
"Deg..."
Adit melirik ke arah bundanya seakan dia tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan bundanya barusan.
"Tapi Bun ..."Adit ingin sekali menolaknya tapi lidahnya terasa kelu saat mau berucap.
"Kenapa? apa kamu tak mau bertanggung jawab sama perbuatan mu?" Bundanya Adit menatap Adit dengan mata yang masih berkaca kaca.
"Bun, aku tidak mau menikah muda, lagian Dini , "Adit mengambil napas panjang.
"Aku tidak mencintainya !"
Mendengar pengakuan anaknya, Bundanya Adit hanya tersenyum simpul.
"Terlepas dari kamu mencintai atau tidak sekarang itu bukan lagi pilihan untuk mu! Kamu bisa belajar mencintai dia dengan waktu." Tegas bundanya Adit.
Entah kenapa mendengarkan bundanya berkata seperti itu dada Adit terasa sesak.Ada rasa tak ikhlas dalam dirinya bila harus melepaskan hari harinya dengan orang yang tidak dia cintai.
Bagi Adit , Dini hanya 'lah penghibur saja.Ajang dirinya untuk bersenang senang.
Walaupun Adit akui selama ini Dini selalu berada menemani dirinya tapi dia tidak pernah merasakan cinta pada Dini.
"Bun, impian hidup Adit hanyalah Karin."
"Berhenti kamu mengharapkan Karin, dia sudah melupakan kamu Adit!" Bundanya Adit setengah berteriak pada Adit.Dia ingin sekali Adit sadar dengan khayalan nya selama ini.
"Dan apa setelah kejadian ini kamu pikir Karin akan menerima kamu kembali? tentunya jawaban ya tidak, kamu harus sadar akan hal itu Adit!" Bundanya Adit kembali menegaskan kebenaranya pada Adit.
Kepala Adit menunduk ,terbayang kejadian yang menimpanya , kata kata Karin padanya di jalan tadi menandakan harapannya telah hilang.
"Bunda memang benar ,semua yang di ucapkan Bunda adalah benar , Karin sama sekali ga akan membiarkan celah untuk aku masuk dalam kehidupannya, bahkan sekarang untuk berteman dengan aku saja sudah tidak ingin."Tutur Adit penuh dengan rasa pilu.
"Bunda tahu Adit dalam posisi tertekan sekarang, tapi Adit harus bijak menyelesaikan masalah Adit sekarang." Ucapan bundanya Adit mulai melembut.
"Tapi tidak untuk menikahi Dini !" Tekan Adit.
Adit berdiri dari sofa dan dia ingin melangkahkan kakinya keluar rumah.
Bunda yang paham akan gelagat anaknya itu berteriak pada Adit.
"Berhenti !"
Adit melirik ke arah bundanya."Aku sudah ga mau membahas lagi masalah ini Bun, aku sangat capek."Adit berbalik ingin melangkah lagi.
"Berhenti dan dengarkan ucapan Bunda, atau saat ini juga kamu jangan anggap lagi Bunda ini orang tua mu." Dengan derai air mata Bundanya Adit berbicara seperti itu, dia tak tahu lagi caranya agar Adit tidak pergi.Karena Bundanya Adit tahu anaknya pasti ingin mencari pelarian sekarang.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bundanya Adit mendekat.
"Apa Bunda juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Karin lakukan padaku? apa Bunda juga mau meninggalkan ku?"
Bundanya Adit menggelengkan kepalanya tanda apa yang Adit pikirkan itu tidak benar adanya.
"Kamu salah Adit, Bunda selalu ingin bersama Adit makanya segala hal Bunda lakukan agar kamu menjadi lebih baik 'nak."
Bunda merangkul tubuh anaknya dengan hangat.
Adit yang merasa di posisi serba salah menjatuhkan kepalanya ke pundak Bundanya.
"Tolong Bun, Adit tidak mau dipaksa untuk menikahi Dini."Adit berkata dengan suara serak.
"Bagaimana kalau Dini hamil 'nak ? apa kamu juga akan mengabaikan nya ?"
"Kalau Dini hamil aku akan membiayai semua keperluan Dini Bun."
"Tapi bukan semata mata uang 'nak, anak kamu nantinya butuh status, apa kamu mau dia diledekin anak haram nantinya?" Bunda mencoba mengusik hati terdalamnya Adit.
Adit mengangkat kepalanya dari pundaknya Bunda.Bundanya itu memang benar, dia tidak mungkin menelantarkan anaknya tanpa kejelasan status.
"Baiklah Bun, aku akan bertanggung jawab, setidaknya sampai Dini melahirkan."
"Baik 'lah kalau begitu kita pergi ke rumah Dini besok sore." Ucap Bundanya Adit dihiasi dengan senyuman.
"Tapi Bunda minta sekarang kamu jangan kemana mana yah."
"Baik Bun, Adit mau istirahat di kamar." Adit melangkah menuju kamarnya di sertai tatapan Bundanya Adit yang penuh arti.
Setelah Adit masuk ke kamarnya, Bundanya Adit duduk di kursi sejenak dia berpikir apa yang membuat Adit menjadi sosok yang agak melemah sekarang?
"Ya pasti Karin, yang telah mengalahkan angkuhnya Adit," guman Bundanya Adit pelan.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi tadi?" Batin Bundanya Adit menerawang.
****
Sementara Karin yang baru sampai di rumah segera masuk ke dalam kamarnya.
Rasa tak nyaman sekarang yang Karin rasakan.
Hatinya masih bertanya tanya.Saling menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lainya.
Entahlah sekarang Karin malah memikirkan tentang pengeroyokan yang terjadi pada Rafa.
__ADS_1
"Apa benar pengeroyokan itu Adit yang merencanakan?" Karin terus saja berpikir.
"Bila itu benar seperti yang aku pikirkan berarti Rafa___"
"Jangan berburuk sangka Karin, kamu jangan dulu su'udzon pada orang."Tekan Karin pada dirinya sendiri.
Setelah merenung yang tak berujung akhirnya Karin memilih untuk membersihkan dirinya.Rasanya tubuhnya begitu terasa gerah.
Baru saja Karin selesai mandi Karin di kaget kan dengan dering dari ponselnya.
"Tut..tut..." Ponselnya terus saja berbunyi.Karin yang tadinya ingin santai santai terpaksa mengalihkan atensinya pada ponsel miliknya.
"Bundanya Adit." Karin menatap layar ponselnya.
"Assalamualaikum Bun"Karin mengucap salam setelah menekan tombol jawab di ponselnya.
"Wa'alaikumsalam ' nak Karin.Maaf ya Bunda kembali menggangu 'nak Karin . Semoga 'nak Karin tidak keberatan kalau Bunda selalu merepotkan."Bundanya Adit terdengar agak sungkan.
"Ga ko Bun, sama sekali tidak mengganggu, emangnya ada perlu apa Bunda sama Karin?"
"Nak Karin apa boleh Bunda tahu apa yang sebenarnya terjadi saat Adit mengantar 'nak Karin pulang?"
"Oh...itu Bun." Akhirnya Karin menjelaskan sejelas jelasnya apa yang terjadi dengan dirinya dan Adit tadi sore.
Bundanya Adit yang mendengar cerita Karin menarik napas kasar.
"Maafkan Adit ya 'nak Karin?"
Karin tersenyum kecut."Buat Bunda aku sudah maafkan Adit Bun, tapi maafkan Karin juga saat ini Karin tidak mau terlibat lagi dengan urusan pribadinya Adit."Karin kembali menegaskan katanya pada Bundanya Adit.
"Ia 'nak Karin Bunda sangar mengerti.Tapi 'nak Karin Bunda bersyukur mungkin karena ucapan 'nak Karin yang pedas itu kini Adit mau bertanggung jawab pada Dini."
"Maksud Bunda apa?" Karin merasa tidak mengerti.
"Maksud Bunda ,Adit bersedia menikahi Dini sebagai bentuk tanggung jawab nya."
Mendengar ucapan Bundanya Adit, Karin membelalakkan matanya dia merasa percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Bunda serius ?" Karin memastikan.
"Ia 'nak Karin , sekali lagi terima kasih ya."
Karin tersenyum."Ia Bun, semoga saja Adit sekarang akan mulai berubah jadi lebih baik."
"Aamiin."
__ADS_1