
Mendengar ucapan Ibunya Karin menundukkan kepalanya.
"Ibu. ...tahu watak dan kebiasaan kamu nak...jangan berlama lama galau seperti ini carilah kesejukan hati dengan bersimpuh di hadapan pencipta. Kalau kamu ga mau berbagi cerita sama Ibu tak apa. Besok pagi Ibu akan pulang Ibu harap semuanya akan baik baik saja." Seperti biasanya Ibu mengelus kepala Karin.
"Ia ...Bu...ga usah khawatir kan Karin. Insyaallah Karin akan baik baik saja." Karin mendongkrak wajahnya menatap Ibu.
"Ia...sayang." Ibu memeluk Karin dengan hangat.
Malam itu Ibu dan anak itu saling melupakan rindu. Rasanya sebagai seorang anak Karin sungguh merindukan belaian seperti ini dari Ibunya.
Tiba tiba sebuah ketukan pintu mengagetkan Karin dan Ibu.
Posisi pintu yang tak terkunci membuat sang pengetuk pintu mudah mendorongnya dengan mudah. Ternyata Bunda.
"Ya ...ampun besan di cariin dari tadi rupanya di sini toh." Ucap Bunda masuk begitu saja.
"Ko...ga ajak ajak sih. Kalian pada mau karokean ya...pada ada diruang musik segala."
"Ia besan ayo kita nyanyi lagu lawas." Ajak Ibu sambil tersenyum.
Sengaja Ibu mengalihkan perhatiannya Bunda.
"Ayo...." Bunda bersemangat.
Kedua orang itu saling duet sesekali melempar candaan. Sambil karaokean lagu lagu lawas.
Setelah menunggu sebentar Karin ijin keluar.
"Bu...Bun...Karin ijin keluar ya, takut Rafa perlu sesuatu." Karin mencari alibi.
"Ia sayang..." Jawab Bunda tersenyum.
Sementara Ibu hanya menatap.
Karin keluar menuju kamar dan begitu masuk kamar tak ada Rafa di sana. Karin keluar lagi mencari Rafa tapi tak ketemu juga. Alih alih dia melihat ke garasi ternyata mobil dan motornya masih ada berarti Rafa tak kemana mana. Alih alih masih merasa ego akhirnya Karin masuk ke kamar.
Tanpa sengaja dia melihat pintu balkon kamar yang terbuka. Karin melangkah dan ingin menutupnya. Tetapi begitu Karin mau menutup netranya menemukan Rafa yang lagi duduk sambil menatap kosong keluar. Terlihat di tangan ya memegang sekuntung rokok.
"Rafa..." lirih kecil Karin tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Kaki Karin mundur sosok Rafa kini terasa asing untuk dirinya sekarang.
Rafa terhentak mendengar suara pintu yang sedikit bergerak sekelebat melihat bayangan. Segera dia membuang rokok yang ada di tangannya itu. Rafa masuk ke dalam mendapatkan Karin yang terduduk di kasur.
Rafa mendekati Karin. "Rin..." Lirih Rafa .
Karin masih merasa shock melihat Rafa yang merokok. Dia terdiam di saat Rafa memanggil namanya.
" Apa untuk menjawab panggilan ku saja kamu sudah tak mau Rin.." Ucap Rafa ketus.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu merokok Raf ?"
"Haha...diriku saja kamu tidak tahu tapi kenapa Adit kamu tahu ?"
"Raf...kamu jangan mengalihkan pembicaraan dong." Kesal Karin.
"Sudahlah..." Rafa beranjak dia kembali ke balkon.
Karin menatap punggung Rafa sejenak rasanya dia ingin berteriak keras tapi apa bisa itu akan menyelesaikan masalah dirinya.
Dia mengambil air wudhu lalu membaca Al Qur'an supaya hati yang tidak karuan agar menjadi tenang. Tak terasa buliran air mata itu mengalir.
Rafa mendengar suara Karin dengan hati yang resah suara Karin terdengar begitu pilu.
"Rin..." Suara Rafa sekarang terdengar melembut .
Karin mendongkrakan wajahnya menatap Rafa.
"Maaf..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rafa. Tangannya terulur mengusap air mata di pipi Karin.
Karin dan Rafa saling diam saling mengunci pandangan mereka.
Rafa meraih tubuh Karin dan menyandarkan di dada bidangnya.
"Aku terlalu takut Rin...terlalu membenci dia ! Rasa itu ga bisa aku pungkiri ada rasa tidak ikhlas menerima kenyataan saat kita di pisahkan dulu." Ucap Rafa sendu.
"Aku mengerti Raf....maaf aku terlalu egois tak mengerti perasaan mu . Sekarang apa pun keputusan kamu aku akan ikut. " Ucap Karin mantap.
"Ya...mungkin aku juga terlalu egois Rin...dalam marah ku aku membuat kamu meneteskan air mata seperti ini. Tapi sungguh tak ada niat di hati ku bikin kamu terluka."
"Kamu jangan seperti tadi Raf....jujur aku merasa asing dengan kamu yang seperti tadi."
"Ya...inilah aku. Sisi buruk ku. Jika aku marah, kesal yang ga bisa aku tahan. Satu batang rokok ikut menemaniku saat saat itu. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri, berpikir langkah apa yang sebaiknya aku lakuin."
"Aku tahu kamu pasti kaget melihat ini..maaf Rin...aku manusia biasa juga yang punya kekurangan."
"Raf..." Karin menatap Rafa.
"Ia Rin..."
"Tidak seperti ini Raf...kalau menyelesaikan masalah."
"Aku dan kamu adalah dua orang yang berbeda mungkin ini lah caraku. Aku minta kamu dapat mengerti aku."
Karin terdiam sejenak.Lalu menganggukkan kepalanya tanda ga mau ada lagi perdebatan antara mereka.
"Ya aku bisa paham itu...tapi maaf kamu ga suka minum minuman kan..?" Karin merasa was was.
"Tidak Rin...aku cukup tahu batasan aku. Aku juga hanya merokok kalau lagi suntuk saja seperti tadi. Maaf ya..."
__ADS_1
"Ia Raf...mungkin untuk sebagian orang hal itu tak perlu di debat kan lagi. Tapi untuk aku melihat kamu seperti tadi cukup membuat aku kaget." Jujur Karin.
"Aku paham Rin...nyatanya kita harus sama sama saling mengenal satu sama lain. Aku berharap kamu tak menyesal menikah denganku."
Karin mengeratkan pelukannya. "Jangan berkata seperti itu Raf...kamu imam ku dan pilihan hidupku. Aku mencintaimu ga ada nama lain di hatiku selain kamu Raf."
"Serius ?"
"Ih..." Karin mencubit gemas Rafa.
"Kita baikan ya...kamu jangan marah marah lagi."
"Kamu juga jangan suudzon sama istri sendiri."
Rafa mengecup kening Karin.
"Rin nyatanya menjalankan pernikahan itu adalah belajar yang tiada henti. Tolong jangan tinggalkan aku jika aku pada suatu hari nanti khilaf."
"Maksud kamu ?"
"Ya...jika kamu terluka karena perkataan atau perbuatan ku tolong jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku."
"Kamu ngomong apa sih Raf..yang jelas kita sama sama belajar melengkapi kekurangan kita menjadi kesempurnaan."
"Ya ...itu maksudku sayang."
"Ih...kamu mau apa ?" Karin menjauhkan diri dari tubuh Rafa.
"Mau ibadah bersama." Rafa mengedipkan mata nakalnya.
"Ih..."
"Boleh..."
"Ga boleh..." Ucap Karin tersenyum.
"Aku maksa !"
"Ih ga bisa gitu..."
"Haha...ga bisa ya ? "
"Aww...Rafa..."
Teriakan Karin bersama dengan candaan keduanya menjadi awal disaat hati yang mulai di tata lagi.
Kedua insan itu saling berbagi menata ulang hati yang sempat kecewa.
Rafa dan Karin benar benar menghabiskan malam itu seakan menjadi pengganti waktu yang telah mereka buang karena pertengkaran itu.
__ADS_1