Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Mengkhitbah


__ADS_3

Karin segera bangkit dari tempat tidurnya memanjakan tubuhnya membuat dia terasa rileks.


Sehabis mandi Karin sedikit mempercantik diri lalu menunaikan empat rakaat.


Setelah salam Karin berdoa apa'pun yang terjadi kini Karin pasrah.Tak ingin selalu dilema dan merasa galau terus.Akhirnya Karin berusaha lapang dan aneh bin ajaib .Setelah Karin melepas rasa hati, resah, dan debaran hati Karin kini mulai menghilang, Karin mulai merasa tenang.


Jam terus berlalu tak terasa waktu sudah isya lagi.


Kini di dalam mushola keluarga, Karin, Ayah dan Ibu hari ini berjamaah bareng.


Kebetulan Ayahnya Karin juga dalam posisi lagi ada di rumah.Mereka terlihat sangat bahagia dengan kebersamaan mereka itu.


Setelah sholat mereka melanjutkan kebersamaan mereka di ruang keluarga sedikit candaan membuat mereka tak henti tertawa.


"Bu , Ayah Karin ke kamar dulu ya , soalnya ada yang harus Karin kirim gmail ke perusahan rekan Karin tadi Karin kelupaan."


Karin minta izin pamit.


Ibu dan Ayah menganggukkan kepalanya.


Kini tinggal Ayah sama Ibu di ruang keluarga.


Sang Ayah menatap gemas istrinya.


"Bu, ga kangen sama Ayah?" Canda Ayah mencolek pipi Ibu.


"Ih Ayah, nanya nya gitu kaya abg saja."Ibu tersipu malu.


Tiba tiba ada suara bel berbunyi.


"Bi... tolong lihat siapa yang bertamu di depan !" Perintah Ibunya Karin pada ART.


"Baik Bu..."


Setelah membuka 'kan pintu kening si bibi berkerut karena ga biasanya banyak orang bertamu ke rumah majikannya sebanyak itu.


"Maaf Pak mau cari siapa?"


Rafa yang baru turun dari mobil langsung maju ke depan.


"Bi masih ingat saya?"


Si Bibi terdiam.


"Dokter Rafa?"


"Ya tebakan Bibi betul sekali." Rafa tersenyum.


"Oh mau ketemu siapa Dok, mau ketemu Ibu apa Neng Karin?"


"Kalau boleh Ibu dulu Bi."


"Oh silahkan masuk!"


"Bentar ya saya panggilkan Ibu dulu."


Si Bibi setengah berlari menghampiri Ibu dan Ayah Karin.


"Ada apa Bi?" Kenapa seperti kaget gitu wajahnya? emangnya siapa yang bertamu?"


"Maaf Bu , Pak , diluar ada Dokter Rafa, tetapi___"


"Tetapi apa Bi?"

__ADS_1


"Sepertinya bawa keluarganya."


Ibu dan Ayahnya Karin saling tatap.


"Ayo Yah kita ke sana kita lihat dulu ada apa?"


"Ayo Bu."


Tamu ternyata masih ada di teras.


Ibu menghampiri mereka yang berada di luar.


"Assalamualaikum..."Sapa Ibu menyapa para tamu.


Sontak semuanya pada melihat Ibu dan Ayahnya Karin.


"Wa'alaikumsalam..."


"Bu ..." Rafa langsung menghampiri Ibu dan Ayahnya Karin lalu mencium tangan mereka berdua.


Sejenak netra Ibunya Karin dan Bundanya Rafa bertemu.Mereka sepertinya merasa tak asing lagi.


"Ayo ayo masuk" Seru Ayah.


Akhirnya setelah duduk nyaman Rafa mengenalkan semua keluarganya pada Ibu dan Ayah Karin.


"Bentar bentar...maaf ya apa boleh tahu, ini nama Bundanya Rafa apa Mbak Saraswati?" Ibu berusaha menebak.


Semua keluarga saling pandang.


"Ko Ibu bisa tahu?" Rafa yang menjawab, karena Rafa penasaran kenapa Ibu bisa mengetahui nama Bundanya.


"Astagfirullah, Mbak alhamdulillah kita bisa bertemu lagi," ucap Ibu senang.


Melihat hal itu Ibu tersenyum.


"Mbak ini aku , Larasati ! Mbak masa lupa ?Kita beberapa tahun lalu pernah bertemu di sebuah pengajian waktu itu aku lupa bawa dompet dan handphone dan Mbak yang bantuin aku."


"Oh jadi Bundanya Rafa yang bantuin Ibu waktu itu?" Tanya Ayah pada sang istri.


"Ia Yah, ini Mbak Saras yang aku ceritain dulu."


"Masya allah, ternyata kita bisa bertemu lagi." Ucap Ibunya Karin senang.


Bundanya Rafa yang baru mengingat kejadian itu kini tersenyum.


"Astagfirullah, maaf ya Mbak tadi aku lupa, pantesan saja pas lihat wajahnya Mbak tadi aku merasa kenal." Bundanya Rafa terkekeh.


"Terimakasih Mbak sudah bantuin istri saya ." Ucap Ayahnya Karin.


"Ah Ayah, itu sudah pertolongan dan takdir yang di atas, ga usah bicara seperti itu saya jadi malu."


Mendengar semua itu semuanya tertawa.


Suasana itu mencairkan perasaan yang tadinya agak tegang.


"Senang bisa bertemu dengan Ibu dan Ayahnya Karin.Semoga silahturahmi ini akan semakin panjang." Ucap Nenek Rafa.


"Aamiin, kami juga senang 'kan Bu bisa mengenal keluarganya 'nak Rafa." Ayah melirik sang istri.


"Ia bener sekali, ternyata keluarga nya 'nak Rafa sangat harmonis sekali." Puji Ibu.


"Oh ia maaf kalau saya agak ga sopan, kalau boleh tahu barangkali ada perihal apa berkunjung ke rumah kami ?" Tanya Ayah agak sungkan.

__ADS_1


Semua keluarganya Rafa saling pandang.


Bunda menyenggol tangan Ayahnya Rafa agar mengutarakan kedatangannya.


"Maaf sebelumnya, saya dan keluarga saya datang kesini sebenarnya karena keinginan anak saya Rafa, dia berniat untuk menghitbah anak Ibu dan Ayah yang bernama Karin .Ucap Ayahnya Rafa begitu tegas.


Ayah dan Ibunya Karin saling pandang mendengar maksud dari keluarganya Rafa.


"Betul itu 'nak Rafa?" Tanya Ayahnya Karin.


"Ia betul Yah,Bu.Rafa ingin serius dengan Karin. Rafa sangat yakin kalau Karin adalah wanita solehah pilihan terbaik buat Rafa."


Mendengar pengakuan Rafa , Ibunya Karin tersenyum dia sejak awal sangat menyukai Rafa.


"Kalau kami sebagai orang tua 'sih jujur sangat merasa bahagia dengan maksud tujuan keluarga 'nak Rafa dan 'nak Rafa sendiri ke sini. Tetapi semua keputusan ada di tangan Karin. Dia yang akan menjalaninya jadi kami belum bisa memutuskannya."Ucap Ayahnya Karin.


"Ia Ayah, kalau soal itu 'sih kami paham.Apa boleh Karin dibawa ke sini?" Tanya Ayahnya Rafa.


"Bun, boleh tolong panggilkan dulu Karin." Pinta Ayah pada Istrinya.


Ibu bangkit dia menemui Karin yang asyik mengirim beberapa gmail pada rekan kerjanya.


"Assalamualaikum , Rin boleh Ibu masuk?"Ibu berdiri di ambang pintu.


"Ia Bu, sini."


Ibu duduk di sebelah Karin.Dia menatap lekat wajah Karin.


"Ada apa Bu, ko lihatnya seperti itu?" Karin menyelidik.


"Rin ...di luar ada keluarga yang mau menghitbah kamu, untuk anaknya."


"Apa?" Tanpa sadar Karin langsung berdiri karena saking kaget nya.


Karin termenung mengingat kembali mimpinya tadi siang."Kenapa bisa jadi secepat ini ?"Karin bermonolog sendiri.


"Ayo kita keluar?" Ajak Ibu.


Tetapi Karin menggelengkan kepala nya.


"Ibu kenal sama dia?"


"Ia Rin."


"Ibu menyukai keluarganya?"


"Ia Rin."


"Lalu menurut Ibu apa dia baik buat jadi suami Karin?"


"Insyaallah, tapi semuanya kembali pada Karin. Masa menurut Ibu 'sih, semua Karin yang akan menjalaninya." Ibu mengusap kepala Karin.


"Ayo kita temui dulu, setelah itu baru Karin memutuskan." Pinta Ibu.


Karin masih menggelengkan kepalanya.


"Bu, bilang sama mereka kalau Karin menerimanya, dan kalau bisa minggu ini nikah 'kan kami."Ucap Karin tegas.


Keputusan Karin tidak Karin ambil asal.Dia mempertimbangkan segalanya.


Janji dia untuk tidak pacaran, terus pendapat Ibunya yang ga mungkin juga memberi kan pernyataan yang asal dan mimpi itu.Ya mimpi itu Karin yakini sebagai jawaban dari sholat istikharah nya.


"Apa?" Kali ini Ibu yang di buat kaget dengan jawaban Karin.

__ADS_1


__ADS_2