
Setelah berpakaian rapi.Karin menatap
Rafa.
"Sekarang sudah berganti pakaian di jaga ya jangan lagi lagi diam ya kalau ada orang berani peluk peluk kamu seenaknya seperti itu. Apa lagi ini bukan mahram kamu...dosa nya dobel sama nyakitin hati aku!". Tekan Karin dalam ucapannya.
"Ia sayangku...bidadari ku....maaf karena tadi aku terkejut jadi terdiam. Insya Allah kedepannya aku ga akan buat kamu kecewa lagi ."Sesal Rafa.
Karin tersenyum memeluk sang suami dengan mesra.
"Aku tahu kamu bisa jaga tubuh dan hati kamu buat aku."
"Terima kasih sayang."Raf memeluk balik Karin.
Sampai sebuah ketukan terdengar dari luar sana. Ketukan itu mengagetkan sepasang suami istri itu yang baru saja akur itu.
"Lihat Raf...siapa yang mengetuk pintu kerja kamu." Karin melepaskan pelukannya dari tubuh Rafa.
Rafa beranjak menuju keluar sementara Karin membereskan semua barang yang berantakan di ruang pribadi Rafa.Sedikit sentuhan membuat ruangan Rafa terlihat rapi.
"Maaf...Dok...saya mengganggu."Ternyata yang datang adalah Raina.
"Ia ada apa ?"Rafa tak berbasa basi.
"Dokter saya minta Dokter menjelaskan sama saya sebenarnya apa yang telah terjadi? Karena jujur saya lihat Dokter sepertinya mengetahui sesuatu." Tanya Raina penuh penasaran.
"Bersiaplah besok aku akan mengantarmu bersama ayahmu ke suatu tempat."
"Kemana Dok?"
"Besok kamu dan ayahmu akan mengetahuinya."
"Tapi Dok___"
"Keadaan kamu sekarang sudah membaik sebaiknya kamu pergi ke kamar kamu. Besok jam sembilan kita berangkat." Rafa terlihat sekali menjaga interaksinya kepada Raina.
"Baik Dok..." Raina keluar dari ruangan kerja Rafa.
Karin tersenyum melihat sikap Rafa pada Raina.
Merasa bahagia karena ternyata ucapan Rafa tidak main main.
Melihat Rafa yang berbalik dan menuju keruang pribadinya Karin segera masuk pura pura membereskan barang barang milik Rafa.
Rafa menatap punggung sang istri ada perasaan gemas melihat kelakuan sang istri.
Tak ingin membuat Karin malu karena dia mengetahui kalau dari tadi dia mengintip dirinya dengan Raina ngobrol Rafa pura pura tidak tahu.
Karin berbalik ke arah Rafa yang tersenyum di dekat pintu.
" Kenapa ga masuk?"
"Aku lagi memperhatikan istriku yang telah memberikan sentuhannya pada ruangan ku sehingga rapih begini ."Puji Rafa pada Karin.
"Kamu suka?"
"Itu sih jelas banget....sering sering ya kamu ke sini."
"Terima kasih Raf...kamu selalu membuat aku spesial."
"Karena kamu memang spesial."Jawab Rafa.
"Rafa..kamu si paling bisa bikin aku tersanjung."Karin mencubit mesra Rafa.
Rafa melempar senyuman manja pada Karin."
__ADS_1
Sementara Raina terlihat lagi uring uringan di kamarnya. Entah dia benar benar ga suka dengan keadaan yang tak memihak lagi padanya.
"Kamu kenapa nak?" Tanya Ayahnya Raina karena melihat anaknya dari tadi hanya mondar mandir tidak jelas.
"Ayah apa ayah tahu kalau Dokter Rafa sudah menikah?"
"Menikah ! Ayah sungguh baru mendengarnya."
"Ia ayah tadi dia mengenalkan seorang perempuan padaku dia bilang kalau dia istrinya." Raina menjelaskan penuh nada kecewa.
"Sabar ya sayang...lupakan perasaan kamu terhadap Dokter Rafa." Si ayah mendekat dan mengusap punggung Raina.
"Aku tahu Ayah...tapi entah kenapa aku masih tidak rela.Meskipun aku tahu aku sangat tak sepadan dengan Dokter Rafa tetapi aku begitu mengidolakan dia ayah."
"Tapi bukannya kamu tadi bilang Dokter Rafa sudah beristri. Kamu harus belajar melupakan perasaan kamu nak." Ucap sang ayah penuh dengan kasih sayang.
Raina terdiam mendengar ucapan sang ayah.
"Nak....kamu dengar ayah kan?"
"Ia ayah Raina dengar. Raina akan berusaha untuk mengubur perasaan ini."
"Nah...itu baru anak ayah. Ayah tahu putri ayah ini sangat pandai dalam bersikap."
"Ayah..."
"Ia ada apa Raina?"
"Tadi Dokter Rafa mengatakan akan mengajak kita pada suatu tempat besok, yah."
"Ada apa?"
"Raina juga ga tahu, karena Dokter Rafa tidak mengatakan apa pun juga tetapi dia meminta kita untuk bersiap besok." Jelas Raina.
"Kita ikuti saja kemauan Dokter Rafa nak."
"Sekarang kamu istirahat, jangan berpikir yang bisa membuat hati kamu galau galau lagi."Tekan sang ayah dalam ucapannya.
Raina menggangukan kepalanya.
Sementara di ruangan Rafa. Karin telah terkulai lemas Karin tak habis pikir Rafa kembali meminta haknya ditempat ini.
Karin tak bisa untuk menolak karena dia ga cukup kuat alasan.
Sementara Rafa merasa penuh energinya karena sudah full cas.
"Raf..."Lirih Karin manja.
"Kenapa?"
"Tubuh aku lemas banget."
"Mau aku pijat?" Tawar Rafa.
"Kamu mau?"
"Sini aku pijat." Rafa bangun melepaskan pelukannya pada tubuh Karin beralih memijit tubuh sang istri dengan telaten. Untuk ke sekian kalinya setelah mendapatkan pijatan dari Rafa Karin tertidur nyenyak.
Akhirnya Rafa yang melihat sang istri tertidur ikut menyusul tidur disampingnya.
Keesokan harinya.Nampak Karin telah bersiap siap untuk pergi ke perusahaan miliknya.
Sementara Rafa pun sama dia telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit miliknya.
"Raf...hari ini kamu jadi mempertemukan Raina sama kakeknya?"
__ADS_1
"Jadi Rin...kamu mau ikut?"
"Ga...aku ada pertemuan penting hari ini."
"Tapi kamu ga akan berpikir yang bukan bukan lagi kan?"
"Itu tergantung sikap kamu nya Raf. "
"Maksudnya ?"
"Jangan suka celah sekecil apa pun untuk orang berharap lebih sama kamu !" Karin berkata sambil mendelik pada Rafa.
"Susah sih ....kalau lihat laki laki tampan kaya aku, ga di kasih celah pun mereka antri." Rafa malah menggoda Karin.
"Ih ...pede abis."
"Haha...ia sayang aku cuma bercanda jangan diseriusin dong."
Karin tersenyum hangat berjalan dan mendekati Rafa.
"Sini biar aku rapihkan bajunya."Karin meneliti penampilannya Rafa.
"Istriku ini memang terbaik."
Setelah mereka siap mereka menuju meja makan untuk sarapan.
"Rin sekarang sarapan paginya menunya apa?"
"Lihat apa coba?"
Rafa meneliti.
"Wow....oatmeal dengan buah buahan."
Karin mengangguk.
"Aku tadi yang bikin sebelum mandi."
"Oh ya...sini aku coba ."
Karin memberikan sarapan untuk Rafa.
"Gimana?"
"Mantap!" Rafa mengacungkan dia jempolnya.
"Bohong...yang jujur kalau ngomong. Aku ga akan marah ko kalau kamu bilang ga enak juga."
"Ih ga percaya amat. Sini aku suapi biar kamu tahu aku ga bohong."
Rafa mengambil oatmeal miliknya dan menyuapi Karin.
Karin mengunyah makan itu dan dia tersenyum ternyata memang benar enak.
"Ia kan enak."
"Terima kasih."
"Aku makin betah kalau gini di rumah Rin. Kamu tuh pandai segalanya. Aku ga salah memilih kamu." Rafa memuji Karin.
"Ehmm...bener ya selalu betah di rumah jangan banyak main diluar."
"Ia lah...sekarang rumah seperti surga buatku di dalam nya ada bidadari yang segala bisa."
"Alhamdulillah...semoga aku selalu bisa membuat kamu selalu nyaman bersamaku Raf."
__ADS_1
"Aamiin."
Keduanya saling melempar senyum sembari sarapan bersama.