Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Tampan, Hamili Aku!


__ADS_3

"Tampan, hamili aku!" Perintahnya manja.


Tuing,*


"Masih bau kencur minta dihamili? Apa dia masih waras?" Batin sang pria matang.


Tatapan Lovie memburunya dan segera berlari mendekat.


Sayangnya, pria aneh itu. Bukannya menerima kecupan Lovie, malah berlari dan Lovie terus mengejarnya.


"Siall, mimpi apa aku semalam? Sampai dikejar-kejar cewek mesum." Pria aneh itu, masih berlari di sekitar kamarnya dan melemparkan bantal empuknya ke arah Lovie.


Pria aneh itu adalah Richard De Nuca, putra tunggal dari keluarga kaya raya. Richard seorang Boss dari perusahaan Rich, dan ia masih melajang sampai sekarang. Pria matang yang berusia 30 tahun ini, juga sosok orang sibuk.


Sedangkan yang mengejar pria tampan nan aneh ini ialah gadis belia, berusia 17 tahun.


Gadis bodoh yang menggemaskan Loviena Silvia Ferdiawan. Putri semata wayang dari seorang pengusaha yang bernama Benny Ferdiawan. Meski tidak sekaya keluarga Richard. Namun, Pak Benny memiliki usaha di bidang fashion, dari tas, sepatu dan pakaian.


Lovie dan Richard tinggal di kota Shindong. (Setting halu)


Lovie mendapatkan warisan rumah, kebun buah dan swayalan. Namun, itu semua itu berada di luar kota, sebut kota DongHae. Sedangkan di kota ini, hanya ada pabrik dan outlet fashion mewah milik Papinya.


Maminya, meninggal 3 tahun yang lalu. Kemudian, sebulan yang lalu, Papinya telah menikah lagi dan wanita itu bagaikan bayangan gelap.


Yuk, flashback sebentar.


Sehari, sebelum bermalam di hotel. Lovie si gadis belia, dengan wajah muram masam dan ingin membalas keluarga barunya.


"Talita. Peluk aku." Rengekan manja, kepada teman curhatnya. Hanya, Talita gadis manis yang mau berteman dengan Lovie. Banyak teman, yang tidak suka pada gadis bodoh seperti Lovie.


Lovie memang tidak sepandai teman sekelasnya yang lain. Tapi, Lovie tidak pernah bolos sekolah, selalu menurut akan perintah guru dan aturan sekolah.


"Lovie. Mereka memang jahat. Seperti itu, Papimu tidak mau membelamu?"


"Talita, bukannya begitu. Papi ingin sekali membela aku. Tapi, Papi juga menurut sama Nenekku. Nenekku yang membawa mereka datang ke rumahku. Katanya, agar wanita itu bisa merawat dan mendidikku dengan baik. Tapi, apa buktinya. Dia orang yang jahat. Dua anaknya juga bikin aku nangis." Lovie yang sedang curhat dan tampak di peluk teman dekatnya ini.


Lovie ingin menginap di rumah teman dekatnya ini dan berbagi cerita sedihnya.


"Kamu harus membalas mereka."


"Gimana acaranya?"


"Kamu bisa jadi nakal. Jangan terlalu pendiam. Kalau pendiam, malah bakal ditindas."


"Talita. Aku mana bisa berbuat nakal. Apalagi, di depan Nenekku."


"Nenekmu, Papimu, sama Damian, sudah direbut mereka. Apa kamu masih ingin berdiam tanpa membalasnya?"


"Damian sama aku memang sudah putus. Aku tidak menyesal. Biarkan saja, cowok buaya sama cewek gampangan."


"Lovie, besok aku mau pergi ke hotel. Kamu mau ikutan nggak? Kita bisa dapat sugar daddy." Ajakan Talita.


"Apaan itu, sugar daddy?" Tanya dengan tatapan wajah penasaran. Karena, Lovie memang gadis belia polos.


"Ya semacam Om-om. Kita bisa dapat duit dari mereka."


Lovie jadi terbelalak, "Jual diri???"


"Ya semacam itu. Siapa tahu, kita dapat Bos kaya raya, tajir melintir dan kita bisa happy."


"Duitku sudah banyak. Aku nggak mau begituan."


Wajah Lovie terlihat begitu polos dan sangat manis. Dia sosok yang ceria. Meski tidak pandai, tapi dia serba bisa dalam pekerjaan rumah. Lovie bisa beberes, tanpa bantuan asisten rumah tangga, yang bekerja di rumah mewahnya.


Apalagi, setelah kepergian Maminya, Lovie juga banyak belajar, agar dirinya bisa mandiri, tanpa bermanja dan menyusahkan orang lain.

__ADS_1


"Lovie, kalau kamu kenapa-napa. Kamu tinggal bilang saja sama Papi kamu. Mereka para keluarga barumu itu, yang membuat kamu berubah menjadi gadis nakal." Ucap Talita enteng. Padahal, ia sendiri juga belum pernah berkencan.


Talita hanya terbawa suasana, saat Kakak cantiknya memiliki barang branded yang berharga fantastis.


Lalu, sang Kakak itu mengatakan, dia punya sugar Daddy, yang bisa merubah kehidupannya.


"Ah, nggak mau. Aku takut. Apalagi sama Om-om. Pasti seusia Papi."


"Ya kita mana tahu, seusia Papi kamu atau tidak."


"Talita. Jangan bermain sugar Daddy. Lebih baik, kamu ajarin aku matematika. Besok ada ulangan."


"Iya. Tapi, besok kita ke hotel ya. Aku penasaran. Aku cuma ingin lihat sugar daddy miliknya Kak Lolla."


Belum sampai belajar matematika. Papi Lovie datang dan mengajak Lovie pulang.


"Papi!! Aku tidak mau pulang."


"Terserah kamu."


Di mobil, Lovie kesal. Ia berkata lantang "Papi semenjak punya istri baru jadi berubah. Papi jahat. Papi begitu cepat melupakan Mami."


"Lovie, jaga ucapan kamu. Apa Papi mengajarimu bicara seperti itu?"


Lovie mengingat akan ucapan Talita. Dia harus berani melawan keluarga barunya itu. Termasuk, bicara jujur kepada Papinya.


"Papi. Semenjak ada mereka. Aku tidak bahagia. Apa Papi tidak menyadarinya?"


"Lovie, kamu masih kecil. Ibumu hanya mendidik kamu, agar kamu jadi gadis yang berbakti kepada orang tua."


"Wanita itu bukan ibuku. Papi nggak usah bilang begitu."


"Kamu semakin ngelunjak sama Papi."


"Papi, aku hamil. Apa Papi peduli?!"


Duuar!!!


Bagaikan tersambar petir. Mobil yang melesat cepat itu, mengerem mendadak sampai menabrak trotoar.


Lovie yang berpegang erat dan tampak menunduk. Perlahan, melihat ke arah sang Papi yang terdiam.


"Papi, baik-baik saja?"


Sang Papi hanya terdiam. Entah rasa apa yang beliau rasakan saat ini. Papi yang baru berusia 42 tahun, terlihat tegar dan berusaha untuk mengontrol emosinya. Perlahan, air mata bening terlihat mengalir dan membasahi wajah.


"Papi menangis??" Batin Lovie, seketika menjadi rapuh.


"Siapa pria itu??"


"Pria?"


Lovie yang terdiam, dan merasa aneh.


"Siapa, yang menghamili kamu?"


"Emh, itu. Dia. Itu."


"Jawab Papi!! Siapa pria itu??!!" Suara Papi terdengar kejam dan sangat marah.


"Pa-pi mem-ben-tak ak-ku??"


Lovie merasa takut bukan kepalang, baru kali ini dirinya dibentak oleh ayah kandungnya.


Lovie terdiam dan ia menunduk. Tangan itu, sudah gemetar dan rasanya sangat takut. Dia tak mau lagi menoleh ke wajah sang Papi.

__ADS_1


"Lovie. Maafin Papi."


Tangan Lovie perlahan melepas sabuk pengaman. Wajah itu sudah berubah muram dan tidak membalas ucapan sang papi. Tangan yang gemetar, membuka pintu dan ia keluar dari mobil.


"Lovie, sayang. Lovie." Sang Papi keluar dari mobil. Namun, polisi mendekat, meminta sim pengendara.


"Pa-pi sudah berubah. Aku tidak mau begini. Aku tidak mau dibentak sama Papi. Mereka semua jahat padaku."


Lovie menghentikan taxi dan ia tanpa menoleh ke arah sang Papi, ia tetap menaiki taxi warna biru.


"Pak cepat jalan."


"Baik Mbak."


Pusat kota dengan gemerlap dunia malam. Tampak gedung-gedung tinggi dan megah. Kanan kiri jalan, banyak orang berlalu lalang. Jalan raya yang padat akan kendaraan.


"Nona, ingin pergi kemana?" Tanya sopir.


"Ke Hotel DeNuca."


"Baik."


Lovie yang masih mengenakan rok abu-abu dan atasannya kaos putih polos yang terbalut sweater biru muda. Sosok gadis belia yang apa adanya dan tidak bisa berfikir panjang.


Lovie memang kecil hati. Sekalinya rapuh, dia akan menyimpan hal buruknya dan tidak akan melupakannya. Seolah, dia ingin membalaskan luka hatinya.


"Kak, saya mau pesan kamar."


Melihat penampilan Lovie, resepsionis hotel tampak meragukannya dan masih terus menatap gadis belia berwajah kucel.


"Mohon maaf Nona. Semua kamar sudah penuh. Tidak ada kamar yang kosong."


"Baik. Terima kasih."


Lovie berjalan pergi dan ia berpapasan dengan dua gadis cantik. Mereka asyik mengobrol dan membicarakan tentang aplikasi kencan, loving room, dan pria bayaran.


"Benar. Aku harus hamil. Aku harus kembali ke rumah dalam keadaan hamil."


Lovie melihat ke arah jam yang ada di tangan kirinya. Ponsel sudah ia matikan dan tidak akan ada yang mengganggu.


Baru jam 8 malam, Lovie pergi ke toko pakaian yang ada di mal mewah.


Lovie tadi hanya berjalan kaki, kebetulan hotel yang dikunjungi barusan dan mal mewah, jaraknya begitu dekat.


Lovie sudah berganti pakaian dan tampak menenteng dua kantong belanjaan. Lovie, pergi ke hotel seberang Mal. Ada banyak hotel, di sekitar tempat ini.


"Kak, saya mau menginap disini."


Lovie sudah tampil cantik dengan dress warna hitam dan terlihat gaya dewasa. Tampak dandanan glamour dan tidak terlihat wajah belia. Make-up tebal, namun terkesan natural, sudah menutupi wajah belia manisnya itu.


"Ini daftar kamarnya. Nona ingin menginap di kamar nomor berapa?"


Resepsionis ini begitu tampan dan senyumannya sangat menawan.


"Kamar 101."


"Baik."


Setelah pemesanan dan mendapat kunci kamar, Lovie tidak berlama-lama. Lovie segara mencari pria di aplikasi kencan, BOX Tampan.


"Huh. Aku harus menghabiskan tabunganku." Lovie merasa dirinya bodoh. Karena harus menyewa pria, untuk proses kehamilannya itu.


Padahal, tadi sudah ditawari Talita untuk mencari sugar daddy, tapi dirinya malah menolak.


"Aku harus cari yang tampan." Batin Lovie, menginginkan pria tampan.

__ADS_1


__ADS_2