Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Rafa masuk rumah sakit .


__ADS_3

Karin kini melihat benda pipih yang ada ditangannya dia merasa ga enak hati atas sikapnya pada Rafa tadi.


"Tut....tut....tut," suara itu terdengar nyaring .Karin sedang melakukan panggilan pada ponsel Rafa.


Tapi telepon Karin tidak diangkat oleh Rafa. Karin membuang napas kesal.


"Apa Rafa marah sama aku sehingga dia tidak mengangkat telepon dariku?"


Karena penasaran Karin menelepon sekali lagi tapi hasilnya tetap sama.


"Astagfirullah....cobaan apa lagi ini?"


Ada perasaan yang entahlah kini Karin rasakan, kini hat Karin benar benar merasa ga tenang.


Rafa yang baru saja pergi setelah mengobrol sama Dini kini melanjutkan perjalannya.Dia tidak menyadari kalau Karin menelpon dirinya karena deringnya di silent oleh Rafa ketika mau sholat tadi.


Tiba tiba di sebuah jalan yang sepi motor Rafa dihentikan oleh seseorang.


Rafa mengerem motornya dengan mendadak.


"Astagfirullah...!"ucap Rafa merasa sangat kaget.


Dari ekor matanya Rafa menangkap seseorang berjalan ke arahnya.


Rafa menyipitkan matanya ternyata orang yang menghadangnya adalah Adit dan teman temanya.


"Astagfirullah...ada apa lagi ini!" Rafa terlihat waspada.


Adit mendekati Rafa yang berada di motornya.


Sedetik kemudian dia menarik paksa kerah baju Rafa hingga Rafa mundur sempoyongan.


Adit menatap Rafa dengan mata merah menyala , cukup terlihat jelas kini Adit di kuasai dengan minuman minuman yang menghilangkan sebagian kesadarannya.


Mata Adit tak henti menatap Rafa, menatap orang yang telah merebut Karin dari hidupnya.


Terlihat guratan kebencian di wajah Adit.


"Bukk...Bukk ...Adit memukul Rafa dengan sekuat tenaga, Rafa yang hendak melakukan pembelaan 'pun dicegah sama teman temanya Adit.


Tangan Rafa di pegang dari dua sisi.Tenaga Rafa tidak cukup kuat untuk melawan mereka sekaligus.


Kini pukulan demi pukulan Rafa rasakan, rasanya wajahnya mungkin sudah tak berbentuk lagi. Darah segar mengucur dari bibir dan pelipis mata Rafa.


Adit melihat Rafa yang tak berdaya merasakan kepuasaan di hatinya.


Dia kembali mendekat ke arah Rafa.

__ADS_1


"Dengarkan aku bocah tengil," Rafa membisikan sesuatu pada telinga Rafa dengan penuh penekanan.


Ucapan Adit menggetarkan hati Rafa.


"Heh..kamu tidak tuli 'kan?bentak Adit pada Rafa.


"Bukk...Bukk kini Adit kembali menghajar Rafa.


Seorang warga yang mendengar ada keributan melihat ke sumber suara.


Dan betapa terkejutnya dia dengan pemandangan di depan matanya.


"Hey hentikan ! tolong...tolong ! " Teriak warga tersebut.


Adit dan teman temanya 'pun segera pergi.


Kini Rafa yang tak mampu lagi menahan rasa sakitnya jatuh tergeletak ke tanah dia pingsan tak sadarkan diri.


Warga 'pun berdatangan karena mendengar ada teriakan.


Melihat kondisi Rafa yang sudah kacau warga 'pun berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Rafa 'pun segera ditangani, karena kondisinya yang parah sehingga dia harus melakukan rawat inap.


Kini Rafa berada di ruangan bernuansa putih.Bau obat obatan sangatlah meruak di hidung , tangannya tersambung sama selang infus dan mukanya terlihat di perban.Kondisi yang membuat mata yang melihatnya begitu merasa sesak.


Bundanya Rafa berjalan menuju ruang rawat Rafa, setelah mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit Bundanya Rafa segera datang.Wajah paniknya menguasai mimik mukanya.


Ketika Bundanya sudah datang Rafa 'pun masih belum sadar dari pingsannya.


Esok harinya Karin kembali menelepon Rafa, tapi hal yang sama yang di dapatkan Karin yaitu tidak ada respon dari sang mpu pemilik.


Karin makin merasakan sesak di dadanya.


"Raf maaf 'kan aku yang kemarin bersikap egois." Guman Karin sambil menatap layar ponselnya.


Karin pergi ke sekolah lebih awal dari biasanya dia menunggu Rafa di parkiran, tapi dari awal Karin datang parkiran kosong dan sekarang parkiran sudah penuh Rafa belum juga datang.


"Apa Rafa hari ini ga masuk?" Pikiran Karin menerawang.


Rasa cemasnya kini menguasai hatinya.


Kaki Karin melangkah ke kelas Rafa maksudnya dia ingin mencari informasi tentang Rafa di sana, tapi begitu Karin sampai di depan pintu dia secara tidak sengaja mendengar teman Rafa sedang teleponan.


"Baik Bun, nanti akan saya beritahu kepada walikelasnya , Bunda tenang saja, semoga Rafa cepat sembuh. Assalamualaikum."


Kening Karin berkerut mendengar ucapan temannya Rafa.

__ADS_1


"Rafa kenapa ?" Kini Karin menatap tajam temennya Rafa.


"Eh kamu Rin, kirain siapa?" Temen Rafa merasa kaget karena Karin tiba tiba ada dibelakangnya.


Karin tak menggubris sapaan temennya Rafa itu.Dia fokus pada pertanyaannya.


"Itu Rin , Rafa sakit dia sekarang dirawat di rumah sakit ."


Mendengar hal itu mata Karin melotot sempurna, kemudian dia berlari keluar dari kelas Rafa.


Sifa yang melihat sahabatnya berlari segera memanggil Karin,"Hai mau kemana? "


Karin menoleh sebentar "Sif tolong minta izin 'kan aku ya, soalnya aku ada urgen."Karin kembali berlari menyisakan Sifa yang begong sendiri.


Dengan nafas yang tidak teratur Karin berjalan di koridor rumah sakit mencari cari kamar rawat Rafa setelah sempat tadi bertanya dulu ke resepsionis rumah sakit.


Netra Karin menatap kamar yang ada di depannya sekarang hatinya mendadak was was sendiri.


Ketika Karin mendorong pintu kamar itu Karin di suguhkan dengan keadaan Rafa yang sangat menghawatirkan.


"Raf ..." Ucap Karin sambil melangkah menuju ranjang Rafa.Saat ini Rafa masih tidak sadarkan diri.


Air mata Karin jatuh ke pipi Rafa, Karin terisak sambil menatap Rafa yang terbaring tak berdaya.


Tanpa sadar Karin memeluk Rafa, "Raf sadar, aku mohon sadarlah !"


Tiba tiba Rafa menggerakkan tangannya, tapi Karin masih belum menyadarinya, dia masih memeluk Rafa sangat erat.Kelopak mata Rafa terbuka dia melihat Karin yang memeluk dirinya sambil menangis, sudut bibir Rafa terangkat sedikit, melihat wanita yang sangat dicintainya terlihat begitu menghawatirkan dirinya.


Karin mengangkat kepalanya melihat kembali Rafa yang masih terlihat tidak sadar, sementara Rafa yang merasakan masih pusing kembali memejamkan matanya.


Karin pergi ke kamar mandi dan mengambil wudhu di sana kemudian dia duduk di samping ranjang Rafa kemudian tak selang beberapa lama terdengar di telinga Rafa Karin membacakan Al Qur'an.


Kesejukan merambah di telinga Rafa yang mendengarkan Karin mengaji.Ingin rasanya dia membuka mata dan mengatakan kalau dia sangat mencintai Karin tapi niatnya kembali terhalang kala teringat akan kata yang di bisikan oleh Adit padanya.


"Shadaqallaul-adzim ..." tutup Karin sambil menutup Al Qur'an nya.


Bundanya Rafa yang baru datang dari kantin melihat pemandangan itu, dia tersenyum melihat Karin habis mengaji untuk Rafa.


"Assalamualaikum.."


Karin menoleh ke sumber suara dan mendapatkan Bundanya Rafa yang berdiri di depan pintu.


Karin segera bangkit dan mengulurkan tangan salam secara takzim ke Bundanya Rafa.


"Udah lama ' nak Karin?"


"Baru Bun, maaf Karin baru datang karena Karin baru tahu Bun? sebenarnya apa yang terjadi pada Rafa Bun?" Tanya Karin terlihat begitu penasaran.

__ADS_1


Bunda baru mau menjawab pertanyaan Karin tapi Rafa terlihat melakukan pergerakan, sehingga Bunda cepat cepat menekan tombol agar Dokter segera datang.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga." Ucap Bunda yang melihat Rafa membuka matanya.


__ADS_2