Boleh biar ga ribet juga." Jawab Sifa apa adanya.


Karin memanggil OB yang ada di dekat situ.


"Hay....sini dulu." Panggil Karin.


"Ia ada apa Bu ?" OB itu menunduk hormat.


"Kamu ke sini bawa motor?"


"Ia Bu..."


"Kalau gitu bisa anterin saya sa Bu Sifa ke cafe yang di ujung jalan sana?"


"Oh bisa banget Bu, paling saya bawa teman saya yang satu lagi buat nganter Bu Sifa." Jawab ramah OB pada Karin.


"Ia...cepat ya."


"Baik Bu." OB itu bergegas mencari temanya.


Tak butuh waktu lama mereka sudah membawa motor mereka kedepannya Karin dan Sifa.


"Mari Bu..."


Karin dan Sifa pun duduk di belakang.


Setelah sampai di cafe itu ternyata pengunjungnya membludak banget antrian sampai keluar.


"Sif antri banget ya....sampai keluar gitu ini ga salah?" Karin memperhatikan sekitarnya yang penuh dengan orang orang.


"Ia Rin....antri banget mungkin karena jam makan siang kali ya....bisa antri begini." Jawab Sifa ga kalah kaget melihat antrian yang banyak banget.


"Padahal aku pingin banget nyoba." Sesal Karin merasa kecewa.


"Gimana dong?"


"Ya sudah pulang lagi saja lagian ya masuk ke sana harus antri dulu kaya gitu mah keburu laparnya ilang."


"Ya....terus kita makan siang apa dong?"


"Makan apa ya...." Karin melihat lihat ke arah lain yang deket dengan cafe itu.


Netra ya melihat orang lagi membakar ayam.

__ADS_1


"Ke sana saja Sif....mau ga?"


"Ok...."


Karin dan Sifa memang ga suka pilih pilih tempat buat makan yang penting bersih buat mereka jadi.Kesederhanaan mereka sangat nyata.


"Ibu mau makan di sana?" Tanya OB itu ga percaya.


"Ia memangnya kenapa?" Tanya Karin.


"Itu kan cuma pedagang kecil apa Ibu ga merasa risih?"


"Kamu emangnya risih? apa pedagangnya jorok?" Tanya Karin penasaran.


"Oh...saya sering Bu beli di situ, itu ci emang langganan saya, rasanya enak banget, cuman kan ibu Big Bos ga takut sakit apa makan di situ?"


"Astagfirullah...kirain apa . Kamu kenal sama pedagangnya kalau gitu ayo."


OB itu tersenyum merasa senang melihat kesederhanaan bosnya.


"Mang nasi sama ayam bakarnya empat ya." Pesan Karin.


"Siap neng...Makan di sini neng?"


"Ia mang di sini saja."


Setelah menunggu sekitar delapan menit makanan sudah tersedia.


"Kalian pada mau kemana?" Tanya Karin yang melihat kedua OB yang mengantarnya pada melipir.


"Saya nunggu diluar saja Bu."


"Ini makanannya sudah ada, pada ga mau?"


"Tapi Bu maaf jadi ngerepotin..."OB itu terlihat kikuk.


"Ga usah Bu. Saya dipojok itu saja." OB itu merasa sungkan.


Karin melihat pojok itu cukup nyaman buat makan.


"Ya sudah dimana saja yang penting kamu nyaman."


"Terima kasih Bu."


Karin membuka ponselnya melakukan panggilan Vidio ke Rafa.


"Assalamualaikum...." Sapa Karin pada Rafa begitu terhubung.


"Wa'alaikumsalam...." Jawab Rafa dengan senyuman khas miliknya.


"Kamu lagi dimana Rin ?" Rafa merasa asing.


"Ini ...." Karin melihatkan sekitar dirinya.


"Ga jadi makan di cafenya sepertinya kamu berada di pedagang kaki lima?"


"Antri banget Raf...lain kali saja. Nyobain di sini seperti nya enak dari aromanya saja sudah wangi." Jawab Karin santai.


"Coba lihat makan siangnya sama apa?"


"Nih..." Karin memperlihatkan menu makan siang miliknya.


"Waw...ayam bakar ya...ko bisa sama sih. Nih aku juga pesan ayam bakar." Rafa memperlihatkan menu miliknya juga.

__ADS_1


"Subhanallah...sehati banget ya..." Karin tersenyum.


"Ia dong walau jauh makannya tetap sama ayam bakar. Sepertinya hati kita sudah janjian ya."


"Haha...kamu bisa saja Raf..."


"Ini bisa samaan..."


"Kebetulan saja..."


"Tapi kan___"


"Sudah sudah mari makan baca doa dulu..." Karin mengajak makan pasalnya kalau terus bicara pasti Rafa akan bicara kemana arah.


"Haha...ya sudah hpnya simpan di depan ya biar aku bisa lihat kamu makan." Pinta Rafa.


"Siap..." Karin menyimpan ponselnya.


Karin dan Sifa makan sambil saling bercanda rasanya beda banget makan disini.


"Rin...gimana enak...?" Rafa melihat piring Karin sudah mau abis.


Alhamdulillah enak...kapan kapan kamu nyobain makan di sini." Tawar Karin.


Si Mamang pedagang tersenyum mendengar ucapan Karin pada Rafa. Rasanya merasa tersanjung bos pemilik perusahaan mengatakan kalau makanannya enak.


"Ok....sama kamu tapi ya..." Jawab Rafa.


"Ok....kayanya kamu juga sudah mau habis tuh ."


"Ia Rin...makan sambil lihat kamu nikmatnya makin nambah."


"Astagfirullah...sudah nikah tapi bucin terus..." Sifa menyambar obrolan dari samping.


"Haha...harus itu mah wajib ....makanya cepetan nikah biar ada yang nge bucinin."


"Astagfirullah....nasib jomblo gini amat di ledek terus...." Sifa melow manja.


"Haha...haha..." Karin dan Rafa tertawa melihat tingkah Sifa.


"Kalian ya...puas banget ketawanya. Raf...mana ?ada ga teman buat aku? kalian kan ga mau terus aku menjomblo kenalin ke sama siapa?"


"Ia...ia aku cariin ya yang cocok buat kamu entar. Mau yang gimana ada rasa coklat ada rasa strawberry dan yang ori?"


"Aku yang ori dong...kan akunya juga ori." Sifa ga kalah menjawab.


"Yakin ori?"


"Astagfirullah...Rafa kamu ngeraguin aku !" Sifa berteriak kesal.


Sementara Karin dan Rafa makin enak tertawanya.


"Maaf...kirain ..." Jawab Karin tanpa dosa.


"Sumpah ya kalian sampai sampai meledek juga kompakan." Sifa geleng geleng kepala.


"Lihat Raf...tangung jawab nih sahabatnya aku marah nih."


"Sifa marah? ga ada istilah dia marah. Dia lagi merajuk pingin dicariin jodoh." Goda Rafa.


"Kalau Deket sudah aku pelintir kamu Raf ..." Sifa memainkan tangannya.


"Ih ...serem..."

__ADS_1


"Sudah...sudah bercandanya...aku balik kantor dulu ya....kamu hati hati pergi sama Raina nya."


"Ia sayangku....."


__ADS_2