
"Assalamualaikum..."Ucap Rafa yang baru datang dari mesjid sambil menenteng sajadahnya.
"Wa'alaikumsalam..."Jawab Karin sambil bangkit menghampiri Rafa yang baru saja datang.
Karin mencium tangan Rafa dan Rafa mencium kening Karin.
"Raf..aku buatin kamu kopi lagi ya." Tawar Karin sambil menyimpan sajadah yang Rafa bawa.
"Yang tadi kemana emangnya?"
"Hehe...aku minum Raf...lagian kalau dingin ga enak."Jawab Karin sambil tersenyum.
"Ok...buatnya persis kaya tadi ya."Pinta Rafa.
"Ok...mau minum sini apa di teras belakang?"
"Teras saja kayanya lebih enak deh."
"Ya sudah aku bawanya langsung ke sana ya...."
Karin beranjak ke dapur membuat secangkir kopi buat Rafa dan membuat roti bakar kesukaan suaminya itu.
"Neng...sini biar bibi bantu."
"Ga usah Bi, lagian ga repot juga. " Jawab Karin sambil tersenyum.
"Bibi mau ga?"
"Hehe...ga usah Neng, terimakasih." Si bibi nyengir karena merasa sungkan.
"Ya sudah kalau bibi mau nanti bikin saja ya...."Karin mengerti kesungkanan ART nya itu.
"Ia Neng terima kasih."
Karin berjalan ke teras belakang. Benar saja Rafa sudah ada di sana sambil memberi makan ikan ikan koi peliharaan Karin.
"Wah...wah ikannya kayanya mendahului makan nih..." Ucap Karin sambil meletakkan kopi dan rotinya.
"Ikan kamu pada bagus bagus ya ....aku suka lihatnya."
"Ia dong siapa dulu yang punyanya."Jawab Karin sambil tertawa.
"Sepertinya kalau kita punya anak nanti, anaknya pasti beruntung banget punya mamah kaya kamu Rin..."
"Ko jadi ke anak sih dari ikan?"
"Ia ikan saja kamu rawat dengan sayang apa lagi anak kita...pastinya spesial banget sayangnya."
"Insyaallah Raf...anak kan amanah. Pasti sangat aku spesial kan."
"Ya.. Allah jadi pingin cepat cepat dapat momongan."Rafa meraih pinggang Karin dan memeluknya.
"Aamiin...semoga dikabulkan doa kita ya Raf."
"Aamiin."
"Ngomong ngomong kamu wanginya beda banget Rin..."Rafa mengendus gendus badan Karin.
"Hehe...aku ganti parfum Raf , kamu suka ga?"
"Suka sih...tapi aku lebih suka wangi kamu yang kemarin, itu sudah cirinya kamu."
"Oh...ya...kalau gitu aku ganti lagi saja parfumnya."Karin hendak beranjak.
"Ga sekarang juga sayang..."Rafa menahan Karin.
"Sini temenin aku dulu ngopi.Rafa mengiring Karin untuk duduk di kursi di sampingnya.
"Ya ampun manjanya."
Rafa menyeruput kopi yang masih panas itu terlihat sangat menikmati sekali.
"Enak Raf...gimana rasanya masih seperti yang tadi."
__ADS_1
"Mantap , aku coba rotinya ya..."
Rafa memakan sepotong roti bakar buatan Karin.
"Rin ...sini coba deh sepertinya kamu belum nyobain ya ?" Tebak Rafa.
"Ko tahu sih...emang kenapa ga enak ya?"
"Makanya cobain dulu." Rafa menyuapi Karin roti bekas dirinya.
Karin mengunyah roti itu.
"Gimana rasanya? "
"Biasa saja seperti roti pada umumnya."
"Ah kamu Rin beda lo rasanya."
"Bedanya dari apanya sih ?"
"Bedanya dari cara buatnya, yang buatnya penuh cinta jadi rotinya di mulut aku manisnya dobel."
"Astagfirullah...Rafa kirain apa. Alhamdulillah suamiku terus gegombal tiap hari. Modus...modus..."
"Hehe..."
"Aku baru nyadar kamu tuh ternyata orangnya...."
"Ayo aku orangnya apa?"
"Ga jadi ah ...."
Ih ko ga jadi...curang kamu." Rafa bangkit dan mendekati Karin.
"Ih kamu mau apa?" Karin siap siaga.
Rafa hendak menangkap tubuh Karin tapi Karin keburu bangkit dan terjadi aksi kejar kejaran diantara mereka.
"Raf...sudah dong..." Pinta Karin yang terus menghindar.
"Ga mau..."
"Aku dapetin kamu ya ..."
Sampai akhirnya Karin tertangkap oleh Rafa.
"Aww ...." Teriak Karin mendapatkan tubuhnya yang melayang.
"Aku mau di bawa ke mana Raf."
"Kamu mau aku hukum."
"Apa sih Raf..."Karin memberontak.
"Diam ga kalau ga diam aku cium di sini ya." Ancam Rafa.
"Ga mau Raf...malu banyak orang."
"Makanya diam dan nikmati aku gendong."
Akhirnya dengan malu malu Karin mengalungkan tangannya pada leher Rafa.
Melihat itu Rafa tersenyum.
"Nah gitu dong... nurut."
Rafa menutup pintu kamarnya lalu merebahkan Karin di atas kasur empuknya.
"Raf....jangan macem macem ya."Karin memicingkan matanya.
"Hehe...ga ko cuma satu macem." Mendekati sang istri dengan tatapan penuh makna.
Baru saja mendekat tiba tiba dering telepon berbunyi. Satu kali Rafa mengabaikannya. Rafa mendekati Karin dan menarik tubuh Karin kedekapanya.
__ADS_1
"Aku kangen Rin...mau ya beri aku vitamin pagi ini."Pinta Rafa penuh kabut kerinduan.
"Kaya obat saja harus dikasih di pagi hari."
"Biar pull Rin ... semangatnya." Rayu Rafa.
Dering telepon berbunyi kembali.
Karin melirik suaminya."Raf....lihat dulu takutnya penting."
Akhirnya karena terus berbunyi Rafa mengambil ponselnya.
"Bunda Rin..."
"Tuh...kan makanya kalau ada telepon lihat dulu. Cepat angkat."
"Ia...ia..." Rafa menaruh kepalanya di pangkuan Karin.
"Assalamualaikum Bunda."Sapa Karin dan Rafa.Terlihat wajah Rafa dan Karin yang cengengesan di panggilan video call.
"Wa'alaikumsalam...hmmm...lama banget ngangkatnya nih!"
"Maaf Bun..."
"Astagfirullah...pengantin baru masih nempel saja.Masih pagi nih... waktunya sarapan."Bunda melihat Rafa yang anteng dipangkuan istrinya.
"Sudah Bun...abis solat subuh aku dan Karin langsung sarapan tadi. Kan biar tenaganya full menghadapi hari Bun."Rafa mengedipkan matanya.
"Ya ..ya...Bunda ngerti."
"Bunda sama Ayah, dan Nenek pada sehat sehat kan? maaf ya Rafa dan Karin belum sempat ngasih kabar lagi."
"Alhamdulillah kami sehat Raf...kamu dan Karin juga di sana lagi pada happy kan.Kata penjaga vila Minggu kemarin kamu kalian habis dari sana ya?"
"Hehe ....ia Bun. Mendadak...pinginnya sih bulan madu yang jauh tapi apa daya aku dan Karin sibuk banget. Mungkin nanti abis resepsi kali yah...kami agendakan buat bulan madu."
"Oh ia bicara soal resepsi apa kalian sudah punya rencana apa gitu?"
"Rencana sih ada ya Bun tapi belum deal."
"Kemarin Bunda teleponan sama orangtuanya Karin juga kami sih sepakat akhir bulan ini diadakan resepsi nya, tapi belum pasti juga sih. Kan kalian belum setuju."
Karin dan Rafa saling tatap.
"Ia Bun nanti kami diskusikan lagi boleh ya ... secepatnya kami kabari lagi ke Bunda."
"Ia deh Bunda ngerti.Kalian baik baik ya jangan terlalu diforsir kasian Karin."
"Hehe...ia Bunda ku."Rafa menjadi salah tingkah.
Sementara Karin tersenyum malu malu.
"Sudah ah ..Bunda malah ngisengin kami sih."Rafa mendrama.
"Haha....ya sudah Bunda tutup ya.... Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Setelah panggilan ditutup Karin dan Rafa saling tatap.
"Gimana Rin menurut kamu ?"
"Apanya ?"
"Tentang resepsi nya?"
Karin termenung...kalau aku maunya diadakan di taman Raf, rasanya kalau di gedung gimana."
"Ok...kita adakan di taman kalau dekorasi nya nuansa apa?"
"Aku serahkan ke kamu deh soal itu kamu kan yang paling ahli."
"Siap deh kalau soal itu mah."
__ADS_1
"Rin ....lanjutin yang tadi yu..."