Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Episode 104


__ADS_3

"Raf...aku mau pulang." Ucap Karin tak ingin membahas Adit dan Adit.


"Kamu masih ngambek sama aku Rin ?"


"Sudahlah..ini sudah mau malam pasti Ibu dan Bunda menunggu."


Karin berjalan mendahului Rafa.


Rafa hanya bisa pasrah dia mengikuti Karin dari belakang.


Di dalam mobil mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


Sampai rumah Bunda menyambut anak dan mantu mereka dengan wajah yang sumringah.


"Syukur lah kalian sudah pulang. Bunda sudah menunggu kalian dari tadi lo."


"Maaf Bun...kami telat datangnya. "


"Kalian mau bersih bersih dulu atau mau langsung saja makan malam ?"


"Kami bersih bersih dulu ya Bun, sebentar ko." Ucap Rafa sambil melihat mimik wajah Karin.


"Ya sudah jangan lama lama ya...Bunda sama Ibunya Karin tunggu di ruang makan."


Sementara Bunda ke ruang makan sedangkan Karin dan Rafa masuk ke dalam kamar.


Karin menyiapkan pakaian ganti untuk Rafa setelah itu dia pergi ke kamar mandi tanpa berbicara sedikitpun pada Rafa.


Rafa hanya bisa diam melihat Karin yang begitu cuek padanya.


Setelah Karin keluar baru Rafa masuk ke kamar mandi.


Karin tidak menunggu Rafa untuk menuju meja makan dia pergi duluan menemui Ibu dan Bunda yang sedang menunggu.


"Lo...mana Rafa sayang ko ga bareng sih ?"


Tanya Ibu sedikit curiga melihat gelagat anaknya yang tentunya dia sebagai seorang Ibu tahu karakter Karin seperti apa.


"Oh...Rafa lagi mandi dulu Bu, aku duluan soalnya pingin ngobrol ngobrol dulu sama Bunda sama Ibu, rasanya kangen banget." Ucap Karin mencoba menutupi masalahnya dari sang Ibu.

__ADS_1


"Oh...biarkan Rin...Rafa kalau mandi memang suka lama." Ucap Bunda dia tidak ngeh dengan sikap Karin yang agak berubah. Beda halnya dengan Ibu dia malah menatap lekat manik mata Karin.


Karin memalingkan muka dari pandangan Ibu. Soalnya pandangan Ibu pandangan seribu tanya yang tentunya akan membuat Karin ga mampu lagi untuk menyembunyikan perasaan kecewanya terhadap Rafa.


"Gimana hari ini pekerjaannya ? semua baik baik saja kan ?" Tanya Bunda.


Karin dan Bunda saling berbincang ria. Karin berusaha menciptakan suasana yang ceria agar Ibu dan mertuanya tidak tahu kalau antara dirinya dan Rafa lagi ada perdebatan kecil. Sementara tak seperti biasanya Ibu tidak banyak bicara dia hanya menjadi penyimak saja.


Karin dan Bunda lagi asyik ngobrol ketika Rafa datang.


Rafa melirik ke arah Karin.


Rafa sedikit kesal karena Karin meninggalkan dirinya saat lagi mandi meski kebutuhan dirinya sudah di siapkan oleh Karin tetapi entah kenapa dia kesal saja begitu keluar kamar mandi sang istri sudah tak ada.


"Hai sayang sini duduk..lama amat sih..."


"Maaf Bun."


"Ya sudah berhubung Rafa sudah ada mari kira makan." Ajak Bunda.


Tak ada yang aneh Karin tetap melayani Rafa termasuk di meja makan. Bedanya Karin lebih memilih berbicara sama Ibu dan Bunda ketimbang sama Rafa.


"Ya...rumah kita jadi sepi lagi dong." Rajuk Karin.


"Ia sayang...maaf ya...Bunda kan harus memberi kabar juga pada keluarga yang di sana. Lagian kasihan nenek lama lama di tinggal meskipun ada yang jaga ga enak juga soalnya nenekmu itu suka manja seperti anak kecil." Ucap Bunda sambil terkekeh.


Usai perbincangan seru mereka tiba saatnya untuk istirahat. Karin dan Rafa masuk kedalam kamar mereka.


Rafa menatap Karin yang langsung masuk ke atas kasur dan langsung menutupi dirinya dengan selimut.


"Rin..kamu kenapa sih ? sekiranya aku salah kamu ngomong dong jangan diam terus seperti itu." Ucap Rafa sambil duduk di tepi ranjang.


Karin tidak menyahut.


"Rin..." Rafa kembali memanggil Karin.


Karin masih saja diam.


"Astagfirullah...Rin ! segitu berartinya Adit ya di hati kamu sampai kamu mendiamkan aku seperti ini. "

__ADS_1


Ucapan Rafa sontak membuat Karin bangun dan menatap lekat wajah Rafa.


"Kamu barusan bilang apa Raf...? nyatanya pernikahan ini ga cukup untuk kita mengerti satu sama lain."


"Maksud kamu apa Rin ? kamu membawa bawa pernikahan , kamu menyesal nikah sama aku ?"


Karin tak percaya dengan ucapan Rafa. Dia menatap sengit manik mata Rafa.


"Kamu terlalu egois Raf...maaf aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku minta izin buat keruangan musik dulu."


Rafa mengerutkan keningnya.Sebenarnya dalam hatinya kenapa meski ke ruangan musik.Tetapi Rafa tidak banyak kata dia hanya menganggukkan kepalanya.


Melihat Rafa menganggukkan kepalanya Karin segera pergi.


Ibu yang tak bisa tidur sepintas melihat Karin masuk ke ruangan favorit nya itu . Ibu tahu betul Karin kalau masuk ruangan itu malam malam begini pasti lagi ada masalah.


Karin masuk ke ruangan musik langsung menyalakan musik dengan suara yang keras.Ruangan itu kedap suara jadi seberapa keras musik diputar ga akan membuat gaduh orang yang di luar. Musik seolah mewakili jeritan hati Karin kala ingin berteriak marah ataupun kesal.


Satu jam Ibu membiarkan Karin meluapkan rasa.


Tak selang berapa lama dia mengetuk pintu.


Karin enggan membuka pintu tetapi ga enak hati juga membiarkan Ibu terus mengetuk pintu akhirnya dengan muka masih suntuk Karin membukakan pintu itu.


Ibu masuk langsung to the point bertanya pada Karin.


"Sayang kamu lagi ada masalah ya dengan Rafa ?"


"Ga Bu, Karin cuma lagi suntuk saja sama pekerjaan Karin." Karin pura pura mengeles.


"Kamu jangan bohong Rin, Ibu ini yang melahirkan dan merawat kamu , Ibu tahu betul karakter kamu seperti apa."


"Ibu memang tahu semua tentang Karin, tetapi bukankah Ibu juga yang mengajarkan pada Karin agar tidak menjadi istri yang suka ngadu yah Bu." Karin menatap wajah Ibunya.


"Itu betul sayang, tetapi kamu harus tahu meski Bu ini Ibu kandungmu Ibu ga akan memihak sama kamu ataupun pada Rafa.Ibu di posisi yang netral. Cuma Ibu hanya ingin memberi pesan saja karena kalian kan masih muda dan baru lagi menjalani rumah tangga. Pasti ada saatnya merasa kaget dengan watak dan sifat yang tersembunyi dari pasangan."


Karin menatap Ibu. Masih ragu untuk bercerita.


"Kalau kamu ga yakin Ibu bisa membantu ga apa apa ga usah diceritakan. Ibu sebagai orang tua hanya bisa berdoa semoga kamu dan Rafa bisa bijak dalam menyelesaikan masalah kalian. Ini baru permulaan lo Rin...karena dalam pernikahan itu selalu saja ada hal yang membuat kita jadi ribut. Meskipun sebenarnya hal itu ga perlu di ribut kan tetapi keegoisan dari masing masing bisa membuat masalah menjadi membesar."

__ADS_1


__ADS_2