
Sang malam akan kembali, senja sore menorehkan cahaya jingga kemerahan. Langit kota Shindong tampak indah di sore ini.
Putri kecil yang mencari Mama sudah sampai di rumah. Papa Richard tengah menggandeng putri kecilnya ini masuk ke kamarnya.
Wajah muram dan tak bersemangat, ingin segera mengadu kepada sang Mama tentang perasaannya.
Mama Lovie sedang mandi, terdengar berdendang di kamar mandi dan Lily sudah berada di depan pintu kamar mandi ini.
Lily yang masih digandegan tangan kanannya, tampak mendongak menatap wajah sang Papa.
"Papa saja yang ketuk pintu ini." Cicitnya Lily, terlihat bibir imut itu membulat, dengan raut wajah yang masih sendu.
Sang Papa yang masih memegang tangan kecil itu, menunduk ke bawah menatap wajah Lily, "Tadi, yang nyariin Mama siapa?"
"Aku."
"Terus, yang ingin bertemu Mama siapa?"
"Aku."
"Kalau begitu, Lily yang harus mengetuk pintu ini dan memanggil Mama."
Lily semakain membulatkan bibirnya dan menggelengkan kepala.
Papa Richard segera mengetuk pintu kamar mandi, yang ada di kamar pribadinya.
Tok Tok Tok
Setelah kesekian ketukan itu, Mama Lovie membuka pintu kamar mandinya.
"Hallo, sayangnya Mama."
Lily masih berdiam saja, sang Mama menatap ke wajah sang Papa. Eh, Papa Richard malah memberikan kode tangan. Kalau dirinya harus pergi meninggalkan mereka berdua.
Mama Lovie jadi menjawab dengan gelengan kepala.
"Sebentar ya, Mama mau pakai baju dulu."
Papa Richard membawa Lily ke sofa yang ada di kamar ini.
"Kita tungguin Mama disini."
"Papa pergi saja. Aku mau bicara antara perempuan dan perempuan."
"Sayang kamu mau bicara apa sama Mama?" Wajah Papa Richard sudah gelisah. Drama apa lagi yang akan dimainkan Lily.
Sering kali Lily mengatakan, kalau Papa harus di rumah, atau Papa harus menemani Lily selama di playgroup.
"Ini urusan aku sama Mama, Papa nggak boleh mendengar obrolan perempuan."
"Baik. Papa akan keluar dari kamar. Papa juga harus telephone soal kerjaan."
Papa Richard keluar dari kamar ini, dengan derap langkah yang pelan dan sesekali masih menoleh ke arah putrinya. Lily duduk bersandar dan memeluk bantal sofa.
"Semoga saja, permintaannya tidak aneh-aneh."
Papa Richard juga bingung. Selama istrinya mengidam dulu, tidak pernah meminta yang aneh-aneh. Hanya mual dan pusing biasa, lalu suka mencium aroma kopi kesukaan suaminya. Itu saja ngidamnya dan masih hal wajar.
Berbeda dengan saat ini, putrinya sangat sensitif bila tentang Papanya dan putranya juga sensian bila Mamanya di dekat Lucas.
Setelah menunggu kesekian menit. Akhirnya, Lily dalam dekapan sang Mama. Ia-pun tengah mengadu sampai menangis.
1 jam kemudian, setelah makan malam bersama keluarganya. Mama Lovie tengah mengumpulkan para suster dan pelayan rumah ini.
"Siapa dari kalian, yang menceritakan kalau Lucas bukan lahir dari perut saya. Melainkan dari perut wanita lain?"
Para pelayan dan suster itu sudah saling menatap diri mereka. Mereka jadi saling membatin satu sama lain. Lalu, ada suster yang maju ke depan.
"Nyonya."
"Kamu, yang menceritakan kepada Lily soal Lucas?"
"Maafkan saya Nyonya."
Pelayan dapur dan pelayan kamar, ternyata mengobrol dengan teman sesama pelayan. Namun, Lily mendengar obrolan mereka.
Para pelayan memang ngerumpi dan mereka sedang menceritakan tentang tuan mudanya yang bernama Lucas.
"Nyonya maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Nona Lily akan mendengarkan obrolan saya. Saya tidak bermaksud untuk..."
Belum sampai menjelaskan lebih lanjut, Lovie berkata "Sudah, cukup pejelasannya. Semuanya sudah jelas. Lain kali, kalian harus berhati-hati bila mengobrol. Apalagi, saya paling tidak suka, ada yang membicarakan tentang Lucas. Kalian, kembalilah ke paviliun. Bekerjalah dengan baik."
"Baik Nyonya. Terima kasih."
Para pelayan dan suster itu, lantas pergi ke paviliun tempat mereka tinggal.
Di kamar, Papa Richard sudah membacakan dongeng untuk Lily.
"Jadi, Kak Lucas seperti anak angsa ini."
"Iya seperti itu. Lalu, Mama dan Papa yang merawat dan menjaga Kak Lucas."
"Jadi, aku yang salah?" Wajah itu, kembali sendu dan merasa kalau tadi sudah berbuat nakal.
"Lily tidak salah. Hanya saja, Lily salah mendengar. Kak Lucas memang bukan lahir dari perut Mama. Tapi, Papa cuma milik Mama dan Lily. Bukan milik orang lain, apalagi perempuan lain. Itu semua, tidak benar."
"Aku sudah salah."
Papa ini jadi gemas, melihat Lily yang malah merasa bersalah. Gadis kecil itu kembali melihat gambar angsa yang tidak punya siapa-siapa. Bahkan, waktu telur itu menetas tidak ada Ibu dan Bapaknya.
__ADS_1
"Angsa."
Lily kembali menangis, Papa Richard sudah mengelus rambut putrinya dan ia berkata "Kalau Lily sayang sama angsa. Lily juga harus sayang sama Kak Lucas. Lily nggak boleh lagi nakalin Kak Lucas. Kasian Kak Lucas sendirian, kayak anak angsa itu."
Hikks!
Wajah itu, sangat menggemaskan dan mengusap-usap gambar anak angsa itu dengan perasaan sayang.
"Angsa."
Baperan. Papa Richard semakin memeluknya.
"Mau peluk Kak Lucas?"
"Iya."
Lily yang di gendong punggung dan minta di antar ke kamar Lucas.
Lucas yang masih mengerjakan tugas menggambar, Lily telah datang mendekat.
"Lily, kamu belum bobok?" Suara Lucas juga sangat menggemaskan.
"Aku ingin peluk." Jawabnya, dan ia masih berada di punggung sang Papa tampan ini.
Papa Richard berkata "Lily cantik mau minta dipeluk Kak Lucas."
Lucas yang duduk di kursi belajarnya, dia jadi berjalan mendekat. Lily juga mulai turun dari gendongan.
Kedua bocah ini jadi saling menatap. Lucas yang tidak mengerti, ia hanya berdiri saja.
Lily berlari mendekat dan ia memeluk Lucas, Lily berkata "Aku sayang Kak Lucas."
"Iya, aku juga sayang kamu, adikku cantik."
Lily sudah melepas pelukannya, ia tersenyum manis saat menatap wajah Lucas.
Lily, berkata "Besok pagi, kita berangkat sekolah bareng ya."
"Kamu tidak marah lagi sama aku?"
"Tidak. Aku tidak marah."
Benar, beberapa hari lalu, setelah mendengar obrolan itu. Lily jadi tidak suka dengan Lucas. Bahkan, Lily pula yang menceritkan kepada Latte kalau Lucas bukan anaknya Mama Lovie, melainkan anak perempuan lain.
Nanum, Latte lebih tahu dulu dari sang Nenek. Makanya, setiap Mama Lovie bersama Lucas. Latte tidak terima, harus berbagi Mama dengan Lucas.
"Latte sayang sama Mama?"
Latte mengangguk dan ia hanya menunduk dengan tangan bersedekap.
Bocah tampan satu ini, penampilannya selalu formal. Sudah seperti pimpinan perusahaan. Dia yang memakai kemeja dan celana bahan. Di tambah rompi abu-abu, ada jas yang menggantung di sisi tempat tidurnya.
"Nggak mau."
"Yah.., Mama jadi kecewa berat. Kenapa Latte nggak mau pelukan sama Kak Lucas?"
"Pokoknya aku nggak mau. Mamaku dibagi-bagi sama dia."
"Baik. Mama nggak akan paksa kamu. Kalau begitu, Mama maunya sama kamu terus. Mama juga mau bobok di kamar Latte dan Mama juga akan pakai lipstik."
Mama Lovie sudah berjalan mendekati kasur, entah kenapa bisa bocah sekecil ini sudah perfeksionis terhadap hidup dan lingkungannya. Kamarnya ini-pun, sangat bersih, rapi dan tidak boleh ada yang mendatangi kamar ini, kecuali dia mengijinkannya.
"Mama, Mama, punya aku. Tapi Mama nggak boleh tidur sini."
"Kamu bilang, Mama punya kamu. Berarti, Mama juga harus disini. Mama mau bobok disini aja. Disini enak, bersih, rapi, wangi, Mama bakalan betah tidur disini."
"Iya, iya. Aku mau minta maaf sama Kak Lucas. Tapi, aku nggak mau Mama disini."
Mama Lovie tersenyum, dan bangkit dari tempat tidur berbentuk mobil.
"Ayo, kita ke kamar Kak Lucas."
Mama Lovie, jadi menggandeng bocah tampan ini dan ingin melihat anak-anaknya yang akur.
Setelah di kamar Lucas. Latte masih gengsi untuk meminta maaf. Mama Lovie, yang meminta agar Lucas mau memeluk adik tampannya.
"Mama ini, punya aku. Tapi aku akan membaginya buat Kak Lucas." Ucapnya dan memang ini bocah pintar ngomong.
"Iya. Terima kasih."
Lucas kembali memeluknya dan Mama Lovie jadi mengambil moment itu.
Cekrek!
Cekrek!
"Mama, stop." Latte yang tidak suka diphoto.
"Iya, cuma ini doang fotonya."
Latte berkata "Mama harus mangantar aku kembali ke kamarku."
"Oke." Mama Lovie sampai memberikan kode dengan jemarinya membentuk tanda setuju.
Mama Lovie mendekati Lucas, dan mengecup pipinya Lucas "Selesai menggambar, minum susu terus bobok. Oke?!"
"Oke Mama." Lucas jadi tersenyum.
Latte memberikan tangan kanannya untuk di gandeng sama Mama.
__ADS_1
"Ayo kita ke kamar kamu. Nanti, lekas minum susunya dan bobok. Mama juga sudah capek banget."
"Mama, besok antar aku ke sekolah."
"Oke, Mama besok juga kembali mengajar di Taman Ceria."
Latte dan Lily, sekolah di tempat yang berbeda. Lily memilih sekolah yang banyak kegiatan menari dan bernyanyi. Sedangkan Latte, memilih sekolah yang sudah seperti anak usia SD. Dari belajar bahasa, menghitung dan penerapan kemandirian anak.
^^^Jam malam^^^
Mama Lovie dan Papa Richard berduaan di kamar.
Lovie-pun, duduk di atas pangkuan sang suami. Kedua tangannya mengalung ke leher sang suami dan menatap lekat wajah suaminya.
"Tampan, Hamili Aku!"
"Sayang, aku lagi serius ngomong sama kamu."
"Kak Richi, sudahlah. Mereka masih anak-anak. Lucas juga akan baik-baik saja selama bersama kita berdua. Kalau kita pisahkan mereka, terus tinggal di sekolah asrama, hatinya akan kecewa. Nantinya malah jadi terkula, atau bahkan malah jadi tidak akur sama adik-adiknya."
"Aku tahu, tapi aku juga tidak tega. Apalagi, Mommy pilih kasih, setiap bersama Latte. Banyak hal yang membedakan mereka berdua."
"Kak Richi, Ibu itu sebenarnya sayang sama Lucas. Ya hanya saja, hatinya yang kecewa, karena tidak sesuai dengan harapannya. Pelan-pelan, Ibu akan menerima Lucas dengan segenap cinta dari hatinya."
"Sayang, ini sudah 5 tahun. Butuh waktu berapa lama lagi? Aku saja yang putranya tidak lagi dianggap seperti dulu. Apalagi, Lucas hanya cucu yang tiba-tiba datang mendekatinya dan memanggilnya Nenek."
"Kak Richi, perasaan orang tua dan kita tidak akan sama. Tapi satu hal yang bisa kita rasakan, yaitu kesempatan. Buktinya, Ibu menberikan aku kesempatan mengasuh Lucas dengan bantuan suster. Bahkan, saat aku mengandung dan juga kuliah. Ibu juga tidak pernah memarahi aku dan Lucas. Aku yakin, ini hanya soal waktu. Pasti, nanti, Ibu akan memeluk Lucas dengan kasih sayangnya."
"Iya, semoga saja itu terjadi. Kamu sudah jadi anaknya Mommy. Aku malah seperti anak tiri yang tinggal di satu rumah."
"Kak Richi sayang sama Ibu??"
"Aku sayang banget sama Mommy. Makanya, aku juga nggak bisa pergi dari rumah dan ninggalin Mommy.".
"Nah, aku juga merasa begitu. Aku dulu bisa kecewa dan kabur dari Papi kandungku. Tapi saat disini dan kita ada masalah. Aku malah tidak ingin lari dari masalah. Aku malah ingin membenahi semua keadaan ini dengan anak-anak kita dan Bapak Ibu."
Papa Richard yang terus mendekap istrinya dengan kedua tangannya, jadi terdiam sesaat. Kemudian, ia berkata "Kamu benar. Kita hanya butuh waktu, untuk memperbaiki keadaan kita. Aku juga ingin melihat Mommy dan Daddy seperti dulu. Harmonis dan penuh janda tawa."
"Emm, waktunya kita berduaan."
Papa Richard akan kembali jadi vampire malam, yang menggigit leher putih Mama Lovie.
"Sayang, jangan disitu. Lily pernah curiga."
Mendengar hal itu, sang suami jadi menyudahi gigitannya.
"Memangnya, Lily kenapa? Curiga gimana?"
"Kapan itu, aku pangku Lily, terus dia mainin kancing baju aku. Dia lihat di leher dekat dada kiri, ada bekasnya kemerahan. Dia jadi penasaran, aku sampai bingung sendiri."
"Dia kepo gimana?"
"Mama digigit ulat bulu? Ini kenapa merah-merah? Mama digigit serangga? Apa Mama digigit semut rang-rang?"
"Oh, terus kamu jawab apa?"
"Aku jawab. Iya, ada ulat bulu jatuh dari pohon, terus masuk ke baju Mama. Mama jadi gatal-gatal, ini sampai membekas begini."
Richard jadi terkekeh.
Lovie memilin gemas bibir suaminya. "Ini yang nakal."
"Di dalam mana kelihatan."
"Ya, buktinya anak perempuan kamu bisa melihatnya. Terus dia peluk aku, sampai bilang, Mama sungguh kasian, ulat bulu jahat banget sama Mama."
Mendengar hal itu Richard semakin gemas. Karena cerita Lovie tentang putrinya, membuat perasaan lelahnya jadi seorang Papa sudah terobati.
Richard meraih kepala Lovie dan menempalkan bibirnya.
Bibir bertemu bibir dan saling bertautan dengan lembut. Saling berpagutan disertai rasa manis, menelisik sampai ke dalam dan Liddah mereka berdua saling membelit dan bergerak menyatu. Hingga membawa rasa untuk segera menggerakan bagian tubuh lainnya.
Setelah ciuman itu disudahi, jemari kanan Richard membelai rambut istrinya. Mencium keningnya sampai membuat Lovie jadi merinding.
Tangan Lovie dengan spontan meremas kerah piyama yang dipakai suaminya.
"My Lovie, aku mencintai kamu."
"Aku juga sangat mencintai kamu."
Emh!
Kembali berciuman dan melummat bibir istrinya semakin liar.
Hemms, ciuman terus.
Tok tok tok
Ada yang mengetuk pintu kamar. Padahal, ini sudah jam 11 malam. Anak-anak tadi sudah pada tidur.
Terus, siapa yang mengetuk pintu kamar ini?
Segera mungkin, Mama Lovie membenahi piyama yang dipakainya. Untungnya saja, bukan baju dines malamnya.
Tok tok tok
"Mama."
"Sayang. Kamu terbangun lagi."
__ADS_1
Mama Lovie segera menggendongnya.