Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Episode 95


__ADS_3

Rafa kembali disibukan dengan pekerjaan ya. Nyatanya sebagai seorang pemilik dan merangkap sebagai seorang Dokter membuat dia disibukan dengan kerjanya akhir akhir ini.


Karin dengan sabar menunggu Rafa. Tak ingin menggangu dia keluar ingin tahu setiap sudut rumah sakit milik suaminya itu.


"Rafa...aku keluar dulu ya..." Karin meminta izin.


"Kamu bete ya Rin...boleh deh tapi aku suruh asisten aku buat nganterin kamu. Nanti kamu kesasar lagi."


"Ga usah Raf, aku berasa ga bebas kalau dianterin. Sendiri saja boleh ya." Karin melipatkan tangan sambil mengedipkan mata nakalnya.


"Ya...kalau sudah merayunya seperti itu ini alamat ga bisa aku tolak nih. Ya sudah tapi hati hati ya."


"Ok...terima kasih. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Karin melesat dari ruangan Rafa. Kakinya melangkah kemana dia mau. Setiap ruangan dan setiap tempat sama Karin datangi.


"Hai itu kan pacarnya Dokter Rafa." Salah seorang perawat membisikan pada perawat satu lagi.


"Kamu serius ?"


"Ia tadi saja mereka makan berdua di kantin mesra banget. Sumpah deh aku ga nyangka Dokter Rafa yang alim banget itu bisa semesra itu sama pacarnya."


"Salah lihat kali, kan Dokter Rafa si paling bisa jaga jarak kalau sama perempuan."


"Ih...bener deh mereka mesra banget."


"Ia wanita secantik itu kan pasti bikin Dokter Rafa mepet terus. Secara cantiknya wow banget."


Samar samar perbincangan kedua perawat itu terdengar di telinga Karin.


Ada rasa ga nyaman di sangka orang mereka terlalu dekat di posisi perkiraan mereka masih pacaran.


"Astagfirullah...kalau di biarkan aku dan Rafa dikira jinah kali ya."


Dengan rasa yang ga nyaman Karin mendatangi kedua perawat itu.


"Assalamualaikum..."Karin menyapa kedua perawat itu.


Kedua perawat itu malah saling tatap.


"Hai jawab dong salamnya."Karin tersenyum.


"Eh...ia maaf wa'alaikumsalam." Kompak ke dua perawat itu.


"Boleh duduk sini ga? Kalian lagi free ya."


"Ia Bu, kami lagi istirahat." Silahkan Bu mari ikut gabung." Jawab salah satu perawat itu sambil menyenggol tangan perawat yang satunya lagi.


"Aku lihat kalian lagi asyik ngobrol ya. "


"Hehe...ia Bu." Kedua perawat itu mendadak salah tingkah.

__ADS_1


"Ya memang asyik sih kalau di waktu santai kita, kita saling berbagi cerita. Yang penting ceritanya jangan gibah. Kasihan kan dari gibah bisa timbul fitnah."


Kedua perawat itu saling tatap.


"Oh...ia kenalkan aku istrinya Dokter Rafa." Karin mengulurkan tangan ya pada kedua perawat itu.


Perawat itu menerima uluran tangan Karin dengan rasa sungkan.


"Maaf Bu, saya ga tahu kalau Dokter Rafa sudah menikah." Jawab perawat itu dengan muka agak merah.


"Ok...ga apa apa. Mungkin karena belum di publikasikan jadi sedikit orang yang tahu. Tetapi insyaallah akhir bulan ini kami akan adakan resepsinya.Insyaallah kalian aku undang ya." Karin tersenyum.


"Ia Bu...terima kasih banyak.Senang bisa bertemu dengan Ibu sekarang." Ucap perawat itu basa basi.


"Sama sama. Kalian kerja di bagian apa...?"


"Saya kerja di poli dalam Bu, membantu Dokter Nisa."


"Kalau saya di poli gigi Bu, membantu Dokter Andra."


"Ok...senang ya bisa ngobrol sama kalian. Kalau gitu aku permisi dulu. Ingat jangan gibah ya takutnya nanti jadi fitnah.Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah Karin pergi kedua perawat itu saling melempar sikutan tangan.


"Kamu sih...mancing mancing. Kedengaran kan...untung istrinya Dokter Rafa ga galak, coba kalau galak habis kita."


"Ayo ah kita bubar..."


"Ayo."


Karin melirik ke belakang dan ternyata kedua perawat itu sudah tidak ada lagi ditempat mereka tadi. Melihat itu Karin tersenyum.


Karin meneruskan langkah kakinya. Sekarang dia berada di ruangan anak.


Ternyata banyak anak yang sakit terdengar dari begitu banyak rengekan di ruangan itu.


"Assalamualaikum.." Sapa Karin pada petugas yang menjaga ruangan itu.


"Wa'alaikumsalam...mencari siapa ya Bu...?"


"Oh saya tidak mencari siapa siapa cuma lagi ingin lihat lihat saja."


"Kalau begitu maaf anda tidak boleh masuk kalau tidak ada kepentingan."


"Tapi saya cuma pingin lihat saja.Saya ga ganggu ko."


"Maaf Ibu silahkan pergi atau saya panggil keamanan."


"Ya sudah kalau gitu saya permisi."


Baru saja Karin membalikkan badan ya.

__ADS_1


"Bu Karin ..."Ada seseorang yang memangil dirinya. Otomatis Karin membalikan badannya.


Ternyata asisten Rafa baru keluar dari ruang anak itu dan melihat Karin.


"Eh kamu...kirain siapa."


"Bu Karin sedang apa di sini?"


"Ga saya cuma lagi keliling keliling saja."


"Oh...kalau gitu mari saya antar."


Tiba tiba petugas ruangan datang menghampiri mereka.


"Maaf pak apa anda mengenal Ibu ini, tadi dia maksa ingin masuk ke ruangan anak. Tetapi karena ga ada keterangan siapa dirinya makanya saya larang."


"Kamu ya...kurang ____"


"Stop..."Karin menahan asistennya Rafa yang ingin marah marah pada penjaga ruangan itu.


"Dia hanya disiplin akan tugasnya. Aku suka itu."


"Tapi kan Bu..."


"Ga ada tapi tapian. Dia cukup amanah dalam tugasnya aku senang." Karin tersenyum pada petugas itu.


Sementara petugas itu tidak mengerti apa yang terjadi.


"Maaf pak, kalau boleh tahu letaknya salah saya dimana ya...?" Ucap petugas ruangan itu karena merasa kaget wajah asistennya Rafa terlihat marah pada dirinya.


"Kamu tahu. Ibu ini adalah Ibu Karin. Istri Dokter Rafa pemilik rumah sakit ini." Jelas asistennya Rafa yang membuat petugas ruangan itu merasa kaget.


"Astagfirullah... maaf Bu...maafkan saya. Saya betul betul tidak tahu." Kini wajah petugas itu terlihat sangat panik sekali.


"Ga apa apa ko...santai saja. Aku suka cara kerja kamu yang disiplin. Kalau bisa pertahankan ya. Rumah sakit ini butuh orang orang kaya kamu." Karin menepuk pundak petugas ruangan itu yang kebetulan seorang wanita.


"Terima kasih Bu, atas pengertiannya. Sekali lagi saya minta maaf."


"Ya sama sama."


"Kalau.begitu mari Bu saya antar barangkali Ibu masih ingin lihat lihat ke dalam."


"Ok...mari..."


Karin akhirnya bisa masuk ke ruangan dimana anak anak itu dirawat.


Karin meneliti dinding kamar anak yang sudah agak memudar. Sedikit ide sepertinya harus disampaikan pada suaminya. Untuk menambah kenyamanan anak anak yang sakit itu ketika dirawat.


Karin menyapa dan sering sama ibu dari anak anak yang sakit itu. Dan dia pun ikut membujuk tak kala ada anak yang tak mau makan obat sama sekali. Sampai anak itu dengan semangat mau makan obat akibat bujukan Karin yang halus.


Cukup lama Karin di ruangan anak itu. Sampai dering telepon berbunyi.


Karin melihatnya dan itu adalah panggilan dari Rafa.

__ADS_1


__ADS_2