
Karin melirik penuh curiga pada Adit.
Sementara Adit yang tersulut emosi tak menyadari ucapannya barusan membuat Karin merasa curiga.
Adit mendekat menarik tangan Karin.
"Aku mencintai kamu Karin, jika kamu tidak bisa aku miliki maka orang lain 'pun tak bisa memiliki dirimu!"
Karin menghempas tangan Adit."Plak...!"
Satu tamparan Karin hadiahkan pada Adit.
Adit meringis memegangi pipinya yang memanas.Dia menatap Karin tak percaya .Wanita yang selama ini sangat lembut sekarang berlaku sangat kasar padanya.
Dengan wajah tak bersahabat lagi Karin menatap Adit.
"Berhenti kamu mengharap 'kan aku terlebih kamu telah menghancurkan kehidupan Dini!" Setengah berteriak Karin berucap pada Adit.
Mendengar ucapannya Karin , Adit merasa tertusuk duri yang tajam.
"Bagaimana dia tahu tentang kejadian aku bersama Dini?" Pikiran Adit menerawang.
Gurat keyakinan di wajah Adit terlihat jelas kini Karin memang ga akan bisa dia miliki lagi.
"Apa kamu memandangku seperti itu ! apa kamu akan mengelak lagi? apa kamu mau mengejar terus angan mu kepadaku?"Sinis Karin pada Adit.
Adit mengusap wajahnya yang tak lagi bersahabat.
Adit menarik tangan Karin dengan keras , niat hatinya ingin membawa Karin ke pelukannya, tapi tanpa dia duga Karin memelintir tangan Adit yang menariknya dan mendorongnya sekuat tenaga sampai Adit mundur beberapa langkah.
"Awww....." Teriak Adit merasakan tangannya terasa sakit.
"Kamu salah Adit, jika kamu menganggap aku ini lemah!"
"Aku ga akan lagi meneruskan lagi konsul ku, Karin !" Teriak Adit.
Kini dengan mengeluarkan kata itu Adit berharap Karin akan perduli, setidaknya perduli dengan Bundanya, karena itu adalah kelemahan Karin.
"Terus !" Karin menatap Adit penuh kekecewaan.
" Apa kamu pikir dengan gertakan mu ini aku akan melemah ? Dengar ' kan aku Adit jika kemarin dan sampai tadi sebelum kejadian ini aku masih berharap bisa menjadi temanmu, sekarang aku katakan aku tidak sudi mengenal kamu lagi !" Karin makin geram pada Adit.
Jawaban Karin membuat Adit merasa bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Karin mendekat Adit tanpa ragu.
"Aku ga perduli lagi sama orang yang egois seperti kamu, kamu orang yang tak seharusnya mendapatkan perhatian dari siapa 'pun ! kamu ga pernah menghargai apa itu kasih sayang !"
"Haha...bagaimana orang seperti kamu bisa perduli dengan orang lain sementara dirimu sendiri tidak perduli dengan dirimu sendiri."
Karin menatap Adit lalu kembali berkata.
"Apa pernah kamu menghargai bunda kamu? yang setiap malamnya berdoa untukmu! Apa pernah kamu menghargai Dini ?yang mungkin saja di rahimnya sekarang ada anakmu! jawaban ya adalah tidak! " Karin berkata mengeluarkan segala beban hatinya.
Mendengar semua yang Karin ucapkan hati Adit terasa tersambar.
Dia kembali mengingat Dini, "Apa benar yang Karin katakan, bagaimana kalau Dini memang mengandung anak ku?" Adit memegang kepalanya yang mau pecah.
Karin tersenyum simpul melihat Adit sekarang.
"Satu lagi aku harap kamu tidak terlibat dalam pengeroyokan Rafa, kalau sampai aku tahu kamu terlibat lihatlah kamu akan menyesalinya !" Ucap Karin sebelum dia pergi dari tempat itu.
"Deg...deg..." Hati Adit tidak karuan, setelah mendengar ucapan terakhir Karin.
Dia menatap kepergian Karin dengan hati yang 'entah bagaimana.
Karin pergi meninggalkan Adit yang termenung sendiri. Dia memesan ojek online dan tak selang berapa lama ojeg itu datang.
Sebelum pergi naik ojeg Karin mengirim pesan sama bundanya Adit.
Jujur Karin tidak ingin usaha bundanya Adit dalam rangka menyembuhkan Adit sia sia
Meskipun dia sangat kecewa sama Adit , tetapi rasa empatinya pada Bundanya Adit lebih besar dari rasa kecewanya.
"Setidaknya ini hal terakhir yang bisa aku lakukan untukmu, semoga ke depannya kamu bisa lebih mengerti dan dewasa." Guman Karin dalam hatinya setelah mengirim pesan pada Bunda.
***
Bundanya Adit yang masih dalam perjalanan pulang menuju rumah mendengar ada notifikasi dari ponselnya.
Mata Bundanya Adit melebar melihat ternyata itu pesan yang tadi dikirimkan Karin.
"Astagfirullah ! apa lagi cobaan mu ya Robby?" Terdengar Bundanya Adit mendesah.Kemudian menarik napas panjang.
"Bang anterin saya ke Jalan melati dulu ya ." Pinta Bundanya Adit pada sopir taxi nya.
"Baik Bu." Kemudian dia menuju ke tempat yang di arahkan.
__ADS_1
Selang beberapa menit mobil yang ditumpangi Bundanya Adit sampai di tempat Adit dan Karin tadi bertengkar.
Bundanya Adit bergegas turun dan menghampiri Adit yang terlihat sangat galau sekali.
"Adit..." Bundanya Adit memeluk Adit yang hanya diam tak bergeming walaupun Bundanya ada di sana.
"Ayo Dit kita pulang," Adit di bawa Bundanya masuk ke dalam mobil.
Setelah sampai rumah Adit memapah Adit agar duduk di sofa, kemudian Bunda memberikan segelas air putih agar Adit kembali terjaga.
"Minum dulu Dit, " Instruksi Bundanya Adit.
"Kamu kenapa Dit?" Bundanya Adit kembali bertanya mencari jawaban atas apa yang telah terjadi.
Tiba tiba Adit memeluk Bundanya dia menangis pilu.
Bunda yang melihat Adit dalam kondisi seperti ini untuk yang pertama kalinya.Sungguh merasa cemas yang luar biasa.
"Kamu kenapa Dit ?" Bunda kembali bertanya.
"Bun, Karin pergi dari Adit selamanya , dia ga akan mungkin kembali lagi , Adit ga punya harapan lagi tuk bersama Karin!" Teriak Adit mengeluarkan isi hatinya.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? apa yang sudah kamu lakukan pada Karin, Adit!" Bunda merasa was was dengan apa yang telah terjadi.Dia takut terjadi hal yang buruk tadi.
"Karin mengetahui kalau aku dan Dini pernah tidur bareng Bun, dan dia bilang kemungkinan Dini bisa hamil anakku."
"Apa....!" Bunda berkata langsung berdiri mendengar ucapan Adit barusan.
"Bun..." Adit menengadahkan kepalanya melihat Bundanya yang terlihat tersulut emosi.
"Maafkan Adit Bun, semuanya terjadi tanpa Adit sadari, Adit mengaku khilaf Bun." Ucap Adit sambil menundukkan kepalanya.
Ingin rasanya Bundanya Adit berteriak pada Adit saat ini dia tak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu.Tapi Bundanya Adit teringat dengan ucapannya Dokter Psikiater nya Adit.
"Astagfirullah..." Bundanya Adit menarik napas agar lebih tenang.Lalu duduk dekat Adit.
"Dit, apa 'pun yang sudah terjadi tak dapat kita sesali lagi, sekarang Bunda minta Adit untuk memperbaiki kesalahan Adit sebelumnya.Setidaknya itu akan membuat Adit lebih baik dari sekarang." Bunda berkata sambil meneteskan air matanya.
Hati Ibu mana yang tak hancur, tapi sebagai seorang Ibu dia harus kuat dengan segala kemungkinan yang terjadi.
"Bun..." Lirih Adit menatap Bundanya.
"Apa yang harus sekarang Adit lakukan Bun ?"tanya Adit pada Bunda dengan wajah yang berkaca kaca.
__ADS_1
"Nikahi Dini !"
"Deg...!"