Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bab. 17. Mengurus Bayi Tampan


__ADS_3

Masih suasana di siang hari. Di kediaman Kakek Nicholas.


Mama, Papa, Kakek dan Neneknya. Dikejutkan sosok bayi yang menangis.


Owee'


Owee'


"Lucas, itu bayi siapa??" Lucas yang mondar-mandir menggendong bayi.


Bayi usianya belum genap 1 bulan. Terlihat rewel. Lucas menggendong bayi, dan memegang botol susu.


Ini kali pertama, Lucas menggendong bayi. Dia terlihat sangat kerepotan.


Di ruang keluarga dan bayi itu tidak henti menangis.


"Mama, tolong gendongin. Aku capek banget ini. Dari tadi, bayinya nangis terus nggak mau diam." Ujarnya Lucas.


Semuanya, yang baru tiba, satu-persatu duduk di sofa mewah.


Mereka sibuk memandangi Lucas, yang sedang menggendong bayi.


"Jelasin dulu sama Mama! Itu bayi siapa? Kenapa bisa ada di rumah kita?"


Mama Lovie setelah dari Mal Haha, tadi mampir dulu ke kantor Mama Talita. Jadinya, tiba di rumah paling terakhir. Papa Richard lebih dulu datang, tapi Papa Richard tampak diam saja dan hanya memandangi Lucas yang mondar mandir kaya setrikan.


Lucas terlihat rempong saat tangan kirinya menggendong bayi dan tangan kanan pegang dot bayi itu.


"Cup sayang. Anak tampan. Nggak boleh rewel ya sayang." Ucapnya Lucas dan berusaha menenangkannya.


"Lucas. Jawab Mama! Itu anaknya siapa?'


Latte yang baru selesai mandi dan sudah tampak rapi, tiba-tiba muncul ke hadapan keluarganya.


"Sayang, sini sama Daddy" Ucapnya Latte.


"Daddy??!" Keluarga itu, terkejut.


Lucas berkata "Ini biangnya. Biar dia sendiri yang jelasin sama kalian semua. Tanganku pegel banget. Kalian nggak mau bantuin malah tanya ini itu, bikin bayinya makin rewel."


Lucas, lantas duduk di sofa dan meregangkan kedua tangannya.


Bahkan, sampai tangan kirinya merasakan kesemutan.


"Uu, sayang. Maafin Daddy. Lama mandinya." Ucapnya Latte dan tampak biasa saja, tidak ragu untuk menyebut dirinya Daddy.


Ke empat orang yang duduk di sofa. Menunggu kepastian dan mereka tampak bersedekap.


Terlihat kompak dan hanya menatap ke arah bayi, yang ada dalam gendongan Latte Naa Rilova.


"Latte, dia anak kamu?" Tanya sang Mama.


Tadi, dikejutkan karena lamaran putrinya.


Sampai rumah, tahu-tahu anaknya pulang dari luar negeri dan membawa bayi. Panggilnya Daddy, berarti bayi itu, anaknya Latte. Bukan anak orang lain.


"Sini. Biar Mama yang gendong. Kamu, harus jelasin sama kita semua. Ini bayi siapa? Terus, siapa Ibunya dan kenapa, bayi ini memanggil kamu Daddy?"


"Sssth, Mama tenang dulu. Ini bayiku lagi anteng."


Mama Lovie kembali duduk. Monoleh ke sang suami, menyenggol lengan suaminya.


Papa Richard berkata pelan "Mama yang tenang, Papa juga nggak tahu apa-apa."


Papa Richard menoleh ke arah Nenek Nancy, Nenek Nancy berkata "Apa kamu lihat-lihat Mommy. Mommy nggak tahu masalah bayi itu. Putramu sendiri yang membawa bayi itu kemari. Sumpah! Mommy nggak tahu apa-apa."


Nenek Nancy menoleh ke sang suami. Kakek Nicholas menatap ke arah istrinya "Jangan menodong aku. Aku juga tidak tahu apa-apa. Aku terakhir, bulan lalu terbang kesana. Latte tidak punya pacar. Hamil pasti 9 bulan. Apa dia, seperti Richard. Pakai sewa rahim perempuan."


Lucas jadi memicingkan matanya ke arah sang Kakek. "Kenapa Kakek jadi mengungkit proses kelahiranku? Apa salahnya Papa berbuat itu, Kakek nggak mau aku lahir ke dunia ini?"


"Lucas, Kakek bukan mengungkit soal kamu. Kakek cuma penasaran. Itu bayi bisa lahir dari perut Ibu mana?"


Lucas berkata "Yang pasti, dari perut Ibu bayinya."


Sang Kakek jadi terdiam saja. Papa Richard mulai bangkit dari sofa dan mendekati bayi itu. Ingin melihat wajah bayi itu.


"Apaan sih, ngintip-ngintip. Lagi bobok juga digangguin." Ketusnya Latte, dan sama arogansinya dengan sang Papa.


"Papa cuma penasaran." Papa Richard tetap melihat lebih dekat.

__ADS_1


"Hish, Papa. Nanti bayiku nangis."


"Papa nggak bikin dia nangis."


Papa Richard jadi pergi lagi. Anaknya tampannya yang ini memang sewot.


Bahkan anak pertamanya. Si tampan Lucas, semenjak mengenal Ibu Jihan, juga lebih sensian. Susah untuk diajak bicara. Apalagi, kalau ada yang bilang. Lucas bukan anaknya Mama Lovie. Pasti, Lucas jadi hareudang, kayak Papa Richard.


Seorang pelayan, datang mendekat "Tuan Latte, kamar bayinya sudah siap. Biar saya saja yang menggendongnya."


"Iya Sus. Nanti kalau rewel. Jangan lupa, kasih rekaman suara Mommynya."


"Baik Tuan Latte."


Lucas memeluk bantal sofa dan ia berkata "Latte. Buruan jelasin sama semuanya. Aku nggak mau jelasin sama mereka. Percuma juga aku jelasin. Kalau mereka bakalan tanya sama kamu."


Latte duduk, di sebelah Lucas.


"Kenapa? Kalian semua lihatin aku begitu??" Latte juga merasa aneh. Bahkan, dia juga baru menyesuaikan dirinya untuk merawat bayi itu.


"Cepat katakan sama Mama. Bayi itu anaknya siapa? Lalu, Mommynya dimana??"


Latte tersenyum, meski rasanya terlalu pahit untuk menjelaskannya. "Itu bayiku. Mommynya pergi ninggalin aku."


"Bayi kamu??!" Mama Lovie syok dan semakin bingung.


Kali ini, nafasnya lebik sesak lagi. Sampai memegang erat tangan suaminya.


Nenek Kakeknya, hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan.


"Latte??" Suara Nenek Nancy juga tertahan. Rasa sesaknya, sampai menghalangi tenggorokannya.


Semua, yang ada di ruangan itu sangat kaget. Bahkan, tidak pernah terdengar dari pelayan maupun pengawal Latte. Kalau Latte punya kekasih. Latte juga selalu fokus dengan kuliahnya. Apalagi, saat ini sudah menyusun skripsi.


Papa Richard, bertanya kepada istrinya "Sayang, kamu tidak apa-apa?"


"Iya. Aku masih sanggup untuk mendengarkannya."


Latte tetap berusaha tenang. Meski rasanya akan gagal menahan air matanya.


Tetesan air mata itu, sudah menjawab rasa yang tertahan lama.


"Vanilla?? Vanilla?!"


Sang Mama tertegun dan rasanya tidak sanggup untuk mendengarkan lagi.


"Sayang, kamu mendingan istirahat dan nggak usah dengerin omongan Latte."


"Aku, kuat. Aku akan mendengarnya."


Latte berkata "Padahal, cuma ditinggal terbang ke negara lain. Tapi, hatiku rasanya hancur berkeping-keping."


Hikss, nangisnya jadi lebay. Padahal, tadi sudah merasa hatinya tersiksa.


"Kamu bertemu Vanilla? Terus, kalian menikah diam-diam?"


"Waktu itu, kita menikah juga berdua saja. Disana, nggak bisa bikin surat-surat nikah. Aku sama Vanilla statusnya mahasiswa. Vanilla dapat beasiswa magister, sekarang sudah pindah ke negara lain. Aku belum selesai skripsi. Jadi, bayi kita nggak ada yang merawat. Aku ajak pulang kemari. Biar dirawat sama Mama. Terus, aku mau minta tolong sama Papa. Buat, urusin semua surat-surat pernikahanku sama kartu keluarga kecilku."


Lucas, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Papa Richard sudah menggaruk-garuk dahinya. Rasanya ada yang gatal.


Suasana jadi terasa hening. Hanya menatap Latte.


Latte perlahan tersenyum, tidak merasa bersalah sedikitpun. Bahkan, setelah menikah diam-diam.


"Mama, nggak mau merawat bayi." Jawabnya Mama Lovie terlalu sewot.


"Yah,, kok gitu. Padahal, Milo cucunya Mama." Latte jadi bingung akan sikap Mamanya. Bukannya senang, tapi berubah sewot.


Milo dari bahasa Jerman, persamaan dari kata Miles. Yang artinya Prajurit laki-laki.


Mama Lovie berkata dengan santai "Kamu dan Vanilla yang membuatnya. Jadi, kalian berdua yang harus menjaganya. Bukan Mama."


Papa Richard mengelus rambut istrinya "Istriku semakin pintar. Sayang, lebih baik kamu istirahat siang. Biar kamu tetap awet muda."


"Iya. Sepertinya, kita harus bikin adik buat si kembar nakal. Ayo kita ke kamar. Latte sudah bisa membuat anak. Jadi, aku nggak perlu mencemaskan dia lagi."


"Uu, sayangku makin hebat mikirnya. Ayo sayang. Kita ke kamar saja. Nggak perlu pusing mikirin anak-anak kita." Ucapnya sang suami dan segera menggandeng istrinya pergi dari ruangan ini.

__ADS_1


Mama Papanya pergi dan Lucas tersenyum senang.


Lucas berkata "Urus bayi kamu sendiri. Aku juga harus ke kafe."


Lucas sekarang, ketularan tengilnya Lily. Malah menyendir adik tampannya itu. "Nikmatnya hidup menjomblo.. Aaah. Nggak perlu mikirin cewek yang endingnya bikin capek pikiran dan tenaga. Duh, tangan sampai pegel."


Latte berkata "Baiklah. Terserah kalian semua. Nggak ada yang mau peduli sama aku dan Milo."


Nenek Nancy memegang pinggang "Aduh, Nenek kena encok. Pegel banget. Nenek juga mau istirahat di kamar. Nenek sekarang sudah tua. Nggak bisa lagi ngurusin bayi."


"Latte, Kakek antar Nenek ke kamar. Kamu, bisa minta tolong sama pelayan rumah."


"Ayo sayang, kita ke kamar."


Latte hanya duduk di sofa dan sangat kesal. Merasa, kalau semua orang yang ada di rumah ini. Sangat menyebalkan dan tidak mau bersimpati sama dia.


"Huh! Kalian menyebalkan."


"Kalian semua tega sama aku."


"Tapi, aku masih punya Lily. Aku harus memberikan Milo sama Lily. Dia nggak mungkin menolak aku."


Hal sebenarnya, Kakek Nenek tahu tentang kenakalan Latte. Namun, memilih diam dan tidak mengatakan apapun kepada kedua orang tua Latte. Sedangkan soal bayi, mereka benar-benar tidak tahu.


Karena, memang Nenek Nancy yang mengantarkan Latte kuliah di luar negeri. Tidak tahunya, Latte malah bertemu Vanilla.


Latte memang sengaja menjebak Vanilla.


Padahal, mereka berdua mahasiswa berprestasi. Pikirnya Latte akan mudah menaklukan Vanilla, agar tidak pergi dari hidupnya lagi. Ternyata, dia salah. Setelah Vanilla melahirkan, malah pergi meninggalkannya.


2 jam kemudian.


"Ini bayi siapa?" Lily jadi bertanya-tanya.


Bayi mungil dan tampak anteng. Sudah tampak boboan di stroller.


Tiba di Lily Penthouse, Troy dan Lily malah medapatkan bayi.


"Adikku yang sangat aku cintai. Aku tidak bisa menemui kamu. Aku titip bayiku sama kamu. Namanya Milo. Bacalah panduan merawatnya. Hanya kamu, satu-satunya yang bisa aku andalkan. Aku harus kembali ke tempat kuliahku. Tolong jaga bayi tampanku dengan penuh kasih sayang. Terima masih. Latte."


Tulisan tangan Latte ada di atas meja. Lily dan Troy tiba di apartemen, lalu Latte pergi.


Setelah memandangi Lily Penthouse dari kejauhan. "Maafin Daddy." Latte dengan ketegarannya, ia berjalan pergi.


Lily berkata "Hallo bayi tampan. Mommy kamu kabur lagi ya? Uu, sayang."


Troy bertanya "Ini bayi siapa?"


"Bayiku." Jawabnya Lily.


"Bee. Aku serius."


"Iya. Iya. Ini baca sendiri. Ini bayinya Kak Latte."


"Kembaran kamu sudah punya bayi?!"


"Iya. Tapi, aku juga baru tahu ini. Aku tahunya, dia dekatin cinta kecilnya. Tapi, sering ditolak gitu. Pasti, Kakakku ditinggal lagi sama kekasihnya."


"Cinta kecil?"


"Iya. Dulu ada anak kecil yang Kak Latte suka. Terus bertemu disana. Tempat Kak Latte kuliah."


Hanya Lily yang tahu semuanya. Bahkan, Lily tinggal di Penthouse bersama Troy, Latte juga tahu.


Mereka saling bertukar kabar. Karena, mereka berusaha memahami satu sama lain. Namun, Lilly dan Latte tidak seharmonis itu. Terkadang, mereka ribut besar.


"Aaa, ini kesempatan aku. Karena bayi ini, aku akan bisa tahu. Seberapa sabar Om Bule akan memanjakan aku." Batinnya Lily.


"Om Bule, karena bayi ini sudah disini dan dia anakku. Om Bulle, juga harus mau menjaga bayinya."


"Aku harus menjaga bayi?"


Lily merangkul lengan tangannya, "Bayi itu juga seperti anakku. Anggap saja, kita berdua ayah dan ibu angkat bayi ini."


"Bee. Itu, tidak akan mudah."


"Ayollah, Daddy."


"Daddy??"

__ADS_1


"Aku Mommy dan Om Bule, Daddy bayiku."


__ADS_2