
"Apa?"
Sifa yang sedang memberikan laporan 'pun tersentak dengan suara Karin yang setengah berteriak.
"Ada apa Rin eh maaf Bu ?" Sifa mendadak salah ucap saking cemas takut ada apa apa.
"Sifa, Rafa Sif, dia bener bener ya."Karin terlihat pusing sendiri menentukan sikap.
"Kenapa dengan Rafa, Bu?" Sifa mulai penasaran.
"Kata resepsionis dari tadi dia nunggu aku coba."
Mendengar ucapan Karin Sifa tersenyum.
"Itu artinya Rafa serius sama kamu Rin eh maaf Bu."Sifa menutup mulutnya sendiri karena keceplosan terus.
"Ih kamu Sifa, ya Rin ya Bu, gimana 'sih bikin tambah pusing saja."Karin mencibirkan bibirnya.
Sifa hendak menjawab Karin tapi dia tahan lagi ucapannya karena kalau sekarang memperdebatkan nama panggilan pasti yang ada tambah panjang urusannya.Akhirnya Sifa memilih diam .
"Kamu ko diam sih Sif?" Karin meneliti Sifa.
"Maaf Bu, rasanya saya ga berani berkomentar di jam kantor nanti menyalahi aturan." Ucap Sifa penuh penekanan.
Mendengar ucapan Sifa , Karin tersenyum penuh makna.
"Ok sekertaris ku, sekarang telepon pak Hamdan, meeting hari ini di majuin setengah jam lagi.Aku tunggu di Cafe love."
Sifa mengerutkan alisnya karena mendengar perintah Karin.
"Apa Bu? apa saya ga salah dengar?" Sifa kembali bertanya , soalnya Sifa tahu betul kalau Karin paling anti meeting sama Tuan Hamdan.
"Apa harus saya ulang lagi ucapan saya?" Karin mendadak tegas sama Sifa.
Sifa mau tak mau segera mengatur jadwal.
Setelah mendapat respon Sifa langsung memberi tahu Karin.
"Bu Tuan Hamdan sekarang langsung berangkat ke Cafe love." Ucap Sifa sambil menatap Karin.Dia menatap seolah ingin tahu maksud Sahabatnya melakukan ini secara tiba tiba.
"Ok, sekarang kita pergi juga." Karin langsung membawa tasnya .Sifa yang bengong melihat tingkah Karin segera mengikuti Karin.
Karin berjalan melewati Rafa yang sedang duduk.
Rafa yang melihat Karin 'pun segera berdiri dan ingin menghampirinya.Tetapi Karin berlalu begitu saja.Rafa menatap kepergian Karin dengan tatapan penuh tanda tanya.
Sifa setengah berlari mengikuti Karin.Melihat hal itu Rafa langsung menarik tangan Sifa.
"Sif kenapa dengan Karin?"
"Maaf Raf aku juga ga tahu."
"Sekarang mau kemana?" Tanya Rafa pada Sifa.
"Cafe Love.Ada meeting. Udah ya nanti Karin marah lagi."
__ADS_1
Sifa segera menyusul Karin.
Rafa 'pun segera keluar.Tujuan dia sama Cafe Love.
"Rin, Rin kenapa 'sih kamu jadi main kucing kucingan ' sih sama aku?" Rafa bermonolog sendiri sambil menyetir.
Karin tiba di Cafe Love.
Tuan Hamdan yang sudah menunggu segera menyambut Karin dengan senyuman mekarnya.Pasalnya dia benar benar merasa mendapat angin segar karen Karin tiba tiba mau meeting dengannya, di Cafe Love lagi.Tuan Hamdan kini semakin merasa percaya diri bisa mendapatkan Karin.
"Selamat siang Bu Karin." Sapa Tuan Hamdan.
Dia menggeser kan kursi untuk tempat duduk Karin.
"Selamat siang juga Tuan Hamdan, terimakasih karena sudah bersedia datang di acar meeting yang mendadak ini." Karin berbasa basi, sambil duduk di kursi yang di bukakan Tuan Hamdan.
"Ia Bu Karin , kalau buat saya meeting kapan saja asalkan dengan Bu Karin pasti selalu siap." Tuan Hamdan menjawab Karin sambil modus merayu.
Sebenarnya Karin ga nyaman juga, tapi demi misinya dia bela belain melakukan ini.
Rafa yang baru datang ke Cafe itu melihat Karin yang terlihat akrab dengan Tuan Hamdan.
Rafa hanya bisa menatap saja dari jauh, dia memperhatikan setiap interaksi dari Karin.
Karin yang menyadari kehadiran Rafa kini melancarkan misinya.
"Bu Karin apa boleh kita memesan makan dulu?" Tawar Tuan Hamdan setelah mereka selesai meeting.
Karin mengganggu kan kepalanya.Lalu dia melihat Sifa.
Mendengar ucapannya Karin Sifa mengerut kan lagi alisnya.
"Tapi Bu ____?"
"Kamu ga denger ya apa perintah Bu Karin?" Tuan Hamdan menatap tajam Sifa sekaligus memotong ucapan Sifa.
Melihat sahabatnya di bentak kaya gitu Karin merasa sangat tersinggung, niat hati mau memanas manasi Rafa kini hilang.Karin tak terima ada orang membentak sahabatnya di depan dia.
"Maaf Tuan." Sifa menundukkan kepalanya.
Melihat itu Karin makin geram.
"Kenapa kamu minta maaf Sifa kamu 'kan ga salah."
Karin menatap Tuan Hamdan.
"Dia sekertaris yang tidak profesional Bu Karin."
"Bagaimanapun kinerja dia bukan anda yang menentukan Tuan Hamdan, anda tidak ada hak sama sekali untuk membentak sekertaris saya." Tegas Karin pada Tuan Hamdan.
Merasa tak terima Tuan Hamdan menatap Karin tajam.
"Bu Karin berbicara seperti itu pada saya gara gara sekertaris anda ini ! Apa tidak salah ?"
Tuan Hamdan menunjuk nunjuk Sifa.
__ADS_1
"Anda tidak tahu siapa dan apa arti sekertaris saya ini buat hidup saya."
"Bu Karin saya ga terima anda berbicara seperti ini."
"Lalu apa mau anda Tuan Hamdan?"
Suasana semakin memanas.
"Aku mau makan romantis malam ini sama kamu Bu Karin, kalau tidak____."
"Kalau tidak apa Tuan Hamdan?" Karin menyoroti Tuan Hamdan.
"Kalau tidak perjanjian kerjasama kita batal."Tuan Hamdan merasa percaya diri kalau Karin pasti tidak akan ingin kerjasama nya batal.Mengingat hubungan perusahaan orangtuanya dengan perusahaan Karin sudah lama melakukan kerjasama.
Senyum Karin mekar sempurna.Kini hal yang di tunggu tunggu terucap juga, tanpa harus mengecewakan orang tua dari Tuan Hamdan yang baik, kini Karin bisa memutuskan kerjasama tanpa dia yang meminta.
"Oh seperti itu 'kah Tuan Hamdan."Karin tersenyum penuh arti.
"Ya tentu saja." Tuan Hamdan begitu percaya diri.
"Baiklah bersiaplah nanti jam delapan malam aku jemput." Tuan Hamdan berdiri hendak pergi.
"Tunggu Tuan Hamdan yang terhormat.Jika anda memberikan pilihan seperti itu pada saya maka dengan senang hati saya menerima pemutusan kerjasama antara perusahan orang tua anda dengan perusahaan saya."Ucap Karin penuh ketegasan.
"Deg...!" Tuan Hamdan sekejap mematung mendengar jawaban dari Karin.
Karin dan Sifa hendak pergi tetapi tangan Karin di tarik sama Tuan Hamdan dia hendak memeluk Karin.
Tetapi belum juga keinginannya kesampaian tinjuan tangan Rafa melayang ke muka Tuan Hamdan.
"Awww..." Ringgis Tuan Hamdan.
Sementara Karin dan Sifa mundur dan menatap kaget melihat serangan yang tiba tiba.
"Rin, lihat itu Rafa." Ucap Sifa pada Karin yang menunjuk pada Rafa yang ingin lagi memberikan tinju lagi pada Tuan Hamdan.
Karin yang tersadar segera menghampiri Rafa .
"Raf, sudah Raf, istighfar kamu." Karin menahan tangan Rafa.
Mendengar ucapannya Karin, Rafa tersadar.
"Astagfirullah al adzim."
"Kamu ga apa apa 'kan Rin?" Rafa meneliti keadaan Karin.
"Ga ko Raf tenang saja aku baik baik saja."
Seketika Rafa menatap tajam Tuan Hamdan.
"Hey dengarkan perkataan saya sekarang, dan saya harap anda tidak terus meminta saya mengulanginya lagi.
.Jangan pernah berani berani lagi sentuh sentuh Karin .Karena Karin adalah calon istri saya, sekali lagi anda berbuat seperti ini saya pastikan anda akan menyesal !"
"Deg..!"
__ADS_1