Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Menemui Tuan Atmaja.


__ADS_3

Raina mengusap dadanya yang mendadak menjadi sesak. Hatinya benar benar ga rela jika Dokter Rafa begitu perhatian pada Karin.


"Sadar Raina, sadar....kamu harus tahu diri. Siapa kamu ga seharusnya kamu memiliki rasa untuk pria yang sudah beristri." Agan Raina ngomong sendiri.


Ayahnya Raina melirik ke arah Raina seolah mengerti dengan apa yang dirasakan oleh putrinya itu dia mengusap lembut punggung Raina.


"Ayo Raina ."Ajak sang ayah sambil menatap Raina seolah menguatkan hati Raina.


"Ia Yah..."Raina menganggukkan kepalanya.


"Tok...tok... assalamualaikum." Ayahnya Raina mengetuk pintu yang sejatinya dari tadi sudah setengah terbuka.


Mendengar suara ketukan pintu Rafa mengalihkan pandanganya ke arah pintu.


"Wa'alaikumsalam...silahkan masuk pak." Jawab Rafa dengan senyuman miliknya yang khas.


Mungkin karena mood Rafa sedang bagus sehingga aura ketampanannya seolah terlihat berkali kali lipat.


Melihat senyuman khasnya Dokter Rafa hati Raina dag dig dug ga karuan.Senyuman itu tatapan mata itu membuat Raina menjadi salah tingkah sendiri.


"Astagfirullah...Raina sadar...sadar !" Raina berteriak dalam hatinya.


"Silahkan duduk pak, Raina." Sapa Dokter Rafa dengan ramah.


"Terima kasih Dok." Tutur sang ayah sambil duduk di kursi.


Melihat Raina yang hanya berdiri sambil bengong saja sang ayah segera menarik tangan sang anak. Mencoba menarik Raina dari alam bawah sadarnya.


"Duduk Raina..." Ajak sang ayah.


"Eh...ia ia..."Raina terlihat sekali salah tingkah.


Setelah melihat ayah dan anak itu duduk nyaman baru Dokter Rafa memulai obrolan nya.


"Gimana pak, apa sudah diputuskan?"


"Ia Dok.... setelah kami berbicara kami sudah memutuskan nya Dok."


"Lalu apa keputusan kalian?" Tanya Rafa agak penasaran.


Ayah Raina dan Raina saling tatap penuh isyarat sebelum menjawab.


Raina menganggukkan kepalanya tanda memberikan ijin pada sang ayah untuk menjawab.


Sang ayah mengerti dengan isyarat dari Raina . Dia mengalihkan pandangannya pada Dokter Rafa.

__ADS_1


"Dok...sebelumnya saya dan putri saya ini ingin mengucapkan banyak terima kasih pada Dokter Rafa karena selama ini telah menolong kami khususnya putri saya ini tanpa pamrih. Walau saya tahu resiko yang Dokter Rafa ambil untuk menolong kami ini sangat besar, tetapi Dokter tidak mundur untuk membantu kami." Ucap Sang Ayah penuh rasa haru.


"Sama sama pak...saya hanya perantara saja mungkin Tuhan lah yang telah mentakdirkan ini semua. Semua atas izin dariNya. Bapak tak perlu berkata seperti itu cukup menjadi orang yang bersyukur itu sudah cukup buat saya."


"Dokter Rafa ini memang paling bisa kalau soal merendah. Saya hanya bisa berdoa semoga semua kebaikan Dokter Rafa dibalas berkali kali lipat dengan kebaikan oleh Yang Maha Esa. Aamiin."


"Aamiin...aamiin." Terima kasih pak atas doanya buat saya ini lebih berharga dari apa pun." Tutur Dokter Rafa dengan tersenyum.


Membuat Raina yang melihat semakin bertambah salah tingkah.


"Tetapi Dok, saya minta maaf lagi untuk kesekian kalinya saya dan putri saya harus merepotkan Dokter Rafa lagi."


"Maksudnya apa pak?" Dokter Rafa mengerutkan keningnya.


"Begini Dok...kalau boleh saya minta tolong apa bisa Dokter Rafa mengantar kami bertemu dengan Tuan Atmaja?" Ucap Ayahnya Raina.


"Jadi bapak dan Raina sudah siap bertemu Tuan Atmaja?"


"Ia Dok...kami siap." Ucap Sang ayah.


Rafa melirik ke arah Raina yang dari tadi hanya diam saja.


"Raina apa kamu sudah siap untuk bertemu dengan kakek mu, Tuan Atmaja?" Tanya Rafa pada Raina ingin memastikan.


"Saya siap Dok..." Jawab Raina yakin.


Raina menggenggam tangan sang ayah.Meminta kekuatan lewat genggam itu.


Sang ayah balik mencengkram tangan putrinya itu memberikan kekuatan bahwa apa yang telah mereka putuskan memang keputusan yang benar.


"Kalian sudah siap mari kita berangkat." Ajak Rafa.


Akhirnya Raina dan sang ayah bangkit dan mengikuti langkah Dokter Rafa keluar dari ruangannya.


Di sepanjang perjalanan Raina dan sang Ayah saling meremas tangan. Ada rasa ga percaya dengan apa yang akan mereka lakukan ini. Ada rasa was was juga dalam hati keduanya.


Rafa yang melihat kecemasan Ayah dan anak itu hanya bisa tersenyum tanpa berkata apa pun. Dia cukup mengerti dengan perasaan Ayahnya Raina dan Raina. Tidak mudah memang menerima dan beradaptasi dengan perubahan status yang sebentar lagi akan mereka hadapi.


Setelah menempuh perjalanan satu jam dengan kecepatan mobil yang lumayan cepat akhirnya mereka sampai juga pada sebuah rumah yang hanya terlihat gerbangnya saja yang menjulang tinggi ke atas.


Raina dan sang ayah saling pandang ketika melihat sopir Rafa turun menuju gerbang itu.


"Dokter...apa kita sudah sampai?" Tanya Raina ragu.


"Ia Raina ....ini kediaman kakek mu dan dulu ini adalah tempat tinggal ibumu." Tutur Rafa sedikit menjelaskan.

__ADS_1


Raina terdiam tak mampu tuk bertanya lagi.


Tak selang beberapa lama gerbang tinggi itu dibukakan oleh seorang penjaga yang berpakaian sangat rapih seperti sebuah seragam khusus.


Sopir Rafa memasukkan mobilnya ke dalam. Raina dan sang ayah terbengong begitu masuk ke halaman rumah itu. Pemandangan yang sangat menakjubkan tentu saja buat Raina dan sang Ayah.


Begitu sampai Rafa melirik ke arah Raina dan sang ayah yang memperhatikan sekitarnya dari dalam mobil miliknya.


"Pak, Raina ayo kita turun sudah sampai." Ajak Dokter Rafa mengangetkan Raina dan Ayahnya.


"Ia Dok..."


Ayahnya Raina dan Raina turun dari mobil.Mereka mengikuti langkah Rafa.


"Assalamualaikum...apa saya bisa bertemu dengan Tuan Atmaja?" Tanya Rafa pada pegawai yang ditugaskan menjaga pintu masuk.


"Wa'alaikumsalam...pak, apa sebelumnya bapak sudah membuat janji dengan Tuan Atmaja? Tanya pegawai itu.


"Saya belum membuat janji apa pun. Tetapi katakan saja pada Tuan Atmaja kalau Dokter Rafa ingin bertemu dengan-nya." Pinta Rafa pada pegawai itu.


"Baik pak ... mohon tunggu dulu." Jawab pegawai itu ramah.


"Silahkan..."Jawab Rafa tak kalah ramah.


"Permisi Tuan ,maaf saya mengganggu." Ucap pegawai itu dengan kepala tertunduk begitu menemui Tuan Atmaja.


"Ia ada apa?"


"Maaf Tuan di luar ada tamu yang ingin bertemu Tuan." Jelas pegawai itu.


"Siapa?" Tanya Tuan Atmaja tanpa melirik.


"Dia bilang kalau namanya Dokter Rafa."


"Dokter Rafa ?" Tuan Atmaja melirik ke arah pegawainya.


"Betul Tuan...Dokter Rafa." Pegawai itu menyakinkan.


"Ada apa dia mau bertemu denganku." Angan Tuan Rafa bertanya tanya sendiri.


"Suruh dia masuk." Perintah Tuan Atmaja pada pegawainya.


"Baik Tuan. Saya permisi."


Tak selang beberapa lama pegawai itu menghampiri Rafa.

__ADS_1


"Maaf Dokter Rafa agak lama, kata Tuan Atmaja silahkan masuk." Pegawai itu membukakan pintu masuk dan mengantar Rafa , Ayahnya Raina dan Raina masuk menemui Tuan Atmaja.


__ADS_2