
"Ya aku setuju , deal ya kita seminggu pacaran." Karin terlihat begitu bahagia dan manja.
"Ia istriku, manja sekali 'sih istrinya Rafa." Rafa mencubit kedua pipi Karin gemas.
"Ih jangan di cubit dong." Keluh Karin manja.
"Abis kamu bikin gemas aku saja, jadi pingin gigit." Rafa berkedip nakal.
Tiba tiba pintu kamar Karin di ketuk dari luar.
Ternyata Kedua orang tuanya Rafa dan Karin yang mengetuk pintu.Segera setelah acara selesai mereka menuju kamar Karin karena mereka menghawatirkan keadaan Karin.
"Masuk" Jawab Rafa dari dalam kamar.
Setelah ada sahutan dari dalam akhirnya mereka semua masuk.
"Hai mantu Bunda gimana sekarang keadaanya?" Bunda menghambur mendekati Karin.
"Alhamdulilah Bun, Karin sudah agak baikan, tadi Rafa sudah ngasih Karin obat."
Syukurlah kalau begitu, tadi kami cemas banget sayang." Bunda mengelus kepala Karin.
"Maaf ya semuanya Karin malah membuat kacau suasana." Karin terlihat menyesal.
"Tak apa sayang, kami mengerti ko."
"Ya sudah berhubung acaranya sudah selesai kami permisi dulu mau pulang dulu." Pamit Ayahnya Rafa.
"Ya ko pulang 'sih disini saja Ayah sama Bunda juga Nenek istirahat nya, lagian disini juga banyak kamar kosong." Rengek Karin.
"Ya nanti nanti ya sayang, kalau sekarang banyak hal yang harus kami urus soal resepsi pernikahan kalian." Kata Bunda mengelus lengan menantunya itu.
"Maaf ya , semuanya Karin sama Rafa jadi bikin repot semuanya."
"Ih ko gitu sih ngomongnya, kami semua senang dan bersyukur bisa melakukan semua ini.Kalian ga usah mikirin apa apa sekarang kami yang handel semuanya, pokonya kalian tahu beres ya 'kan Yah." Lirik Bunda pada Ayah.
"Ia bener tuh ucapan Bunda, kalian ga usah mikirin soal resepsi pikirin saja cara agar cepat memberikan cucu pada kami." Ayah berkedip menggoda pada anak dan menantunya itu.
Mendengar itu wajah Karin menjadi bersemu merah.
"Ih Ayah ga jujur kaya gitu juga kali, lihat tuh istri Rafa sampai merah gitu mukanya." Jawab Rafa.
Semua yang ada di dalam sana tertawa bersama.
"Ya sudah kami pergi dulu ya..." Ucap semua yang ada di sana pada Karin dan Rafa.
"Ia..." Kompak Rafa dan Karin.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
__ADS_1
Setelah semua orang pergi tinggal 'lah Rafa dan Karin yang hanya berdua saja di dalam kamar.
"Raf...kenapa ga keluar 'sih?" Tanya Karin.
"Aku..." Rafa menunjuk dirinya sendiri.
"Ia..." Karin menganggukkan kepalanya.
"Harus keluar juga...?"
"Ia 'kan kita tadi sudah sepakat buat pacaran."Jawab Karin.
"Bisa ga pacarannya besok saja, hari ini entah kenapa badan aku ko merasa ga enak gitu, lagian ya ga baik juga pengantin baru tidur terpisah di hari pertama.Hari ini pengecualian ya..." Rayu Rafa pada Karin.
Karin meneliti Rafa.
"Kamu jangan modus ya..."
"Hehe...ayolah Rin hari ini saja, please." Rengek Rafa manja.
Melihat Rafa yang manja seperti itu Karin menjadi ga tega.
"Ya sudah pacarannya besok saja.Hari ini kamu boleh di sini.Tapi janji ga ngapa ngapain ya."
"Insyaallah, kalau ga tergoda." Jawab Rafa asal.
"Ih..." Karin mencubit Rafa.
"Ampun Raf...ampun ..."
"Bener ampun ..." Tanya Rafa.
"Ia...."Jawab Karin.
Akhirnya Rafa melepaskan Karin.Karin hendak bangun tetapi kakinya menyangkut sesuatu sehingga dia terjatuh menimpa tubuh Rafa.Seketika Karin kini berada di atas tubuh Rafa.
Rafa yang kaget melihat Karin yang menimpa tubuhnya tak berkedip begitu wajah Karin benar benar dekat dengan wajahnya.Karin menjadi gugup sendiri.Dia hendak bangkit tapi tangan ya di cekal oleh Rafa.
Rafa membalikkan posisi Karin ke sampingnya kini tubuh mereka berhadap hadapan.
"Rin, boleh...?" Rafa setengah berbisik mesra pada Karin.
Karin tanpa sadar menganggukkan kepalanya.
Kedua mata mereka terpejam merasakan sensasi yang benar benar pertama kalinya ketika bibir keduanya bersatu.
Ribuan kupu kupu seperti berterbangan.Aliran darah mereka seperti memanas.Karin terdiam kaku begitupun Rafa terdiam kaku.Ga ada pergerakan di sana kecuali bibir keduanya yang menempel .Tetapi meskipun tak ada pergerakan keduanya merasakan panas dingin menguasai tubuh mereka.
Setelah beberapa detik baru lah Karin melepaskan bibirnya dari bibir Rafa, Karin memegangi bibirnya sendiri, dan begitupun Rafa dia memegang bibirnya sendiri.Kini keduanya saling pandang seakan tak percaya akan apa yang telah terjadi barusan.
Mereka tertawa bersama dengan rona merah di pipi keduanya.
__ADS_1
Karin kembalikan posisi tubuhnya yang tadinya mirin menjadi terlentang di ikuti Rafa.Kini mereka sama sama melihat ke langit langit Kamar.
"Rin...gimana rasanya?" Tiba tiba Rafa bertanya seperti itu.
Di tanya seperti itu Karin hanya diam, dia ga bisa mengungkapkan kata apa yang harus terucap.
"Ini pengalaman kita yang pertama ya Rin, ternyata baru bersentuhan seperti ini saja indahnya minta ampun."
Ucap Rafa penuh kejujuran.
"Ia Raf...ini hal pertama buat kita, ternyata Tuhan menyuruh umatnya untuk menjaga dirinya sendiri adalah bentuk kasih sayang yang nyata untuk umatnya."
"Ia Rin, ga kebayang mereka yang melakukan ini sebelum pernikahan.Pastinya ingin dan ingin mengulang nya lagi, soalnya pasti ketagihan."
"Ia makanya Raf, Tuhan menyuruh umatnya untuk menjaga dirinya, memberikan petunjuknya agar umatnya tak terjerumus dalam dosa."
"Rin..." Rafa menatap Karin.
"Emmm..."
"Aku bahagia memiliki kamu, aku janji Rin akan berusaha menjadi imam kamu.Aku ingin bersama kamu di dunia dan akhiratku.Kamu adalah bidadari ku." Ucap Rafa sambil meneteskan air mata.
Karin yang mendengar dan melihat ketulusan Rafa 'pun mendekat dan memberanikan dirinya untuk memeluk Rafa.
"Raf..."Lirih Karin dengan mata berkaca kaca.
"Terima kasih karena sudah memilih aku menjadi bidadari mu, semoga kita di berikan kebahagiaan."
Rafa yang merasa senang mendapat pelukan dari Karin membalas pelukan Karin lalu dia mencium kening Karin.
Mereka berdua cukup lama dalam posisi seperti itu.Sampai Karin merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana.
Karin dengan polosnya melepas pelukannya dan melihat apa yang mengganjal dan ternyata dari arah celana Rafa.
Karin menjadi malu sendiri.
"Raf aku mau mandi dulu , badan aku terasa gerah." Karin mengalihkan perhatian dan topik pembicaraan.
"Mau aku temenin?"
"Ih..."
"Ga Rin aku canda, kan kita janji mau pacaran dulu."
Karin berlari kecil ke kamar mandi dan menutup kamar mandinya.
Dibalik pintu kamar mandi Karin tersenyum sambil bersandar ke dinding pintu.
Merasakan jantungnya yang berdebar sangat kencang."Ya Tuhan ini lebih indah dari apa pun."
Sementara hal yang sama dirasakan Rafa dia 'pun tersenyum melihat tingkah laku Karin.
__ADS_1