Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 14. Curcol Sama Camer


__ADS_3

Suasana ruangan ini, seketika memanas dan berkobar karena amarah. Saat sang suami mendapat istrinya, yang dipegang tangannya oleh rekan bisnisnya.


Hantaman tangan itu, begitu keras!


Bugh!


Dan tepat, mengenai rahang kanan Troy.


"Papa!!" Teriakan Lily.


Lily yang datang, namun sudah terlambat.


Troy jadi tersungkur di atas lantai dan Lily seketika mematung saat melihatnya.


Es krim yang ada di kedua tangannya, sampai terjatuh ke lantai.


"Papa tega!!" Kesalnya Lily.


Papa Richard menoleh ke arah putrinya. "Sayang, kamu ngapain kesini?"


Sang istri jadi memeluknya dan berusaha meredam perasaan sang suami.


"Papa yang tenang."


Troy tersenyum "Bee. Aku tidak apa-apa."


Lily jadi menangis, ia segera berjalan ke arah Troy dan melewati kedua orang tuanya.


"Om Bule."


Lily memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Tangisannya, bak anak kecil yang sedang ditinggal Ibunya.


"Mama. Lily kenapa, memeluk dia?"


"Papa." Sang istri susah untuk menjelaskannya.


Papa Richard melihat putrinya dan Troy, lalu menoleh ke istrinya "Mama. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Papa yang tenang. Nanti, Mama akan ceritain sama Papa."


Lily masih memeluk Troy dan membuat dia duduk di sofa. Lily berkata "Ayo kita pulang ke apartemen."


"Bee. Aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menangisi aku." Balasnya Troy dan ia merasakan sakit dibagian pipi.


Troy pernah begitu juga mendapat tonjokan, tapi itu dulu. Sewaktu masa labil. Jadi, sering ribut sama teman sekolahnya.


Lily memegang pipinya, berkata "Om ber..."


Tangan Troy menyentuh darah, di sudut mulutnya.


"Bee. Aku berdarah lagi."


Troy pingsan dan Lily langsung melotot ke arah sang Papa. "Ini salahnya Papa! Om Bule, trauma melihat darahnya sendiri. Papa malah nonjok pipinya."


Papa Richard masih dipeluk istrinya dan menatap ke arah putrinya, "Kenapa Papa yang disalahin?? Dia, tadi, pegang-pegang tangan istri Papa."


Lily kembali fokus pada Troy, membuatnya agar siuman.


Mama Lovie berkata "Papa. Itu tadi, dia memohon sama Mama. Biar merestui dia,.."


"Apa maksud Mama??" Papa Richard tampak bingung.


"Aaa.. Papa Mama, tolongin ini dulu dong. Calon menantu pingsan. Malah camernya asyik ngobrol berdua. Huh." Ketusnya Lily dan begitu adanya.


Papa Richard nggak bisa mikir, jadi kembali bertanya soal itu "Apa maksudnya calon menantu? Camer? Apaan itu?"


"Papa, tolongin itu dulu anak perempuan kamu. Kasian. Nanti, Mama jelasin di rumah. Mama juga pusing." Ucapnya Mama Lovie kepada suaminya dan beliau memilih pergi meninggalkan ruangan ini.


"Lovie, kenapa malah pergi?"


Papa Richard bingung, Lily menatap Papanya lagi "Buruan ini tolongin. Calon mantu malah ditojok-tonjok."


"Sekali doang nonjoknya. Dia sampai pingsan."


"Om Bule, takut ngeliat darahnya sendiri. Dulu nggak begitu, tapi dia jadi punya trauma setelah kecelakaan gitu. Aku juga nggak ngerti. Aku kemarin juga bikin dia pingsan. Kata Om Buho, kasih dia obat penenang."

__ADS_1


"Terus, dimana obatnya?" Tanya sang Papa kepada anaknya.


Lily jadi membaringkan Troy di atas sofa dan Papa Richard mengambilkan minum.


"Di kasih minyak angin dulu. Terus, kalau dia nafasnya dah lega. Baru dikasih obat. Ini aku bawa obatnya."


"Kamu tahu. Kamu bisa kenal sama Troy??"


"Ya kenal. Dia pacarku. Aku juga baru dilamar sama dia. Mama nggak setuju. Makanya, Om Bule jadi memohon sama Mama. Papa saja yang terlalu cemburu buta. Sudah tua, masih aja cemburuan."


Papanya jadi tak berkutik lagi. Anaknya yang satu ini, bawelnya melebihi Nenek tua istrinya.


"Iya. Iya. Papa salah. Papa akan minta maaf sama Mr. Troy." Ucapnya sang Papa santai.


Perlahan-lahan, Troy tengah siuman dan Lily segera meminumkan obatnya.


Papa Richard hanya bisa menatap putrinya, yang memperhatikan rekan bisnisnya.


"Presdir Richard, saya minta maaf." Lirihnya Troy dan Ia berusaha untuk bersandar sofa.


"Iya Mr. Troy. Saya juga minta maaf. Saya tidak tahu. Saya sepertinya sudah salah sangka. Saya pikir, anda menyakiti istri saya. Saya jadi berfikir buruk dan sampai emosi." Ucapnya Papa Richard tenang.


Lily memegang lengan tangan Troy. Papa Richard menarik tangan anaknya.


"Duduk yang benar. Harus sopan sama orang tua." Ucapnya Papa terdengar tegas di telinga Lily.


Lily membalas, "Yee. Om Bule memang rekan bisnis Papa. Tapi, dia calon suami aku."


Wleek'


Lily sampai menjulurkan liddahnya dan kembali merangkul lengan tangan Troy.


"Anak ini, kalau aku kerasin. Dia akan nekat. Aku harus sabar. Aku harus mencari tahu. Apa saja yang sudah terjadi."


"Om Bule, aku akan menemani Om Bule sampai sembuh. Kalau perlu, aku akan menginap lagi."


Sang Papa jadi hareudang, bertanya "Lily, kamu menginap di apartemen?"


"Iya. Semalam, aku tidur di Lily Penthouse sama Om Bule."


"Jadi, kamu pacaran sama rekan bisnis Papa?"


"Terus, kalian kenalnya dimana?"


"Di hotel kita."


"Owh, Papa ngerti. Kamu nggak pulang ke asrama. Karena, tidur sama Troy?"


Troy jadi gelisah, ia bingung harus menjelaskannya dari mana.


"Presdir Richard. Apa bisa, kita bicara berdua. Ada hal penting, yang ingin saya sampaikan kepada anda." Pintanya Troy.


Lily jadi menoleh ke arah Troy, "Kenapa begitu? Aku takut, Om Bule pingsan lagi."


"Kamu tenang saja, aku baik-baik saja." Balasnya Troy, tangan itu juga mengelus rambut Lily.


Papa Richard jadi membatin "Biasanya, Lily tidak suka. Kalau ada orang yang menyentuh kepalanya. Kenapa sama Troy, jadi penurut begitu?"


"Om Bule. Aku tunggu di luar ya. Nanti, kita pulang ke apartemen berdua saja. Oke."


"Iya Bee. Kamu tenang saja."


"Ingat, berdua saja." Lily tatapannya malah ke arah sang Papa.


Papanya tidak mau kalah, jadi melotot dan berkata "Lily. Nanti pulang sama Papa."


"Nggak mau."


Week'


Lagi-lagi gaya kekanakan Lily ditunjukin kepada sang Papa. Sampai Papanya jadi menggelengkan kepala.


Troy tampak duduk bersandar di sofa dan di sebuah kursi, Presdir Richard akan berbincang dengan Troy, sebagai seorang Papa. Bukan rekan bisnisnya di Hanz Group.


"Presdir Richard. Saya sungguh terkejut. Ternyata, gadis yang saya lamar adalah putri anda." Ucapnya Troy dan tampak bersikap lebih santai.

__ADS_1


"Saya hanya seorang Papa. Yang ingin melihat putrinya bahagia. Saya tidak tahu, apa masalah yang sudah terjadi. Tapi, melihat hal barusan. Saya bisa mengerti. Kenapa Lily bersikap manja kepada anda."


"Presdir Richard. Sekali lagi, saya minta maaf. Saya sama sekali tidak tahu. Kalau, Lily sosok tuan putri. Saya tidak bermaksud untuk lancang. Tapi, saya sangat serius, ingin menikahi putri anda."


"Mr. Troy. Tapi, Lily masih seperti anak-anak. Dia belum bisa berfikir dewasa. Saya malah takut. Nantinya, anda akan terbebani."


"Soal itu, saya tidak masalah. Saya akan memaklumi tingkahnya Lily."


"Coba anda pikirkan lagi. Semua orang, terkadang jengkel melihat tingkahnya Lily. Namun, anda ingin memakluminya."


"Ini, demi masa depan saya. Saya mohon, anda bisa merestui saya untuk menikahi putri anda."


Mendengar ucapan Troy, Papa Richard jadi membawa perasaannya. Sebagai seorang Papa, semua yang dilaluinya, tidaklah mudah. Apalagi, tentang anak-anaknya.


Meskipun, setiap harinya harus bekerja dan jauh dari anak-anaknya. Namun, Papa Richard selalu mementingkan ketiga anaknya.


Baik Lucas, Latte dan Lily. Sebisa mungkin, selalu ada waktu. Untuk bertemu dan memberikan kasih sayangnya.


Papa Richard sudah tampak menunduk. Menyeka buliran air bening, yang sudah menetes tiba-tiba.


Baper, karena ingat masa kecilnya ketiga anaknya. Terutama gadis kecil yang bernama, Lily.


"Maaf, saya hanya terbawa suasana."


"Presdir Richard. Papa yang hebat. Saya bisa merasakan, kalau anda Papa yang sangat menyayangi keluarga."


"Mr. Troy. Saya hanya Papa biasa. Saya malah lebih mementingkan istri saya. Kalau istri saya merestui putrinya. Saya juga akan merestuinya. Karena, saya sadar. Mamanya Lily, yang sudah mengandung dan membesarkan anaknya. Saya tidak berhak untuk menilai dan mengoreksi hasil didikannya. Meskipun, Lily memang ceplas ceplos dan pandai melawan Mamanya. Saya, juga tidak sanggup melerainya. Karena, saya ingin melihat putri saya selalu ceria dan bahagia."


"Saya mengerti. Memang semua ini, rasanya tidak akan mudah buat saya."


"Mr. Troy, anda lebih dewasa. Bahkan, usia anda hampir seusia Mamanya Lily. Dulu, saya menikahi Mamanya Lily, dia juga masih belia. Saya mengerti, kenapa Mamanya Lily belum merestui anda. Memang tidak mudah, bagi gadis belia yang menyandang status menikah, hamil, lalu mengemban tanggung jawab yang besar sebagai Ibu. Butuh mental yang kuat dan saya sadar. Saya juga dulu, terlalu memaksakan ego saya. Makanya, saya lebih memilih diam. Ketika istri saya menasehati anak-anak. Saya tahu, semua itu tidak mudah bagi istri saya. Mungkin, melihat Lily masih belia dan mengingat masa lalunya. Istri saya tidak ingin, anaknya seperti dia. Yang harus bisa mengemban tanggung jawab sebagai Ibu di usia belia."


Papa Richard malah menangis lagi. Troy jadi berat hati, bila harus meminta Lily agar segera bersama dirinya.


Troy berkata "Presdir Richard. Saya punya masalah. Bagi orang yang mendengar cerita saya. Ini hanya hal sepele. Tapi, bagi saya, ini sangat berat. Hanya, Lily yang bisa membuat gairah saya bangkit."


Papa Richard jadi menatapnya, ia bertanya "Gairah sexxual?"


"Iya. Presdir Richard. Saya malu bila menceritakannya." Troy jadi tersenyum aneh.


Papa Richard berkata "Pasti sangat sulit sekali. Apalagi di usia 30an. Masa-masa yang bergairah."


"Benar. Anda laki-laki. Pasti, anda lebih bisa memahami keadaan saya."


"Mr. Troy, apa anda sudah mencobanya dengan wanita lain?"


"Saya sudah pernah membayar beberapa wanita. Tapi, tetap responnya kurang. Setelah, kemarin Lily menyentuh saya. Lama sekali berdirinya. Bahkan, sampai pagi tidak tumbang."


"Mr. Troy. Lily putri saya."


"Maaf Presdir Richard. Saya tidak bermaksud, melecehkan putri anda."


"Kapan, Lily berbuat itu?"


"Di malam pesta Hanz."


"Owh, saya mengerti. Saya dapat laporan dari pengawal. Lily keluar dari club malam, lalu ke hotel. Tapi, waktu masuk hotel. Pengawal saya tidak lagi mengejarnya. Jadi, Lily masuk ke kamar anda dan mengelus-ngelus burung anda."


"Presdir Richard. Saya tidak begitu. Saya bersumpah. Tapi, putri anda yang sudah memaksa saya. Namun, dia juga tidak sadar."


"Emh, apa yang dia minum?"


"****z." Jelasnya, Troy yang menyebut obat perangsang yang diberikan oleh seseorang yang berniat jahat kepada Lily.


Papa Richard, jadi membatin dan sangat marah saat mendengarnya. Terlihat dari sorot matanya, yang berubah keji.


Setelah, cukup lama terdiam. Suasana terasa hening. Papa Richard sadar. Kalau Troy, hendak mengatakan sesuatu padanya.


Papa Richard bertanya. "Mr. Troy. Apa, ada lagi yang ingin anda katakan?"


"Presdir Richard. Saya ingin menikahi Lily. Saya akan memperlakukan putri anda, seperti ratu. Saya berjanji."


Mendengar hal itu, Papa Richard berkata "Nanti, saya akan bicarakan dulu dengan istri saya. Kalau istri saya sudah setuju. Anda bisa membawa keluarga anda, untuk melamar putri saya."


"Baik Presdir Richard."

__ADS_1


Lily yang menunggu di sebuah store. Ada seseorang yang datang mendekat.


"Lily."


__ADS_2