
Mendengar Rafa di telepon berteriak Karin menjauhkan layar ponselnya.
"Ush...biasa saja Raf..."
"Karin...kamu ?"
"Apa Raf...?ini tempat umum lo Raf, semua orang bebas buat makan di sini."
"Kamu kenapa ga bilang kalau ada Rafa di situ."
"Hehe...ga guna Raf...lagian ga ngaruh juga."
"Kamu Rin...mana Sifa ?"
"Ke toilet Raf."
"Kemana tuh anak ya...lama banget ke toilet juga." Mendadak Rafa menjadi Uring uringan.
"Raf...ga usah cemas kaya gitu dong. Kamu yang tenang." Pinta Karin.
"Rin...gimana aku bisa tenang. Jelas sekali dia niatnya ngikutin kamu bukan makan siang."
"Kamu jangan suudzon dong. Baik sangka sayang." Karin melempar senyumannya.
"Rin...kalau boleh ganti tempat saja ga usah makan siang di situ. Cari tempat lain saja. Kita lihat apa dia masih ngikutin kamu atau ga. Kalau dia ada di tempat baru kamu berarti benar aku ga suudzon." Rafa benar benar membuat Karin kelimpungan.
"Ia sayang aku pindah tempat sekarang. Bentar ya aku tungguin Sifa dulu." Karin mengikuti keinginan Rafa agar Rafa bisa tenang sedikit.
"Mana tuh anak lama banget sih."
"Sabar Raf...bentar lagi."
Sifa datang melihat Karin yang lagi vidio call an sama Rafa.
"Assalamualaikum bestieku." Sapa Sifa dengan senyuman manisnya tiba tiba muncul di layar ponsel Rafa.
"Wa'alaikumsalam...kamu Sif...ke toilet saja lama amat sih. Cepat pergi ga usah makan siang di sana." Sifa mengerutkan keningnya. Merasa kaget dia baru saja datang kenapa langsung di semprot seperti itu.
Sifa melihat Karin. Karin mengerti arti pandangan sahabatnya itu.
"Nanti aku jelasin Sif...kita pergi saja dulu."
"Kalau gitu pesanan kita ?"
"Bayar saja biar sama pegawainya dimakan."
Sifa bergegas membayar pesanan yang tak jadi mereka makan. Setelah itu dia menghampiri Karin.
"Sudah selesai Rin..ayo."
Karin dan Sifa segera keluar menuju mobil.
Setelah di dalam mobil Karin melirik Sifa.
"Sifa maaf ya ...kamu pasti sudah lapar ya..." Sesak Karin merasa ga enak hati.
__ADS_1
"Ga apa apa sih, cuma aku heran saja ada apa ko tiba tiba kita pergi dari sana?" Sifa merasa penasaran.
"Tadi pas aku sama Rafa vidio call an, Rafa lihat Adit duduk dimeja belakang kita."
"Oh...ya...pantesan dia segitu parno nya.Tapi aku ko tidak lihat tadi ya."
"Sebenarnya tadi Adit sempat nyamperin aku Sif. Dia ingin duduk makan siang bareng sama kit tapi aku tolak. Kayanya kalau sampai Rafa tahu mungkin Rafa akan lebih positif dari ini."
"Sebenarnya menurut aku sih wajar Rafa seposesif itu kalau menyangkut Adit secara kan karena ulah Adit kalian dulu sempat berpisah."
"Tapi kan Sif orang ada berubahnya. Aku rasa Adit sudah berkeluarga. Tapi kamu ga usah khawatir aku akan jaga jarak aman ko."
"Ia...sebaiknya seperti itu Rin biar ga ada masalah lagi. Jujur melihat perjuangan kamu dan Rafa aku juga merasa was was dengan kehadiran Adit kembali. Apalagi kalian baru seumur jagung membina rumah tangga." Sifa mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
"Aku ngerti Sif...dan aku paham akan cemasnya kamu dan Rafa. Tapi sekarang kita sudah sama sama dewasa...lagian aku harus profesional kerja Sif."
"Kalau soal itu aku percaya sama sahabat ku ini. Tapi aku hanya mencoba mengingatkan saja agar kamu lebih hati hati."
"Ia...Sifa...terima kasih kamu memang sahabat terbaik aku dari dulu sampai sekarang." Karin memeluk sahabatnya itu.
"Yu ah...melow melow nya di tunda dulu. Perut aku keroncongan nih." Sifa nyengir kuda.
"Pasti kamu tadi pagi ga sarapan dulu. Kamu kebiasaan deh."
Karin dan Sifa baru saja sampai di cafe. Dering telepon dari Rafa kembali berbunyi.
"Lihat tuh suami kamu Rin sudah telepon lagi."
"Ia Sif...bentar ya aku angkat dulu.Kamu pesan saja makanan duluan."
Karin duduk di kursi lalu mengangkat telepon dari suaminya itu.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Aku baru saja duduk . Kamu pas banget teleponnya."
"Ada Adit ga ngikutin ?"
Karin melirik ke semua arah.
"Ga deh kayanya."
"Syukurlah...kalau masih saja dia ngikutin kamu aku pastikan akan menghentikan kerja sama kamu dengan perusahaan dia. Aku yang akan tangung semua resikonya."
"Ia Raf...sabar dong jangan seperti ini. Aku ga nyaman nih lihat kamu kaya gitu."
"Ia Rin...maaf ya jujur hari ini aku ga fokus segalanya karena kehadiran Adit. "
"Ga boleh gitu Raf..aku minta kamu jangan terus terusan berpikiran buruk. Cemas itu ga enak lo...banyakin istighfar...minta sama yang di atas biar hidup kita selamanya penuh keberkahan dan kebahagiaan." Karin mencoba menenangkan suaminya.
"Ia Rin...kamu benar aku terlalu cemas makanya seperti ini."
"Gitu dong. Fokus pasien pasien kamu juga kasihan kalau dokter kesayangan nya itu galau terus."
__ADS_1
"Ga ada hubungan sama mereka Rin, meski aku galau kalau soal pasien pasien aku, aku tetap fokus lo."
"Oh...ya.alhamdulillah kalau seperti itu. Berarti kamu bisa profesional kerja."
"Insyaallah Rin."
"Nah...seperti itu juga posisi aku sekarang, aku harap kamu bisa ngerti aku lagi profesional kerja."
"Ia Rin...ia .."
"Kamu sudah makan ?"
"Belum.."
"Ya sudah makan dulu Raf...kasihan perutnya kamu sayang...."
"Hmm...perhatian sekali. Gimana kalau mau makan sama kamu ?"
"Ya sudah susul saja kesini. Aku lagi di cafe bintang nih."
"Cafe bintang ? deket juga ya."
"Ia sini makan siang bareng."
"Ga apa apa kami nungguin sebentar."
"Ga apa apa ko kebetulan aku juga ga terlalu lapar."
"Aku OTW...sekarang ya."
"Ia..."Karin tersenyum.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Rafa mau kesini Rin ?" Sifa duduk sambil membawa makanan pesanan dirinya.
"Ia Sif...kamu kalau lapar makan saja duluan. Soalnya aku mau nungguin suamiku dulu."
"Hehe....aku lapar banget. Ga apa apa ya duluan."
"Ia ga apa apa? santai saja."
Tak selang berapa lama Rafa datang ke cafe. Bersamaan dengan Sifa yang baru selesai makan.
"Waw...Dokter Rafa datangnya pakai pas banget.." Ucap Sifa melempar senyuman nya.
"Pas ya..."
"Ia soalnya aku harus segera kembali ke kantor ada meeting lagi. Kalau nyonya nya ditinggal pasti aku kena semprot." Ucap Sifa sambil nyengir kuda.
"Oh...gitu ya...terima kasih ya bestie...sudah nemenin belahan jiwaku." Rafa melirik ke arah Karin yang hanya menyimak obrolan Rafa dan Sifa.
"Hehe...sama sama tapi kayanya ga gratis nih...boleh ya aku ditraktir."
__ADS_1
"Astagfirullah pasti ada saja maunya. Ok deh siap aku traktir."
"Hehe...terima kasih bestiku...sering sering ya ."