
"Bunda mau minta tolong apa ?"
"Adit selalu manggil nama kamu 'nak Karin."
Karin memalingkan mukanya sendiri mendengar ucapan bundanya Adit.
"Jangan sampai deh bunda minta aku buat balikan lagi sama Adit," monolog Karin dalam hatinya.
" Kadang bunda berpikir apakah mungkin Adit melakukan semua ini karena dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri ?"
"Maksud bunda apa?" Karin tidak mengerti.
"Maksud bunda mungkin Adit merasa kecewa karena kelakuan dirinya sendiri jadi penyebab kamu mutusin dia."
" Bunda dapat liat dia sangat kehilanganmu ,Karin !" Bunda mengungkap fakta yang selalu dilihatnya .
Karin tersenyum kecut.
" Semua kejadian ada hikmahnya Bun, mau itu buat Karin ataupun buat Adit."
"Semua kejadian melatih Karin dan Adit biar lebih dewasa Bun, " jawab Karin bijak.
"Tapi Adit beda dengan kamu Rin."
"Mungkin Adit butuh proses , sampai dia menemukan orang yang tepat Bun."
Mendengar jawaban dari Karin bundanya Adit terdiam agak lama.
Sebelum akhirnya bunda memberanikan diri lagi untuk bicara.
" Rin sebenarnya kemarin saat bunda konsultasi masalah Adit, seharusnya Adit 'pun harus ikut ."
"Tapi begitu sulitnya bunda ajak Adit ke sana."
"Kalau boleh bunda mau minta tolong ke Karin , buat membujuk Adit." Bunda meminta dengan penuh harap .Mata bundanya Adit terlihat berkaca kaca.
Karin yang awas dengan perasaan bundanya Adit menjadi galau sendiri.
Di satu sisi dia tak tega melihat seorang ibu yang mengharap ada kebaikan untuk anaknya.
Tapi di sisi lain kalau dia hadir secara tiba tiba ke kehidupan Adit lagi takut Adit akan timbul salah sangka akan kebaikannya.
Karin sudah menutup rapat hatinya untuk Adit.
Saking rapatnya sudah ga ada lagi nama Adit dalam harapannya.
Nama Adit telah berganti dengan nama Rafa sekarang.
Nama yang selalu Karin sebut dalam setiap doanya.
"Bagaimana kalau Rafa tahu dirinya memperhatikan mantan nya itu nanti Rafa bisa salah paham lagi."Pikiran Karin sekarang ga karuan terasa pilihan amat sulit.
Melihat Karin terdiam bundanya Adit menggenggam tangan Karin.
Kini Karin semakin dilanda ke galauan.
Tanpa keduanya sadari sepasang mata itu memperhatikan gerak gerik dan ucapan yang kedua perempuan itu bicarakan.
Ya sepasang mata itu adalah milik Rafa.
Begitu Rafa sampai di taman , Rafa melihat Karin sedang berinteraksi dengan wanita paruh baya yang tidak asing lagi di mata Rafa.
"Dia 'kan ibu yang kemarin ketemu di koridor rumah sakit kemarin, " ucap Rafa dalam hatinya.
__ADS_1
Karena merasa penasaran Rafa tidak langsung menghampiri Karin tapi Rafa mencuri dengar apa yang Karin dan wanita paruh baya itu bicarakan.
Rafa merasa kaget dengan penuturan ibu itu.
Dan lebih lagi kini Karin ada di dalam posisi yang tertekan.
Kini Rafa melangkah mendekati Karin dan bundanya Adit berada.
"Rin___" ucap Rafa ,
Karin melirik ke sumber suara yang ditelinga nya terasa ga asing lagi.
Kehadiran Rafa mengagetkan Karin dan bundanya Adit.
"Kamu Raf...ko ada disi?"
"Aku dapat telepon dari ibu suruh jemput kamu Rin ?" jawab Rafa sambil melihat ke bundanya Adit.
"Ibu aku? suruh kamu jemput aku?" Karin merasa heran sendiri.
"Kenapa ya padahal aku pergi tadi udah pamit ko?" Karin bertanya tanya sendiri.
"Ga tahu Rin , ibu ga jelasin apa apa ke aku ." Rafa mencari cari alasan.
Padahal maksud sebenarnya mengajak Karin menghindar dulu.
Rafa ingin menolong Karin agar tidak memberi jawaban dalam keadaan tertekan.
"Ayo Rin !" Rafa tak memberi kesempatan untuk berkata kata lagi.
Karin menatap ke bundanya Adit.
"Maaf Bun, Karin harus pergi dulu nanti Karin telepon bunda yah, " ucap Karin.
Tetapi mau gimana lagi Karin pun merasa ga ngerti harus menjawab apa sekarang.
"Ia Rin, ga apa apa pulang dulu aja takut ada sesuatu yang penting."
Rafa dan Karin salam sama bundanya Adit .
Kemudian Rafa menggenggam tangan Karin, membawa Karin cepat cepat pergi dari sana.
Pemandangan itu disaksikan oleh bundanya Adit.
"Sebenarnya anak laki laki itu siapanya Karin ya ?"tanya bundanya Adit dalam hatinya .
Setelah merasa aman Rafa menghentikan langkahnya tapi tangan Karin masih Rafa genggam erat.
Karin menatap Rafa.
"Kenapa berhenti Raf ?" Mata Karin penuh selidik menatap Rafa.
Sepertinya sekarang ada hal yang ingin Rafa sampaikan padanya.
"Siapa perempuan tadi Rin?"
" Dia bundanya Adit, mantan aku !" Karin menjawab Rafa jujur karena Karin pikir inilah saatnya Karin menjelaskan tentang permintaan bundanya Adit tadi.
"Tadi bundanya Adit minta aku untuk___"
Karin terdiam tidak melanjutkan omongannya, karena melihat Rafa yang tanpa ekspresi.
"Apa aku salah ya cerita langsung kaya gini, " pikir Karin dalam hatinya.
__ADS_1
"Untuk apa Rin kenapa ga dilanjut ?"
Karin memalingkan mukanya.
"Ini mah pasti akan salah paham lagi deh."
"Aku udah tahu Rin."
"Ga usah kamu jelasin lagi, tadi aku udah dengar semuanya."
Karin yang mendengar itu langsung menatap manik mata Rafa sangat dalam.
" Aku harap kamu ga salah paham Raf." Karin menatap sendu Rafa.
"Yang aku ingi dengar dari mulut kamu tapi kamu jujur dalam menjawabnya." Ucapan Rafa terdengar begitu tegas ditelinga Karin.
"Apa Raf?"
"Apa kamu masih cinta sama Adit ? apa kamu masih perduli sama Adit ?"
" Raf aku sudah ga cinta sama Adit, kalau kamu tanya aku masih perduli sama Adit jawabannya tidak , tapi aku___."
"Tapi aku apa ?"
"Tapi aku perduli dengan seorang ibu yang menyayangi anaknya, " jujur Karin.
"Aku melihat cemas nya bunda tadi Raf, aku ga tega liatnya."
"Kamu yakin dengan jawaban kamu Rin ?" Rafa menyakinkan Karin.
"Aku sangat yakin Raf."
"Kamu tahu di setiap doaku aku berharap cuma kamu yang akan menghiasi hariku, menjadi imam dalam hidupku ."
"Semoga Tuhanku Ridho akan hal itu." Ungkap Karin sejujur jujurnya
Jawaban Karin membuat Rafa tersenyum.
"Aamiin..Rin, berarti doa kita sama , aku pun selalu berharap dalam sujud ku kamu lah bidadari dunia dan akhiratku."
Keduanya saling melempar senyum. Senyum yang begitu menyimpan banyak arti dan harapan di dalamnya.
"Terus gimana sekarang keputusan kamu?"
"Aku bingung Raf, kira kira menurut kamu aku harus apa ?"
"Itu hak kamu untuk memilih Rin, putuskan selagi hatimu tenang."Jawaban Rafa terasa begitu bijak di hati Karin.
"Ia Raf, tapi apapun keputusan aku , aku mau kamu ga akan salah paham lagi sama aku " Pinta Karin pada Rafa.
"Aku tulus sayang sama kamu Raf."
Rafa makin mengeratkan genggamannya pada tangan Karin.
"Mulai sekarang aku janji Rin ,akan selalu percaya sama kamu!"
" Aku harap kamu ga akan pernah mengkhianati kepercayaan aku !"
"Insyaallah..Raf , kita sama sama saling percaya ya Raf ."
"Karena dasar dari sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan ."
"Komitmen kita lagi 'nih, " ucap Rafa.
__ADS_1
"Ia komitmen kita jadi nambah , haha.."