
Malam ini, Lily sepertinya sudah terjebak, dalam kendali Troy
Mau tidak mau, lebih baik menurut. Lily juga paling anti mengadu kepada kedua orang tuanya. Apalagi semenjak kuliah. Dia ingin seperti para remaja yang lain. Diberi kebebasan dan tidak suka, bila kedua orang tuanya, terlalu ikut campur urusan pribadinya.
Sedangkan Troy, Bos yang satu ini, memang tidak perlu diragukan lagi sepak terjangnya, dalam dunia bisnis, apalagi di jaman era digital ini. Baik bisnis secara nyata dengan semua tenaga dan pikirannya. Lalu, ada bisnis yang terus berjalan hanya dengan aplikasi miliknya.
Pundi-pundi cuan melalui sistem jaringan internet, sehari bisa merayup sekian dollar.
Ya, kalau dihitung seharinya bisa sampai 1 M, nantinya masuk ke rekening pribadinya.
Troy termasuk salah satu pembisnis muda, yang sangat dipandang bersih dan tidak ada cacatan hitam tentang bisnisnya. Baik di luar negeri tempat asalnya, maupun di negara ini.
"Om Bule." Rengekkan yang terdengar manja dan tanpa malu, mendusel-dusel di lengan kanan Troy.
Lily berusaha meraih simpatinya Troy "Aku sudah terjebak disini. Lebik baik aku memanfaatkan dia."
"Kamu tidak perlu merayu aku. Aku tidak akan tergoda sama kamu." Troy berusaha menggeserkan badannya.
Troy ini, pribadi to the point, dia sangat tidak suka buang-buang waktu. Namun saat bersama Lily, Troy sepertinya ingin mengulur waktu.
"Emh, Om Bule sehari gajinya segitu. Aku juga mau, jadi kekasih Om Bule."
"Tapi aku nggak mau pacaran. Aku paling anti yang namanya pacaran. Pasti bikin hidupku ribet." Balasnya dan nadanya terdengar ketus.
"Owh gitu. Memangnya, Om Bule belum pernah punya pacar?" Tanya Lily, ia jadi kepo dan menyenderkan kepala ke bahu Troy.
Troy merasa kalau gadis yang satu ini, memang masih polos. Lily terlihat biasa saja dan tidak jaim. Malahan, gadis ini ngomongnya ceplas-ceplos dan baru kali ini, ada gadis yang sudah bawel padanya. Bukan gadis penggoda dengan tubuh indah sexynya.
"Aku tidak pernah pacaran." Jawab Troy dan ia merasa gerah, setiap Lily mendekat dan berusaha menggoda dirinya. Troy duduknya, jadi bergeser dan Lily semakin mendekatinya.
"Jangan jauh-jauh dong. Aku cuma mau kenalan sama Om Bule." Ucapnya Lily dengan tengil. Sambil memainkan tali tas ranselnya.
"Namaku Troy. Panggil aku Mr. Troy. Aku bukan Om Bule." Ucapnya Troy terdengar sangat kaku. Bahkan, ekspresinya Troy juga datar.
"Tapi, aku suka panggil Om Bule." Balasnya Lily malah jadi manja. Berusaha mendusel-dusel dada Troy.
Troy jadi pindah tempat duduknya, di sofa sebereng meja dan menghadap ke wajah Lily. Troy bertanya "Nama kamu, beneran Lily?"
"Iya Om, namaku Lily. Om Bule mau lihat ID aku?" Lily dengan segera membuka resleting tasnya. Tapi, belum sampai mengambil dompetnya.
Troy berkata "Aku nggak perlu lihat ID kamu. Aku hanya merasa, kamu masih anak-anak."
"Om Bule, tinggal disini? Sepertinya, Om bukan orang Shindong." Lily malah mendekati Troy.
"Aku bukan warga Shindong. Aku disini hanya sementara waktu." Troy yang gelisah, saat Lily menempelkan tangannya ke lengan kanannya.
"Om Bule, kenapa? Risih ya sama aku?Kalau begitu. Biarin aku pulang saja. Habisnya, Om Bule aku dekati nggak mau. Padahal, aku nggak nggigit loh Om." Ucapnya Lily semakin menggoda Troy.
"Tadi, kamu gigit liddah aku." Balasnya Troy terasa kaku.
"Oh iya, aku sampai lupa." Tengilnya ini bocah, sampai kedip mata segala.
"Om Bule jangan terlalu kaku begitu dong. Aku cuma bercanda doang."
Troy membatin "Jangan sampai aku tergoda. Tapi, kenapa bisa dia bisa menggoda aku?"
Lily tersenyum tipis, sampai tidak terlihat senyuman Lily. Hanya terlihat bibir Lily yang menggemaskan. Membuat bibir Troy, jadi berkedut manja dan ingin segera mengecup bibir imut nan manis itu.
Emmh.
Troy rupanya tidak tahan dan mengecup bibir luarnya Lily.
Lily merasa senang "Nah, kepancing juga kan?! Gimana bibirku? Enak?"
Malah, jadi saling adu pandang.
"Siall, semoga dia nggak berfikir negatif, tentang aku yang mencium dia."
"Kamu kenapa bisa, berurusan sama anak-anak muda yang tadi?" Troy jadi menatap dekat wajah Lily.
__ADS_1
Lily melihat sorot mata yang sudah berbeda. Tidak seperti pagi tadi, yang sangat kaku. Sekarang, manik mata itu memancarkan hal lain, ada sebuah rasa.
"Ya ada masalah gitu Om. Masalahnya, mereka aku tolak. Jadinya mau balas dendam gitu. Mungkin, mereka nggak rela kalau aku sama yang lain." Jawabnya Lily yang membanggakan dirinya. Padahal, tidak semua ucapannya benar.
"Padahal kamu biasa saja. Nggak secantik temanmu." Balasnya Troy terdengar kaku lagi. Dia juga merasa aneh saat menatap wajah Lily. Rasanya, tidak percaya diri, ketika bersama Lily.
"Aku pria dewasa. Nggak mungkin menyukai bocil seperti dia." Batinnya Troy yang terus saja mengelak. Padahal, jantungnya sudah berdenyut mesra.
Kalau denyut jantungnya ditest pakai alat, pasti hasilnya love love, dag dig dug duer.
Lily bertanya "Kok Om Bule tahu soal temanku?" Lily ekspresi bingung.
"Tadi siang di mini market depan kampus kamu. Aku bertemu dua teman perempuan kamu. Kamu, tadi juga ada di mini market itu." Jawabnya Troy.
"Owh, Violla sama Lexi. Emh, tipe Om Bule pasti Lexi. Cantik manis, feminine, dan sexy. Iya-kan Om Bule.. Hemm." Lily jadi semakin menggoda Troy.
"Tidak. Kamu itu. Terlalu, sok tahu." Balasnya Troy yang malah ketus.
"Yeee, aku cuma bilang doang. Biasa aja kali. Jadi orang itu, jangan terlalu kaku. Nanti cepat tua."
"Aku memang lebih tua dari kamu."
"Iya, pantasnya aku jadi anaknya Om Bule." Lily jadi cekikikan sendiri.
Batinnya Troy sampai jadi kesal. "Ini bocah kecil, malah menertawakan aku."
"Kamu tahu apa soal tipe atau kriteria cewekku. Aku selalu bersama wanita cantik dan sexy. Aku membayar mereka. Mereka kasih aku kesenangan. Tanpa, aku harus ribet dengan aturan hubungan pacar."
"Kalau aku, malah ingin pacaran. Soalnya, aku belum pernah pacaran. Aku dulu suka sama Kakak kelas di SMA. Terus, dia sekarang punya pacar, tapi pacarnya lebih jelek dari aku."
"Berarti, cowok itu, nggak suka kamu."
"Ih, Om Bule jadi nyebelin."
"Tidurlah disini. Besok pagi, aku akan mengantar kamu ke kampus."
"Jangan dong Om. Nanti aku bisa dimarahin sama Papa Mama."
"Om Bule tapi, soal ini. Aku..." Lily bingung, akan perkataannya sendiri.
"Aku tidak mau, apa yang diucapkan anak laki-laki tadi, jadi masalah untuk aku. Dia bilang, aku calon suami yang nggak peduli sama calon istriku. Aku nggak mau, kalau sampai dicap jelek sama teman kamu."
Bahasanya Troy masih kaku, ia bicara mengunakan bahasa daerah Lily. Namun, logat bulenya masih melekat.
Troy, lantas pergi dan Lily jadi tambah bingung.
"Apa maksudnya?"
Lily menoleh ke arah punggung Troy. Pria menawan itu beneran pergi ke kamar tidur.
"Huh, dibilang apa barusan?! Calon suamiku?"
"Baiklah. Kalau itu mau kamu. Aku akan menjadi calon istrimu, yang tidak akan melepaskan kamu."
Lily mengejar Troy dan ia masuk kamar Troy, tanpa mengetuk pintu. Troy sedang melepas kancing kemeja putihnya.
"Kamu bikin kaget." Ucapnya Troy.
Lily sudah menyengir di hadapannya, "Lagian, tadi pagi aku sudah melihat batakomu."
"Batako?" Troy tidak mengerti istilahnya.
"Ini, dada sixpack. ABS." Pelan-pelan, Lily malah meraba batako.
"Kamu ingin apa lagi? Kita sudah saling mengenal. Aku calon suami kamu dan kamu calon istri aku. Titik!" Ucapnya Troy.
Lily sampai mendongak, saat menatap wajah Troy, dan Troy tetap mengangkat wajah tampannya, tidak mau menunduk.
"Aku ingin kamu, panggil aku My Honey. My Darling." Pintanya Lily, dengan suara gemas.
__ADS_1
"Emh, iya. Sayang." Balasnya Troy kaku.
"Aah, kurang manis." Rengeknya Lily.
"Bee." Sambil tersenyum dan Lily menyengir.
"Emh, kedengarannya lumayan. Aku suka Om Bule. Soalnya, tampan." Lily sampai memegang dagunya Troy.
Lily lantas pergi dengan berlari dan jantungnya terasa berdebar mesra.
Lily, sampai bersandar tembok dan masih memegang dadanya.
"Aku jadian."
Troy bergumam "Om Bule?! Apa aku setua itu dihadapannya?"
Troy semakin tersenyum "Aku tidak masalah dengan panggilan itu, asalkan Bee tetap mau bersama aku."
Perasaan tadi, Troy sudah membuka kancing untuk melepas kemejanya, Troy malah mengancingkan lagi kemejanya.
Ia jadi tersenyum sendiri "Inikah yang namanya cinta? Kenapa, seketika aku jadi bodoh begini."
Troy merasa aneh, ketika ia merasa berdebar. Biasanya, saat bersama gadis-gadis cantik nan sexy, ia tidak merasa canggung atau berdebar. Kali ini, perasaan itu terasa nyata.
Bee sudah menggigitnya, Bee bisa berarti lebah madu yang menyengat. Namun, lebah manis itu, juga panggilan sayang untuk orang tercinta.
1 jam kemudian
Lily sudah tertidur di sebuah ruangan ceria. Karena, di Lily Penthouse terbagi menjadi beberapa ruangan.
Nilai sewanya sekitar 800 juta perbulan. Troy menyewa 1 M, tapi sudah diambil keuntungan oleh asistennya.
Lalu, Nyonya Metta juga hanya dapat sekian persennya saja. Untuk deposit dan pemeliharaan tempat ini, juga sangat mahal sekali.
Troy cukup senang, bisa menempati Lily Penthouse.
Tidur di atas sofa L, Troy tengah memandangi wajah Lily.
"Kamu masih imut. Aku juga tidak tega melihat kamu dipermalukan."
Troy sangat mendengar dengan jelas. Saat Vano dan kawan-kawannya Ethan tadi, membahas soal Lily. Bahkan, mereka tidak segan meledek paras Lily, yang dinilai sangat biasa saja. Tidak sesexy para gadis lainnya.
Gadis belia ini, selesai baca buku jadi tertidur pulas di sofa, bahkan bukunya masih tergeletak di dadanya.
"Aku harus segera mengumumkan status baruku" Batinnya Troy dan ia segera mengambil ponsel dari sakunya kantong celana.
Troy sudah memakai celana pendek selutut dan atasannya kaos warna abu-abu muda.
"Buho, batalkan rapat besok. Aku mau bersama calon istriku. Titik!" Ketiknya dalam chat, dan segera mengirimkan ke nomor asisten pribadinya.
Buho tidak membalas pesan itu, ia bekerja sesuai perintah Bosnya. Apapun ucapan Bosnya, itu adalah perintah baginya. Tidak ada saran maupun kata batahan. Buho, selalu mengutamakan Bosnya dari pada pekerjaannya.
"Semua sudah beres. Hanz Group besok rapat saham. Abaikan saja."
Mendapat pesan begitu, Buho jadi tenang. Bosnya ternyata masih punya perasaan sebagai seorang pria. Buho terkadang juga heran, kenapa Bosnya selalu melajang dan tidak mau menerima kehadiran perempuan.
"Selamat malam. Mimpi yang indah." Buho mematikan lampu kantornya dan segera memasuki kamar istirahatnya di kantor.
"Aku mau tidur sini sama kamu. Aku di kamar nggak bisa tidur." Ucapnya Troy dan ia jadi rebahan di sofa dekat Lily.
Semalam, tidur bersama gadis malamnya, yang belum saling mengenal.
Sekarang, tidur bersama calon istri yang belum tahu apa motif dan tujuan dirinya sendiri.
Perasaan kasian, cinta atau memang hanya ingin bersamanya.
Yang di asrama, bingung.
__ADS_1
"Lexi, gimana kalau Lily ternyata diculik?"
"Violla, jangan nakut-nakutin deh."