
"Selamat pagi Bos." Para staff yang datang menyapa.
Richard, CEO Rich Corporation, yang sudah duduk di kursi keagungannya.
Wajah itu, sudah tampak beku dan tidak ada senyuman manis, saat mendapat kejutan manis dari bawahannya.
"Metta, Bos lagi bad mood." Bisikan Doddit, ke sosok sexy yang berdiri di sebelah kanannya.
Metta memasang senyuman tipis, menatap ke wajah para staff andalan Bos Richard, dengan kode tangan agar mereka semua pergi dari ruangan Bos Richard.
Milie yang membawa buket bunga lily casablanca, tampak cantik dan sangat fresh.
Tanpa berkata apapun, hanya meletakan di meja kerja dan setelahnya pergi. Yang lainnya juga pergi.
Para staff yang sudah keluar ruangan dan mereka masih menatap Bos Richard dari dinding kaca.
Metta meraih remot dan memburamkan dinding kaca yang berukuran besar itu. Kemudian, mengatur suhu ruangan, lalu ia berdiri di hadapan Bosnya.
"Bos, nanti jam 10 ada rapat dengan pimpinan pabrik softdrink di ruangan meeting 4."
Tidak ada reaksi, Metta bertanya "Apa saya yang harus mengantikan Bos untuk memimpin rapat?"
"Aku nanti yang akan memimpin rapatnya. Kamu, pergilah ke ruanganmu."
"Baik Bos."
Doddit mengedipkan sebelah matanya dan masih berdiri di samping Bosnya.
Setelah Metta keluar, dari ruang kerja Bos Richard.
Bos Richars berkata, "Doddit, aku sudah kalah sama adiknya Rey. Dia selangkah lebih cepat dari aku."
"Bos, mereka hanya berteman. Dulu saya juga begitu. Apalagi, masa-masa SMA, masa yang paling special."
Doddit yang senyam-senyum. Richard memutar kursinya dan menendang kaki Doddit dengan kesal.
"Duh, salah lagi. Aku malah menggali lubangku sendiri." Membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
"Kamu pikir, aku bercanda. Aku serius."
"Saya tahu Bos. Saya paham. Tapi, apa Bos akan mengekang Nona Cantik? Dia masih remaja, dunia dia berbeda dengan kita. Apalagi, masa depannya masih panj..."
Belum selesai Doddit berkata panjang lebar, Richard membalasnya. "Cukup!"
Doddit jadi mingkem.
"Bos kembali dingin. Aku harus cari cara, supaya masa lalunya tidak akan terulang lagi." Batin Doddit, yang sudah mulai memikirkan cara untuk mengembalikan perasaan Bosnya.
"Doddit, aku ingin sendiri dulu."
Kalau Bos sudah bilang begitu, Doddit harus pergi dan tidak ada yang boleh masuk ke ruang kerja Bos tampan ini.
Saat Doddit keluar dari ruangan Bos Richard. Metta sudah tampak bersedekap dan menatap dirinya. Sepertinya, Metta meminta penjelasan dari sang asisten pribadi Bos tampannya itu.
"Apa yang kamu bilang padaku. Bos sudah berubah. Bos murah senyum dan bisa bersikap baik??! Preeet! Kamu kenapa menipu aku?"
"Metta cantik, awalnya memang begitu. Tapi pagi ini semuanya berubah. Anggap saja, cinderella pergi dan keadaan sudah seperti semula. Tiada ada lagi kereta kencana, dan semuanya itu hanya sesaat, di malam pesta yang indah."
"Iiih, kamu ini ngomong apaan. Intinya saja, jangan melebar kemana-mana."
"Intinya, Bos di tolak dan gadisnya pulang ke rumah. Terus, ada gebetan yang lebih muda. Puas kamu sekarang." sentakan Doddit.
Doddit juga malas, jadi beranjak pergi, Metta yang menyangga dagu, ia berkata "Doddit sudah lebay. Bos tetap begitu. Apanya yang berubah baik? Meski cewek itu mau menerima Bos dan sampai menikah, dunia Bos tetap begitu, tidak berubah. Semuanya tidak akan berubah. Hemms, pasti Bos Richard hanya berakting manis, agar tidak dipaksa menikah oleh orang tuanya."
Doddit yang memasuki ruang kerja para staff dan para staff andalan itu melihat ke arah Doddit. Bu Choi juga tampak menggeleng.
"Bu Choi jangan sensi padaku. Aku bersumpah, kemarin Bos Richard memang beneran berubah baik."
"Iya, aku percaya. Mungkin itu karena efek obat bius. Biasanya, orang yang habis operasi memang ada yang berubah oleng. Menghalu."
"Sumpah Bu Choi, saya melihat sendiri. Tapi, saya tidak sampai merekamnya."
"Anggap saja, aku percaya padamu Mr. Doddit. Ayo, kita kembali bertempur dengan semua berkas ini."
"Yah, aku nggak jadi ambil cuti kalau begini." Keluhnya Milie.
Doddit tersenyum, dan tangannya sudah bersandar meja Milie. "Milie cantik, kamu tenang saja. Kamu pasti bisa ambil cuti liburmu."
Milie jadi merebahkan kepalanya, di atas meja "Semoga saja, ada keajaiban yang turun dari langit dan merubah keadaan kantor kita."
Doddit berkata "Hanya ada satu cara. Nona Cantik, harus kembali kepada Bos Richard."
__ADS_1
"Siapa dia? Apa gadis itu?" Tanya Juno dan ia sudah tampak antusias.
"Benar. Aku harus membawanya kemari."
"Aku juga siap membantu, bila diperlukan."
Doddit, memegang pundak Juno, "Aku bisa berusaha sendiri. Kamu, tolong buatkan kopi untuk aku."
"Siap laksanakan." Ucapnya Juno dan segera berjalan menuju ke pantry.
Di ruangan ini, Doddit yang lebih berkuasa, namun dia tetap sungkan dengan Bu Choi. Menurutnya, Bu Choi sosok yang paling dewasa dan serius dalam pekerjaan.
Yang lainnya, juga berharap kalau Bos Richard bisa mengendalikan dirinya. Agar tidak membawa beban pribadi ke kantor.
Sering kali, para staff ini mengeluh akan sikap Bosnya yang dingin dan arogan. Tapi, mereka hanya bawahan yang bekerja demi sesuap nasi.
Hiks, sungguh pagi yang tidak asyik. Disaat semuanya sudah semangat menyambut Bos tampannya yang kembali ke kantor. Eh, Bos tampannya malah berwajah muram, masam dan dingin.
Alih-alih Bosnya itu menatap wajah mereka. Membalas ucapan selamat pagi dari bawahannya saja, tidak mau. Bos Richard, memang tidak pernah bersikap ramah kepada semua bawahannya.
"Aku tetap nggak bisa, melihat orang yang aku sayang, bersama pria lain." Richard yang menggerutu dan berbaring di sofa.
Ternyata, Richard sosok yang dewasa ini, memilih kabur dari hadapan Lovie.
"Kenapa aku harus lari? Lovie sudah nggak punya kekasih. Tapi, tadi Ron??"
Hiks, Richard berbaring dan menghadap langit-langit, perlahan tangannya meraih ponsel, yang ada di meja sebelah kirinya.
"My Lovie. Apa karena itu, kamu nggak mau menikah dengan aku??"
Richard berfikir kalau Lovie memang masih remaja. Perjalanan Lovie masih sangat panjang, apalagi untuk menikah dengan dirinya dan harus menjadi pendampingnya seumur hidup.
"Aku juga tidak akan bisa mengekang dia." Gumam Richard dan ia malah memandangi foto Lovie yang tampak dirangkul olehnya.
Peace!' Gaya yang ditampilkan oleh Lovie, saat pengambilan foto selfie itu.
Kemarin, mereka sempat berswafoto dan memasang di layar utama ponselnya.
"Mommy, aku patah hati untuk yang kesekian kalinya."
Richard berkali-kali merasa patah hati akan ucapan dan tindakan Lovie. Apalagi, pagi ini tadi. Lovie dalam dekapan Ron.
Richard, juga sangat mengenal sosok Ron.
Ronaldo Gi Vanco, sudah tidak memiliki Ibu, dia hidup dalam asuhan Nyonya besar, istri pertama Presdir Hanz.
Meski Rey dan Ron, saudara satu Bapak. Namun, mereka berdua tidak dekat dan Ron sosok yang kaku.
Menatap dirinya pada layar kamera. "Aku juga masih muda. Aku tidak setua Om-om. Kenapa My Lovie tidak mau menikah denganku?"
Ia kembali mengingat, akan perkataan Lovie di hotel DeNuca.
"Tampan, hamili aku!"
Kata itu, masih terus tersimpan dalam pikiran Richard. Bahkan, suara Lovie kala itu, juga terngiang-ngiang di telinganya.
"Aku tampan, aku pasti bisa meraih apa yang seharusnya menjadi milikku." Batinnya dengan semangat.
Richard keluar dari ruangannya dan melihat ke Metta,
"Metta, sudah waktunya jam pertemuan."
"Iya Bos."
Metta yang sudah siap dengan semua berkasnya. Tampak berjalan di sisi kiri Bos tampannya ini.
"Apa kamu punya pacar baru??"
"Tidak Bos. Memangnya ada apa?"
"Kontrak kerja kemarin, kebanyakan angka 0. Aku pikir kamu terlalu sibuk pacaran sampai tidak melihat nominalnya."
"Masa' sih' Bos, saya salah ketik."
"Tanya saja sama mantan kamu. Sepertinya, kalian semua memang sengaja menjatuhkan aku di hadapan Bos sebelah."
"Bos, kita bekerja keras untuk Bos. Mana ada, kita berniat seperti itu."
Richard menatap sadis dan tepat pada mata cantiknya Metta. Metta jadi salah tingkah dan memundurkan langkahnya.
"Kamu masih ingin bekerja denganku, atau kamu ingin pergi tanpa surat rekomendasi dari Rich?"
__ADS_1
"Maaf Bos. Saya salah. Saya minta maaf. Kemarin, saya lupa memakai kacamata. Saya pikir, saya sudah benar membuat kontrak kerjasamanya."
Pintu lift terbuka, Richard masuk lebih dulu. Dia dengan senyuman anehnya, berkata "Naik lift sebelah. Aku tidak mau ada mala petaka."
Richard sudah mengepalkan tangannya, dan Metta mengerti kalau Bosnya sangat marah padanya.
Sedikit menduduk dan Metta berjalan pergi ke lift sebelah, menghembuskan nafas kasarnya.
"Doddit sialan! Katanya Bos berubah baik. Buktinya, semakin menakutkan. Aku sumpahin liftnya mati!" Suara kesalnya Metta.
Tombol lift, ia tekan.
Degh!
Baru dia berkata begitu, liftnya beneran mati.
"Apa alam semesta berpihak padaku??"
Metta melihat ke kanan kiri. Tidak ada siapapun.
"Semoga saja tidak ada yang mendengar suaraku." Batinnya Lega.
Doddit menepuk bahunya.
"Kamjagiya!!"
"Why??"
"Ini, liftnya kok mati."
"Mati???" Doddit jadi melotot.
Doddit jadi menatap, ke pintu elevator itu.
"Kenapa bisa mati?" Doddit meraba pintu itu, sepertinya mendengarkan suara.
"Doddit." Suara Metta lemah lembut.
"Iya kenapa? Apa aku ganteng?"
Metta mengangguk, lalu berkata "Ada masalah besar."
"Ada masalah besar???"
"Iya." Ucap Metta selembut salju. Bbrrr, dingin, kasar dan membeku.
"Memang, kamu tertimpa masalah apa??" Doddit yang merangkul pinggang Metta.
Metta berkata "Bos. Ada di dalam lift."
"Bos??!!" Doddit terkejut.
"Iya. Bos Richard ada di dalam situ. Kita dalam masalah besar."
"Kenapa nggak bilang?!"
"Ini, aku bilang sama kamu."
"Hissh, kamu kelamaan ngomongnya."
Doddit segera menghubungi pihak teknisi dan keamanan gedung perusahaan ini
"Metta, sana pergi."
"Pergi kemana?"
"Ke lantai 4."
"Apa aku harus jalan kaki ke lantai 4??"
Doddit masih memegang ponselnya dan berkata "Sana pergi, pimpin rapatnya."
"Doddit, apa aku harus jalan di tangga darurat??"
"Iya. Sana buruan jalan. Kamu harus menggantikan Bos."
"Aku pakai high heels. Kita di lantai 17."
"Metta. Apa aku harus menggendong kamu??"
"Huhf!"
__ADS_1