
Dokter bersama seorang perawat datang keruangan Rafa dia memeriksa keadaan Rafa dengan teliti.
"Bagaimana Dok keadaan anak saya ?" tanya Bundanya Rafa pada Dokter yang memeriksa.
"Bun sejauh ini perkembangannya bagus tapi akan lebih baik kita melakukan CT cant pada Rafa.Nanti saya beritahu jadwalnya."
"Baik Dok."Lirih Bunda.
Ketika Dokter telah berlalu Bunda mendekati Rafa.
Rafa tersenyum tipis pada Bundanya, melihat itu Bunda kembali meneteskan air matanya.
Rafa berniat ingin mengusap air mata Bundanya tapi kepalanya terasa pusing ketika terangkat.
"Awww...." Rafa meringis menahan sakit.
"Jangan dulu banyak bergerak..." ucap Bunda.
Bunda melirik ke arah Karin.
"Sini 'nak Karin ." Karin mendekat kearah ranjang Rafa.
Netra keduanya saling bertemu tapi Karin menangkap sorot mata Rafa yang berbeda sekarang.
Tiba tiba perawat datang menghampiri, dia meminta Bunda untuk menyelesaikan beberapa persyaratan sebelum Rafa melakukan CT cant.
"Nak Karin Bunda titip Rafa dulu sebentar boleh?"Karin menganggukkan kepala tanda dia setuju.Setelah itu Bunda berlalu.
Kini tinggallah Karin dan Rafa berdua.Karin mendekati Rafa dengan wajah yang sangat kwartir.
"Raf apa sebenarnya yang terjadi, siapa yang berbuat seperti ini sama kamu?" Karin meneliti wajah Rafa.
Rafa masih terdiam tidak menjawab Karin.
Melihat hal itu Karin mengira kalau Rafa masih marah padanya.
"Maafkan aku Raf, atas sikapku pada mu kemarin, aku sadar aku terlalu egois!"
Mendengar permintaan maaf Karin Rafa tidak bereaksi apa apa.
Karin yang dari tadi sudah berkaca-kaca karena menahan tangisnya kini tak bisa menahannya lagi.Karin tertunduk di ranjang Rafa menumpahkan rasa hatinya.
Rafa mendengar tangisan pilu Karin tangannya terangkat ingin mengelus kepala Karin tapi kembali dia tahan .Rafa kembali mengingat bisikannya Adit padanya.Tanpa terasa Rafa 'pun mengeluarkan cairan bening dari matanya.
Melihat Karin yang rapuh karenanya membuat hati Rafa makin merasakan sakit.
"Maafkan aku Rin maafkan, aku 'pun merasa rapuh sekarang sama seperti mu, asal kamu tahu aku terlalu mencintaimu mencintaimu!" Teriak hati Rafa.
Rafa menutup matanya mencoba menahan hati yang ingin sekali menenangkan Karin.
Karin mengangkat kepalanya melihat Rafa yang masih saja terlihat begitu datar.
__ADS_1
"Raf..." lirih Karin.
Rafa memalingkan mukanya, tak ingin ketahuan oleh Karin kalau dia 'pun merasa terpuruk.
Melihat Rafa terdiam Karin hanya bisa diam dengan hati yang merasakan sakit, entahlah diperlakukan seperti ini oleh Rafa kenapa begitu menyiksanya.
Dia menjauh dari Rafa yang seolah tak ingin melihat dirinya.Karin duduk di sofa membuka Al Qur'an dan membacanya tak ingin mencari perhatian tapi hanya ingin menenangkan hati yang terasa begitu kacau.
Rafa mencuri pandang ke arah Karin, tiba tiba Bunda masuk karena urusannya sudah beres, Bunda yang melihat Rafa dan Karin ga ada interaksi mengerutkan keningnya.Sepintas Bunda mengerti ada masalah di antara mereka.
"Bun ...." Rafa memangil Bunda.
"Ia Raf..."
"Rafa ingin istirahat dulu Bun, ga mau ada yang mengganggu."
Perkataan Rafa membuat Karin melirik ke arah Rafa, sumpah demi apa Karin ga menyangka kalau kata itu keluar dari mulut orang yang disayanginya.
Bunda terlihat bingung sendiri karena jujur Bunda ga enak hati kalau harus meminta Karin pulang.
Karin yang mengerti kegalauan Bunda, langsung meminta izin untuk pulang.
"Bun, Karin pulang dulu ya, insyaallah besok Karin kesini lagi."
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam..."
Sikap Rafa masih saja datar pada Karin, tapi Karin tidak terlalu ambil hati, di pikiran Karin mungkin Rafa masih merasa kesal padanya.Karin berusaha mengambil maaf Rafa dengan segala cara.
"Raf ...ini semua aku sudah catat ya disini, biar nanti kalau kamu sudah sembuh bisa baca baca!" ucap Karin.
"Emmm...."Cuma itu yang keluar dari mulut Rafa.
Karin tersenyum pada Rafa, kemudian melirik bubur yang dia bawanya terlihat masih panas.
Karin menuangkannya ke dalam mangkok,lalu Karin hendak menyuapi Rafa.
"Ga usah Rin, aku bisa sendiri." Ucap Rafa, tangannya menstop gerakan Karin yang mau menyuapinya.
"Raf bener kamu ga mau memakan bubur buatan ku sendiri? aku susah payah lo membuatnya, tadi abis pulang sekolah aku capek capek juga membikinnya." Jujur Karin.Dia sudah mode merenggut karena kerja kerasnya di abaikan.
Rafa menoleh ke arah mangkok yang dipegang Karin.
Karin tersenyum dan menyuapi Rafa.
"Aku sayang sama kamu Raf, kamu cepat sembuh ya,"ucap Karin penuh dengan cinta kasih.
"Rin, bagaimana caranya aku membuatmu membenciku sementara aku semakin sulit untuk menghindari mu sekalipun." Lirih hati Rafa.
Mata Rafa terpejam mendengar penuturan tulus Karin.
__ADS_1
Air mata Rafa menetes , Karin yang melihat Rafa meneteskan air mata langsung mendekatkan tubuhnya pada Rafa, dengan khawatir Karin mendekatkan wajahnya pada Rafa.
"Apa ...ada yang sakit?"
Rafa membuka matanya disuguhkan dengan muka Karin yang begitu dekat dengan mukanya.
Hembusan napas keduanya terasa saling menerpa di muka kedua insan itu.
Jarak beberapa detik saja bibir keduanya hampir menyatu.Tapi Tuhan masih menyelamatkan mereka dari hal yang tak seharusnya terjadi itu.
"Prang..." suara sendok yang di pegang Karin jatuh membuat dua insan itu tersadar.
"Astagfirullah.." Ucap keduanya, mereka memegangi bibirnya masing masing.
"Maaf..."ucap keduanya bersamaan.Mendadak suasana menjadi canggung.
Karin tertunduk malu , begitu 'pun Rafa menggerutu karena tak bisa menahan diri ketika melihat Karin sedekat itu dengannya.
"Apa aku bisa jauh darimu sekarang , apa aku akan mampu, sementara aku begitu mencintaimu, kenapa Rin aku harus dihadapkan sama pilihan seperti ini, rasanya aku ga mampu."Ucap Rafa dalam hatinya.
Lama Rafa menatap wajah ayu Karin.Rafa berusaha kembali memasang muka datar nya.
Dering telepon Karin berbunyi.Ternyata telepon dari Bundanya Adit.
Karin menatap Rafa, kemudian berkata, "Bundanya Adit menelepon ' nih!" Karin memperlihatkan layar benda pipih itu pada Rafa.
Rafa melihatnya dan hanya membuang napas kasar.
"Angkat saja...kamu anggap saja kalau aku ga ada di sini!" ucap Rafa.
"Ko kamu ngomongnya seperti itu 'sih Raf !" Karin merasa kecewa dengan ucapannya Rafa.
"Kamu harus terbiasa Rin, aku ga selamanya ada di samping kamu, kamu harus pandai pandai jaga diri sendiri."
Karin melirik Rafa, kenapa ucapan Rafa barusan seolah pesan untuk dirinya.
"Aku ga suka kamu bicara seperti itu !" Tegas Karin.
"Dan aku ga suka kamu yang lemah ! aku ga ingin kamu tergantung dan berharap sama siapa 'pun termasuk aku !" Rafa tak kalah tegas dari Karin.
"Raf...."
"Aku mau istirahat, lebih baik kamu pulang, hati hati di jalan ! assalamualaikum."
Rafa memejamkan matanya tanda ga ingin melihat Karin lagi.
"Wa'alaikumsalam....aku pulang Raf ."
Karin melangkahkan kakinya menuju keluar.Hati Karin bermonolog sendiri.
"Kenapa kamu berubah Rafa ? ada apa sebenarnya dengan mu ?"
__ADS_1