Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Harus kerja.


__ADS_3

Karin dan Rafa kini sedang menikmati sarapan pagi mereka.


"Rin...masakan kamu ternyata enak banget ...aku ingin setiap paginya kamu yang nyiapin sarapan buat aku ya." Pinta Rafa pada Karin.Rafa berbicara setelah menghabiskan makanan di piring nya.


"Alhamdulillah...kalau kamu suka, tapi bener 'kan suka ga gada gada?" curiga Karin pada ucapannya Rafa.


"Mana ada gada gada...lihat nih sampai habis makanannya." Rafa melihatkan piring yang sudah kosong.


"Biasanya...aku kalau sarapan ga sebanyak ini, tapi makan masakan kamu bikin aku berselera banget." Jujur Rafa pada Karin.


"Oh...ya...awas nanti kamu jadi gemuk lo..."Ucap Karin sambil terkekeh.


"Haha...ga akan Rin, kalau aku gemuk nanti kamu ga suka."Jawab Rafa sambil tersenyum pada Karin.


"Raf...aku siap siap dulu ya mau ke perusahan


dulu..." Ucap Karin.


"Aku...anterin ya..."Tawar Rafa.


"Ok..."Karin mengacungkan dua jempolnya.


Setelah Karin berlalu Rafa 'pun siap siap.


Selang satu jam keduanya sudah siap.


Karin melangkah keluar dari kamarnya barengan dengan Rafa yang keluar dari kamarnya juga.


Karin dan Rafa 'pun tertawa geli menertawakan tingkah mereka yang seperti itu.


"Sudah siap...?"Tanya Rafa.


"Sudah dong..."


"Kamu cantik..."Puji Rafa pada Karin sambil menarik tangan Karin untuk Rafa genggam.


"Alhamdulillah, terima kasih lo atas pujiannya."Ucap Karin tersipu malu.


Mereka berjalan dengan saling menggenggam tangan menuju ke mobil.


"Silahkan ..." Seperti biasanya Rafa membukakan pintu mobilnya untuk Karin.


"Terima kasih." Karin dengan senang hati masuk kedalam mobil.


"Rin ...kamu kira kira jam berapa pulangnya?" Tanya Rafa pada Karin disela sela perjalanannya.


"Ga tahu Raf, emang kenapa?"


"Maaf ya...kayanya aku ga bisa nungguin kamu hari ini soalnya tadi ada telepon juga dari Rumah sakit ada pasien yang harus segera aku tangani."


"Oh...gitu, ya sudah ga apa apa, nanti saja pas aku pulang aku kabarin." Jawab Karin santai.


"Makasih Rin, buat pengertiannya."


"Ih...ga gitu juga kali ngomongnya..." Mata Karin mendelik pada Rafa.


"Aku 'kan ga enak hati sama kamu sementara aku sudah janji mau nungguin kamu."


"Ia...tapi ini 'kan lebih penting Raf, aku ngerti ko."


"Love u istriku." Rafa mengeratkan tangannya pada tangan Karin kemudian menciumnya.

__ADS_1


"Ih...Raf...hati hati lo kamu lagi nyetir!"


Mendengar itu Rafa hanya senyum acuh,"Aku juga hati hati dong Rin, mana ada mau celaka orang baru saja nikah.Mana baru kecupan saja lagi."Jawab Rafa santai.


"Ih...kamu ngomong apa sih?" Karin tersipu malu mendengar ucapan polos Rafa.


"Ih...emang bener 'kan?" Rafa makin senang menggoda Karin.


"Ah...kamu Raf, aku heran deh sama kamu sekarang kamu fulgar banget 'sih."


"Haha...ya ia lah , orang kita sudah halal kali...ga ada yang harus ditutup tutupin Rin.Apa lagi masalah seperti ini."Rafa terkekeh.


Mobil yang ditumpangi mereka akhirnya sampai di depan perusahaannya Karin.


Karin melirik ke arah Rafa.


"Kamu mau langsung pergi?"


"Ia ....maaf ya." Ucap Rafa dengan nada menyesal.


"Kamu hati hat ya...kabari aku kalau sudah sampai." Ucap Karin sambil mengulurkan tangannya pada Rafa.


Karin mencium tangan Rafa dengan takzim.


"Aku pamit ya..." Pamit Karin setelah selesai salam pada Rafa.


"Rin... tunggu dulu."Pinta Rafa sambil menahan tangan Karin.


"Apa?"


Tanpa permisi Rafa mencium bibir Karin lembut membuat sang pemilik terdiam dengan tingkah mendadak suaminya.


"Rafa..." Setelah Karin sadar dia mencubit tangan Rafa dengan manja.


Karin hanya bisa tersenyum malu.


"Tunggu ya Rin..." Rafa keluar dari mobilnya.


Seperti biasanya Rafa membukakan pintu mobilnya untuk Karin.


"Silahkan bidadari ku..."


"Ih kirain mau apa, tapi terima kasih ya."


"Sama sama ...aku langsung berangkat lagi ya.Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, kamu hati hati...ya." Karin melambaikan tangannya mengiringi keberangkatan Rafa.


Setelah Rafa berlalu Karin masuk ke perusahaannya dengan senyuman yang sangat mekar.


Keceriaan Karin terlihat nyata sekali sampai sampai para pekerja nya juga merasakan kalau big boss lagi happy berat.


Senyum ramah Karin menunjukan dia bukan pemimpin yang arogan.Hal ini yang membuat para karyawannya selalu betah bekerja.


Sifa yang melihat Karin sudah masuk kerja lagi.Dia merasa heran kenapa dengan pengantin baru itu.


Karena merasa cemas Sifa mengekor Karin yang masuk ke ruangan ya.


"Rin...Eh Bu..." Sifa bingung sendiri.


"Kenapa Sif...kamu mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Rin..maaf aku tahu ini di wilayah jam kerja tapi aku khawatir sama kamu ." Ucap Sifa pada Karin.


"Emang aku kenapa sampai di khawatir 'kan segala?" Karin merasa ga ngerti.


"Kamu dan Rafa baik baik saja 'kan?" Tanya Sifa mengeluarkan kecemasannya.


"Kami baik ko, emangnya kenapa ko kamu nanya gitu?" Karin malah balik bertanya pada Sifa.


"Secara kalian 'kan pengantin baru." Ucap Sifa merasa terlalu kepo.


"Oh ....jadi itu yang membuat kamu khawatirkan aku.Aku sama Rafa lagi merasakan pacaran dulu sebelum jadi suami istri seutuhnya."


"Maksudnya apa Rin? kamu suka ngada gada saja." Kekeh Sifa yang merasa lucu dengan sahabatnya itu.


"Ya begitulah...susah ngejelasinnya, yang penting sekarang kamu ga usah khawatirkan aku lagi.Kami baik baik saja ko."


"Alhamdulillah, kalau begitu." Sifa merasa tenang.


"Oh ia Bu...tadi ada telepon dari ayahnya tuan Hamdan beliau meminta waktunya untuk bertemu dengan Ibu." Sifa kembali pada gaya bekerjanya.


"Kamu jawab apa?"


"Saya jawab nanti dikabarin lagi, soalnya Ibu belum datang ."


"Ya sudah..kamu atur saja waktunya.Kalau bisa selesai dari meeting aku sama perusahaan yang dari Jepang itu." Pinta Karin pada Sifa.


"Baik Bu.Kalau begitu saya permisi."


Karin hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.Sementara kini matanya tengah fokus pada dokumen dokumen yang harus dia tanda tangani.


Sementara Rafa yang baru saja nyampai di Rumah sakitnya segera masuk ke ruangan nya.


Asistennya segera menghampiri nya.


"Mana hasil medis nya?" Pinta Rafa pada asistennya.


"Ini Dok."


"Kenapa bisa begini, saya kemarin meninggalkan pasien ini keadaanya stabil?"


"Maaf Dok sepertinya pasien di kasih obat lain dari luar." Jawab sang asisten dengan rasa menyesal.


Tiba tiba pintu ruangan ada yang mengetuk dari luar.


"Masuk !" Titah Rafa.


Ternyata yang masuk Orang tua dari pasien.


"Maaf Dok, saya boleh menganggu waktunya sebentar." Wajah paruh baya itu terlihat agak takut menghadap Rafa.


"Ia Pak...silahkan masuk." Ucap ramah Rafa.


Setelah duduk agak santai bapak itu menarik napas kasar tanda apa yang akan dia sampaikan adalah berat.


"Dok, saya minta maaf."


"Ia Pak, minta maaf untuk apa ya?"


"Kemarin kemarin ada saudara saya datang.Dia memberikan ini pada saya katanya obat ini bisa memulihkan anak saya dengan cepat Makanya waktu itu saya sembunyi sembunyi memberikan ini."Ucap Bapak itu sambil memberikan sisa bungkusan obatnya.


"Periksa ini !" Titah Rafa pada asistennya.

__ADS_1


"


"


__ADS_2