
Rafa memberikan selembar kertas berserta sebuah materai untuk Ayahnya Tuan Hamdan tanda tangani.
"Silahkan anda baca!"
Ayahnya Tuan Hamdan membaca surat perjanjian itu dengan teliti.
Sementara Karin menatap Rafa.Karin ga percaya Rafa bertindak secepat itu.
"Kenapa kamu liatin aku seperti itu hmmm...?" Rafa berbisik pada Karin.
"Ga ...apa apa." Karin menggelengkan kepalanya.
Ayahnya Tuan Hamdan menatap Rafa dan Karin sebelum berbicara dia menarik napas dalam.
"Saya setuju dengan persyaratan dari kalian." Jawab Ayahnya Tuan Hamdan.
Dia hendak menandatangani surat perjanjian itu tetapi Rafa menghentikannya.
"Tunggu dulu sebaiknya anda berbicara dulu dengan anak anda karena meskipun anda tanda tangan kalau anak anda tidak setuju proses terhadap anak anda akan terus berlanjut.Saya tunggu sampai besok keputusannya!" Tegas Rafa tanpa basa basi.
"Baiklah..."Jawab Ayahnya Tuan Hamdan dengan penuh rasa kecewa karena dia berharap anaknya akan bisa di bebaskan hari ini ternyata harus menunggu hari besok.
"Pak... maafkan atas kejadian ini, saya sama sekali tidak mengira masalahnya akan panjang seperti ini."Sesal Karin pada Ayahnya Tuan Hamdan.
Jujur bagi Karin Ayahnya Tuan Hamdan sangat dia hormati.Mengingat kerja sama mereka sudah berjalan beberapa tahun.Tetapi sayang sikap anaknya membuat suasana akrab antara mereka harus berujung masalah.
"Saya mengerti Bu Karin, semuanya karena Hamdan yang tak bisa menjaga sikap, tetapi sebagai seorang ayah saya 'pun berharap yang terbaik untuk dirinya.Semoga saja kejadian ini jadi pelajaran untuk kehidupannya." Jawab Ayahnya Tuan Hamdan sambil menatap Karin.
Jujur dia sangat mengagumi sikap dan karakter Karin selama ini.Makanya dia tidak bisa menyalahkan anaknya sepenuhnya.Karena siapapun lelakinya yang sudah mengenal Karin pasti akan jatuh cinta.
"Baiklah kalau sudah selesai saya permisi mau pergi dulu menemui Hamdan." Pamit Ayahnya Tuan Hamdan.
Setelah berpamitan dia 'pun berlalu tinggallah Karin, Rafa dan Sifa.
"Raf....aku ga nyangka lo...kamu gercep." Puji Sifa pada Rafa dengan mengacungkan jempolnya.
Rafa hanya tersenyum lalu menatap Karin.
"Aku hanya tak ingin sesuatu memisahkan kami lagi.Jika aku mampu aku akan berusaha untuk terus melindungi Karin." Rafa berbicara sambil tangannya meraih tangan Karin untuk dia genggam.
"Alhamdulillah, terima kasih Raf." Ucap Karin sambil tersenyum membalas tatapannya Rafa.
"Ehmmm...ya ampun aku berasa ada dimana sekarang? ternyata ga enak juga ya di sini."
Ucap Sifa yang merasa jadi salah tingkah.
Karin dan Rafa terkekeh bersama.
"Makanya cepetan cari pasangan halal biar bisa seperti kami." Ucap Rafa enteng.
"Kalau ada aku juga mau kali Raf, cari yah..." Sifa menggoda Rafa.
"Haha... ternyata sahabat ku ini sudah ingin dihalalkan juga ya." Ledek Karin.
"Ah kamu Rin, emang kamu saja yang mau banyak pahala aku juga mau dong " Sifa balik meledek Karin.
__ADS_1
"Ya sudah nanti aku cariin temen temen aku ,spesial untukmu."
"Ah ..yang bener Raf?" Sifa terlihat bersemangat.
"Ia...ia..." Rafa dan Karin tertawa.
"Ya sudah aku kembali lagi ke perusahaan ya, soalnya banyak yang harus aku kerjakan." Sifa melirik Karin.
"Ok...ga dari tadi napa?"Ucap Rafa meledek Sifa.
"Astagfirullah...ia ia aku ngerti, pasangan halal ini ingin berduaan.Ya sudah assalamualaikum." Sifa berlalu pergi.
"Wa'alaikumsalam..."
Tinggallah Karin dan Rafa di sana.
"Raf ..aku masih penasaran kenapa kamu bisa tahu kalau dalang di balik penyerangan kita adalah Tuan Hamdan?" Karin terlihat penasaran.
"Aku suruh orang untuk mencari tahu Rin.Sejujurnya aku takut terjadi sesuatu sama kamu.Aku takut orang itu akan melukai kamu lagi.Makanya aku cari sampai ke akarnya.Maksud dan tujuannya.Dan ternyata Tuan Hamdan dibalik semua ini."Jelas Rafa pada Karin.
"Jujur aku tak menyangka Raf, aku pikir dia ga akan mendendam setelah kejadian waktu itu."
"Namanya juga hati orang ga bisa di samakan dengan hati kita Yang penting kita harus waspada."
"Ia Raf, tapi aku bersyukur punya kamu yang selalu menjaga aku." Karin mengedipkan matanya pada Rafa.
"Jujur Rin, sebenarnya aku takut kejadian waktu kita SMA dulu akan terulang lagi.Aku takut kehilanganmu."
"Ah kamu sweet banget, terima kasih lo...kamu berhasil membuat aku terbang." Kekeh Karin.
"Ya apa kamu pikir aku mau gitu kehilangan kamu, ya ga lah, jauh dari orang yang di cinta itu rasanya gimana gitu."Karin menerawang kemasa masa dulu.
"Coba coba ulang lagi." Pinta Rafa sambil tersenyum.
"Ulang apa?" Karin tidak mengerti.
"Ulang lagi kalau kehilangan orang yang di cinta, berarti kamu cinta dong sama aku?" Goda Rafa.
"Ih...kirain apa?" pipi Karin merona merah.
"Aku sudah lama ga denger kamu bilang cinta lo Rin sama aku.Coba bisikin sini, aku pingin denger." Pinta Rafa pada Karin.
"Ih...apa 'sih , ga mau ah."
"Ayo dong !" Bujuk Rafa.
Karin menggelengkan kepalanya.
"Masih malu malu saja kamu Rin,awas nanti akan ku buat bibir kamu itu berucap cinta setiap harinya padaku." Kekeh Rafa sambil menempelkan telunjuknya ke bibir Karin.
"Emmm...emang bisa gitu?"
"Bisa 'lah...liatin saja nanti." Rafa menatap Karin penuh makna.
"Melihat tatapan Rafa padanya Karin merasa geli sendiri.
__ADS_1
"Ih ..ga gitu juga kali lihatnya."
"Kamu mau pesan apa Rin? Rafa mengalihkan obrolannya.
"Aku mau pesan mie bakso iga saja.Lagi pingin yang seger."Jawab Karin.
" Kamu mau apa ?" Tanya balik Karin.
"Samain saja ."
"Ok..."
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya pesanan datang.
"Rin kamu masih ingat ga kita 'kan sering makan bakso waktu SMA dulu."
"Ingat dong."
"Ini kali pertamanya kita setelah putus makan bakso lagi "
"Ia .." Karin dan Rafa tertawa.
"Makan Rin .." Rafa memberikan suapan pertamanya pada Karin.
Karin dengan senang hati menerimanya.
"Gimana enak?"
"Enak..."
"Aku mau dong Rin punya kamu." Pinta Rafa.
Karin 'pun dengan senang hati menyuapi Rafa.
Mereka saling berbagi suapan sesekali saling bercanda membuat sepasang halal itu merasakan kebahagiaan yang sangat besar.
"Gimana sudah kenyang? atau mau nambah lagi?" Ledek Rafa pada Karin.
"Apa 'sih Raf, Alhamdulillah aku sudah kenyang, kamu kali yang mau nambah lagi akhir akhir ini 'kan napsu makan kamu makin nambah." Ledek balik Karin pada Rafa.
"Oh ..gitu ya sekarang sudah bisa ngeledek balik."
"Kamu kali yang ngajarin." Kekeh Karin.
"Oh...ia ya aku yang ngajarin, kamu mau aku ajarin hal lain lagi ga?" Rafa mengangkat kedua alisnya.
"Tidak terima kasih."Tolak halus Karin.
"Kenapa ?"
"Punya guru seperti kamu ngajarinnya ga bener suka aneh aneh." Jawab Karin asal.
"Oh...ya." Rafa mendekatkan kursinya pada kursi Karin.Lalu dengan sengaja memandang Karin di posisi sangat dekat.
"Ih Raf...malu!"
__ADS_1