Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Meninggalkan Rumah Sakit


__ADS_3

Suasana siang menjelang sore hari. Rumah sakit swasta di kota Shindong. Lovie yang telah berjalan dan dikawal oleh Doddit.


Hal yang tidak diharapkan ternyata malah terjadi.


"Papi." Tepat di depan mata Lovie dan gadis itu tidak dapat lagi menghidari sang Papi.


Doddit yang juga melihatnya, dia malah membalikan badannya dan berpura-pura tidak mengenal Lovie.


Lovie yang lupa kalau dirinya sudah memakai masker dan tudung kepala dari hoodie yang ia kenakan saat ini.


"Papi." Bodohnya Lovie, saat sang Papi berjalan dan tidak menoleh dirinya. Malah memanggil sang Papi.


Sang Papi yang tampak mengobrol dengan seorang perawat dan tidak menghiraukan putrinya.


Ibu tiri Lovie mendekat, segera merangkul lengan tangan suaminya.


"Papi." Suara ibu tirinya begitu kemayu dan Lovie memutarkan badannya, untuk melihat sendiri, bagaimana sang Papi bisa melupakan dirinya.


"Papi tidak lagi mempedulikan aku. Aku juga tidak akan lagi mempedulikan Papi."


Lovie yang masih menatap punggung sang Papi. Sampai tidak terlihat lagi olehnya, setelah sang Papi memasuki sebuah elevator dan beliau hendak pergi ke lantai 5, tempat Nenek Lovie tengah dirawat.


"Papi." Panggilan dari Lovie nyaring dan perlahan pintu lift telah tertutup.


"Lovie?? Aku mendengar suara Lovie." Batin Papi Benny.


Papi Benny menoleh ke arah istrinya dan bertanya "Jesika, apa kamu mendengar suara Lovie?"


"Aku nggak dengar suara Lovie. Mungkin Papi salah mengira suara orang lain."


"Benar juga, mana mungkin Lovie bisa disini. Dia sangat membenci rumah sakit."


Lovie memang pernah membenci rumah sakit, saat sang Mami kandungnya telah dinyatakan meninggal dunia.


"Aku benci tempat ini. Aku tidak suka."


Lovie berlari dan Doddit kembali mengikuti Lovie.


"Aku harus mengatakan hal ini kepada Presdir dan Nyonya Nancy." Batin Doddit setelah tahu kejadian ini. Doddit turut merasakan hati seorang Lovie, yang sedang terluka.


Lovie yang berlari pergi meninggalkan gedung rumah sakit ini. Begitu sampai di parkiran mobil. Dia menangis dan membuka maskernya dengan kasar.


"Benar kata Om Rasya. Papi sudah melupakan aku. Papi nggak sayang sama aku." Ucapnya dan masih menangis tersedu-sedu.


Dari jendela kamar, Richard melihat Lovie yang menyeka air matanya sendiri.


Doddit mendekat "Nona Lovie, baik-baik saja?"


"Aku benci disini. Aku nggak suka tempat ini." Jawab Lovie terdengar kesal.


"Mari silakan, ke mobil Bos Richard." Ucap Doddit dan Lovie masih menangis sesenggukan.


Richard masih menatap Lovie dari ruang inapnya. Dia berkata "Daddy, aku juga tidak keberatan kalau gadis itu tinggal bersama kita."


"Kalau kamu keberatan, Mommy juga akan lebih memilih Lovie. Kamu anak laki-laki, bisa tidur dimana saja." Ucapan sang Mommy terdengar sewot.


Richard mendekati sang Mommy, ia berkata "Iya iya. Aku salah. Selama ini, aku sudah bersalah sama Mommy. Aku memang anak yang tidak berguna dan tidak mau memahami perasaan Ibu kandungnya."


"Kamu sudah sadar?" Tanya Mommy.


Richard duduk di sebelah sang Mommy, ia berkata "Mommy sayang. Aku sudah sadar sejak lama. Aku sendiri juga ingin memulai hidup yang benar. Tapi, aku bingung harus memulainya dari mana."


Sang Mommy duduk di sofa dan ia tampak menatap layar ponselnya. Sedangkan, sang Daddy hanya menatap putra semata wayangnya itu.


"Kalau kamu keberatan tinggal bersama Lovie. Mommy lebih baik mengadopsi Lovie dan mengusir kamu dari rumah." Ucapan sang Mommy tegas.

__ADS_1


"Mommy baru kenal Lovie. Aku sudah 30 tahun menjadi anak Mommy. Apa Mommy tidak menyayangi aku?" Richard tidak mau kalah.


Tatapan sang Mommy santai dan beliau berkata manis "Mommy ingin anak perempuan yang manis dan bisa diandalkan, tidak seperti kamu."


"Aku juga bisa diandalkan. Aku akan memberikan cucu buat Mommy."


"Baguslah, kalau kamu sudah paham. Mommy akan menerima pemberian kamu."


Richard menyandarkan kepalanya ke bahu sang Mommy, ia berkata "Aku memang anak Mommy. Aku juga akan berusaha membuat Mommy bahagia."


Presdir Nicholas tersenyum, melihat putranya yang masih saja suka bermanja.


Daddy berkata "Kamu sudah sehat. Daddy mau kembali ke kantor, menyelesaikan masalah yang kamu buat."


"Memangnya, aku buat masalah apa? Aku cuma makan mie setan."


"Lovie membuat unggahan, soal kamu yang pingsan karena produk kita. Tadi, media sosial heboh sekali."


"Benarkah?! Kenapa Mommy nggak cerita sama aku?" Richard melirik Mommy.


Mommy Nancy berkata "Mommy juga tidak tahu. Ini, Mommy baru melihatnya dan kuasa hukum kita sudah membuat pernyataan resmi, kalau putra pemilik Rich Corporation hanya ngeprank kedua orang tuanya saja."


"Hish, aku malah dibawa-bawa. Aku beneran sakit Mom. Aku tidak ngeprank Mommy sama Daddy."


Daddy Nicholas berdiri, menepuk bahu kanan Richard "Richard, Lovie sangat perhatian sama kamu. Dia memang gadis yang polos. Daddy sudah menceritakan hal sebenarnya."


"Polos apanya. Makanya, setelah tahu kalau Daddy pemilik Rich, dia jadi ingin tinggal bersama kita." Balasan Richard yang masih terlalu angkuh.


"Kalau kamu terus saja berfikir buruk tentang wanita. Kamu tidak akan bisa menikah. Lupakan masa lalu kamu dengan Jihan. Buka mata dan hati kamu untuk gadis yang lain. Tidak semua wanita itu sama seperti yang kamu pikirkan." Sang Daddy terkesan menasehatinya.


Richard hanya terdiam, dan sang Mommy bertanya "Daddy mau jalan sendirian? Apa Rondi menjemput Daddy kemari?"


"Rondi sudah kemari." Jawaban sang suami.


Mommy Nancy, bangkit dari sofa, beliau berkata "Mommy akan temani Daddy ke bawah, sekalian Mommy ke ruangan dokter."


"Aku harus punya cucu kandung."


Lovie juga tidak keberatan atas hal ini, malahan dia sangat terlihat antusias sekali.


Setelah kedua orang tuanya keluar dari kamar. Richard mulai mengingat tentang Lovie yang memberikan semua uangnya, bahkan berlaku sopan padanya.


"Apa, Lovie beneran tulus sama aku? Bukan, karena aku putra dari Presdir Nicholas pemilik Rich?"


Richard melepas infus dengan kasarnya, berganti pakaian casual yang ada di lemari kecil. Setelah itu, meraih jaket sporty serta tas ransel milik Lovie, yang berisi uang ratusan juta. Richard, tidak lupa memakai topi dan masker hitamnya.


"Aku harus pergi." Gumam Richard dan ia menoleh ke arah ranjang pasien.


"Aku baik-baik saja." Ia tampak menggeleng, saat melihat ranjang pasien.


Membuka pintu kamar itu dan kepalanya duluan yang keluar.


"Sepi."


Richard berjalan pergi dengan santai.


"Emh, aku harus segera pergi sebelum ketahuan Mommy." Batin Richard.


Saat berjalan melewati lorong kamar ruangan inap VIP. Richard berjalan ke arah elevator.


Secara bersamaan, Richard dan Papi Benny memasuki elevator. Mereka yang tidak saling mengenal dan bersama dalam satu ruangan.


Papi Benny sepintas melihat tas ransel yang di gendong Richard, sangat mirip dengan milik Lovie.


Richard keluar lebih dulu, Papi Benny masih melihat ke arah punggung pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Lovie? Tasnya Lovie, tas itu limited edition, jarang pemiliknya. Apa dia?" Papi Benny jadi mengingat, kalau tadi sempat mendengar suara putri kandungnya.


"Lovie!" Sayangnya, saat beliau berjalan keluar dari elevator, sosok pria itu sudah tidak lagi terlihat olehnya.


"Kemana pria itu pergi? Aku yakin, itu pasti tasnya Lovie."


Papi Benny mengingat akan gantungan kunci, yang sama miripnya dengan miliknya. Gantungan kunci bentuk hati, dan itu buatan tangan Maminya Lovie.


"Lovie sayang, apa tadi kamu yang memanggil Papi?" Papi Benny menatap ke seluruh ruangan itu dan tidak terlihat sosok pria yang menggendong tas ransel putrinya.


Richard melewati lorong samping rumah sakit itu dan menaiki sebuah taxi. Papi Benny malah pergi ke pintu utama rumah sakit.


"Apa yang Lovie sembunyikan dalam tas ranselnya, selain uangnya tadi?" Batin Richard jadi penasaran sendiri.


Tampak membuka resleting tas itu dan melihat amplop duit yang tadi. Kemudian, ada dompet lipat dan Richard jadi sangat penasaran.


"Buka. Tidak. Buka. Tidak." Batin Richard saat memegang dompet lipat berwarna dusty pinky dengan mode kancing bentuk hati.


"Tapi aku penasaran." Batin Richard.


Richard membuka dompet itu dengan mata terpejam, perlahan membuka mata dan terlihat menyipit.


"Ini, kartunya banyak banget." Gumam Richard.


Ada kartu identitas baru, ada kartu pelajaran, ada kartu perpustakaan sekolah, ada kartu kantin, ada kartu anggota pelajar hebat, ada kartu absensi kelasnya.


"Nggak ada ATM. Dia beneran, belum bikin rekening pribadi?" Batin Richard dan perlahan dia tersenyum.


"Dia memang jujur. Kenapa aku masih curiga padanya?" Gerutunya pelan.


Richard menyusun kembali kartu pribadinya Lovie.


"Loviena Silvia Ferdiawan. Emmh, kalau aku sudah sayang sama kamu. Aku tidak akan melepaskan kamu." Batin Richard dengan wajah yang tampak misterius. Richard hadi, mendesis sendiri, "Lovie, terlalu polos."


Mengembalikan dompet Lovie ke dalam tempatnya. Entah, apa yang Richard rencanakan saat ini. Dia sudah pergi meninggalkan rumah sakit.


Richard cuma memakan mie setan produk dari idenya sendiri. Namun, Richard memang punya riwayat pencernaan yang kurang baik.


"Doddit, kamu sudah mengantar Nona barumu?" Tanya Richard, dari panggilan telephonenya.


Doddit yang menerima panggilan itu, dan tampak mengemudikan mobil. Doddit memakai earphone di telinga kirinya.


"Bos, saya OTW ke rumah Nyonya."


"Aku OTW ke apartemen kamu."


"Apa??!" Doddit terkaget dan melihat wajah Lovie yang manyun dari spion mobilnya.


"Kalau Bos nekat. Saya juga akan nekat. Saya akan menculiknya."


"Silakan saja. Kalau kamu berani menculiknya."


"Bos. Di tempat saya, ada Ibu saya."


"Bagus dong. Aku sudah lama tidak bertemu Ibumu."


"Bos. Ibu saya bersama perempuan."


"Calon istrimu? Siapa? Metta?"


"Ya ada, dijodohin." Kilahnya Doddit yang asal bicara.


"Oke. Aku tidak akan mengganggu kamu."


Apartemen Doddit dan apartemen Rey memang berbeda gedung. Namun, di penthouse seberang apartemen Rey, itulah apartemen tempat tinggal Doddit.

__ADS_1


Para staff Rich, banyak yang tinggal di tempat itu, terutama Doddit dan Metta.


Setelah 20 menit perjalanan, Richard sampai di lobby apartemen tempat tinggal sang sahabat.


__ADS_2