
"Perempuan Bun ?"
"Ia sayang...dan malangnya dia pun..." Bunda terdiam karena saking paniknya dia tidak tahu keadaan perempuan yang sudah menolong nenek itu.
"Kenapa Bun ?"
"Dia tadi mendonorkan darahnya untuk nenek...dan dia tadi langsung dirawat karena sempat keserempet sedikit."
"Astagfirullah. ...Bunda tenang ya nanti Rafa cari tahu kondisinya. Sekarang Bunda harus makan dulu...Rafa pesan ya.." Bujuk Rafa pada Bunda.
"Terserah kamu Raf..." Bunda berlalu lalu duduk di sofa.
Rafa hendak memesan makanan untuk Bunda tapi dia baru tersadar kalau ponselnya ketinggalan di mobil.
"Astagfirullah..."
"Kenapa Raf..." Bunda merasa cemas.
"Ponsel Rafa ketinggalan di mobil Bun, Rafa ambil dulu ya."
"Oh...kirain ada apa...kamu bikin Bunda was was saja. Ya sudah sana ambil."
"Maaf...Rafa ambil dulu sambil bawa makanan ya Bun."
Bunda membalas dengan anggukan saja.
Begitu mendapatkan ponselnya Rafa dibuat merasa bersalah karena melihat begitu banyak pesan dan panggilan yang tak terjawab dari Karin.
"Astagfirullah...aku sampai lupa ngabarin kamu sayang." Guman Rafa.
Lalu Rafa berniat menelepon Karin, tapi keburu ponselnya berdering duluan. Karin ternyata lebih dulu menelepon Rafa.
__ADS_1
Rafa segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikumsalam...Abi...astagfirullah dari mana saja sih...kamu ga apa apa kan ? Nenek , Bunda semuanya pada sehat kan ? Abi ko lama banget sih angkat telepon nya ?"
Karin terus bertubi tubi bertanya tanpa henti pada Rafa.
"Sayang...tenang dulu gimana aku mau jawab kalau kamu nanya nya terus terusan kaya gini." Tekan Abi merasa gemas sendiri.
"Eh...ia maaf abisnya aku cemas banget...aku neleponin Abi... hampir dua jam lo..." Keluh Karin.
"Astagfirullah...maaf ya..."
"Ada apa Bi...ada sesuatu ?" Karin merasa janggal.
Rafa menarik napas dalam.
"Ia...ada apa ?"
"Nenek...kecelakaan."
"Inalillahi...terus gimana sekarang ? dirawat di mana ? kenapa bisa ? kecelakaan apa ?"
"Umi...kata Abi kan tenang ga usah panik kaya gitu...Umi tarik napas dulu ya..." Pinta Rafa.
"Astagfirullah..." Karin menarik napas dalam lalu menghempaskan nya.
Setelah merasa lebih tenang Karin baru berbicara lagi pada Rafa.
"Ia Bi...sekarang boleh cerita Umi udah genangan dikit." Suara Karin melemah.
__ADS_1
"Sayang...Nenek udah di rawat sekarang di rumah sakit aku...untuk kejadiannya nanti aku jelasin di sini...ga usah cemas ya...umi mau kesini....?"
"Ia Bi...aku segera ke sana..."
"Mau Abi jemput ?"
"Ga usah...Umi sendiri saja....oh ya Abi udah sarapan ?"
"Ini rencananya Abi mau beli sekalian sama Bunda."
"Oh...ya sudah...Umi tutup teleponnya ya..."
"Ia...hati hati Umi...Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Setelah menutup telepon Karin segera pergi. Sementara Rafa langsung membeli makanan untuk Bunda dan dirinya.
Rafa kembali ke ruangan sambil membawa dua bungkus makanan.
"Bun...makan dulu."
"Kamu juga ternyata belum sarapan ya..."
"Ia Bun..tadi niatnya Rafa mau kasih kejutan sarapan di rumah Bunda...eh tahu nya Bunda dan Nenek yang kasih kejutan ke Rafa." Rafa sengaja bercanda sedikit agar suasana ga terlalu tegang.
Bunda tersenyum tipis.
"Ya sudah ayo makan dulu Bun...soalnya kalau Bunda ga makan Rafa juga ga mau makan.
Akhirnya walau tanpa ada selera Bunda mau makan juga. Sekedar mengisi perut agar tidak kosong.
__ADS_1
Ketika Bunda dan Rafa lagi makan tiba tiba pintu kamar ada yang mengetuk dari