
Tak berselang lama Rafa langsung mengikuti Karin ke dalam kamar.
Karin terlihat tidur ditutupi dengan selimutnya.
Rafa meneliti dia tahu Karin tidak benar benar tidur di dalam sana.
"Sayang...aku tahu ko kamu masih bangun. Sayang sini aku mau bicara dulu boleh di buka dulu selimutnya ?" Lirih Rafa terdengar begitu lembut.
Perlahan Karin membuka selimutnya yang menutupi seluruh badannya.
"Abi mau bicara apa ?" Suara Karin terdengar ga bersemangat.
Rafa mendekati Karin lalu duduk sila di depan Karin yang masih terlentang.
"Bangun dulu dong." Pinta Rafa masih lembut.
"Ada apa Bi ? penting ya ?" Karin bangun dan duduk menghadap Rafa.
"Sayang...Abi tahu hari ini hari yang sudah membuat moodnya istri abi ini menghilang. Tapi Abi ingin umi tahu kalau amanah itu belum dipercayakan pada kita Abi akan selalu bersabar.Apa Umi mau mengadopsi dulu anak ?"
Seketika Karin langsung menatap lekat suaminya itu.
"Maksud Abi apa?"
"Kata orang sebagai pancingan kita adopsi dulu anak, gimana ? siapa tahu itu adalah petunjuk untuk kita."
"Maaf Bi, aku ga setuju." Karin menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ga setuju boleh tahu alasannya apa ?"
__ADS_1
"Bi...kalau kita mau adopsi anak karena sekedar ingin pancingan umi rasa ga adil untuk dia. Umi takut akan salah kedepannya."
"Maksud umi salah kedepannya apa ? coba jelaskan!"
"Bi...nanti Abi beda bedain anak kandung sama anak adopsi lagi nanti kita ga adil."
"Ya ampun umi ko bicaranya seperti itu sih, ga akan dong. Buat Abi mereka sama sama anak Abi amanah dari Tuhan untuk kita."
"Apa Abi yakin ?"
"Seandainya umi setuju."
"Maaf Bi kalau menurut aku sih jangan dulu ya Bi. Aku masih ingin berusaha."
"Ya sudah kalau begitu. Semua terserah istri Abi, tapi Abi mohon jangan sedih kaya gini. Umi jangan putus asa."
"Ia Bi."
Karin tersenyum semu.
"Umi sini deh Abi bisikin sesuatu?"
"Apa ?"
Karin mendekatkan telinganya ke Rafa.
"Astagfirullah... Abi "
Karin mencubit pinggang Rafa.
__ADS_1
"Ya ampun sakit sayang." Rengek manja Rafa.
"Abisnya Abi masih ingat saja , umi juga lupa ko bisa Abi ingat."
"Hehe...karena hari ini jadwal berkunjung Abi...mana bisa Abi lupa. Apa bisa ?" Rafa mengedipkan kedua alisnya.
"Abi..." Karin menggelengkan kepalanya.
"Lupa ya kata Dokter harus hitung masa subur , sayang lo kalau mau dilewatkan. Berdoa semoga ibadah ini akan tumbuh amanah di sini." Rafa mengusap ngusap perut Karin.
Karin memalingkan wajah merahnya sambil tersenyum terasa geli ucapan Rafa ditelinga Karin.
"Alhamdulillah...akhirnya senyumannya keluar juga setelah seharian tertahan." Rafa menggoda Karin.
"Apa sih Abi...bisa bisanya menggoda terus umi."
"Karena buat Abi senyuman umi ini seperti cahaya, tadi gelap dan suram lo umi."
"Abi..."
"Boleh...?"
"Boleh ga ya, hmmmm..."
"Bolehin saja deh." Rafa langsung memeluk Karin.
Setelah membaca doa Rafa berbisik pada Karin.
"Aku mencintaimu istriku ada atau tidak adanya anak yang melengkapi pernikahan kita...aku menerima dirimu dan aku ingin sehidup di dunia dan di surga bersamamu.Kamu bidadari ku." Lalu Raf mengecup kening Karin dengan lembut.
__ADS_1
Mendengar bisikan suaminya itu Karin semakin merasa terharu. Dengan senang hati dia menyambut sentuhan dan sentuhan Rafa. Berdoa selain ibadah ada berkah di balik itu semua.