Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Raina


__ADS_3

"Assalamualaikum....maaf pak Dokter saya menelepon pak Dokter...."ucap asistennya Rafa di sebrang sana begitu telepon Rafa angkat.


"Wa'alaikumsalam....ia ada hal penting apa?"Tanya Rafa datar.


"Pasien anda Dok, ngamuk terus , saya dan para perawat disini bingung harus melakukan apa, saya sudah memberikan obat penenang tetapi setelah habis efeknya pasti ngamuk lagi Dok, dia selalu menyuruh kami untuk memanggil Dokter agar datang." Jelas asistennya Rafa di ujung telepon sana.Jujur dia ga enak hati mengatakan itu karena posisi Rafa yang meminta untuk jangan diganggu beberapa hari ini.


Rafa terdengar menghela napas kasar.Sementara Karin yang mendengar ucapan dari asistennya Rafa merasa Rafa perlu untuk menemui pasiennya itu.


"Kamu urus saja dia....aku pulang besok ! Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..."


Rafa langsung menutup teleponnya.


Rafa melirik Karin sementara Karin memegang tangan Rafa lembut.


"Sepertinya kita harus pulang pagi ini juga...."


Rafa melirik Karin.


"Biarkan saja Rin.... sepertinya pasien ku itu lagi melakukan modusnya." Rafa menduga.


"Modus apa ?"Karin penasaran.


Rafa hanya diam tak menjawab pertanyaan Karin.


"Kamu kan Dokter, kesehatan pasien kamu harus di nomor satukan." ucap Karin kemudian.


"Aku tahu Rin...tapi besok , ok....Hari ini bukannya kita mau melihat lihat sekitar sini."


"Kita bisa menjadwalkan berlibur setelah kita melakukan resepsi pernikahan kita kan." Karin mencoba membujuk Rafa.


"Baik lah kita pulang sekarang."Ucap Rafa.


Karin tersenyum. Mengecup tangan Rafa.Sementara Rafa hanya tersenyum samar seolah ga rela melepaskan hari indah mereka.


Karin melihat Ibu penjual nasi kuning dan bubur ayam.


"Bu boleh di bungkus ga nasi kuning sama buburnya ?"


"Oh boleh neng mau bikin berapa?"


"Nasi kuning sepuluh bungkus, buburnya sepuluh bungkus juga semuanya komplit ya."


"Oh....siap siap neng."Si Ibu tersenyum bahagia.Dia terlihat bersemangat sekali membungkus pesanan Karin.


"Buat siapa Rin pesannya banyak banget?"Tanya Rafa.


"Buat para pegawai kamu lah...mereka semua pada baik ke aku..."


Rafa tersenyum mendengar jawabannya Karin.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit akhirnya pesanan Karin selesai.


"Ini neng..."Ci ibu pedagang menyerahkan pesanan Karin.


"Berapa semuanya?"


"Tiga ratus ribu neng..."

__ADS_1


Karin mengeluarkan uang lima lembar seratus ribuan.


"Ini Bu...."


"Lebih neng...."jujur pedagang itu.


"Ambil saja Bu ...sisanya buat ibu.Ibu sehat terus ya cari rezekinya." Tutur Karin.


Ci ibu pedagang terdiam kaget sejenak.


"Alhamdulillah...neng terima kasih banyak, semoga kebaikan neng diganti dengan kebahagiaan yang berlimpah untuk neng dan suaminya."


"Aamiin...aamiin...Bu. Terima kasih untuk doanya."


Setelah pergi dari tempat makan itu Karin dan Rafa kembali menuju vila mereka. Tak lupa Karin memberikan bungkusan tadi agar dibagikan kepada pegawai Rafa yang lain.


"Raf ...apa ada yang harus di bawa?" Tanya Karin sambil membereskan barang miliknya yang akan di bawa.


"Ga ada, cukup kamu saja yang aku bawa..."jawab Rafa sambil rusuh pada Karin.


"Raf...lepas dong...aku lagi beres beres nih."


"Ga mau .."Rafa makin mengeratkan pelukannya.


"Ya ampun suamiku ini manja banget.Kasihan pasien kamu Raf."


Rafa hanya acuh dia mengenal semua pasien dirinya dia tahu betul pasien nya itu lagi melakukan sesuatu rencana.


"Ayo..."Ajak Karin.


Rafa malah menarik Karin ke pelukannya.


"Katakan sesuatu dulu" Pinta Rafa.


"Katakan sesuatu agar aku rela pulang pagi ini."


Karin mencoba berpikir dengan ucapannya Rafa.Setelah itu dia tersenyum dan berbisik pada Rafa.


"Aku milikmu suamiku dimana pun. I love you." Karin mengecup singkat bibir Rafa yang terlihat kaget.


"Ayo..."Karin menarik tangan Rafa.


"Rin...kamu nakal."Ucap Rafa sambil menggandeng tangan Karin.


"Nakal apanya?"


"Lihatlah..."Rafa menunjuk sesuatu.


"Haha..."Karin tertawa.


"Ehmm...senang kamu menyiksa orang, sampai rumah sakit kamu harus tanggung


jawab."


"Apa? "Karin menggelengkan kepalanya.


"Haha..."Sekarang giliran Rafa yang tertawa.


Setelah berpamitan Rafa dan Karin segera meluncurkan mobilnya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Yakin kamu mau ke rumah sakit dulu?" Rafa menyakinkan.


"Ia Raf...aku pingin tahu pasien yang telah membuat asisten kamu itu kerepotan." Jujur Karin.


Rafa hanya menanggapi ucapan sang istri dengan senyuman saja.


Setelah menempuh perjalanan satu jam akhirnya mobil yang ditumpangi Rafa dan Karin sampai juga di tempat yang dituju.


Seperti biasanya Rafa membukakan pintu mobilnya untuk Karin.


"Silahkan turun ratuku selamat menginjakan kakimu di rumah sakit milikku." Tutur Rafa.


Ya....ini kali pertama untuk Karin menginjakan kakinya ke rumah sakit milik Rafa.Rafa merintisnya dari nol.


Karin melihat ke sekeliling merasa bersyukur akan apa yang telah diraih Rafa.


"Alhamdulillah...suamiku ini ternyata orang yang hebat, aku salut sama kamu."Ucap jujur Karin.


"Alhamdulillah...aku juga salut sama kamu."


Kedua insan itu saling memuji satu sama lain.


Setelah puas dengan melihat lihat sekeliling Karin bergandengan masuk kedalam rumah sakit.


Mereka disambut oleh para pengawai Rafa.


Senyumannya Karin tak henti henti.Merasa benar benar tersanjung diperlukan manis oleh semua orang.


Sampai akhirnya mereka berdiri tepat disebuah pintu kamar rawat.Terdengar dari luar luar kamar teriakan dan lemparan barang barang.Terdengar juga para perawat berusaha menenangkan pasien.


Karin melirik ke arah Rafa.


"Raf... pasien kamu sepertinya lagi mengamuk."Karin merasa cemas.


Rafa membukakan pintu kamar.


Netra gadis itu melirik ke arah pintu kamar yang terbuka.Dia tersenyum ketika melihat sosok Dokter yang sangat dia tunggu tunggu kini berada di pintu.


Gadis itu berhambur mendekati Rafa dan tanpa permisi dia memeluk Rafa.


"Dokter ...dari mana saja...aku takut sekali Dok..."Tutur gadis itu yang ternyata adalah pasiennya Rafa.


Mendapatkan pelukan mendadak tentu saja Rafa cukup kaget.Apa lagi Karin yang menatap gadis itu penuh dengan ketidaknyamanan.


Bagaimana bisa dia seenaknya saja memeluk suaminya.Karin tak berbuat apa apa walaupun rasanya ingin dia mendorong tubuh gadis itu untuk menjauh dari tubuh suaminya.


Karin ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rafa setelah ini.


Rafa yang tersadar dari rasa kagetnya langsung mendorong tubuh gadis itu dengan pelan.


"Maaf Raina...kamu bukan muhrim saya tolong jangan memeluk saya seperti ini." Gadis itu adalah pasien Rafa bernama Raina.


Raina termenung mendengar ucapannya Rafa .


"Maaf Dok ...saya benar benar takut."Raina menundukkan kepalanya.


Rafa melirik ke arah Karin.Rafa melihat Karin hanya cuek cuek saja. Karin bukanya marah atau cemburu.Rafa terlihat kecewa dengan sikap Karin yang terlihat biasa biasa saja.


Sementara Karin dia lagi berusaha menahan rasa cemburu yang lagi menguasai hatinya.

__ADS_1


Mana ada seorang istri yang tahan melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain di depan matanya lagi.


"Tolong jelaskan sama saya kenapa kamu takut Raina?" Tanya Rafa pada pasiennya.


__ADS_2