Takdir Cinta Terindah

Takdir Cinta Terindah
Episode 110


__ADS_3

Karin menggenggam tangan Rafa erat menatapnya dengan senyuman yang lembut.


Rafa menatap manik mata Karin. Dia mengerti Karin hanya ingin agar dirinya pun terbebas dari rasa benci.


"Aku rasa ga mudah untukku melupakan perlakuan mu dulu padaku Dit, jujur aku sulit untuk memaafkan mu sepenuhnya." Ucap Rafa .


"Aku mengerti Raf...mungkin benar aku ga pantas untuk dimaafkan." Ucap Adit sendu dengan kepala menunduk.


"Tapi...aku akan mencoba untuk mengikhlaskan semuanya yang terjadi."


"Deg...!" Mendengar itu Adit mengangkat kepalanya.


"Maksudnya ?"


"Aku juga menyimpan penyakit hati selama ini padamu Adit, aku juga perlu belajar untuk membebaskan hatiku dari rasa benci dan dendam dari dalam hatiku. Mungkin dengan mengikhlaskan semua yang terjadi kita bisa menjadi sahabat." Ucap Rafa sambil tersenyum.


Adit merasa antara percaya dan tidak dengan ucapannya Rafa barusan.


"Bun..cubit aku, barusan Ayah tak mimpi kan ?" Adit meminta Dini untuk mencubitnya.


Dini mencubit Adit.


"Aww...sakit Bun.." Adit mengaduh.


"Hehe..maaf Yah , kan ayah yang minta buat aku cubit. Sekarang Ayah tahu kan ini bukan mimpi." Ucap Dini.

__ADS_1


"Ia...Din."


Sementara Karin tak kuasa dengan rasa bahagia nya dia lupa dia dimana sekarang. Tiba tiba saja Karin memeluk Rafa.


"Alhamdulillah...Raf...akhirnya kamu bisa bebaskan hati kamu dari rasa yang mengotori pikiran dan jiwamu." Karin memeluk Rafa erat.


Jujur Rafa merasa terkejut dengan pelukan Karin yang begitu berani padanya mengingat ini adalah tempat umum.


Perlahan Rafa membalas perlukan Karin.


"Sayang...terima kasih ya...tapi ngomong ngomong istriku ini banyak kemajuan sekarang ya...sudah berani pelukan di depan umum." Rafa setengah berbisik pada Karin.


Mendengar apa yang di bisikan oleh Rafa . Karin baru sadar dimana dirinya sekarang berada.


"Astagfirullah..." Karin mengurai pelukannya.


Karin menatap sekitar lalu dia melihat Rafa bergantian melihat Adit dan Dini.


Yang di tatap hanya senyum senyum saja.


Melihat itu wajah Karin jadi memerah sempurna."Maaf...tadi aku refleks."


"Tak...apa sayang...lagian aku ini suami mu."


"Ia ...Rin santai saja kali. Kita malah sudah biasa kaya gitu." Ucap Adit mengedipkan mata nakal pada Dini.

__ADS_1


"Ya...ampun..sumpah aku malu banget."Ucap Karin jujur.


Akhirnya suasana terasa akrab dikala mereka saling ledek dengan candaan.


Setelah cukup lama mereka bercengkrama Adit dan Dini akhirnya memutuskan untuk pulang duluan, mengingat anak anak mereka yang harus istirahat.


"Sekali lagi terima kasih untuk kelapangan hati kamu memaafkan aku." Sebelum pergi dia memeluk Rafa .


Mereka saling berpelukan. Netra Karin sampai berkaca kaca melihat itu.


"Om...tante...salim dulu." Kedua anak Adit dan Dini dengan lucunya mengulurkan tangan pada Karin.


"Ia...sayang sampai rumah istirahat ya...jangan lupa belajar." Ucap Karin menerima uluran tangan anak anak Dini dan Adit kemudian mengecup satu persatu kening mereka.


Setelah keluarga Adit pergi tinggal Karin dan Rafa yang saling pandang.


"Raf...jujur aku senang banget dengan jawaban kamu yang begitu bijak seperti itu. Aku bangga deh sama kamu." Karin mengacungkan dua jempolnya.


"Yang bener...?"


"Ia...sayang...jadi makin love...love."


"Aamiin...alhamdulillah."


"Rin...lihat Adit dan Dini aku senang banget beneran ga nyangka mereka akan harmonis seperti itu."

__ADS_1


"Jujur Rafa aku juga seneng. Orang akan belajar dari kesalahannya. Seperti Adit."


"Kamu jangan mulai Rin..puji puji Adit di depan aku aku ga suka." Rafa sedikit merajuk mendengar ucapannya Karin yang memuji Adit.


__ADS_2