Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Lagi lagi Rafa


__ADS_3

Kedua sejoli itu kini telah melempar senyuman , senyuman yang penuh dengan arti di dalamnya.


Pemandangan itu di saksikan langsung sama bundanya Adit.


Bundanya Adit mendengar sendiri bahwa Karin sudah ga cinta lagi sama anaknya , membuat dia merasa galau .


Tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipi.


Memikirkan kalau ga ada lagi harapan untuk bisa membantu Adit keluar dari keterpurukannya, membuat wanita paruh baya itu merasakan sesak yang luar biasa.


Bundanya Adit bergegas meninggalkan taman.


Kini begitu sampai rumah langkah gontai wanita paruh baya itu menjadi pusat perhatian Adit.


Ya Adit tanpa sengaja melihat bundanya melangkah masuk ke dalam rumah tapi dia melihat raga bundanya ada di depan dirinya tapi tidak dengan sukmanya.


Sehingga bunda sendiri tidak menyadari Adit berdiri di sampingnya sambil memperhatikannya.


"Bun..." Adit menyapa Bunda.


Bunda tetap melangkah seperti tak mendengar suara Adit memanggilnya.


"Bun...daaaa!" Adit kini memanggil bundanya dengan intonasi yang agak keras.


Membuat wanita paruh baya itu tertarik dari lamunannya.


"Ia," jawab bunda reflek.


"Bunda kenapa?" Adit melangkah menghampiri bundanya, terlihat garis wajahnya merasa cemas.


"Eh ....Adit ada di rumah ?" Bunda malah balik bertanya.


"Kamu dari tadi udah pulang?" bunda meneliti penampilan anaknya itu.


Merasa di perhatikan Adit hendak melangkah pergi dia tidak mau membuat bundanya sadar kalau dia lagi dalam keadaan berantakan.


"Mau kemana lagi kamu Adit ?" Bunda menarik tangan Adit.


"Lepas Bun." Adit menyorot bundanya.


"Ga Dit, bunda harus bicara sama Adit."


"Mau bicara apa sih Bun? Adit ngantuk."


"Sebentar saja Adit !"


Bunda menggiring Adit ke sofa. Setelah mereka duduk di sofa bunda menatap Adit sangat lekat sekali.


Rasanya bunda ingin mengulang ke masa kecil Adit dulu, ketika di usia itu, Adit ga pernah membantahnya dan selalu mendengarkan ucapannya.


"Ayo dong Bun, katanya mau bicara!" Adit merasa risi melihat tatapan bundanya.


"Bunda kangen kamu Dit." Bunda memeluk Adit erat menumpahkan air mata yang sudah di ujung mata.


Sementara Adit sendiri berusaha melepaskan pelukan bundanya itu.


"Apa sih Bun, bunda kaya anak kecil aja."


Bunda pun mengurai pelukannya.


"Adit masih sayang sama bunda?"


"Kalau Adit sayang sama bunda jangan seperti ini terus ya."


"Bunda ngomong apa sih," Adit pura pura tidak mengerti.


"Adit tahu benar yang bunda lagi bicarakan, please ya sayang , stop bertingkah seperti ini."


"Ini bukan kelakuan anak bunda banget."


"Kamu mau ya sayang , pergi sama bunda konsul ?" pinta bunda penuh harap.


" Biar semuanya tidak terlambat."


Mendengar ucapan bundanya Adit langsung berdiri.


"Adit ga ngerti sebenarnya bunda mikirin apa sih?"

__ADS_1


"Lebih baik Adit ke kamar saja daripada harus bahas masalah yang ga jelas." Adit berusaha menghindar.


Adit melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Adit bunda abis ketemu Karin !"


Sontak ucapan bunda membuat langkah kaki Adit terhenti.


Adit kembali duduk di samping bundanya itu.


Dengan wajah yang berbinar penuh harap.


"Apa Bun? Adit ga salah denger 'kan ?"


Bunda menggelengkan kepalanya.


"Bunda bertemu Karin untuk apa?" Adit terlihat antusias.


"Bunda minta Karin buat temenin kamu konsul Dit."Jawab bunda apa adanya.


"Terus Karin mau?"


"Kamu sendiri gimana mau konsul di temanin Karin?" bunda balik bertanya.


"Aku mau banget Bun." Adit sangat semangat menjawab pertanyaan bundanya.


"Jadi kapan 'nih Adit pergi konsulnya?" Adit sudah membayangkan dirinya bisa kembali deket dengan Karin lewat cara ini.


"Tunggu jawaban Karin dulu ya."


Sontak jawaban dari bunda membuat semangat yang ada di ubun ubun Adit jadi melemah.


"Jadi Karin belum jawab apa apa?"


"Belum tadi___"


"Tadi apa Bun?" Adit penasaran.


"Waktu Karin mau menjawab , ada seorang anak laki laki seusianya datang.Katanya di suruh ibu Karin mencari Karin." Jawab bunda jujur.


Adit awas anak laki laki itu pasti Rafa.


Bunda melihat Adit mengepalkan tangannya.


"Dit, jangan pikir yang aneh aneh."


"Karin janji mau nelepon bunda nanti."


"Ya sudah pembicaraan ini berlanjut kalau Karin sudah bersedia nemenin Adit."


Tanpa memahami kegelisahan bundanya, Adit pergi dari sofa itu.


Kepergian Adit disetai tatapan nanar bunda.


***


Karin dan Rafa masih berada di taman.


Setelah komitmen kedua yang mereka udah sepakati terucap, kini mereka tambah dekat dan lengket.


Terlihat dari genggaman tangan yang makin erat.


Rafa melirik ke arah Karin.


"Rin..."


"Em..." Karin menjawab Rafa dengan nada manja.


"Tadi kamu ke sini pasti belum sarapan ya?" Rafa terlihat perhatian ke Karin.


"Hehe...ko tau sih." Masih dengan suara manja Karin menjawab.


"Tau 'lah orang aku juga belum sarapan."


"Sarapan bareng yu!"


"Sarapan apa?"

__ADS_1


"Kamu mau apa ? aku ikut mau kamu." Rafa malah balik bertanya.


Karin melihat ke sekeliling .


"Kalau beli bubur mau?" Karin menunjuk Abang bubur di tepi jalan.


"Ayo..!"


Mereka bergerak menuju ke sana.


" Bang bubur komplitnya dua ya !"


" Siap A.." jawab ci Abang bubur.


" Lagi jalan jalan sama pacar ya?"


Rafa dan Karin kini mereka saling pandang mendengar pertanyaan Abang bubur.


"Bukan pacar bang, tapi jalan jalan sama calon bidadari surga saya bang."


Rafa tanpa malu menjawab candaan ci Abang bubur.


"IH ...." Karin mencubit pinggang Rafa.


"Awww, sakit Rin.' Manja Rafa.


"Kamu nyebelin.." Karin memanyunkan bibirnya.


"Aamiinin dong neng , jangan di cubit." goda ci Abang bubur.


"Bener tuh Rin, apa yang ci Abang bubur bilang."Rafa menimpali ucapan ci Abang bubur.


Karin tak bisa berkata apa apa lagi dia hanya tersenyum simpul.


"Astagfirullah..."


Karin yang hendak memasukan bubur ke mulutnya melirik Rafa.


"Kenapa Raf?


"Aku lupa Rin, tadi ' kan ibu nyuruh aku cariin kamu."


Karin menyipitkan matanya, "jadi benar ibu tadi nelepon kamu buat cari aku?"


"Ia Rin, masa aku bohong sih."


"Bentar ya aku telepon dulu ibu , biar ibumu tidak cemas."


Rafa meraih ponsel yang ada di saku celananya.


Ketika sudah terhubung Rafa memberi tahu ibu kalau Karin sudah bersamanya sekarang.


Tak lupa dia ijin ke ibu sebelum pulang mau sarapan dulu di taman.


Setelah ibu mengijinkannya Rafa akhirnya bisa bernapas lega.


"Alhamdulillah, beres." Rafa kembali memasukan ponselnya ke saku celananya.


Karin hanya mengulum senyum geli melihat tingkah Rafa.


"Kenapa kamu senyum senyum gitu? emangnya ada yang lucu ?"


"Ga...Rafa, aku cuma liat kamu segitu khawatirnya yah kalau ibu salah sangka sama kamu? sampai terlihat banget kamu tadi cemas belum dapat ijin dari ibu."


"Hehe...takut di cut Rin , dari list calon mantu."


Jawaban Rafa langsung membuat Karin tersipu malu.


"Apa sih." Suara Karin terdengar manja.


"Ayo Rin makan buburnya nanti keburu dingin."


"Ia..." Karin memakan bubur sambil sesekali melempar senyum pada Rafa.


"Terimakasih untuk pagi yang indah ini Raf." Ucap Karin di sela suapan terakhirnya.


"Sama sama Rin, semoga kita selalu bahagia seperti ini ya Rin."

__ADS_1


"Aamiin." Ucap keduanya bersamaan.


" Ckrek ..ckrek.."kamera itu memfoto kedua insan yang sedang saling berbagi rasa.


__ADS_2