Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Anak Tidak Berguna


__ADS_3

"Dasar, anak tidak berguna." Ditabok bantal sofa. Sang Mommy yang duduk di sofa dan melemparkan bantal sofa ke arah putra semata wayangnya.


"Mommy, harusnya senang melihat aku pulang ke rumah. Bukannya malah dilempar bantal begini."


"Masih mending Mommy lempar bantal ke wajah kamu, dari pada Mommy melempar pisau." Sang Mommy yang sudah geram.


Rencananya gagal total. Wajah cantik itu, jadi muram masam dan tidak sedap lagi di pandang oleh suaminya.


Suaminya, dari satu jam yang lalu, sudah memenangkan istrinya. Namun, istrinya masih merengek menginginkan cucu.


"Sini, uang 100 juta kamu. Sini kasih Mommy. Itu sebagai gantinya, Mommy kasih makan kamu selama ini." Ucap sang Mommy begitu kasar, kesal dan manja.


Sang putra belum sampai duduk, sudah menggeleng, Richard melihat ke arah sang Daddy.


"Daddy, Mommy menjual aku." Hikss. Sudah mulai lagi. Setiap ribut dengan sang Mommy. Richard hanya bisa mengadu kepada Daddy.


Ya mau bagaimana lagi, hanya Daddy dan Mommy yang dia miliki. Tidak ada Kakek, Nenek, maupun saudara kandung.


Bila dimarahi Mommy, Richard mengadu kepada Daddy. Bila mendapat teguran dari Daddy, pasti merajuk dan bermanja kepada Mommy, begitulah Richard.


"Mommy, permainan aplikasi itu juga terlarang. Untungnya saja, putramu baik-baik saja. Coba kalau gadis itu berpengalaman, putramu akan jadi santapan malamnya."


"Nah betul itu Dad. Mommy tega sama aku Dadd." Hikss, mukanya sudah seperti anak usia dini. Padahal, usianya sudah 30 tahun. Dia tidak bisa berkaca dan malah memasang wajah tersakiti di depan sang Mommy.


"Kalian berdua sama saja. Kalian tidak mengerti perasaanku." Sang Mommy pergi, dengan raut wajah masam.


Mommy Nancy, usianya sudah 60 tahun. Beliau punya kembaran dan kembarannya itu bagaikan kesempurnaan dari sisi hidup Mommy Nancy.


Mommy Nancy hanya beruntung memiliki suami, yang anak tunggal dan dari keluarga kaya raya.


Semenjak dinikahi oleh Presdir Nicholas, hidupnya sangat termanjakan. Menikah di usia 24 tahun dan di usia 29 tahun baru mengandung, lalu di usia 30 telah menjadi seorang Ibu.


Mommy Nancy memiliki kista dalam rahimnya dan setelah mempunyai Richard, Mommy Nancy tak kunjung hamil lagi. Malahan, setelah Richard berumur 10 tahun, Mommy Nancy kembali operasi pengangkatan rahim.


Mommy Nancy, saat ini hanya ingin merasakan seperti saudara kembarnya. Memiliki putra yang bisa diandalkan dan akan memberikan cucu padanya.


"Nania, aku kangen." Gumam Mommy Nancy, untuk adik kembarnya dan adik kembarnya itu tinggal di luar kota. Putra putrinya sudah menikah dan punya cucu kembar.


Meski saudara kembarnya terlihat sempurna, namun Ibu Nania juga merasakan kesulitan.


"Richard, sana. Bujuk Mommy kamu."


"Daddy saja yang bujuk Mommy. Aku masih ada urusan penting."


"Urusan penting?" Tanya sang Daddy.


Presdir Nicholas, sosok yang baik dan penyayang. Penampilannya, juga selalu sederhana dan tidak suka dengan hal yang menunjukan derajat materinya.


Tetap berpenampilan rapi dengan kemeja pendek, kecuali ada rapat penting baru memakai setelan jas.


Kemudian, setiap di rumah hanya mengenakan celana selutut dan kaos polos. Tidak suka hal glamour dan selalu hidup apa adanya.


Presdir Nicholas sendiri, juga tidak mengekang putra semata wayangnya.

__ADS_1


Mau Richard tekun, rajin atau tidak. Presdir Nicholas hanya ingin putranya selalu bahagia.


Tidak perlu harus menjadi pria hebat, yang seperti dirinya. Presdir yang bekerja keras, untuk masa depan anak tunggalnya.


CEO hanya jabatannya saja. Richard mana bisa bekerja. Yang bekerja, tetaplah Doddit. Baik itu di kantor, lalu ke hotel, kemudian di rumah. Semuanya, serba Doddit.


"Aku mengajak gadis itu kemari."


Sang Daddy menatap putranya, yang masih berdiri di depannya. Richard dengan wajah manis, menatap Daddy.


"Richard, apa kamu ingin menikahinya?"


"Gadis itu ketiduran di mobilku. Masak iya, aku lempar dia keluar. Dia masih gadis kecil, mana bisa aku menikahinya."


Sang Daddy malah semakin penasaran, beliau bertanya "Kenapa dia minta dihamili? Apa masalahnya? Kamu harus berhati-hati sama dia. Kalau kamu dijebak mantan-mantanmu gimana? Bisa juga, dia gadis suruhan."


"Daddy, awalnya aku mengira dia begitu. Tapi ternyata, Lovie gadis yang manis. Dia masih lugu dan tidak seperti yang aku bayangkan. Daddy pasti suka sama dia." Ucap Richard.


Sang Daddy jadi turut tersenyum, saat melihat aura wajah bahagia yang terpancar dari wajah sang putra tampannya ini.


Richard bertanya "Gimana Dadd? Aku boleh membawa Lovie masuk? Aku akan menidurkannya di kamar tamu."


"Iya, bawa dia masuk. Daddy juga ingin melihat dia. Seperti apa, gadis itu. Daddy malah jadi penasaran. Dia kenapa berani menyewa kamu sampai transfer 100 juta, ke rekening pribadi kamu."


"Daddy, dia tidak tahu nama asliku. Dia mengira, kalau Pak Richard itu bapak Gerrmo, terus dia panggil aku Richi. Aneh saja rasanya. Aku jadi ingat Mommy, kalau lihat tingkah polosnya."


"Ya sudah, ayo kita ke mobilmu. Daddy ingin melihat dia."


Presdir Nicholas juga turut penasaran. Mereka berdua pergi meninggalkan ruang keluarga dan berjalan ke halaman luar.


Richard dan Daddy Nicholas sudah mendekati mobil itu.


"Daddy tolong bawain ini." Ucap Richard, memberikan kantong belanjaan dan tas ransel Lovie ke tangan Daddy.


"Kalian habis belanja?" Tanya Daddy yang malah penasaran sendiri.


"Itu, belanjaannya Lovie sebelum bertemu aku."


"Berat banget, ini isinya apa?" Tanya Daddy sekali lagi penasaran. Atasnya terlihat pakaian tipis, namun terasa berat saat dijinjing.


"Itu isinya duit." Jawab Richard.


"Ha? Duit?" Malah semakin lebih penasaran.


Daddy Nicholas ini, sebenarnya juga cemas. Apalagi, menyangkut putra semata wayangnya.


Jaman sekarang, orang pada nekat. Bisa saja putra tungglanya ditipu, dirampok, digauli secara paksa, dibunuh, ataupun ditulari penyakit mematikan oleh gadis itu.


Bukannya mendapatkan cucu, bisa-bisa putranya tewas di tangan orang jahat.


Meskipun begitu, Daddy Nicholas tidak langsung memarahi istrinya. Hanya memberikan cerita sedikit, kepada istrinya, agar istrinya tidak tersinggung. Tadi juga, diajak nonton film yang berbau cerita jahat.


'Orang yang sudah gelap mata, pasti bisa berbuat apa saja. Hanya itu, yang disampaikan Presdir Nicholas kepada istrinya.

__ADS_1


Richard telah menggendong Lovie, dengan kedua tangan kekarnya. Lovie yang tertidur pulas, mungkin rasanya seperti di gendong sang Papi, saat ia tertidur di sofa ruangan TV. Lovie selalu saja begitu, lalu Papi memindahkannya ke kamar.


Saat ini, Papi Benny yang bertemu dengan seseorang, pekerjaannya detektif.


"Aku akan mencarinya. Kamu tidak perlu cemas."


"Kak Jordy. Saya takut, kalau Lovie dibawa lari sama pemuda itu. Aku bingung mencarinya kemana. Aku sudah pergi ke rumah teman-temannya, tapi mereka tidak ada yang tahu kebaradaan Lovie. Aku menyesal, harusnya aku tanya dia baik-baik."


"Benny, anak seusia itu memang rawan. Aku juga sedang menyelidiki kasus. Gadis menjadi simpanan Om-om. Jaman sekarang, para pria berkedok sultan. Hanya ingin memiliki gadis simpannya."


"Berkedok sultan??"


"Iya, saat ini lagi trend. Gadis muda dari usia SMA sampai ke jenjang perkuliahan. Ada yang menjajakan dirinya, agar menjadi simpanan Sugar Daddy. Mereka ingin mendapat sebutan sugar Baby dan mendapat kemewahan dari pria kaya raya."


"Jual diri??"


"Iya."


"Lovie nggak mungkin begitu. Aku selalu memberikan apapun yang dia inginkan. Dia juga masih memegang uang Maminya."


"Semenjak dunia sudah dipermudah dengan ponsel. Apa saja bisa terjadi. Jaman sekarang makin canggih. Orang bisa gelap mata. Apalagi, gadis-gadis belia yang rawan akan rayuan. Ini kasus putrinya Pak Durong. Dia juga tertipu, bilangnya Om Sultan. Tidak tahunya kere. Sudah diajak ke hotel dan dirayu, diberi barang mewah, mobil. Sekarang mobilnya diambil pihak bank. Terus, gadis itu hamil. Aku diberi tugas untuk mencari Om Sultan. Eh, ternyata dia hidupnya pas-pasan. Mana istrinya ada dua. Edan bener." Ucapnya Bapak ini, bikin tepuk jidat.


Mendengar itu, Papi Benny gemetar. Bagaimana, kalau hal seperti itu menimpa putrinya tercinta.


"Kak Jorddy, tolong aku. Cepat temukan putriku. Berapapun aku akan bayar. Yang terpenting, putriku dalam keadaan sehat dan tidak terluka."


"Kamu tenang saja, malam ini juga, aku akan mencarinya. Biasanya, kalau malam begini, pada enak-enaa di hotel berbintang. Aku akan mencarinya dari hotel-hotel mewah." Hems, Pak Jordy membuat Pak Benny risau.


"Amit-amit Kak. Jangan sampai putriku begitu. Aku nggak rela kalau putriku sampai hamil dari baajjingan seperti itu. Kalau dia hamil dari Damian, aku akan segera menikahannya."


"Damian??"


"Iya, keponakanmu. Lovie pernah pacaran sama dia."


"Ya, semoga saja begitu. Biar kita jadi lebih dekat dan jadi keluarga."


Sedangkan, Rasya Hermawan, Omnya Lovie, tidak mengatakan apapun kepada Papi Benny, meski uangnya sudah di transfer kepada Richard.


Om Rasya sendiri, sedang membelai daur mudanya. Lovie mengatakan kepada Omnya, boleh mengambil uang dari rekening itu, asalkan menjaga rahasia.


"Lolla sayang, kemarilah. Pijitin Daddy."


"Oke Daddy." Hadeeh, enaknya dipijitin.


Kembali pada Richard, yang sudah membaringkan Lovie di tempat tidur.


Daddy Nicholas menatapnya, "Richard, apa dia ini putri bidadari?"


"Daddy kenapa? Daddy suka sama Lovie?"


"Kulitnya putih, wajah cantik, hidung mancung, dagu lancip, bibir imut, rambut panjang. Spek putri bidadari."


__ADS_1



__ADS_2