Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Menjenguk nenek


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


Rafa mengucapkan salam, bunda yang lagi membaca Al- Quran pun menengok ke arah pintu.


"Wa'alaikumsalam.." jawab bunda.Dia menutup Al-Quran yang dia baca tadi dan menaruhnya di atas bupet.


Rafa dan Karin melangkah masuk ke ruangan yang bernuansa putih putih itu, Rafa mengulurkan tangan mencium tangan bunda, secara reflek Karin pun mengikuti , Karin mencium tangan bunda dengan takzim.


Bunda melirik ke arah Rafa, matanya meminta Rafa memberi tahu siapa yang dia bawa kesini.


Rafa mengerti dengan tanya yang terpancar dari mata bundanya.


"Ehmmm...bun,kenalin ini Karin temen sekolah Rafa"


Bunda tampak berpikir, dia merasa ga asing dengan nama itu.


Tak berapa lam bunda tersenyum.


"Oh...ini nak Karin...!"


Karin menganggukkan kepalanya


"Ia bun..." ucap Karin malu malu.


"Gimana keadaan nenek sekarang..?"


"Ya...alhamdulillah nenek sekarang udah agak membaik dari kemarin"Jawab bunda.


Bunda menggandeng Karin untuk duduk di sofa, Karin pun mengikuti kemana arah bunda membawanya.


"Maaf bun Karin cuma bisa bawa ini "


Karin meletakan keranjang buah di meja.


Bunda tersenyum


"Seharusnya Karin kalau mau kesini, kesini aja ga usah bawa apa apa, tapi terimakasih ya..!"


"Bunda seneng Karin bisa nengokin nenek kesini"


"Ia...bun, Karin juga seneng bisa bertemu sama bunda dan nenek " ucap Karin seadanya .


Karin sebenernya merasa aneh dengan bunda, soalnya bunda seolah mengenal dirinya.


Mata Karin menyorot ke arah Rafa, rasanya dia ingin sekali bertanya apa saja yang sudah Rafa ceritakan pada bundanya tentang dirinya.


Rafa yang melihat Karin menyorot dirinya, dia pun beranjak mendekati kedua perempuan yang sangat dia sayangi itu.


"Bun ...cantik kan?" mata Rafa melihat ke arah Karin


"Sangat cantik !" puji bunda.


Karin yang mendengarnya merasakan pipinya yang memanas, rona merah di pipi Karin makin terlihat.


"Malu-malu tuh !" Rafa makin menggoda Karin.


Ingin rasanya Karin mencubit Rafa saat ini, tapi dia ga sampai hati karena ada bunda disini.


"Udah...Rafa...jangan godain terus calon mantu bunda."


Ucapan bunda berhasil membuat Karin kaget.....


"Jangan kaget ya nak Karin, bunda tuh sering denger tentang nak Karin dari bocah ini..!" bunda mengedipkan matanya ke arah Rafa.

__ADS_1


"Sekarang bunda ketemu nak Karin yang aslinya bunda seneng, semoga kalian bisa berjodoh ya..."


"Aamiin.." Rafa menyambar langsung ucapan bunda, membuat bunda geleng geleng kepala.


Tiba tiba terlihat pergerakan dari tempat tidur nenek.


Perlahan nenek terbangun mendengar sayup sayup orang yang berbicara.


Sontak Rafa , Karin dan bunda mendekat ke arah ranjang nenek.


Rafa memeluk neneknya itu .


"Nek...cepetan sembuh dong...Rafa kangen di omelin sama nenek.."


Nenek mengelus - elus kepala cucunya itu.


"Dasar bocah nakal masih aja mau godain neneknya."


Nenek melirik ke arah Karin.


Karin pun mendekati nenek dan mencium tangan nenek dengan takzim.


"Siapa...ini Raf...?"


" Maaf nek, aku Karin"


Karin mengenalkan dirinya pada nenek.


"Oh..nak Karin..!"


Lagi lagi dahi Karin mengerut dengan ucapan neneknya Rafa, karena ekspresi nenek tak jauh dari bunda ketika dia menyebutkan namanya.


"Terimakasih ya sayang, udah mau nengokin nenek, nenek seneng bisa ketemu Arin..."


"Sama sama nek, nenek cepat sembuh ya...!"


Ternyata Neta yang menghubungi Karin,


Neta memberitahu Karin kalau dirinya udah ada di koridor rumah sakit mau melihat keadaan Gani.


Karin melirik ke arah Rafa


"Siapa Rin...?"


"Neta...Raf.."


Rafa mengerti kalau Karin dan Neta udah janjian ketemu buat nengokin Gani.


"Ya...udah mau nengokin Gani dulu.." ucapnya pengertian.


Karin menggakukan kepalanya.


Karin melihat ke arah dua perempuan yang sangat hangat itu.


"Bun, nek maaf Karin harus pulang dulu , soalnya mau sekalian nengok temen lagi, dia lagi dirawat juga di sini."


Pamit Karin pada bunda dan nenek.


"Ya...padahal kita masih ingin ngobrol, tapi ...." bunda melihat ke arah jam .


"Karin mau nengok temen ya ? ya udah ga apa apa, kalau di nanti nanti takut abis waktu besuk nya."


"Makasih ya...nak Karin udah kesini, kapan kapan main ke rumah ,bunda seneng kalau nak Karin mau main ke rumah bunda .."

__ADS_1


"Ia..bun.." Karin berpamitan pada bunda nenek.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


"Bun Rafa ijin nganterin Karin dulu ya..." Rafa pun pergi setelah mengucapkan salam pada bunda dan nenek.


Rafa dan Karin berjalan di koridor rumah sakit, tak lama mereka bertemu dengan Neta, sampai di depan kamar Gani , Karin melirik Rafa.


"Mau ikut masuk...?"


Rafa menggelengkan kepalanya.."aku tunggu di sini aja ya...!"


Karin membalasnya dengan senyuman kemudian berlalu memasuki kamar Gani.


***


Ruangan bernuansa putih dan bau obat yang tajam menyambar penciuman Karin dan Neta, terlihat Gani berbaring di atas ranjang,dengan selang infus ditangannya.


Karin dan Neta mengucapkan salam , keduanya mendekat ke arah Gani, yang kebetulan lagi sendirian di ruangan itu.


Suara salam dari Karin dan Neta mengagetkan lamunan Gani.


Gani menatap ke arah kedua wanita yang kemarin kemarin membuat hatinya cemas.


Netra nya mendapatkan perubahan dari sikap keduanya, hatinya bermonolog " kenapa bisa Karin dan Neta datang ke sini bersamaan ?".


Rasa cemasnya mulai datang lagi takut akan terjadi hal yang sangat Gani tidak inginkan.


"Hai..." Neta menyapa Gani duluan , dia berjalan dan duduk di kursi di samping ranjang Gani.


Karin pun mendekat dia menuju samping ranjang Gani yang kosong.


"Gimana Gan..udah mendingan?" ucap Karin meneliti wajah Gani yang sudah tak sepucat kemarin.


"Alhamdulillah Rin sekarang udah ga terlalu pusing" jawab Gani seadanya.


"Kata dokter kamu sakit apa , sampai pingsan gitu..?" Karin penasaran.


"Katanya aku tifus Rin.."


"Ga...boleh kecapean dan banyak pikiran dong...!" Neta menimpali obrolan kedua orang yang ada di depannya itu.


Gani tersenyum tipis.


"Maaf ya Gan..kemarin kemarin aku udah bersikap egois sama kamu.." ucap Neta tanpa basa basi lagi.


"Tapi..bisa kamu lihat aku dan Karin sekarang baik baik saja, jadi kamu ga usah khawatir, biar cepat sembuh, cepat sekolah lagi." Neta menunjukan kasih sayangnya.


Karin yang melihat kesungguhan akan ucapan Neta tersenyum, kemudian dia mengacungkan kedua jempolnya tanda apa yang di ucapkan Neta memang benar adanya.


Gani yang melihat interaksi Karin dan Neta yang kompak tersenyum.


"Alhamdulillah...berarti sekarang kalian ga pada salah paham lagi kan?"


"Aku seneng lihat kalian kompak gini, berarti ga sia sia ya aku sakit kaya gini, bisa bikin kalian akur."


"Ih...ko ngomong gitu sih...kasih hadiah dong akurnya kita dengan sembuhnya kamu Gan..!"


Neta mengedipkan matanya.


"Aku...ga mau lihat kamu terbaring terus disini, lagian ga enak kan disini!"

__ADS_1


Gani terkekeh mendengar ucapan Neta.


"Mana ada sih Net yang betah di rumah sakit...."


__ADS_2