
"Raf...kamu ga bersih bersih dulu ?" Ucap Karin karena melihat Rafa langsung rebahan di sofa begitu datang ke rumah.
"Mau dong...bentar lagi."
"Aku ke kamar ya...sekalian bersih bersih."
"Ih...tunggu." Rafa menarik tangan Karin Hinga Karin terjatuh di pangkuan Rafa.
"Rafa..."
"Sini dulu Rin...aku kangen ."
"Astagfirullah...ga disini dong, nanti ada si bibi gimana?"
"Aman si bibi tadi izin ke aku mau ke mini market yang di depan."
"Kapan izinnya, perasaan kita baru sampai."
"Tapi Rin pas kamu nyimpan barang barang aku."
"Oh..."
Rafa mengikis jarak .
"Haha...Rafa..geli tahu.."Karin tertawa karena Rafa terus merusuh di lehernya.
"Satu kecupan di sini setelah itu kamu boleh bersih bersih." Nego Rafa.
Rafa semakin mengikis jarak.
Kedua insan itu saling melempar senyuman sambil merapatkan jarak.
"Kejutan..." Tiba tiba Karin dan Rafa dikagetkan dengan teriakan dari dalam.
"Rafa..." Karin langsung mendorong dada Rafa agar menjauh.
"Aww...sakit Rin."
"Astagfirullah..kalian .." Bunda dan Ibu ternyata yang mengejutkan Karin dan Rafa.
"Bunda , Ibu kalian kapan datang?"
Karin bangkit dan langsung menyalami ibu dan mertuanya.
"Astagfirullah...Ibu dan Bunda datangnya ga tepat waktu." Goda Rafa sambil menyalami kedua wanita yang berarti di hidupnya itu.
"Dasar bocah nakal...kalau mau romantis romantisan di kamar jangan dimana saja. Rin...lain kali cubit saja kalau rusuh kaya gitu Bunda ikhlas ko." Bunda balik menggoda.
" Ouh...Bunda orang Karin nya juga senang Rafa romantisin."
"Rafa...." Karin mencubit pinggang Rafa. Tak luput wajahnya benar benar bersemu merah.
"Sudah sudah kalau terus ledekin Rafa ga akan kelar urus nya."Ucap Bunda.
"Lagian ko bisa Bunda sama Ibu datangnya kompakan sih. Bunda dan Ibu gimana sehat sehat kan?" Ucap Rafa agak serius.
__ADS_1
"Alhamdulillah Raf Ibu sehat bahkan lebih sehat dari sebelumnya. Mungkin karena lihat kamu dan Karin sudah berumah tangga kali ya makanya hati Ibu tenang...kami sengaja datang ke sini pingin urus resepsi pernikahan kalian." Ucap Ibu terlihat serius.
"Ya ampun terimakasih Bu, kalian bela belain datang ke sini demi kami. Maaf sebenarnya kami juga barusan abis pulang dari taman cinta. Taman itu rencananya akan kami sewa buat ngadain resepsi pernikahan kami."
"Ouh..sudah dapat tempat toh...alhamdulillah kalau gitu. Terus apa yang perlu kami bantu kalau gitu?"
Karin dan Rafa saling pandang.
"Makasih lo Bun , Bu...untuk bantuannya sebelumnya. Sebenarnya kami ingin minta tolong soal cetring sama kartu undangan saja. Kalau soal dekorasi dan nuansanya Rafa yang atur." Jelas Karin panjang lebar.
"Ouh gitu ya... alhamdulillah kalau semuanya sudah terencana. Insyaallah kalau soal itu kita akan hendel." Jawab Ibu.
"Makasih Bu." Karin memeluk Ibunya.
"Gimana kamu nak..apa selama ini Rafa selalu bikin kamu happy. Dia ga suka manja manja kan?" Tanya Bunda pada Karin.
"Bunda malah nanya gitu , ya jelas Karin ga bisa jawab orang Rafa tiap hari manja terus."Rafa menjawab pertanyaan Bundanya.
"Kamu Raf ga malu malunya sama mertua."
"Hehe..." Rafa tersenyum pada Ibunya Karin.
"Kalau Ibu sih percaya banget sama nak Rafa akan selalu membahagiakan Karin. "Ucap Ibu sambil mengelus kepalanya Karin.
"Aamiin..insyaallah Bu. Terima kasih Ibu sudah percaya pada Rafa untuk menjaga putri Ibu. Insyaallah Bu Rafa akan selalu membuat Karin bahagia."
"Aamiin.."
Karin cukup terharu dengan penuturan Rafa.
Dia melemparkan senyuman termanisnya pada Rafa.
"Sudah nak...tadi kami makan malam duluan sebelum kalian datang."
"Ya sudah ...sana kalian istirahat dulu saja. Ngobrolnya bisa dilanjut besok." Ucap Ibu seakan paham dengan keinginan menantunya itu.
"Ia sana ...istirahat ...istirahat ya jangan bergadang." Ucap Bunda menekankan dengan maksud menggoda.
"Terima kasih Bun ,Bu kalau gitu kami istirahat dulu." Rafa meraih tangan Karin untuk masuk ke kamar.
Setelah berada di dalam kamar Karin menatap Rafa.
"Rafa sumpah deh ...aku benar benar malu tadi. Ya ampun muka aku berasa ilang di mata Ibu dan Bunda."
"Haha...sama sih aku juga kaget . Tapi pasti mereka ngerti lah. Kita kan masih pengantin baru."
"Lain kali jangan gitu lagi ya...sumpah aku malu banget."
"Ia sayang...tapi kalau di sini boleh kan..?"
"Ih...bersih bersih dulu Raf...bau." Ucap Karin sambil memencet hidungnya.
"Bau apa sih...perasaan masih wangi." Rafa mengendus ngendus badannya sendiri.
"Ia tapi kamu abis dari luar kotor kali."
__ADS_1
"Ia...sih. Bentar ya aku ke kamar mandi dulu. Mau sekalian bareng?" ucap Rafa sambil mengedipkan matanya.
"Kamu duluan Raf...biar aku nyiapin baju kamu dulu."
Rafa tersenyum sambil pergi ke kamar mandi tak lama berselang Rafa keluar hanya memakai handuk sepingangnya.
"Segarnya...." Ucap Rafa mengibas rambutnya bergaya sangat cool.
Karin hanya memandangnya sekilas lalu mengalihkan pandangan matanya.
"Raf...ini baju gantinya aku mau bersih bersih dulu ya..."
Karin segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karin keluar karena hanya membawa handuk saja waktu masuk kamar mandi kini Karin hanya memakai handuk sedada saja. Meskipun ada rasa malu Karin tetap keluar.
"Ehmmm...yang sudah bersih wangi banget nih." Tegur Rafa sambil memegang secangkir kopi di tangannya.
"Rafa...mana kunci lemari baju aku." Karin yang hendak mengambil baju ganti mencari kunci lemari yang mendadak ga ada.
"Ga tahu Rin, tapi aku sudah bawain baju ganti buat kamu tadi." Jawab Rafa santai.
"Mana ...?" Tanya Karin tanpa curiga.
"Tuh..." Rafa menunjukan baju yang ada di atas kasur.
Karin hendak memakai baju yang di siapin Rafa tetapi belum juga baju itu di ambil matanya melotot sempurna.
"Rafa...!" Teriak Karin menggema.
Sementara Rafa berjalan santai mendekati Karin.
"Kenapa sayang?"
"Rafa...kamu ngerjain aku ya. Masa aku harus pakai itu sih..?"
"Coba dulu aku pingin lihat kamu pasti seksi banget."
"Ga mau ah sama saja aku ga pakai baju kalau gitu."
"Oh...ya kalau begitu ga usah pakai baju saja ga apa apa ko." Rafa tersenyum penuh makna.
"Rafa...mana kuncinya? cepat berikan padaku aku kedinginan nih." Rengek Karin.
"Kamu kedinginan sayang?" Rafa mendekat.
"Rafa...stop ga..."
Rafa menggelengkan kepalanya lalu semakin mendekati Karin. Karin makin mundur sampai mentok tembok.
Rafa hendak memeluk Karin tetapi dengan lincahnya Karin mengelak dengan mem bungkukan badannya.
"Astagfirullah...lincah sekali ya kamu." Rafa menarik tangan Karin.
"Haha..."Karin tertawa senang melihat Rafa.
__ADS_1
"Perjuangan banget sih kamu Rin...awas kamu...jangan salahkan aku kalau kamu nanti ga bisa jalan."
"Ih...serem...amat pak Dokter ancaman nya."