Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Kepergok Ibu


__ADS_3

Embun pagi tampak membasahi kaca. Apartemen Loona yang menjulang tinggi. Bangunan megah dan tampak modern.


Sosok tampan menatap cermin yang buram karena air, mengelap kasar dengan tangan kirinya.


"Aku pasti sudah gila." Batinnya dan wajah itu tampak garang.


Mengayak rambutnya yang basah dan masih memakai kimono handuk warna hitam.


Berjalan keluar dari kamar mandi, seketika jadi tertegun.


"Ibu. Ibu."


"Rey."


Seorang Ibu yang berusia 50 tahun. Tampak berpakaian formal, dengan kemeja putih dibalut blazer warna abu-abu, dipadukan rok span, senada warna blazer yang dikenakan.


Tersemat bros di dada kanan, yang melambangkan nama sekolah, tempat beliau mengajar di sekolah tersebut.


Sang Ibu yang sudah memegang sebuah rok jeans ala gadis muda dan kedua tangannya menjejeng di depan Rey.


Rey gelagapan dan menoleh ke arah tempat tidur. Di dalam selimut tebal itu. Ada gadis belia yang masih tertidur pulas disitu.


"Aku bisa jelasin sama Ibu."


"Rey, Ibu tahu, usia kamu sudah dewasa dan waktunya menikah. Tapi, bukan ini yang Ibu mau."


"Ibu, aku bukan pria bejat. Aku tahu aku salah. Tapi, aku tidak." Belum sampai Rey berkata ini dan itu.


Di springbed yang berukuran besar dengan bedcover warna abu muda.


Gadis belia, seketika keluar dari selimut tebalnya dan ia tampak terduduk di tengah tempat tidur.


Rambut panjang yang bergelombang, tampak acak-acakan dan terlihat menunduk menggaruk bagian kepala.


"Aaa, panas sekali."


Suhu ruangan panas, yang tadinya ber-AC, sudah mulai panas karena dimatikan oleh sang Ibu.


"Talita." Suara dengan intonasi merdu.


Talita mengenali suara itu, menatap ke arah wajah sang guru.


"Bu Diana."


Rey menundukan kepala dan merasa sangat kesal sekali. Kedua mata tampak terpejam dan tidak berani menatap sang Ibu.


"Talita, kamu. Ini. Apa ini rok kamu?" Tangan itu sudah gemetar dan perlahan menjatuhkannya di depan putra kandungnya.


"Bu Diana, saya." Talita sulit berkata.


Talita yang saat ini, hanya terlihat memakai bralette. Bawahnya masih tertutup selimut. Dengan cepat menarik kembali selimutnya sampai menutupi dada.


Ibu guru itu, keluar dari kamar dan merasa ada yang salah.


Di depan para muridnya, ibu guru ini selalu membanggakan putra putrinya.


Kedua anak Bu Diana memang membanggakan, apalagi soal akademiknya.


Namun, kali ini hatinya remuk redam. Setelah, melihat putra tampannya yang sudah menjerat murid kesayangannya.


Talita, muridnya di kelas unggulan dan peraih peringkat pertama sekolah. Bu guru ini, yang selalu membimbing dan menyemangati muridnya ini.


"Bos Rey." Rengekan Talita.


Rey jadi menggertaknya, "Cepat pakai bajumu!"


Rey beranjak pergi untuk berganti pakaian.


Ibunya duduk di kursi meja makan.


"Harusnya, aku tidak mempercayai ucapan Jihan. Agar aku tidak kecewa dengan diriku sendiri."


Lebih tepatnya, Ibu sekaligus Bu guru ini, sangat kecewa sekali.


Jihan, kemarin pagi menemui beliau dan mengatakan, kalau Rey sudah mengajak seorang gadis tinggal bersama di apartemen.


Ibu ini, sangat tahu kelakuan putranya, namun tidak pernah memaksakan putranya, agar segera menikah.


Selalu membebaskan pergaulannya, dan tidak tahunya malah menjerat murid kesayangannya.


Setelah, beberapa saat kemudian.


"Talita. Kamu beberapa hari tidak masuk sekolah. Ternyata kamu disini."


"Bu Diana, saya yang salah. Bos Rey tidak bersalah."


Diana, istri kedua Presdir Hanz.

__ADS_1


Beliau sosok yang baik, apa adanya dan wanita mandiri. Diantara istrinya yang lain. Bu Diana tidak pernah, memakai nama besar suaminya. Bahkan, hidup sederhana di perumahan.


Di usianya yang masih muda, menikah dengan Presdir Hanz, sampai akhirnya punya Rey dan Renata.


Adiknya Rey, namanya Renata dan masih kuliah di luar negeri.


"Bu Diana. Saya bisa menjelaskan semuanya. Bos Rey tidak bersalah."


Ibu ini, menatap putranya "Rey, apa kamu hanya akan diam tanpa berkata apapun sama Ibu?"


"Ibu, aku tahu. Aku salah. Tapi, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan. Aku sama Talita."


Rey bingung, ia kembali menunduk. Rey ini lebih takut sama Ibunya dari pada sama Bapaknya.


"Kamu harus menikahi Talita."


"Ibu. Aku sama Talita, cuma."


"Cuma??"


Talita berlutut dan mulai menangis di depan Ibu gurunya ini.


"Bu Diana. Ibu sangat tahu, kalau saya tidak punya orang tua. Bahkan, saya hidup dari Lovie. Saya sekolah juga karena beasiswa. Saya. Saya."


Hikss, Ho ho ho.


Talita, sudah memainkan rencana cantiknya.


"Jihan, kamu sudah mengambil Ibu kandungku. Aku akan mengambil Rey dari kamu." Batinnya.


Benar, semalam itu. Talita melihat Mama kandungnya, yang datang ke rumah sakit, untuk menjemput Jihan.


Jihan yang mabuk berat, di tolong seorang pria muda rupawan dan diantarkan ke IGD.


Kemudian, sang Ibu tiri menjemput dan membawanya pulang, sebelum ketahuan media.


Melihat hal ini, Bu Diana sang guru yang sangat menyayanginya. Juga sudah berlinang air mata.


"Bu Diana. Saya. Saya." Kembali tersengal-sengal.


Bu Diana langsung memeluknya dan Rey hanya menatap kedua perempuan yang saling memeluk.


"Sabar nak. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa melewati semuanya."


"Tapi saya. Saya sudah hancur."


"Talita, Ibu minta maaf. Karena, putra Ibu kamu jadi celaka."


"Bu Diana." Hikss, tersedu-sedu.


Sang guru cantiknya, kembali memeluknya dan mengelus rambut panjangnya itu.


"Rey akan menikahi kamu. Kamu jangan menangis lagi."


"Ibu."


Sang Ibu tampak melotot dan Rey tak lagi berkata, hanya bisa menunduk.


"Bu Diana. Bos Rey dan saya membuat perjanjian. Bos Rey akan menuntut saya." Hikss.


Sang Ibu ini semakin bergemuruh. Mungkin, bila tidak ada Talita. Bisa-bisa Rey sudah dicincang abis dan tiada ampun lagi.


"Perjanjian??"


Talita menatap wajah Ibu gurunya, ia berkata "Iya, semacam kontrak kerja. Tapi, kalau saya berbuat salah. Saya akan dituntut dan dilaporkan sama polisi. Saya takut Bu Diana. Makanya, semalam Bos Rey memaksa saya untuk...." Hikss.


"Ini bocah sengaja memutar balikan keadaan. Aku yang dijerat, bukan dia yang aku paksa."


"Talita, Bu guru akan menasehati Rey. Kamu sana, siap-siap. Kita ke sekolah bareng."


"Baik, Bu Diana." Balasnya, lalu pergi.


Sang Ibu sudah tampak judes di depan putranya, beliau berkata "Rey. Lain kali, kalau kalian berhubungan intim, pakai pengaman. Talita masih sekolah. Masa depannya masih panjang."


"Harusnya, Ibu belain aku."


"Kamu anak laki-laki. Kamu sudah dewasa. Tidak mungkin terjerat gadis belia yang belum pengalaman. Kamu kebanyakan pacar, masih nyari yang sempit."


"Ibu, aku bukan pria cassanova. Aku memang suka ke club malam bersama wanita. Tapi, aku nggak pernah sampai."


"Ini sudah terbukti. Bukti akurat, jelas di depan mata Ibu. Kamu masih saja mengelak."


"Aku akan buktikan. Talita yang menjerat aku. Ada cctv, Ibu bisa melihat sendiri."


"Kamu ini, malah menyuruh orang tua, melihatmu bercinta. Rey, kamu ini umurnya berapa."


"Hish, salah lagi. Salah lagi. Aku susah bener ngomong sama Ibu, tentang hal yang sebenarnya. Kenapa, ucapan Richard jadi nyata."

__ADS_1


Bayangan Rey saat ini, malah wajah Richard yang menertawakan dirinya.


Talita sudah tampil manis, dengan seragam kemeja pendek warna putih dan rok plisket rampel kotak-kotak warna dusty pink.


Sepatu putih dan tas ransel putih.


"Ayo, kita berangkat. Nanti sarapan di mobil saja."


"Baik Bu Diana."


Talita menoleh ke arah Rey, ia berkesempatan lagi mencium Rey.


Muuach, mencium di pipi kanan.


"Bos Rey, aku berangkat dulu ya. Daaa daa Bos."


Bu Diana tampak menggeleng dengan tingkah Talita. Karena sikap genit Talita itu, Bu Diana malah percaya sama Talita. Bukan dengan putranya yang tidak pernah bisa bicara, di depan ibu kandungnya.


Rey, jadi memegang pipi yang dicium oleh Talita.


"Richard, sialaan."


Rey, dari tadi malah membayangkan wajah Richard yang ketawa ngakak.


Sepanjang perjalanan, Talita tidak banyak bicara. Dia sibuk menikmati sarapan paginya. Sandwich keju dan segelas ice americano.


"Lovie juga belum masuk sekolah." Ucap Bu Diana.


"Lovie, di rumah ke kekasihnya. Dia kabur dari Papinya."


"Kekasihnya? Lovie punya pacar?"


"Iya Bu Diana."


"Kamu kalau menikah sama Rey, bagaimana dengan kuliahmu nanti?"


"Bu Diana tidak perlu mencemaskan saya. Bos Rey bukan pria seperti itu. Putra Bu Diana pekerja keras, sangat disiplin dan pastinya, dia sosok yang bertanggung jawab. Seperti, yang Bu Diana katakan sama saya, waktu itu, sebelum acara olimpiade matematika."


"Talita. Rey memang begitu. Ibu hanya cemas. Kalau nantinya, Rey akan menghalangi impian kamu."


"Impianku sudah berubah dari semalam. Aku tidak peduli menjadi apa diriku ini. Aku hanya ingin menghancurkan Jihan."


Baru saja, Talita membatin begitu. Jihan yang di dalam kamar tidurnya, sudah tampak mengamuk.


Semua perabotan, yang ada di kamar mewahnya, sudah tampak berserakan di lantai.


Dari vas bunga yang pecah, bulu angsa dari batal guling yang berterbangan, lalu segala isian yang ada di ruang ganti. Sudah tidak berupa bentuknya.


Ibu tirinya, hanya tampak bersedekap dan memandangi Jihan, yang sibuk merusak semua barang pribadinya.


Wek, wreek, wwrrrek.


Gaun yang mewah, dirobek-robek dan di injak-injak.


Kesal dan sangat marah.


Setelah itu, terduduk bersandar lemari geser. Tampak terdiam dan tidak menangis.


"Kalian, tidak perlu merapikan ini. Biarkan saja seperti itu. Tunggu kedatangan Tuan kalian."


Ibu tiri ini, memang begitu. Selalu mempedulikan Jihan, di depan suaminya.


Dalam hitungan ketiga, Papanya Jihan datang.


"Papa." Suara itu sendu dan memandangi Jihan, yang terdiam.


"Mama, ini ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi??"


Kemarin, Papanya Jihan ke luar kota dan pagi ini baru kembali.


Makanya, semalam secepatnya Ibu tiri ini menjemput putrinya, agar tidak ketahuan suaminya, maupun awak media gosip.


"Jihan sayang, kamu kenapa?"


Sang Papa, membuatnya berdiri dan memeluknya.


"Papa, Jihan sakit." Wajah sang istri ini, terlihat begitu sedih.


"Sakit? Jihan sakit??" Tanya suaminya.


"Iya, Jihan sakit parah."


"Jihan sayang. Kamu sakit apa nak?"


Jihan dengan pandangan yang tampak kosong, hanya berkata "Richard."


"Richard??"

__ADS_1


__ADS_2