
Rafa yang tertidur tadi terbangun sekitar pukul tiga dini hari.
Begitu terbangun dia tersenyum bahagia melihat wajah damai Karin di sampingnya.
Dia melihat pahatan cantik Karin tanpa berkedip...sejenak rasanya Rafa ingin mencumbu Karin, tetapi niat itu urung Rafa lakukan mengingat keinginan Karin.
Perlahan Rafa bangkit dari tempat tidurnya.Gerakannya di buat pelan karena dia takut kalau Karin akan terbangun.
Rafa pergi ke kamar mandi dia membersihkan dirinya kemudian sholat tahajud.Hal yang terbiasa Rafa lakukan setiap harinya.
Karin terusik merasakan kalau Rafa tidak disampingnya.Mata Karin langsung terbuka karena takut kalau Rafa sakitnya berkelanjutan.
Begitu Karin membuka matanya dia melihat ke sekeliling ruangan mencari sosok Rafa.
Kecemasan yang tadi dirasakan Karin kini berubah menjadi tatapan penuh kebahagiaan ketika netra Karin melihat orang yang dia cemaskan kini telah berdiri menunaikan sholat sunat tahajud.
Karin dengan pelan bangkit dari tempat tidur dia tak ingin mengganggu ke khususan Rafa.
Karin masuk ke kamar mandi mengambil wudhu di sana.
Setelah mengambil wudhu Karin membawa mukenanya dia berjalan mendekati Rafa.Kebetulan Rafa baru selesai salam.
Merasa ada pergerakan dibelakangnya Rafa menengok ke arah belakang.
"Karin...."Rafa merasa kaget bercampur bahagia melihat Karin yang telah terbungkus dengan mukenanya.
"Assalamualaikum...imam ku." Ucap Karin manja.
"Wa'alaikumsalam...bidadari ku."Jawab Rafa dengan garis bibir yang terangkat.
"Boleh ya aku jadi makmum mu?"
"Tentu saja boleh Rin, aku sangat senang."
Setelah itu mereka menjalankan sholat tahajud bersama sama.Setelah salam Rafa dan Karin sama sama berdzikir dulu.
Selepas berdzikir mereka sama sama membaca ayat suci Al-Quran bersama sampai waktu subuh menjelang.
Akhirnya mereka menunaikan sholat subuh bersama sama.
Karin mengulurkan tangannya ketika Rafa berbalik ke padanya.Dengan senang hati Rafa memberikan tangannya untuk Karin cium.Dan bibir Rafa 'pun bergerak mencium kening Karin.
"Semoga keselamatan dunia dan akhirat selalu mengiringi mu." Ucap Rafa sambil mencium kening Karin.
Mendengar itu Karin merasakan rasa haru yang luar biasa."Aamiin Raf..." lirih Karin lembut.
Rafa melepas ciuman di kening Karin.Kemudian dia beralih menatap manik mata Karin yang berkaca kaca.
__ADS_1
"Ih...ko sedih 'sih."
"Ga Raf...aku cuma ga bisa berkata apa apa lagi untuk mengucapkan syukur ku atas nikmat yang Tuhan berikan padaku.Aku bahagia Raf...ini ga ternilai harganya."Ucap Karin sendu.
"Alhamdulillah kalau kamu bahagia, karena kebahagian mu adalah sumber kebahagian ku."
Mendengar itu Karin memeluk Rafa dengan erat.Rafa tentunya tidak membiarkan kesempatan ini dengan sia sia.
Dia mengangkat dagu Karin dengan pandangan meminta Rafa mendekatkan bibirnya ke bibir Karin.
"Cup..."sebuah kecupan tanpa pergerakan Rafa darat kan ke bibirnya Karin.
Kini Karin yang mulai terbiasa dengan kecupannya Rafa hanya bisa menunduk malu ketika habis melakukan itu.
"Aku mau nyiapin sarapan dulu..." Ucap Karin hendak bangkit.Sebenarnya itu hanya alasannya karena berada di dekat Rafa sekarang membuat dia menjadi salah tingkah.
Tetapi Rafa menarik Karin ke pelukannya.
"Mau kemana ...sebentar lagi ok.Biarkan seperti ini dulu." Rafa semakin erat memeluk Karin.
Karin hanya bisa pasrah dan jujur berada di pelukan Rafa seperti ini membuat dirinya juga merasa nyaman sekali.
Keduanya hanyut dalam rasa kebahagiaan yang mereka rasakan ternyata sangat luar biasa.Lagi lagi Rafa mencium bibir Karin dan entah berapa kali Rafa melakukannya.Kini hidung mata dan pipi Karin jadi sasarannya Rafa. Walau ga ada pergerakan di dalam ciuman mereka tetapi cukup membuat Karin dan Rafa merasa panas dingin.
"Raf..."lirih Karin.
"Nanti siang aku ada jadwal meeting dengan perusahan asing, jadi aku harus masuk kerja dulu.Ga apa apa 'kan ?" Tanya Karin merasa cemas karena Karin ga enak hati meninggalkan Rafa sendiri.
"Eemmm..." Rafa hanya menjawab dengan deheman saja.
"Ih jawab dong ko ehmmm saja ."Karin merajuk cemas.
"Kalau aku mengizinkannya hadiah buat aku apa?" Tanya Rafa mengandung modus di ucapannya.
"Kamu ko gitu 'sih hitungan banget." Rengek manja Karin.
"Bukan hitungan Rin, tapi ini 'kan moment kita."
"Ia tapi mereka semua ga tahu kalau kita sudah nikah.Ayolah Raf...kasih izin aku ya...soalnya ini penting banget." Rengek manja Karin.
"Ya sudah aku izinkan tapi janji ya minggu depan kamu fokus sama aku.Aku ga mau kalau minggu depan ada yang menggangu kita." Tegas Rafa pada Karin.
Mendengar itu Karin hanya memalingkan wajahnya.
"Ehmmm..kamu mah tetap saja modus.Ia ia.... aku janji insyaallah minggu depan waktuku milik kamu."Jawab Karin.
"Gitu dong..." Rafa malah makin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Ih lepas Raf...aku mau buat sarapan buat kamu."
"Aku sarapan kamu saja." Kedip mata Rafa menggoda Karin.
"Ih...mana ada sarapan aku....." Karin tertawa geli.
"Kamu mau aku siapin sarapan apa?" Tanya Karin pada Rafa.
"Apa saja yang penting bikinan kamu." Ucap Rafa sambil rela ga rela melepaskan pelukannya pada Karin.
Setelah Rafa melepas pelukannya akhirnya Karin bangkit dia keluar menuju ke dapur.
"Assalamualaikum ...mbok..." Sapa Karin pada para ART yang sudah berada di dapur.
"Wa'alaikumsalam..eh neng Karin sudah ke dapur saja, mau di buat kan apa neng?"Tanya si mbok ke pada Karin.
"Ga usah Mbok...biar Karin aja yang masak." Jawab Karin sambil mengeluarkan barang dan bahan yang diperlukan untuk memasaknya.
"Baik Neng, kalau butuh apa apa tinggal panggil mbok saja ya."
"Ia Mbok...tenang saja.Mbok kerjain yang lain saja dulu." Perintah Karin.
"Baik Neng." Kemudian si Mbok berlalu pergi meninggalkan Karin sendiri.
Karin sengaja tak ingin melibatkan para ART nya untuk membuat sarapannya Rafa.Karin ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya tentunya dari tangannya sendiri.
Lama Karin berkutat di dapur saking asyiknya tanpa Karin sadari Rafa sudah ada di belakanganya.
Rafa memperhatikan Karin yang cekatan dalam memasak.
Merasa gemas dengan tingkah Karin yang fokus pada masakannya akhirnya Rafa memeluk Karin dari belakang.
"Aww..." Teriak Karin. Spontan karena merasa kaget.
Otomatis para ART yang ada di belakang berhamburan datang menuju dapur mereka mendengar teriakannya Karin.Dikira mereka terjadi sesuatu pada majikannya itu.
"Rafa...kamu ...." Karin mencubit pelan tangan yang melingkar di pinggangnya dengan manja.
"Kamu Rin ...masak serius amat ...aku dari tadi ada di sini kamu tidak sadar juga." Ucap Rafa menempelkan kepalanya ke leher Karin.
"Neng...kenapa Neng...?" Ucap para ART.
Para ART yang baru datang melihat pemandangan itu spontan saling pandang.Mereka merasa salah tingkah sendiri.
"Ga apa apa ko Mbok...kalian bekerja lagi saja." Rafa menjawab para ART itu.
"Tuh...'kan jadinya heboh." Bisik Rafa di telinga Karin.
__ADS_1
"Kamu nakal Raf..."