Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Kesalahan semalam.


__ADS_3

Setelah menutup telepon Bundanya Adit mencari cari Adit .


Niat hatinya ingin memberi tahu Adit tentang kabar baik ini.


Tapi dia tidak menemukan Adit di dalam rumah.


Bundanya Adit menarik napas kasar.


"Adit pasti mabuk mabukan lagi ." Pikiran Bundanya Adit menerawang jauh.


Sementara Adit sekarang memang berada di sebuah club malam.


Dia tengah duduk bersama dengan Dini.


Terlihat di depannya terdapat satu botol minuman beralkohol.


Dini kini terlihat semakin intim dengan Adit.


Begitu 'pun Adit tak segan segan kala menyentuh tubuh Dini.


Dini duduk di samping Adit, sesekali dia 'pun ikut meminum minuman alkohol itu.


"Sayang kita ke sana yu!" Ajak Dini pada Adit.


Dia menunjukan sekeruman orang yang sedang berjoged joged ria di sana.


Adit berdiri dengan sempoyongan sambil menarik Dini masuk ke kerumunan orang orang itu.


Adit dan Dini menikmati alunan musik itu karena pengaruh minuman itu.


Jam menunjukan pukul satu dini hari mereka masih bersama dalam keadaan mabuk parah.


Secara tak sadar mereka melangkahkan kakinya menuju sebuah penginapan yang ga jauh dari club itu.


Mereka dengan mudahnya mendapatkan kunci penginapan itu karena sejati nya tempat itu di sediakan buat manusia manusia yang mencari kesenangan dunia yang palsu.


Adit melangkah masuk memeluk pinggang Dini ke dalam penginapan itu.


Dan tanpa mereka sadari karena terlalu banyak minum kejadian itu tak dapat di tolak lagi.


Dini menyerahkan harta berharganya di malam itu kepada Adit.


Mentari mulai mengeluarkan cahayanya.


Cahayanya masuk ke celah celah tirai kamar yang di pakai oleh Adit dan Dini.


Dini menggeliat di bawah selimut yang membungkus tubuh polosnya.


Cahaya matahari yang hangat mengusik tidurnya.


Dini belum menyadari dimana dia sekarang berada, tapi dia merasakan tubuhnya begitu sakit dan bagian inti yang sangat perih.


"Aww..." Keluh Dini sambil membuka matanya.


Begitu Dini membuka mata, dia di suguhkan dengan wajah lelap Adit di depan matanya.


"Adit...!" Teriakan Dini membangunkan Adit secara kasar.

__ADS_1


Begitu mata Adit terbuka hal yang sama dirasakan Adit.


"Dini...!"


"Kamu lagi apa disini?" Adit terlihat gugup menghadapi kenyataan.


"Adit apa yang sudah kamu lakukan sama aku?" Air mata Dini lolos begitu saja, tangisanya makin bertambah keras ketika melihat noda darah di seprai yang mereka tiduri.


"Din, kamu jangan nangis dong, aku jadi bingung nih." Adit berkata sambil mengambil pakaiannya yang berserakan di bawah.


Setelah memakainya Adit menghampiri Dini.


Dia duduk di tepi ranjang di samping Dini.


"Sudahlah Din, semua udah terjadi mau diapakan lagi."


Terdengar begitu enteng di telinga Dini.


Membuat Dini makin terisak.


Dini menyesali semuanya, apa yang akan terjadi sama dirinya kalau sudah begini.


"Kamu harus tanggung jawab!" Tekan Dini pada Adit.


"Apa ? kamu ga salah ngomong sama aku, kita melakukannya dalam keadaan sama sama ga sadar, lagian kamu sukarela 'kan menyerahkannya, aku ga maksa juga!" Jawaban Adit begitu memilukan di telinga Dini.


"Lagian ya Din, kamu tahu betul wanita yang aku cintai satu satunya adalah Karin."


Mendengar ucapan Adit ,Dini melempar benda yang ada didekatnya pada Adit.


"Dini stop...!"


"Kamu yang selalu mengejar aku Din, padahal kamu tahu aku selalu mencintai Karin."


"Semuanya sudah terjadi dan ini bukan keinginanku, aku menyesal untuk ini . Tapi maaf Din, aku ga bisa tinggalkan harapan aku untuk bisa memiliki Karin karena kejadian ini."


"Kamu harus menerimanya." Adit tanpa perasaan menekan Dini dalam keadaan seperti ini.


Adit keluar dari penginapan itu tanpa memperdulikan Dini yang terisak sendu di dalam.


Melihat Adit yang keluar dari kamar dan sekarang punggungnya 'pun sudah tak terlihat lagi.


Karin bangkit dari tempat tidurnya.


Karin memungut bajunya yang berserakan di bawah. Sambil meringis menahan perih di bagian intinya dia masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah shower.


Dini menggosok gosok paksa tubuhnya sampai kelihatan memerah.


Meskipun Dini nakal ini bukan hal yang dia inginkan.


Air matanya terus mengalir deras.


Setelah merasakan badannya terasa beku Karin menyudahi mandinya.Dia 'pun memakai pakaian yang terasa begitu menjijikan dirasa Dini sekarang.Tapi karena tidak ada baju lagi dia terpaksa memakainya.


Dini berjalan gontai keluar dari penginapan itu.


Bundanya Adit yang menunggu Adit dari semalam bernapas lega setelah melihat kedatangan Adit sekarang.

__ADS_1


"Darimana aja 'sih? Bunda dari malem tungguin Adit tapi Adit nya ga pulang, Bunda telepon Adit, Adit nya ga menjawab.Bunda khawatir Dit !" Keluh Bunda.


Mendapatkan keluhan dari Bundanya Adit seolah ga perduli, Adit masih merasa bingung dengan kejadian yang baru saja menimpanya.


Adit tak menghiraukan ucapan Bunda, dia berlalu begitu saja.


"Adit..Adit , Bunda belum selesai bicara!"


Bunda menggekor Adit dari belakang.


"Ada apa lagi 'sih Bun ? Adit lagi ga mau dengerin ceramah Bunda."


"Ko kamu ngomongnya gitu 'sih Dit, Bunda ini orang tua kamu . Kamu ga boleh bicara kaya gini sama Bunda!" Bunda terlihat menahan kesal pada Adit.


"Bener Bun, Adit lagi pingin sendiri sekarang , tolong Bunda jangan ganggu terus Adit ."


Adit malah menyorot balik bundanya.


"Ok, fine ! Bunda ga akan ganggu ganggu Adit lagi, meskipun Bunda mau ngasih info tentang Karin." Bunda sengaja membawa bawa nama Karin memancing Adit agar mau berbicara dari hati ke hati dengannya.


Dan benar saja modus Bundanya Adit berhasil Adit terlihat begitu penasaran sekarang.


"Apa Bun, info tentang Karin ? "


"Ga usah nanya nanya, Bunda sekarang sudah males buat cerita. Kamu istirahat aja sana !"


Bunda pura pura merajuk pada Adit.


"Maaf Bun, tadi Adit merasa sangat capek." Rayu balik Adit ke Bundanya.


Berharap Bundanya ga merajuk terlalu lama.


"Ayo dong Bun, cerita sama Adit!" Adit terlihat begitu antusias kalau membahas tentang Karin.


"Tadi malem Bunda abis teleponan sama Karin, Bunda bertanya soal keputusan Karin nemenin konsulnya kamu Dit."


"Terus dia bilang apa Bun ?"


"Dia setuju buat temenin kamu konsul. Tapi__"


"Yes, aku sudah tahu Bun, kalau Karin masih sayang sama aku.Makanya dia ga mau liat aku seperti ini." Adit memotong ucapannya Bunda.


"Kamu harus dengerin dulu Bunda, Bunda belum selesai bicaranya sudah kamu potong."


"Emangnya ada apa lagi 'sih Bun ? Buat Adit Karin sudah bersedia itu juga sudah cukup."


"Tapi Karin mengajukan syarat pada Bunda."


Bunda melihat wajah Adit.Bunda takut kalau syarat yang Karin ajukan akan membuat Adit kembali kecewa.


Tapi apapun yang terjadi Bunda harus mengatakannya karena itu permintaan Karin.


Adit menatap Bundanya.


"Syarat Bun ? syarat apa ?"


Adit semakin dibuat penasaran.

__ADS_1


__ADS_2