
Hallo semuanya. Beberapa kalimat dan kata dari Bab pertama, di revisi ulang sama othor. Rasanya ada yang aneh dan beneran aneh. Hehehe.π€
Othor masih banyak kesalahan dalam penulisan. Typo juga malah bertebaran. Apalagi, untuk penekanan tanda baca. Masih banyak kekurangannya.
Yang dirasa kurang jelas, bisa disampaikan dalam komentar.
Untuk cerita ini, akan ada unsur romansa cinta dewasa. Yang tidak berkenan dan tidak suka, silakan abaikan saja ceritanya.
Ini hanya haluan dari othornya saja.
Bayangin saja, seperti serial drama luar negeri.
Nantinya, akan ada hal romantis, cemburu dan bisa jadi patah hati.
Bisa juga, akan membawa bahagia untuk tokoh utama dan sahabatnya.
Mari, kita simak kelanjutannya.
Jangan Lupa, like dan komentarnya.
πΌπΌπΌ
Lovie yang berarti cinta, itulah nama pemberian dari sang Mami.
"Lovie." Panggilan dari Richard.
Lovie menjawab "Kak Richi panggil namaku??"
Ampun, polos sekali bocah satu ini. Tadi, dengan bangganya menunjukan layar ponselnya. Ada chat dan lain sebagainya. Tertera nama, Lovie.
"Cinta sama dengan Lovie. Ya nebak saja." Kilahnya, padahal tadi sebelumnya sudah tahu.
"Kak Richi. Kita mau kemana?"
Kedua orang ini, sudah berada di dalam mobil Richard. Lovie merasa aneh, saat berada di dalam mobil mewah ini. Meski Papinya juga orang berada, namun tidak punya mobil mahal dengan harga milyaran.
Palingan, tidak sampai 1 M. Itupun, khusus untuk Papi saat ke kantor dan sewaktu pergi ke acara-acara penting.
Karena Papi Lovie, cenderung menabung dan suka membeli tanah, kebun atau rumah, dari pada mobil mewah. Itupun, atas nasehat dari Nenek.
"Aku akan mengantar kamu pulang."
"Kak Richi, memangnya tahu dimana rumah aku?" Tanya Lovie.
"Kamu bisa menunjukan jalannya." Jawab Richard.
Gubraakk!
Sudah lebih dari setengah jam, Richard hanya muter-muter dan tak tahu arah jalannya. Lagian, ini hanya untuk mengurangi ketegangan.
Benar, Richard dari tadi sudah tegang. Namun, tidak ingin melepaskan burung perjakanya itu, untuk si gadis kecil bernama Lovie.
Lebih baik, mengantarkan dia pulang, dari pada akan terjadi sesuatu.
Peristiwa, yang akan membuat sejarah baru untuk Richard. Bahwa, seorang bos besar pemilik hotel DeNuca dan CEO dari perusahaan R.C. Rich Corporation, telah menghamili gadis kecil.
Pria itu, ternyata pedof!l dan harus segera dilenyapkan dari perusahaan.
Waa.... Bayangan Richard sudah gila.
"Kak Richi. Rumahku jauh banget."
"Jauh?? Di luar kota?"
"Biar layar ini yang memandu."
Lovie sudah memberikan titik tujuan, dari layar navigasi GPS mobilnya.
Mobil sedan hitam nan mewah, dengan desain interior yang menawan, seperti pemiliknya yang begitu rupawan.
Disaat Talita, sang sahabat bersama sugar Daddy di hotel. Lovie malah jalan-jalan.
Setelah kabur dari sang Papi, Lovie juga belum lagi menghubungi Talita. Sang sahabat, juga lagi sibuk mencari masa depannya sendiri.
"Ini, benar jalannya?" Tanya Richard.
Belok kanan, 500 meter, bertemu di pertigaan, Jodohmu bukan aku. (Suara perempuan)
"Idiih, alat pinternya ngaco. Itu nama jalan Ganteng Perkasa, bukan pertigaan Jodohmu bukan aku." Balasan Lovie, untuk alat pemandu jalannya.
Richard seketika terheran, ia tampak mangap. Setelah, giginya sampai terasa kering, baru deh mingkem.
"Lovie. Kamu ngomong sama siapa?"
__ADS_1
Lovie tadinya duduk bersandar, jadi meraba layar navigasi mobil itu. "Ini, alat pintarmu. Bikin aku dongkol."
"Kenapa dongkol?" Tanya Richard penasaran.
"Ya nggak suka aja. Bilang Jodohmu bukan aku." Jawabnya gemas.
"Bisa saja, sekarang diganti namanya, biar lebih asyik. Yang nyetir juga biar nggak ngantuk."
Richard, sesekali tampak menoleh ke wajah Lovie.
Lovie kembali duduk bersandar, ia berkata "Kak Richi. Aku nggak mau pulang. Tolong antar aku ke hotel saja. Tapi, hotel yang lain. Aku malas bertemu Kakak resepsionis perempuan. Semalam aku diusir dia. Tadi, aku ambil tasku, yang aku titipin di loker, dia jutekin aku."
"Siapa? Memangnya kamu titip tas apa?"
"Tadi sebelum masuk kamar. Aku titip tas ransel sekolahku sama resepsionis. Namanya, aah. lupa juga. Pokoknya cowok, pakai kacamata dan dia seumuran gitu sama Kak Richi. Orangnya baik. Aku mau pesan kamar. Eh. Dia nawarin aku kamar pilihan kita. Rasanya aneh, aku sama Kak Richi memang mau pesan kamar nomor yang itu. Dia punya filing oke juga ya. Tapi, dia bilang yang kamar lain penuh, tinggal kamar itu. Semalam juga, aku di usir katanya kamarnya penuh. Lalu, aku nginep di JM."
"Semalam? Kamu nginep di JM? Sendirian?" Kenapa perasaan Richard jadi ketar ketir begitu. Kayak, ada hal yang mencurigakan.
"Iya, sendirian. Memangnya mau sama siapa lagi. Aku nggak punya teman. Aku juga lagi sebal, sama keluargaku sendiri." Balasnya Lovie.
JM yang dimaksud, Jihan Mutiara. Itu cewek satu memang inginnya dekat terus sama Richard. Tahu Richard dibeliin hotel sama Mommy. Eh, Jihan juga langsung beli hotel terdekat dan selalu begitu. Inginnya nempel sama Richard, tapi nggak mau lepas dari Rey.
Belok kiri, 200 meter, sampai deh. Semoga betah ya.
Setelah 1 jam, dari muter-muter kota ini. Akhirnya, mobil itu memasuki wilayah tujuan.
Si alat pemandu jalan ini, memang rada-rada juga. 200 meter sampai, itu pintu gerbang kuburan.
Richard menghentikan mobilnya dan melihat ke sekitarnya. Aura aneh telah mendekat dan ia menoleh ke arah Lovie.
Degh
Lovie sudah menghilang dari mobilnya.
"Lovie. Lovie. Kamu dimana?"
Richard jadi merinding, bulu halusnya semakin bangkit dan merasakan aura horor.
Beerrr!
Dingin, dinginnya, seperti hembusan udara yang bersuhu minus.
Tok tok tok
"Aaaagrh..." Jeritnya.
Lovie jadi tersenyum, melihat Richard yang sudah ketakutan.
"Dasar penakut." Ucap Lovie mengejeknya.
Lovie sudah turun dari mobil dan menggendong tas ranselnya. Tampak, menjinjing tas belanjaan, yang berisi pakaian dan uang cash miliknya.
Richard membuka kaca pintunya, ia tidak berani keluar. Dia malah menganggap, kalau Lovie ini cewek jadi-jadian.
"Lovie, ini rumah kamu?"
Lovie mengangguk dengan imut.
"Kamu beneran, tinggal disini?"
Richard semakin gelisah, hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya. Bukan hanya merinding, tapi merasakan aura mistis di tempat ini.
Wajah Richard seolah membeku, bagaikan es yang keluar dari mesin pendingin.
"Kak Richi, mau mampir ke rumahku?"
"Nggak, nggak perlu. Aku juga masih ada pekerjaan lain."
"Beneran?"
"Iya. Aku harus kembali kerja. Besok, kamu juga pasti ke sekolah."
Lovie tampak menggeleng, tatapan Lovie membuat Richard tertegun.
"Sebenarnya, aku nggak mau pulang. Aku ke makam, cuma kangen sama Mami." Ucap Lovie.
"Mami? Mami kamu hantu??" Richard sudah tidak waras. Dia yang sudah ketakutan, malah bilang Maminya hantu. Wah, parah juga ini CEO geblek.
"Iih, Kak Richi ngomong apa sih. Aku beneran mau ke makam Mammi aku. Mami aku sudah meninggal. Kalau aku kangen. Aku pasti kesini. Kak Richi mau ikut aku? Nanti, aku kenalin sama Mami aku." Lovie, bicaramu semakin membuat Richard takut.
"Nggak, aku mau pulang. Ini, aku mau pulang."
"Ya sudah, sana pulang. Hati-hati."
__ADS_1
Richard yang merasa kaki dan tangannya lemes. Entah kenapa, rasanya seperti dipegangi sesuatu. Jadinya, susah untuk menyetir mobil, rasanya semakin berat.
Lovie tersenyum, ia melambaikan tangan kanannya dan pergi ke arah pintu gerbang pemakaman anggrek ungu.
"Iihh iih ih." Suara seseorang. Namun, Richard tidak mau menoleh. Dia tetap fokus pada kendaraannya.
Seketika, mesin mobil jadi terhenti.
"Ini kenapa?? Kenapa bisa begini??!"
Baru mau putar arah, malah mesin mobilnya tiba-tiba mati.
"Aaaah,, shiaal!"
Rupa-rupanya memang ada yang ingin berkenalan dengan Richard.
"Ampun, ampun nek. Ampunn kek. Permisi-permisi. Saya mau lewat."
Sayangnya, mobil itu tetap terdiam dan tidak mau menyala. Richard semakin ketakutan.
Richard yang tampil rapi nan menawan dengan setelan jas warna hitam. Tampak memakai dasi dan nantinya akan segera pergi ke sebuah tempat.
Padahal, ini baru jam 10 malam.
"Ampun, saya mau pergi. Saya tidak berniat mengganggu disini. Tolong, biarnya saya pergi." Richard yang menunduk dan tidak berani menatap luar.
Sudah 5 menit dan mobilnya tetap diam. Lovie telah kembali dan ia melihat mobil Richard yang tak kunjung pergi dari tempat pemakaman ini.
Tok tok
Tok tok tok
"Kak Richi."
Richard mendengar suara Lovie dan seberani mungkin, ia menoleh ke arah samping.
"Lovie. Lovie. Akhirnya kamu datang juga." Rengeknya dan secepatnya membuka pintu samping kiri.
Lovie menaiki mobil itu lagi, dan duduk di sebelah Richard.
"Kak Richi kenapa?"
"Ini beneran kamu? Kamu bukan hantu?"
"Iya, ini aku. Cubit saja pipiku."
Richard mencubit gemas pipinya Lovie dan memeluknya. Richard merasa dirinya sudah aman dan Lovie turut merasakan aura dingin yang telah menyelimuti badan Richard.
"Kak Richi nungguin aku?"
"Tidak."
"Kenapa tidak pergi?"
"Mobilnya mati, nggak mau jalan."
"Coba lihat bensinnya."
Richard terkaget,
"Bensinnya habis?!"
Suasana malam yang membawa rasa. Duduk bersebelahan dan tampak saling menggoda. Mengingat akan kejadian, sewaktu bertemu di hotel.
Mobil Richard, akhirnya di derek. Richard merasa punya teman baru.
"Lovie."
"Iya?"
"Beneran, nama kamu Lovie?"
"Iya."
"Berapa umur kamu?"
"Emh, 17 tahun."
"Aku sudah 30 tahun. Tapi, aku tidak berguna. Kamu harus pulang ke rumah. Lebih baik, sekolah yang rajin dan jangan seperti aku."
"Memangnya, Kak Richi kenapa??"
"Aku tidak berguna."
__ADS_1