Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Sahabat Renyah


__ADS_3

Pagi jam 8, ruangan rawat inap Richard membawa perasaan.


Tadinya, suasana begitu santai dan cukup tenang.


Setelah, kedatangan Talita. Suasana semakin renyah, seperti keripik singkong.


Kriyuks!


Talita masih ngesot di lantai, menatap ke sosok Nyonya besar. Penampilan yang glamour dan berkharisma, membuat mata Talita segar.


"Ibu, ini Talita. Dia sahabat Lovie." Lovie lalu menatap Talita ngesot.


Kedua tangan Lovie, membuat Talita jadi berdiri di sisi kanannya. Lovie tetap memegang tangan Talita dan menatap wajah Talita.


"Sudah, jangan menangis. Mau virgin atau tidak, aku yang menyerahkannya. Kamu tidak bersalah." Ucapnya Lovie dan ia menyeka air mata Talita.


Nyonya Nancy, memandangi sosok Talita.


Rey sudah bersedekap dan menatap kedua gadis belia. Lalu, Richard hanya pasrah akan keadaan.


Richard yang membanggakan dirinya di depan Rey dan mengatakan kalau dirinya sudah tidak perjaka lagi.


"Jadi, kamu sudah menyerahkannya?" Talita masih saja bertanya keperawanan sahabatnya.


"Talita, nanti aku jelasin sama kamu."


"Jelasin sekarang. Kalau nggak, aku loncat dari lantai ini."


Puk!


Lovie menimpuk mulut Talita.


"Iih, sakit."


"Makanya diem. Jangan bawel. Itu, cuma aku gituin saja sakit. Gimana rasanya terjun dari lantai ini sampai kebentur aspal. Terus, kalau kamu tidak cepat mati gimana? Pasti sakitnya luar biasa."


"Lovie, aku takut. Gara-gara aku yang ngajarin main ke hotel. Kamu jadi tidak perawan lagi."


"Pikiranmu terlalu konyol."


"Aku ngajarin kamu matematika. Aku tidak mengajari kamu, cara memegang burungnya cowok."


"Hei, kamu yang ngajarin aku. Aku sampai. Huh, tahulah. Aku masih ada urusan penting." Balasnya Lovie gemas.


Nyonya Nancy, menatap Talita. "Kamu temannya Lovie?"


"Ii, iya Nyonya."


"Panggil saya, Nyonya Nancy."


"Baik. Nyonya Nancy."


Nyonya Nancy, bertanya "Kamu yang mengajari Lovie?"


"Iya, Nyonya Nancy. Saya sering membantu Lovie belajar selama di rumah."


"Bagus. Teruslah, mengajari Lovie cara memegang burung yang benar."


"Maksudnya, Nyonya Nancy?"


"Itu, putra saya, nasibnya malang. Burungnya, tidak bisa."


"Tidak bisa berdiri??" Talita yang malah terpancing dan Rey tepuk jidat sendiri.


Richard menatap Mommy, yang membuka aibnya.


"Bukan begitu. Hanya saja, tidak mau disentuh perempuan. Tapi, Lovie sudah bisa menyentuhnya."


"Hah?? " Talita menutup mulutnya dan menatap ke wajah Richard.


"OMG, jadi beneran, Richard hilang keperjakaan karena gadis belia, sahabatku sendiri."


"Talita, biarkan Lovie pergi sebentar. Saya yang akan menjelaskan sama kamu."


"Nyonya Nancy, maafkan saya. Saya yang bersalah. Saya mencemaskan keadaan Lovie."


"Mencemaskan Lovie?"


"Setelah Maminya meninggal, hanya saya yang memahami Lovie. Waktu saya sibuk mencari pekerjaan, Lovie kabur. Saya jadi cemas."


"Kamu bekerja?"


"Iya Nyonya Nancy. Saya bekerja di apartemen Bos saya. Itu, Bos saya." Jawabnya Talita.


"Rey?"


"Iya, Nyonya Nancy. Saya, asisten pribadinya."


Nyonya Nancy mengingat perkataan Doddit, "Gadis belia simpanan Rey."


"Lovie, kamu mau kemana?" Tanya Talita, yang melihat Lovie sudah siap untuk pergi.


"Talita. Aku mau ke kantor polisi. Ada urusan disana. Damian menusuk kak Richi dan sekarang Damian di kantor polisi, sama pengacara keluarganya." Ucapnya Lovie, yang tidak bicara jujur di hadapan Richard.


Hal sebenarnya, keluarga Damian menuntut balik Richard dan Papi Benny berani membuat laporan penculikan putri kandungnya.


Papi Benny, awalnya tidak mau melapor ke polisi saat Lovie kabur. Papi Benny sangat cemaskan keadaan Lovie, yang bisa saja dimanfaatkan orang.

__ADS_1


Apalagi, mendengar tentang sugar Daddy. Pikiran Papi Benny semakin kacau.


Terus, pagi tadi di rumah, malah terima paket yang memperlihatkan photo Lovie tengah mengobrol dengan pria tua.


Papi Benny setelah tiba di rumah sakit, mendapat telephone tentang Damian dan diberitahu kalau Damian hendak menyelamatkan Lovie dari si penculik, yang tidak lain adalah Richard.


"Lovie aku ikut sama kamu. Aku akan membantu kamu." Ucap Talita.


"Talita, kamu disini saja. Aku juga cuma sebentar."


"Lovie, aku tahu. Kalau kamu di depan Papi kamu. Kamu pasti akan gugup lagi. Aku yakin, kamu takut sama Papi kamu."


"Kamu tahu, kalau Papi di kantor polisi."


"Itu tadi, di cafetaria. Aku dengar dari Jerry. Papi kamu di kantor polisi sama Damian. Makanya, aku jadi ingat soal unggahan mie super pedas. Kamu pakai akun pribadi aku. Aku sampai ketangkep polisi gara-gara kamu."


"Kamu ketangkep polisi?" Lovie meraba Talita dan memeriksa tubuh sahabatnya.


"Hei, aku tidak kenapa-napa."


"Ini kenapa? Kamu kenapa luka-luka begini."


Terlihat bekas cakaran dan gigitan.


"Bos Rey pelihara anjing gila. Aku diterkam anjing gila itu."


Lovie jadi menatap Rey, tampak judes. Berjalan mendekati Rey.


Rey bingung akan tatapan Lovie dan Richard memilih berpura-pura tidur.


Nyonya Nancy merasa ada hal menarik, dan sudah menebak kalau anjing gila yang disebutkan Talita itu adalah si model, Jihan.


"Kamu, bosnya Talita?"


"Ii, iya." Rey jadi gelisah saat Lovie menatapnya judes.


"Kalau masih ingin pelihara anjing itu. Lepaskan Talita. Jangan pekerjakan Talita lagi. Talita sahabat sekaligus saudara baikku. Aku tidak suka kalau Talita terluka."


Talita mendekati Lovie, ia meraih tangan Lovie "Lovie sayang, Bos Rey tidak bersalah. Aku memang ingin bekerja. Kamu tahu, aku ingin kuliah di luar negeri."


"Talita, dana kuliahmu sudah aku siapin. Aku akan menjual swalayan Mamiku."


"Tapi, keluarga tiri kamu tidak suka kamu berbuat itu. Aku bisa mencari uang sendiri."


"Kamu tenang saja, kamu harus berhenti bekerja sama Bosmu."


"Lovie, aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak kerja. Aku bisa dituntut."


"Dituntut Bosmu?" Lovie yang bingung.


"Lovie, bukan begitu maksudku. Aku malah diajak kerja di perusahan Iklan. Bener deh, tanya sama." Talita jadi melihat ke arah seseorang yang sibuk dengan ponselnya.


"Talita, apa maksud kamu?"


"Coba tanya Presdir Nicholas. Aku pernah presentasi di perusahaan Rich. Beneran, Bos Rey orangnya baik. Hanya, Anjingnya yang nakal. Anjingnya sudah dibuang jauh sama Bos Rey."


Lovie menatap wajah Rey "Bos Rey."


"Iya. Ada apa?"


Lovie memandangi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Lalu bertanya, "Apa kamu memang berniat jahat sama sahabatku?"


"Tidak."


"Benarkah?!"


Rey bingung, saat Lovie terpaku pada kantong ajaibnya.


"Apa, ada yang salah dengan penampilanku?"


"Semoga saja, celanamu itu tetap longgar." Jawabnya tanpa basa basi.


Setelah itu, Lovie pergi dan tidak lagi membahas soal sahabatnya.


Talita tertawa sampai menutup mulutnya dan masih memandangi bagian sensitif.


Rey dengan spontan membalikan badannya dan Richard dalam hatinya terpingkal.


Ternyata, bukan hanya polos. Lovie memang apa adanya. Tidak jaim dan malah membuat orang disekitarnya tertawa.


Nyonya Nancy juga mendengar itu, lantas pergi mengikuti Lovie.


"Giillaaa, ceweknya Richard ternyata mesum."


Talita masih ngakak, ia berkata "Bos apa milikmu kecil?"


"Talita, hentikan kekonyolanmu."


Talita masih meledek "Bos, jaga celanamu."


"Meski aku pria normal. Celana ini tetap longgar."


Rey terlalu menanggapi dua bocil.


Presdir Nicholas berkata "Rey, kamu disini saja. Teman Richard."


"Presdir mau pergi?"

__ADS_1


"Iya, saya ada urusan di luar."


"Silakan, Presdir."


Talita berkata "Bos, aku juga mau ikut Lovie. Daaa daa Bos."


"Hish, aku malah jadi bahan bercandaan anak bau kencur." Gumam Rey.


Setelah kamar sepi, Richard melempar bantal ke arah sahabatnya.


"Richard, cewekmu kecil-kecil pikirannya mesum."


"Rey, pikiran dia itu masih polos. Hanya saja, dia bisa menjerat aku. Aku beneran sudah tidak perjaka lagi."


"Tadi itu, obrolan mereka serius?"


"Lovie memang belum ahli. Tapi, aku suka menggigitnya."


Aaauu.


"Gilla. Kamu beneran jadi pedof!l."


"Hayo loh, nanti kamu juga tergoda sama Talita."


"Nggak. Mana pernah mainku sama bocil begitu. Yang ada, aku malah mendapat bahaya."


"Bilang saja kamu tergoda. Nanti, kalau kamu ngerasain. Beneran, beda banget. Aku jadi merasa, kembali remaja." Richard tertawa gemas.


Tiba-tiba perutnya kram.


"Aaah, sakit Rey."


"Nah, makanya diem. Itu, akibat ngetawain aku. Kamu langsung kena karma."


"Rey, aku juga ingin bahagia."


"Syukurlah, kalau kamu sudah kembali bahagia. Aku tidak akan lagi, merasa bersalah sama kamu."


"Terima kasih. Sudah mendukung aku."


"Inilah, gunanya sahabat."


Mereka mengepalkan tangan, Toss!


Doddit di kantor bersama Metta. Hari ini, kantor Rich jadi riyuh sekali. Mendengar Bos kulkasnya ditusuk orang. Namun, berita itu tidak seperti yang dijelaskan.


Bos Richard malah jadi tersangka pemukulan dan penculik gadis.


"Hish, tahu apa mereka. Kalau begini, Presdir harus segera mengganti pengacara."


"Doddit, kali ini aku berpihak sama Bos." Ucap Metta.


Doddit merangkul bahunya, ia berkata "Darling, kamu tenang saja. Aku mau ke kantor polisi dulu."


"Oke. Setelah ada kabar terbaru. Kamu harus hubungi aku."


"Siap."


Doddit pergi dan Bu Choi mendekati Metta.


"Nona Metta, apa benar dengan berita ini?"


"Bu Choi, kali ini aku mendukung Bos Richard."


"Berarti, ini hanya kabar burung?"


"Entah, mana yang salah dan yang benar. Mendengar cerita dari Doddit. Bos kita, bukan orang yang seperti itu. Bos malah menolong gadis itu."


"Wah, beruntung sekali gadis itu. Jadi, dia itu beneran calon istrinya Bos?"


"Bu Choi, saya tidak tahu. Saya hanya mendengar dari perkataan Doddit saja."


"Baguslah, kalau Bos Richard jadi orang yang baik."


"Semoga saja begitu. Mari, kita bekerja."


"Baik, Nona Metta."


Metta jadi penasaran, akan sosok gadis yang dilindungi oleh Bos kulkasnya.


Di kantor polisi, Papi Benny bertemu dengan pengacara dari Rich.


"Rich Corporation?" Tanya Papi Benny.


Sosok tua dan berkacamata, sudah berada di hadapannya dengan gaya dan penampilan yang menawan.


"Benar Tuan Benny, saya pengacara dari Rich Corporation." Pengacara ini, begitu membanggakan nama perusahaan Rich.


"Lalu, siapa itu Richard De Nuca?" Papi Benny, masih memikirkan paket yang beliau terima sewaktu di rumah.


"Tuan Richard. CEO, Rich Corporation."


Damian dan Ayahnya, juga mendengar perkataan pengacara itu. Pengacara Ayahnya Damian, juga masih berada di ruangan itu.


Sedangkan, Papi Benny belum ada pengacara yang ditunjuknya, untuk menangani kasus penculikan putri kandungnya.


30 menit kemudian,,

__ADS_1


__ADS_2