
"Ibu..." Karin mengeratkan pelukan ya pada Ibunya setidaknya ini sedikit membuatnya merasa nyaman.
Hari berganti hari Rafa yang tak bisa abai dengan pasiennya kini tengah serius melihat rekap medisnya.
"Dok, saya sangat salut pada anda perkembangan pasien anda ini sekarang sangat bangus." Ucap seorang perawat yang membantu Rafa.
Rafa hanya tersenyum tak menjawab.Dia kini lagi fokus dengan pengamatannya.
Lama Rafa mengamati rekap medis itu.
"Saya rasa kondisi pasiennya sekarang sudah stabil pindahkan saja ke ruang perawatan."Perintah Rafa pada perawatnya.
"Baik Dok."
Perawat itu keluar untuk mengurus segala sesuatunya.
Selang beberapa lama pintu ruangan di ketuk sama seseorang.
"Masuk!" Perintah Rafa.
Ternyata yang datang adalah keluarga pasien.
"Assalamualaikum, maaf 'Nak Dokter bapak mengganggu." Seorang bapak paruh baya berdiri di depan Rafa dengan penuh rasa hormat.
"Wa'alaikumsalam pak, silahkan duduk pak." Rafa tersenyum ramah pada bapak tua itu.
"Dok, saya datang ke sini hanya ingin berkata terima kasih karena 'Nak Dokter sudah mau membantu anak saya, saya tidak tahu kalau anak saya tidak 'Nak Dokter tolong pastinya dia____" bapak tua itu tak meneruskan ucapan ya karena tak tahan ingin menangis.
Dia teringat dua minggu terakhir itu. Ketika anaknya dilempar dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain lagi.Apalagi dia yang terbentur dengan biaya merasa putus asa.Sampai akhirnya di sisa harapannya dia datang ke Rumah sakit milik Rafa.
Rafa tidak hanya menolongnya dalam segi biaya tetapi Dokter Rafa sendiri 'lah yang langsung terjun langsung menanganinya.
"Tidak usah berterima kasih pada saya Pak, semuanya atas izin yang Maha Kuasa." Ucap Rafa sambil menepuk bahu bapak tadi.
"Ia 'nak Rafa, bapak sangat sangat bersyukur bisa bertemu dengan Dokter sebaik 'nak Rafa .Semoga kebahagian hidup dunia dan akhirat diberikan pada Dokter Rafa." Doa yang tulus itu di ucapkan oleh bapak itu dengan tetesan air matanya.
"Aamiin."Rafa mengangkat kedua tangannya dan mengusapkan ke wajahnya mendengar doa tulus itu.
Setelah bapak itu keluar ruangan, Rafa mendekat ke arah Kaca terlihat dari lantai atas keadaan jalan di kota itu sangat padat.
Kini Rafa menatap hampa keluar dia teringat lagi dengan sikap Karin.
Kesibukan nya membuat dia sejenak melupakan rasa kecewa atas penolakan Karin.Tetapi kini Rafa teringat kembali rasanya dia ingin mengejar Karin kembali.Tapi Rafa bingung harus dengan cara apa.
Rafa berjalan ke ruangan pribadinya dilihatnya hari mulai siang sekitar jam 10 pagi.Dia teringat kalau dia belum melaksanakan sholat duha.Akhirnya Rafa mengambil wudhu lalu menunaikan dua rakaat duha.Setelah salam dia membaca Al Qur'an.Rafa berdoa meminta kebaikan dunia akhirat, tak lupa dia berdoa agar diberi petunjuk soal Karin. Setelah itu Rafa rebahan kemudian dia mendengarkan ceramah di youtubenya.
Entah kebetulan atau itu sebuah petunjuk dari Yang Maha Kuasa ternyata ceramah yang Rafa dengar tentang ta'aruf.
__ADS_1
Rafa fokus mendengarkannya dan tiba tiba saja Rafa teringat sama ucapan Karin.
..."Maaf Raf ,aku telah menghapus pacaran dalam hidup aku."...
"Apa ini maksudnya?" Rafa berpikir keras.
Memori ingatan Rafa berputar ke masa SMA .
"Bukanya dulu juga Karin sering bahas tentang pacaran dalam islam?" Kemudian
Rafa 'pun teringat akan cerita Ibu , kalau selama ini Karin tidak pernah pacaran sama siapa 'pun.
"Apa jangan jangan Karin tidak mau pacaran tetapi ingin___"
"Ya pasti ini jawaban ya." Senyum Rafa kembali mekar.
Rafa bangkit dan membereskan penampilannya kemudian Rafa bergegas pulang ke rumahnya.
Dengan kecepatan lumayan cepat Rafa menjalankan mobilnya .Rasanya dia ingin cepat sampai datang ke rumahnya.
Rafa segera memarkirkan mobilnya begitu sampai di pekarangan rumah, setelah turun setengah berlari dia masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Rafa begitu memasuki rumahnya.
Dia segera mencari keberadaan orang tuanya.
"Assalamualaikum Bun, Nek." Setelah itu Rafa mengulur kan tangannya mencium tangan bunda dan nenek bergantian.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bunda dan Nenek.Mereka bergantian melihat Rafa.Mereka merasa hari ini aura Rafa agak berbeda.
"Tumben sayang bunda pulangnya masih siang?" Bunda menyelidik.
"Ia nenek perhatian kan juga wajahnya berseri seri gitu, ada apa 'nih?" Tanya nenek.
"Wah Bunda sama nenek memang hebat ya, bisa nebak cukup melihat wajahnya Rafa." Rafa agak basa basi.
"Ia dong kamu 'kan kesayangannya Bunda sama Nenek." Kompak para wanita yang Rafa sayangi itu.
Mendengar itu Rafa terkekeh.
"Alhamdulillah, Bunda dan Nenek untuk kasih sayangnya selama ini.Kalian selalu mensupport Rafa dalam berbagai hal."
"Ada apa 'nih?" Nenek kembali curiga dengan tingkah cucunya.
"Ah ...nenek ada ada saja , ga boleh ya kalau Rafa manja kaya gini." Rafa sedikit merajuk.
"Langsung Raf , bilang saja kamu mau ngomong apa sama kami." Tekan Nenek.
__ADS_1
"Sini dong Bunda sama Neneknya."
"Bunda di sini saja lagi tangung bikin kue."
Rafa menarik napasnya kemudian menatap Nenek dan Bundanya bergantian.
"Bun, Rafa pingin nikah."
"Apa...?" Kompak kedua wanita itu.
Bunda langsung menyimpan adonan kuenya sementara Nenek langsung berdiri mendekati Rafa.
"Sini sini ...." Bunda mengajak Rafa ke ruang keluarga.
Setelah ketiganya duduk nyaman baru Bunda bicara lagi.
"Rafa barusan kamu bicara apa?"Bunda kembali bertanya.
"Rafa mau menikah Bun, "Rafa berucap tegas.
"Sama siapa Raf? kamu tuh kalau cari pasangan harus jelas bibit bobot bebet nya.Perasaan nenek kamu ga pernah ngenalin pacar kamu ke kami." Nenek menyoroti Rafa.
"Ia Nenek ku yang cerewet, yang super bawel.Rafa tahu kalau pilih pasangan itu harus yang jelas keturunan dan segalanya.Tapi Nenek dan Bunda tahu ko siapa perempuan yang Rafa pilih jadi calon istri.Lagian ya ga sembarang wanita bisa menguasai hatinya Rafa adi pratama."
"Siapa dia Raf, jangan bikin Bunda penasaran dong?"
"Siapa ya?" canda Rafa.
"Awww..kenapa nenek cubit Rafa 'sih?"
"Dasar bocah di ajak serius malah ngajak tebak tebakan."
"Dia Karin Nenek !"
"Apa, Karin?" Bunda dan Nenek setengah berteriak.
"Karin yang waktu itu jenguk nenek? apa kabar dia.Dasar bocah tengil pacaran sama Karin tapi ga pernah di ajak ke sini?"Nenek memukul mukul Rafa.
"Nek , Bun, Rafa juga baru bertemu lagi dengan dia, dan Rafa ga pacaran sama Karin.Karena Karin ga mau pacaran tapi sepertinya Rafa langsung mau ta'aruf saja."
"Ya itu baru bagus, pacaran mah banyakin dosa."Ucap Bunda menyambar.
"Ya kalau 'nak Karin Nenek setuju." Nenek memberi pendapatnya.
"Bunda juga setuju."
"Alhamdulillah..."
__ADS_1
.