Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Kekasih Bos Richard


__ADS_3

Malam yang manis untuk seorang Bos Richard. Ketika sang pujaan hati datang menghampiri ke kantornya.


Sosok belia berjalan melewati pintu ruangan ini. Di mata para staff andalan, seolah tampak cahaya terang yang menyilaukan mata mereka.


"Permisi semuanya." Suara itu terdengar imut. Maklum saja, masih usia remaja.


Hening, tiada suara balasan.


Mereka semua hanya terdiam, saat melihat sosok belia, tengah berjalan mendekat ke arah Richard.


"My Lovie."


Suara dan pancaran mata Richard seketika berubah.


"Kak Richi, aku sudah ke rumah. Tapi Kak Richi malah sibuk di kantor. Aku pikir Kak Richi masih sakit. Tahu begitu, aku tidak perlu mencemaskan Kak Richi."


"Lovie, aku lagi pusing. Ayo kita pulang."


"Pusing??" Lovie menatapnya lekat dan mengelus kepala Richard di hadapan para staff andalan Bos tampan ini.


"Iya, pusing karena pekerjaan. Lihat ini, Doddit memberikan aku banyak pekerjaan."


Doddit lagi yang jadi umpan, semua melihat ke Richard.


Lovie berkata "Kak Doddit, Kak Richi masih sakit. Jangan diberi pekerjaan yang membuat dia pusing."


"Nona Cantik, saya hanya." Belum sampai Doddit menjelaskan panjang lebar. Tatapan mata Richard mengerikan.


Lovie yang menatap Doddit, tangan Richard meraihnya dan mengajaknya pergi. "My Lovie, ayo ke ruanganku."


"Emh, iya Kak Richi."


Lovie menoleh ke wajah para staff dan hanya tersenyum tipis.


Richard berkata "My Lovie aku kangen."


"Kangen aku?"


"Iya."


Doddit jadi pasrah dan duduk di kursi kerja yang tadi di duduki Richard.


Pak Rondi berkata senang "Tugasku sudah selesai. Mengantar Nona Lovie sampai tujuan. Aku sudah terbebas dari tugasku. Aku bisa ke rumah istriku."


"Doddit. Itu kekasihnya Bos??!" Tanya Metta dan yang lainnya juga menatap ke arah Doddit.


"Iya. Aku dia kekasihnya. Perkataanku terbukti. Kalian bisa melihat perubahan wajah Bos Richard." Jawaban Doddit, memperjelas.


Semuanya segera berlari, untuk mengintip Bos tampannya.


Richard yang sudah membawa Lovie ke ruangannya dan ia memeluk erat badan Lovie.


"Aku pikir kamu tidak kembali."


"Aku sudah janji sama Kak Richi, kalau sepulang sekolah aku ke rumah Ibu Nancy dan merawat Kak Richi. Eh, pasienku malah kerja lembur di kantor."


"Iya, ada banyak pekerjaan. Apalagi, ini akhir bulan. Aku harus melihat semua laporan, dari pimpinan pabrik. Aku juga harus menyetujui soal gaji yang harus dibayarkan dari tim keuangan. Semua itu ada laporannya. Aku sampai pusing."


"Emh, seberat itukah pekerjaan Kak Richi?"


"Papi kamu pasti juga seperti aku. Apa kamu tidak pernah ke kantor Om Benny?"


"Owh, aku dulu sering nyusulin kalau Mami ngajakin aku. Tapi, aku tidak memperhatikan pekerjaan Papi."


"Semua pekerjaan itu berat. Makanya, kamu lebih baik jadi istriku. Jangan jadi wanita karier yang bekerja di kantor seperti aku. Itu semua pekerjaan bikin pusing kepala. Nanti kamu bakalan capek."


"Emh, tapi aku." Belum sampai membalas, Richard malah mengecup bibir imut Lovie dan semua para staff andalan itu, jadi melihat moment manis Bos tampannya.


Dinding kaca itu lupa diburamkan, tangan Richard meraba meja dan meraih remot untuk memburamkan dinding kacanya


Aaagrrhh.


Para staff yang menggila sendiri. Ada yang terpesona, ada yang kepingin ciuman dan ada yang sangat penasaran.


"Dia masih kecil. Apa yang akan Bos lakukan sama kekasihnya??" Metta jadi penasaran.


Doddit spontan menjawab "Bos akan menghamilinya. Setiap hari begitu."


"Hah??!" Milie dan Juno syok.


"Iya mencetak bayi. Entah jadi apa tidak. Yang penting membuatnya." Penjelasan Doddit bikin bengek.


Metta berkata "Doddit, kekasihnya masih kecil."


"Tapi, kecil-kecil sudah bisa menaklukan Bos kita." Sahutnya Winz.


Para staff lainnya, juga terheran.

__ADS_1


Bu Choi bertanya "Doddit, apa kekasihnya tidak punya orang tua??"


"Punya Bu Choi, malahan mereka sudah mempersiapkan pernikahannya."


"Oeh, saya pikir tidak ada orang tua. Hanya saja, saya merasa aneh. Dia terlihat belia."


"Doddit kamu jangan ember lagi deh. Aku sudah kena apes hari ini, gara-gara bibir comelmu itu." Ucapan Metta yang menyerang Doddit.


"Aku bilang apa sama kamu. Aku nggak bohong. Aku nggak nyebarin gosip. Tapi ini fakta."


Yang lainnya, turut menatap ke wajah Doddit. Doddit berkata "Kalian semua, cukup ditampung sendiri saja beritanya. Jangan disebar ke penjuru Rich."


Richard menyudahi aksinya dan Lovie manatap Richard yang menurutnya aneh.


"Kak Richi kenapa mencium aku?"


"Kamu bawel."


"Aku tidak bawel."


"Kamu ada hubungan apa sama Ron?!".


Lovie terdiam, bagaimana bisa Richard tahu nama teman sekelasnya.


"Kak Richi, kenal sama Ron??"


"Iya, dia adiknya Rey."


"Adiknya? Bukannya anak kedua Bu Diana itu cewek dan dia kuliah di luar negeri."


"Adik tirinya Rey. Mereka satu Bapak beda Ibu."


"Owh, aku malah tidak tahu soal itu. Aku juga tidak terlalu dekat sama Ron."


"Nggak dekat, tapi peluk-pelukan."


"Peluk-pelukan?" Lovie yang bingung dan tidak paham akan ucapan Richard.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas Ron. Aku hanya tidak suka, kamu dipeluk cowok lain."


"Kenapa begitu? Bukannya Kak Richi banyak teman kencan. Pasti kalian saling pelukan dan ciuman bibir."


"Kalau kita sudah menikah. Aku tidak akan begitu lagi. Aku cuma mau pelukan dan ciuman sama kamu saja. Nggak mau sama yang lainnya."


"Emh, begitu."


Richard menghentikan ciumannya "Ayo kita pulang. Kita harus melakukannya di rumah."


"Kak Richi bilang ada banyak pekerjaan."


"Itu gampang. Biar para staffku yang menyelesaikannya."


"Nggak boleh begitu dong Kak. Kasian mereka. Mereka pasti juga pusing. Apalagi, ini sudah malam. Keluarga mereka menantikan kepulangan mereka."


"Lovie, kamu masih kecil. Kamu belum paham pekerjaan kantor."


"Kalau aku masih kecil, kenapa Kak Richi mau menikahi aku?"


"Ya karena, aku cuma ingin menikahi kamu. Aku juga harus bertanggung jawab atas perbuatanku. Terus, kamu juga harus hamil anakku."


"Owh, jadi cuma karena itu. Aku pikir Kak Richi, menyukai aku."


Gubrraak!


Nahlo Richard, perkataan Lovie memang polos dan raut wajah Lovie polos sekali.


Richard dalam hatinya jadi gelisah. Kenapa, setiap bersama gadis belia ini, malah salah bicara dan susah mengendalikan perasaannya.


"My Lovie, aku...."


Lovie mengalungkan kedua tangannya di leher Richard, dan sudah tampak berjinjit, menatap Richard dengan senyuman manis.


Wajah Lovie, menggemaskan.


Emmh...


Lovie mencium bibir itu. Padahal, ciuman Lovie hanya diluar bibir saja. Namun, perasaan Richard sudah menggebu-gebu, dengan spontan tangannya meraih dan melingkari pinggul Lovie.


Selesai mencium bibir Richard, Lovie memandangi wajah itu, ia berkata "Kalau, Kak Richi ada pekerjaan penting. Kembalilah bekerja. Kak Richi tidak boleh bergantung pada orang lain."


"Kamu menyuruh aku, kerja??"


"Bukannya, tadi Kak Richi bilang. Kalau aku harus jadi istrinya Kak Richi. Agar aku tidak perlu bekerja seperti Kak Richi. Ya sudah, Kak Richi yang bekerja dan sebagai istri yang penurut, aku akan menunggu di rumah."


"Kamu, mau menjadi istriku?"


"Emh, sepertinya pernikahan jauh lebih baik. Kalau pernikahan bisa menyatukan kita berdua. Kenapa aku harus menolak lagi."

__ADS_1


"Kamu tidak menolak aku?"


"Emh, aku akan menolak orang yang tidak bertanggung jawab, apalagi soal pekerjaannya."


"Oke. Aku akan bekerja." Wajah Richard sudah memancarkan kegembiraannya.


Lovie meraih tangan Richard dan mencium punggung tangan itu, lalu berkata "Aku pulang dulu. Aku tidak mau menggangu pekerjaan Kak Richi."


Mendengar itu, Richard jadi galau "Jangan pulang."


"Kalau aku tidak pulang. Aku yakin, Kak Richi tidak akan fokus bekerja."


"Kamu, seyakin itu??"


"Emh, itu buktinya."


Lovie menunjuk ke arah pusat intinya, yang ada di dalam celana bahan itu. Sesuatu yang sudah tampak tegang, mencodong ke depan.


Richard tersenyum menyengir, ia berkata "Oke, kamu disini saja. Aku mau ke toilet. Kamu jangan kemana-mana, nanti pulang bareng aku."


Lovie tersenyum gemas, ia mengangguk.


"Emh, dasar. Pria dewasa nakal." Batin Lovie yang senyam-senyum.


Bos Richard membuka pintu dan semua staff yang melihat ke arah ruang kerjanya jadi bubar.


Milie dan Juno jadi salting, mereka berpura-pura jalan ke toilet. Sedangkan, Bos tampannya ini, juga berjalan ke arah toilet.


"Bos."


"Silakan duluan."


"Bos saja yang duluan." Ucap Juno yang mempersilakan Bosnya, memasuki toilet pria.


"Kok tumben, Bos jadi sungkan."


Juno masih memandang Bos menawan, yang berlalu pergi dari hadapannya.


Milie jadi menggeleng melihat hal aneh. Ia jadi mematung.


"Juno, apa kita mimpi?"


"Nggak.


"Ya udah, aku mau cuci muka dulu. Biar aku terbangun dari tidurku."


Milie segera berlari ke toilet perempuan. Dia merasa kalau apa yang barusan dia lihat, itu semua hanya sebuah mimpi.


Setibanya di wastafel, ia mencuci muka dan mengguyur wajah dengan kedua tangannya yang mengadah di bawah kran air.


"Waaah, Bos Richard memang bisa berubah setelah ada pacarnya."


Setengah jam kemudian.


Richard yang sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Para staff sibuk makan malam dan hanya mengamati Bosnya, tampak berkumpul di sofa yang ada di ruangan ini.


Lovie duduk di sebelah Bos Richard, sudah siap menyuapi Bos tampan ini.


"Aaak!"


Richard memutar kursinya dan menatap ke arah Lovie, membuka mulutnya dengan manis.


Aem...


Para staff, jadi melongo melihatnya.


Metta yang memegang cup minuman menggoyang sedotannya dan menggigit gemas sedotan yang berbentuk unik.


Bu Choi, sampai belepotan, bibirnya ada bekas makanan. Milie jadi menyeka bibir Bu Choi, sambil menatap Bosnya.


Juno yang mangap, sendoknya hanya menggantung di depan mulutnya dan sebelahnya menyerobot makanan itu.


Winz, berkata "Aku juga mau disuapin."


Metta membalasnya "Sini nak. Mamah suapin."


Winz, pria paling muda diantara staff lainnya.


Doddit mengambil tangan Metta dan memasukan ke mulutnya. "Darling, harusnya kamu nyuapin aku, bukan dia."


"Apa aku kekasihmu? Kita belum balikan?" Metta tidak basa basi.


"Anggap saja kita sudah balikan."


"Ogah, aku belum siap balikan sama kamu."


Richard menikmati suapan demi suapan. Lovie yang tampak santai, menyeka bibir Richard dengan jemarinya.

__ADS_1


"Mau juga digituin...." Rengekan Tim CCTV.


__ADS_2