Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Keputusan besar Karin.


__ADS_3

Sampai di depan rumah motor Gani berhenti.


"Makasih Gan," ucap Karin.


"Sama sama Rin.Kalau gitu aku pulang dulu ya?"Tutur Gani.


"Ok..."


Sebelum pergi Gani melirik Karin ."Kuat ok .."


Karin tersenyum mendengar ucapan Gani.


Setelah motor Gani berlalu Karin masuk ke rumahnya lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya di dalam kamar.


"Bruk " Karin menjatuhkan dirinya ke atas kasur.Dia menangis mengeluarkan beban yang ada di hatinya.


"Kamu sangat keterlaluan Raf...aku membenci kamu."


"Aku ga pernah menyangka kamu mampu melakukan ini padaku."


Karin terus menangis dalam kesendiriannya.Terlintas bayang bayangan ketika dia bersama Rafa , membuat Karin semakin terisak sendu.


"Neng Karin ....neng Karin."Panggil mbok Nah yang merasa khawatir melihat nona mudanya berlaku tidak seperti biasanya.


"Ia mbok, ada apa?" Sahut Karin dari dalam.


"Neng ga apa apa?"


"Mbok tenang saja Karin tidak apa apa." Jawab Karin dari dalam kamar.


Di sela sela isak tangisannya, Karin termenung.


Karin teringat dengan Ibunya yang dulu sering sekali menasehatinya.


"Aku ga bisa terus terpuruk dengan perasaan ini , aku ga bisa terus menangisi kamu yang sudah membuang aku." Pikiran Karin terus mengelana.


Karin pergi mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat, mencari kesejukan hati di sana.Selesai salam Karin berdoa sangat khusu.


Tiba tiba Karin teringat dengan perkataan Ibu tentang pacaran dalam islam.


Bukan 'kah dalam islam tidak ada istilah pacaran.


Karin termenung menyerahkan semua kembali pada Sang Maha Pencipta.


"Mungkin ini adalah dosaku...ampunilah segala dosa ku Ya Robby."


Kemudian entah pemikiran dari mana tiba tiba Karin teringat dengan taaruf.


"Taaruf...!" Ucap Karin.


"Apa ini solusi dari setiap masalahku."Mata Karin terpejam.


Setelah solat Karin mengaji menghabiskan malam itu dengan menyerahkan dirinya kembali pada pemilik semesta.


Karin berharap dan meminta, sebagai manusia biasa agar bisa ikhlas menjalani ketentuan NYA.


"Ya Robby hari ini aku telah memutuskan tak akan lagi ada istilah pacaran dalam hidupku."


"Jika KAU akan memberikan jodohku nantinya, berikanlah aku jodoh dengan segala kebaikannya. Yaa melalui jalan yang kau ridhoi. Aku akan memilih pendamping ku, siapa 'pun itu yang mentaarufkan aku , aku akan menerimanya."

__ADS_1


Keputusan besar itu Karin putuskan lewat sujud terpanjangnya malah itu.


Mungkin ini adalah saatnya Karin tidak menggantungkan lagi harapan pada manusia melainkan menggantungkan harapan pada Sang Pencipta.


Karin yang merasa telah banyak gagal dalam menilai orang memutuskan untuk memilih pilihan tersebut.


"Nyatanya penilaian manusia tak selalu sempurna !"Pikir Karin dalam hatinya.


Karin mengusap air matanya.Karin merasa lebih baik setelah berkeluh kesah curhat pada NYA.


"Semoga setiap jalanku yang aku ambil berada dalam keridhoan Mu.Aamiin..."


Karin membaringkan tubuhnya ke atas kasur mungkin saking lelahnya dia tertidur dengan pulas.


Pagi harinya Karin baru keluar kamar, ada rasa lega di hati Karin setelah menangis semalaman.


"Neng ga apa apa ?" Ucap mbok Nah karena melihat nona mudanya terlihat matanya bengkak.


"Ga ko mbok, emang kenapa ?"Karin melirik ke mbok Nah.


"Itu Non, matanya agak bengkak gitu, neng Karin abis nangis ya?"


Karin terdiam tak menjawab.


"Neng, apa mbok telepon Ibu saja suruh pulang? mbok takut neng Karin sakit." Tutur mbok Nah.


"Ga usah mbok, kasihan Ibu lagi ngerawat nenek di kampung.Karin cuma lagi butuh istirahat saja ko."


"Oh gitu ya, kalau gitu neng Karin sarapan dulu ya mbok udah siapin."


"Iya mbok, terimakasih."


Karin menatap sarapan yang sudah tersedia di atas meja, rasanya tidak berselera tapi dia memaksakan sarapan Karin tak ingin membuat cemas Ibunya kalau dia sampai sakit.


Dering telepon berbunyi...ketika Karin sedang sarapan.


"Siapa 'sih pagi gini ?" Karin merasa malas untuk mengangkat telepon.Rasanya hari ini dia ingin sendiri.


Dering itu masih berbunyi sampai yang ke empat kalinya.


Karin mendesah kesal tapi akhirnya dia mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Assalamualaikum...!"Karin terdengar ketus menjawab telepon.


"Wa'alaikumsalam..."Suara dari sebrang sana sangat lembut menjawab Karin.


Karin melihat layar di ponselnya.


"Ibu...!"


"Hehe....maaf Bu, Karin pikir Sifa." Suara Karin melemah.


"Anak Ibu sehat 'kan?"


"Alhamdulillah, Bu ."


"Tapi Mbok Nah bilang semaleman Karin nangis , ada apa sayang ?"


"Ga ko Bu, biasa galau anak muda sedikit, Ibu ga usah khawatir."

__ADS_1


Ibu tersenyum di sebrang telepon sana.


"Kalau galau itu hal biasa Rin, jangan 'kan di usia Karin yang labil di usia Ibu yang sudah tua juga masih suka galau."


"Oh ya...Ibu bilang sering galau, apa itu karena Ayah?" Terlihat Karin antusias mendengar cerita Ibunya.


"Haha...Ayah kamu juga suka bikin galau Ibu, hal yang lain juga suka bikin galau Ibu.Namanya juga orang hidup pasti ada aja cobaanya.Kamu tahu Rin? kalau galau Ibu selalu mencari pelarian.Pelariannya yang positif tapi nya."


"Oh ya...tapi Karin ga pernah lihat 'tuh Ibu sedih, apalagi berantem sama ayah ?" Karin makin penasaran.


"Haha..Ibu 'kan tak mau membuka aib 'nak, masalah Ibu adalah aib Ibu, hanya orang tertentu yang bisa Ibu cerita yang bisa bersikap bijak dalam membantu Ibu."


"Yang jelas Rin, ketika kamu ada dalam masalah jangan berlarut dalam masalah itu karena ga ada masalah yang tidak bisa kamu selesaikan."


"Tuhan menguji mu berarti Tuhan tahu Karin mampu untuk menyelesaikannya."


"Disaat Karin tak tahu lagi cara menghadapinya sabar dan sholat 'lah."


"Ibu Karin pingin peluk."Rengek Karin terdengar manja di sebrang telepon.


"Ibu pulang ?"


"Ga usah Bu, Karin lebih baik ko, Ibu selalu bikin Karin tenang ! Love you Bu."


Ibu terkekeh dengan ucapan Karin


"Love you baby...ternyata kamu selalu jadi bayi mungil Ibu."


Keduanya tertawa.


"Ya sudah jangan nangis nangis lagi ya, kalau nenek sudah sembuh Ibu akan pulang cepat."


"Ia Bu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah menutup telepon dari Ibu Karin terasa lebih lega.


"Karin hidupmu terlalu berharga untuk kamu tangisi terus."Pikiran Karin kini makin terbuka dengan arti dari kehidupan.


Ada satu hal yang Karin ambil dari kegalauan dirinya.


"Benar yang Ibu bilang, sekarang aku semakin yakin aku akan memilih jodohku lewat jalan ta'aruf."


Mulai saat ini ga ada pacaran lagi di hidupku.


Aku yakin Tuhan akan memberi hal yang indah jika aku mengikuti petunjuknya.


...Rafa...cukup aku mencintai dirimu dalam diam....


...Mengagumi kamu lewat sebuah khayalan..walaupun nyatanya kamu ga akan bisa aku gapai.Tapi biarlah takdir yang akan membawa garis kisah ku....


...Aku ga akan pernah menyalahkan takdir yang tak memihak....


...Ku putuskan menyimpan namamu di hati yang paling dalam....


...Menguncinya sebagai sebuah kenangan....


...Karena caraku mendapatkan mu dan caramu melepaskan ku sangat berbeda dan itu sangat berarti....

__ADS_1


...Semoga suatu saat nanti kebahagian akan ku gapai....


__ADS_2