
Gedung perkantoran, Rich Corporation yang tinggi dan megah. Terdapat 17 lantai, dalam satu gedung pencakar langit ini.
Tampilan dari luar begitu megah. Saat memasuki ruangan dari lobby, sampai ke ruangan Presdir terlihat interior menawan. Serba warna silver dan sangat elegan.
Ada beberapa bagian divisi dan posisi struktur pimpinan dari berbagai industri yang dinaungi oleh Rich Corporation.
Pada saat ini, kedua bapak polisi sudah menemui pimpinan kantor R.C.
"Selama pagi Pak."
"Iya, selamat pagi Pak Polisi."
Saling berjabat tangan, kemudian Presdir Nicholas mempersilakan kedua anggota polisi ini untuk duduk di sofa.
Sofa warna abu-abu tua, sangat nyaman bila di duduki.
"Apa benar, ini kantor Richard De Nuca pemilik hotel DeNuca?"
"Iya benar. Saya Nicholas La Nuca. Saya pimpinan kantor ini, sekaligus Ayah dari Richard De Nuca."
"Kebetulan sekali, dengan bapak sendiri. Ada yang ini saya sampaikan."
"Iya Pak polisi silakan." Presdir Nicholas yang terlihat santai dan tampak ramah kepada dua polisi itu.
"Begini Pak Nihcolas. Ini mengenai Hotel DeNuca."
"Iya, ada apa dengan hotel DeNuca?"
"Saya sudah dari sana, sayangnya sang pemilik hotel tidak ada di tempat. Kemudian, saya disuruh datang kemari."
"Iya Pak. Putra saya memang jarang ke hotel. Biasanya, istri saya yang berkunjung kesana."
"Pak Nicholas. Saya mendapat tugas dari kantor. Untuk menyelidik para gadis-gadis remaja, yang melakukan kencan buta dengan pria dewasa di Hotel DeNuca."
Degh.
"Pak Polisi yakin soal kejadian ini?"
"Iya Pak Nicholas. Saya mendapatkan laporan dan seperti itu adanya. Ada yang melapor kalau di Hotel DeNuca tempat para gadis belia menemui para om-om Sultan."
"Tapi, hotel milik putra saya itu sudah ijin resmi secara hukum dan aturan hotel juga sesuai SOP. Tidak ada hal yang seperti itu."
"Benar Pak Nicholas. Hanya saja, para gadis itu sudah merubah penampilan mereka, layaknya gadis dewasa."
"Owh, begitu." Ucap Presdir Nicholas, namun perasaan batinnya jadi tertuju kepada Lovie.
"Kami dari anggota kepolisian, ingin melakukan pengecekan kamar dan melihat dari cctv hotel. Itu, kita akan lakukan, bila pemilik hotel mau bekerja sama dengan kami dan mengijinkan kami untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Kalau soal itu. Saya akan tanyakan dulu sama putra dan istri saya. Hari ini, Richard berada di luar kota."
"Tidak masalah Pak. Kami akan menunggu persetujuan dari pihak pemilik hotel. Meskipun, kami mendapat perintah resmi, namun kami berdua juga ingin mendapatkan ijin dari pemilik Hotel."
Kedua polisi ini, juga takut kalau akan berurusan dengan para kalangan orang besar. Kalau pemilik hotel mendukung mereka. Bisa saja, mereka tidak akan di kuliti balik oleh para sugar Daddy.
"Tunggu sebentar Pak. Saya hubungi putra saya dulu."
Dua anggota polisi yang berusia 40an, tampak duduk dengan santai dan saat ini masih di ruangan Presdir Nicholas.
Ruangan mewah dan sangat elegan. Nuansa silver telah mendominasi ruangan kerja Presdir Nicholas.
Ruangan khusus Presdir Rich Corporation ini, berada di lantai 9.
Setelah mengatakan kepada istrinya, soal perijinan penyelidikan polisi. Presdir Nicholas kembali duduk dihadapan kedua polisi itu.
Tampak aura tenang dan mulai berkata "Bapak polisi yang saya hormati. Saya sudah bertanya kepada istri saya. Istri saya mengatakan, Bapak berdua, boleh melihat ke daftar tamu pengunjung dan melihat rekaman cctv. Namun, untuk pengecekan kamar. Saya kira, itu akan mengganggu para tamu Hotel."
"Baik Pak Nicholas. Kami paham."
"Saya sudah menghubungi istri saya. Nanti, bapak-bapak akan ditemani pimpinan hotel serta istri, kami akan mendukung bapak-bapak. Istri saya yang akan menyambut bapak polisi di lobby."
"Wah, kami jadi tidak enak hati Pak Nicholas."
"Tidak masalah. Malah saya senang. Bapak-bapak sudah bekerja dengan sopan saya juga senang."
"Pak Nicholas, kami malah merepotkan."
"Owh tidak Pak. Saya juga resah, bila para pria hidung belang itu merusak imeg baik hotel milik putra saya. Kami juga baru memulai bisnis baru dalam dunia perhotelan. Jadi, tidak berfikir kalau hotel kami, akan menjadi tempat pertemuan seperti itu."
__ADS_1
"Pak Nicholas. Terima kasih atas waktu anda. Kami berdua sudah menggangu waktu kerja anda."
"Tidak apa-apa Pak Polisi. Saya malah senang, ada tamu yang berkunjung kemari."
"Kami permisi Pak Nicholas."
"Sama-sama Pak. Mari, saya antar Bapak-bapak sampai ke Lobby."
"Kami jadi merepotkan Pak Nicholas."
"Oh, tidak masalah."
Presdir Nicholas merasa lega, setelah memberikan ijinnya kepada dua polisi ini. Setidaknya, ini lebih baik dari pada imeg buruk menimpa nama putra semata wayangnya itu.
Saat Rey, Talita dan Doddit masih menunggu Presdir Nicholas dan Metta.
Yang di rumah sudah tampak cemberut dan mendekap batal sofa.
"Kak Richi. Harusnya aku yang nangis. Bukan Kak Richi."
"Aku nangis bukan karena itu. Baru kali ini, Daddy marah sama aku. Aku harus jalan kaki. Mana jauh banget. Nah, lihat ini sepatu kesayanganku. Jadi lecet begitu."
"Bisa beli lagi sepatunya. Lagian, cuma lecet sedikit."
"Lovie, kalau aku itu sudah sayang. Aku benerin ngejaga banget."
Ampun, wajah pria dewasa satu ini, malah semakin menggemaskan ketika sedang cemberut.
"Kak Richi. Biar aku lepasin sepatunya."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri."
"Ya sudah, jangan manyun begitu."
"Lovie, kamu nggak ingin pulang ke rumahmu?"
Lovie hanya menggelengkan kepala.
Mereka berdua duduk di ruang tamu, yang ada di rumah sederhana. Setelah Richard sampai di rumah. Mommy Nancy juga telah pergi.
"Kenapa tidak pulang? Aku saja kalau di usir nggak mau, apalagi jauh dari orang tua."
"Soalnya, Kak Richi belum merasakan punya ibu tiri." Ucap Lovie dan ia jadi duduk di sebelah Richard.
Richard berkata "Ibu kandungku sudah berubah seperti ibu tiri. Ya sama saja."
"Tetap berbeda. Meski Ibu tiriku itu wanita yang hebat. Tapi, aku tidak suka padanya."
"Kelau dia hebat, kenapa kamu minggat?"
"Ya nggak suka aja. Ibu itu sudah mengambil milik Mamiku. Rasanya, aku belum rela."
"Aku tidak akan mencari tahu tentangmu. Aku tidak peduli."
"Aku juga nggak mau cerita sama Kak Richi."
"Terus, sampai kapan kamu akan tinggal disini?"
"Sampai aku melahirkan!"
"Yakin banget kalau kamu bisa hamil."
"Kak Richi kok ngomongnya begitu."
"Ahh, terserah kamu saja. Aku mau istirahat. Kamu jangan gangguin aku."
"Oke."
Richard dengan wajah masam dan cara berjalanannya sudah terlihat malas sekali. Apalagi, penampilannya sudah acak-acakan.
Bagaimana tidak. Barusan saat jalan kaki, Richard terlihat oleh Jihan. Richard ngumpet-ngumpet saat di kejar Jihan. Bahkan, sampai menginjak tai kucing. Pantas saja sepatunya lecet, orang di gesek-geessekin ke pagar tembok rumah orang.
Nah, pemilik rumah, kebetulan keluar bersama guguknya. Melihat Richard yang menggesek sepatunya di pagar rumahnya. Eh.. Bukan dikejar Jihan lagi, malah dikejar-kejar guguk besar.
Richard, malang sekali pagimu ini.
"Uuh, bau banget. Untung saja Lovie tidak memegang sepatu ini."
__ADS_1
Richard menjepit hidungnya dengan jari tangan kanannya. Kemudian, tangan kirinya sudah menjijing tali sepatu pantofelnya.
Richard menggerutu "Hissh, ini semua gara-gara Daddy. Aku harus minta ganti rugi, 20 kali lipat dari harga sepatunya."
Tok Tok Tok
"Aku tidak mau diganggu." Teriaknya.
Richard memasukan sepatunya dalam kotak dan nanti akan memperlihatkan kepada sang Daddy.
"Kak Richi, ponsel kamu bunyi."
"Abaikan saja." Teriaknya nyaring, dari kamar tidurnya.
Lovie masih menatap layar ponsel itu, ada nama Jihan.
"Jihan??"
Lovie mengingat, kalau semalam gadis yang datang ke kamarnya itu si model terkenal.
"Jihan, apa yang di hotel?! Dia juga mengenal Kak Richi. Apa ini, ada hubungannya dengan Bapak Germmo?!'
Padahal, Lovie sudah mendengar cerita dari Nyonya Nancy. Namun, Lovie tetap berfikir kalau yang namanya Richard itu, Bapak Germoo, pemilik aplikasi Box Tampan.
"Apa Jihan juga suka bermain di aplikasi itu? Mungkin ingin bersenang-senang. Tapi, Kak Richi sudah sama aku."
Lovie akhirnya membawa ponsel Richi ke dalam kamarnya. Lovie juga mengunci kamar tidurnya.
Kasur bekas pergulatan pertamanya, masih berantakan dan Lovie sudah membiarkan noda-noda itu terlihat jelas. Agar Richard tidak menyiksanya lagi. Pikiran polosnya begitu. Padahal, Lovie yang merenggut keperjakaan Richard.
Laki-laki mana yang tidak tergoda, bila sudah diencup-encup, dielus-elus sampai diremass gemas.
Untung saja, Lovie belum pengalaman. Meski tata caranya Lovie menyontek dari aplikasi, Richard tetap merem melek dan dibawa terbang melayang.
Aauuu, sensasinya bikin Richard terngiang-ngiang.
"Hallo Beb."
"Iya, Hallo." Suara Lovie manis-manis gimana gitu. Lembut banget pokoknya.
"Ini siapa?" Tanya Jihan yang dari seberang jauh di dalam mobil. Sambil menatap ke rumah mewah, milik Presdir Nicholas.
"Harusnya, aku yang tanya ini siapa?"
"Aneh." Gumam Jihan.
Lovie yang tampak terngkurep dengan kedua tangannya yang memegang layar. Malahan, suaranya panggilannya di loudspeaker.
"Richardnya dimana?"
"Di Aplikasi."
"Aplikasi?"
"Iya, di aplikasi Box Tampan."
Jihan penasaran, "Apaan itu, aplikasi Box Tampan?"
"Bukannya kamu dengan aku, itu sama." Lovie suaranya jadi kemayu.
"Apa aku salah nomor??" Batin Jihan. Ia melihat ke layar poselnya.
Richard mengetuk pintu kamar Lovie.
"Hello, kamu maling ponsel ya?!"
"Idih, siapa juga yang maling ponsel." Balasan Lovie, lebih sewot dari Jihan.
"Kok jadi mirip suara boncil semalam?" Batin Jihan.
Lovie membuka pintu kamar, Richard sudah menatapnya.
"Gadis kecil, apa kamu punya duit?"
"Owh, pasti buat berobat Ibu Nancy."
"Suara ini, mirip Richard." Celetuk Jihan.
__ADS_1