Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Hasil Kompetisi


__ADS_3

Masih kelanjutan dari bab sebelumnya.


Pandangan mata Papa Richard, hanya tertuju kepada putra tampannya.


"Papa."


"Ayo, ikut Papa."


Latte berpindah, ke tangan kanan sang Papa. Kedua tangan mungil mengalung di leher Papanya.


Papa Richard membawa putranya pergi bersamanya dan masuk kembali ke aula acara.


"Papa aku yang pertama." Ucapnya yang sangat senang.


Papa Richard masih menggedongnya dan mencium pipi kirinya "Iya sayang. Latte memang anak yang hebat. Papa, bangga sama Latte."


"Papa aku pasti juara pertama." Latte yang sudah percaya diri.


Papa Richard jadi gemas dibuatnya. "Iya sayang. Latte juara."


Papa Richard memberi waktu kepada istrinya untuk berbincang dengan Ron. Tidak ada salahnya memberi istrinya kebebasan, biar tidak merasa jenuh kepada dirinya. Apalagi, sudah lama mengekang dan membatasi pergaulan istrinya.


Toh, mereka hanya mengobrol dan banyak orang di sekitar mereka. Tidak baik juga, bila terus menerus posesif, padahal istrinya tidak pernah mengekang dirinya.


"Lovie, bagaimana kabar kamu?" Tanya Ron, bersikap santai.


Pria ini sudah berubah, tak lagi dingin seperti waktu pertama bertemu Lovie. Malahan, Lovie mengira Ron akan kembali dingin dan cuek seperti awal bertemu di SMA.


"Kabarku baik Ron. Sangat baik. Terus, kamu sendiri gimana?"


Mama Lovie cukup tenang, saat menatap wajah sang teman.


"Kabarku, ya beginilah. Aku sudah banyak berubah. Apa kamu tidak melihatnya?" Senyuman Ron, lebih manis.


"Iya. Aku sampai tidak mengenalimu."


Ron kembali berkata, "Apa nanti siang, kamu ada waktu senggang?"


"Emh, aku tidak ada acara. Setelah acara ini selesai. Aku hanya akan berada di rumah."


"Apa bisa, kita makan siang bersama?"


Lovie berkata "Ya tentu saja. Kamu bisa ke rumah."


"Bukan begitu maksud aku. Kita berdua makan di luar. Ada banyak hal, yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ucapnya Ron dan mereka saling menatap santai.


"Baik. Nanti, aku usahakan." Balasnya Mama Lovie canggung. Karena, ia juga bingung. Apakah suaminya, akan mengijinkannya atau akan melarangnya.


"Oke. Aku akan menunggu kabar darimu."


Ron tetap pada perasaannya, tenang, tidak kaku dan tidak canggung. Sangat berbeda, ketika semasa SMA.


Ron dulunya sosok cuek, susah bergaul dan tidak banyak bicara dengan lawan jenisnya.


Sekarang, Ron memang sudah dewasa. Pola pikirnya juga sudah lebih dewasa. Apalagi, usianya hampir menginjak 24 tahun.


Setelahnya, Ron pergi dan Mama Lovie masih di ruangan itu. Banyak wali murid, yang menyemangati putra putrinya.


Tampak duduk dan melihat ke layar besar yang terpampang di dinding.


Dinding penyekat ruangan, antara ruangan kompetisi dan ruangan tunggu di aula luar.


Suasana semakin tegang, saat para peserta dari murid-murid SMA yang berkompitisi dengan sengit.


Mereka kebanyakan dari murid kalangan A, yang membawa nama besar sekolahnya.


Ada pula, murid dari SMA pinggiran yang bisa dihitung jari.


Mantan guru SMA, menepuk bahunya "Lovie."


Seketika Mama Lovie menoleh dan mendapat sapaan dari seorang guru Matematika, yang sekarang bergelar Ommah Diana.


Mama Lovie menampilan senyuman manisnya, saat bertemu mantan guru SMAnya. "Bu Diana."


"Latte memang hebat. Calon penerus Sheen Internasional memang harus berbakat" Ucapnya yang begitu bangga, kepada putra mantan muridnya ini.


"Bu Diana bisa saja." Mama Lovie-pun jadi merasa yang turut dibanggakan oleh mantan gurunya ini.


"Aku heran, Latte kamu kasih makan apa. Bisa sampai sepintar itu?"


Mama Lovie tersenyum, ia berkata "Latte suka minum susu kedelai, makan telur ikan dan roti gandum."


"Kamu ini, masih polos saja. Aku ini cuma bercanda."


"Maaf Bu Diana. Soalnya, saya juga heran. Mungkin, karena keturunan Mami Raisa."


"Iya. Mungkin saja begitu."


Bu Diana masih tetap seperti dulu, meski sudah punya cucu dari anaknya yang bernama Rey. Tetap santai dan merasa awet muda. Bahkan, setiap bertemu Lovie selalu jadi kegemesan sendiri. Selalu menggoda mantan muridnya yang polos ini.


Mama Lovie bertanya "Memangnya, Bu Diana tadi duduk di sebelah mana? Dari tadi, saya tidak melihat Bu Diana."


"Aku di ruang dalam, bersama panitia acara."


"Owh pantas saja. Saya tadi, tidak melihat Bu Diana. Tahu-tahu, Bu Diana sudah menepuk bahu saya."


Lovie alumni SMA Sheen dan Bu Guru Diana belum juga ingin pensiun dari pekerjaannya.


"Lovie, minggu depan, Sheen akan ulang tahun. Apa kamu mau datang?"


"Bu Diana tahu sendiri. Anak-anak mana mau ditinggal pergi Mamanya."


"Iya. Nyonya Richard, pasti semakin sibuk. Mengurus suami dan 3 anak yang hebatnya luar biasa." Sindiran halus dari Bu Diana, dan memang begitu adanya. Bu Diana paham betul, pola tingkah anaknya Mama Lovie dan Papa Richard. Pastinya, sangat berbeda dengan cucunya, yang gemoy nan manis itu.


"Emh, bukan cuma sibuk. Kadang ada yang minta ditemani, kadang ada yang nggak mau ditinggal jalan. Terus, ada yang tiba-tiba rewel tanpa sebab. Emh, saya cuma sibuk mengurus anak. Kalau Papanya, ya begitulah."


"Namanya juga anak-anak. Tapi, kamu juga harus menjaga kewasaran. Mama muda moodnya mudah naik turun."


"Itu dulu Bu Diana, waktu habis lahiran. Sekarang, sudah terbiasa. Hanya susah membagi waktu, untuk si kembar dan Kakaknya."


"Lovie. Aku pergi dulu ke ruang sponsor. Ada hal penting."


"Iya Bu Diana. Silakan."


Latte duduk di aula bersama Papa, malah sibuk memandangi Ron yang duduk di sebelah Papanya.


"Ron, aku sudah memberi waktu untuk kamu mengobrol dengan istriku. Tapi, kamu juga jangan terlalu senang dulu." Bisiknya Papa Richard.


Ron menatap jauh ke sebarang ruangan, dan nampak Mama Lovie yang baru masuk ke ruangan ini.


"Soal itu, aku tidak masalah. Aku hanya berteman saja. Lagian, aku juga akan segera menikah."


"Baguslah, kalau kamu sadar diri. Kamu juga bukan anak SMA lagi, yang pandai merayu Lovie dan mengajaknya kesana kemari. Alasannya bikin tugas, nggak tahu ngedate."


Ron, jadi menoleh ke Papa Richard, ia tersenyum "Kalau Kak Richard masih menganggap aku begitu. Dengan senang hati, aku mendekati Lovie. Lovie masih muda, sepantasnya bersama pria yang muda, seperti aku."


Papa Richard semakin hareudang.

__ADS_1


Ting!


Waktunya penentuan sang juara.


"Papa, aku mau sama Mama."


"Iya sayang."


Latte berjalan, ke arah dimana Mamanya berdiri bersama beberapa wali murid yang menantikan hasil kompetisi hari ini.


"Bu guru Lovie."


"Iya. Vani bisa mengerjakan soalnya?"


"Iya Bu guru Lovie. Aku bisa menjawab semua soalnya."


"Anak pintar."


Sosok dingin nan sinis sudah berdiri di dekatnya, meraih tangan sang Mama yang sempat mengusap rambutnya Vanilla.


"Ini Mamaku. Bukan Mama kamu."


Karena inilah, Latte jadi ingin bersama sang Mama.


Ron berkata "Papa dan anak sama saja."


Papa Richard menoleh ke arah Ron "Apa yang kamu bilang barusan?"


"Bukan apa-apa."


Latte, jadi minta digendong sang Mama dan Vanila tampak berdiri di dekat guru-gurunya.


Mama Lovie berkata "Sayang, sebentar lagi hasil kompetisinya akan dibacakan, kamu malah minta gendong."


"Biarin. Aku maunya sama Mama."


"Iya, sama Mama."


Inilah yang dinanti-nantikan. Hasil kompetisi Olimpiade Matematika, akan segera di umumkan.


Dimulai dari kompetisi level 1, kategori anak usia dini.


MC dari panitia acara, tengah berdiri di tengah panggung acara dan segera membacakan hasilnya.


Berdebar!


Mama Lovie jadi deg-degan, ia merasa kalau dirinya yang mengikuti kompetisi ini.


"Mama."


"Iya sayang?"


"Apa namaku sudah dipanggil?"


"Belum sayang."


Bocil ini malah tutup kuping dan menghadap ke belakang. Menempelkan wajahnya ke bahu sang Mama.


MC akan membacakan dari juara-3,


Jreng jreng jreng


"Juara ke 3 jatuh kepada." Suara MC perempuan yang begitu merdu dan seperti penyiar berita televisi. Sambil melihat ke arah para peserta dan seluruh wali yang mendampingi.


Dag dig dug duwerr!


MC ini, dengan wajah yang bersemangat dan tampak senyuman manis di wajah cantiknya. Perlahan-lagan melihat kembali, ke kertas yang bertuliskan nama-nama sang juara.


Tepukan tangan dari semua orang yang ada di aula dan seruan melambungkan nama Victoria Rasanni.


Si kecil cantik nan gemoy berambut pendek, sudah berjalan maju ke atas panggung, tampak di dampingi oleh guru perempuan nan ayu.


MC yang tak kalah menarik ini, sudah tersenyum bahagia dan kembali melihat, memastikan yang dia baca nanti tidak akan salah.


"Untuk juara kedua, kategori anak usia dini. Jatuh kepada."


Jreng-jreeng-jreng.


Semuanya turut berdebar.


"Juara kedua kategori anak usia dini, jatuh kepada ananda Latte Naa Rilova dari KinderGo School."


Degh!


"Sayang, itu nama kamu dipanggil."


"Emh, aku nggak mau. Aku malu."


"Ayo jalan."


"Aku maunya sama Mama."


Hadeh! Ini bocah, malu karena dapat juara dua. Apa karena memang ingin bertingkah manja.


"Latte!"


"Latte!"


"Latte!"


Seruan menyebut namanya dan akhirnya yang berjalan Mama Lovie. Bocah ini, tetap ada dalam dekapan sang Mama.


"Ini, Latte yang mana ya?" Candaan dari MCnya, melihat Mamanya.


Mama Lovie tersenyum.


"Owh, anak ganteng kenapa? Malu ya, sama Kakak-kakak disini?"


Latte akhirnya membuka wajahnya dan menghadap ke seluruh orang yang memenuhi ruangan ini.


"Wah, ganteng banget. Kenapa kamu malu? Kamu malu sama Kakak Bestie?"


MC itu, menyodorkan microphonenya.


"Aku mau sama Mama."


Jawaban polosnya dan sang Mama semakin tersenyum.


MCnya malah kembali menggoda, "Kakak boleh nggak, tanya sama Latte?"


Mengangguk, "Iya."


"Memang benar ya, umur Latte 4 tahun?"


"Iya. Umur aku 4 tahun 5 bulan."


"Wah, hebat ya. Kamu peserta yang paling kecil loh. Semua Kakak-kakak disini bangga sama kamu. Apa kamu senang dapat juara kedua?"

__ADS_1


"Tidak."


"Kenapa tidak senang??"


"Aku harus dapat juara 1."


"Owh begitu rupanya. Makanya, Latte malu."


"Tidak malu. Aku maunya sama Mama."


MCnya jadi gemes juga. Semua orang yang melihatnya juga jadi kegemesan sendiri.


"Oke. Berarti, tahun depan tetap ikut kompetisi lagi ya?"


"Iya."


"Wah hebat. Kalau begitu, Latte harus semangat dan lebih giat lagi belajarnya. Biar bisa juara pertama."


"Iya Kakak."


"Ayo teman-temannya semuanya. Berikan tepuk tangannya untuk Latte, agar Latte bersemangat menggapai cita-citanya."


Prok-prok....


Ron, dari kejauhan bergumam "Lovie, Mama yang hebat."


"Istriku memang hebat, karena dipimpin suami yang tepat."


"Ya, terus saja memuji diri."


Papa Rey, bisa melihat situasi. Dari tadi, dia hanya seperti wasit dan mendengar obrolan dua orang yang sinis.


"Latte!!" Teriakan Om Rey dan melambaikan tangan kanannya.


Om Rey dengan bangga mengatakan, "Latte, keponakan saya."


Papa Richard saja diam saja. Yang banyak mengenalkan Latte kepada orang-orang, malahan Om Rey.


Kembali kepada MC yang membacakan juara-juara harapan. Runner 1, 2 dan 3 sudah dibacakan. Dan inilah saatnya, waktu yang ditunggu-tunggu.


"Juara pertama, kategori anak usia dini. Jatuh kepada ananda Vanilla Alexander dari TK Taman Ceria."


Latte membatin "Menyebalkan."


Vanilla dengan bangga, berjalan bersama gurunya, tangan kanannya tampak digandeng.


"Selamat Vanilla."


"Terima kasih."


Vanilla yang tersenyum, namun melirik ke Latte. Menganggap kalau Latte sangat beruntung, punya Mama yang menyayanginya.


Para juara sudah mendapatkan piala dan piagam penghargaan. Lalu, ada hadiah dari sponsor dan penggiat acara.


Para CEO tampan, berjalan ke atas panggung acara, untuk memberikan hadiah-hadiah itu.


"Latte, selamat ya."


"Terima kasih."


Tatapannya dingin, namun Ron malah tersenyum gemas dan ingin sekali menggodanya.


"Latte, gimana kalau kita makan siang bareng?"


"Lihat nanti saja."


Bahasanya, sudah seperti Mama Lovie.


Papa Richard dan Om Rey, juga tampak memberikan hadiah.


Mereka semua, jadi berfoto bersama.


Cekrek!


Satu jam kemudian.


Di kediaman Presdir Nicholas.


"Latte sayang." Mama Lovie berusaha mengejarnya, namun malah dicegah oleh suaminya.


Papa Richard berkata "Biarkan dia sendirian dulu. Biarkan dia meluapkan perasaannya."


"Sayang, tapi aku."


"Sudah, biarkan saja. Ayo kita ke kamar."


Latte yang tiba di kamar tidurnya, melempar pialanya di atas kasur.


Hiks ho ho ho.


Menangislah sudah.


Karena, dari tadi memang ingin menangis.


Apalagi, saat melihat sang Mama, yang telah mencium dan memeluk rivalnya. Hatinya jadi terluka. Ia juga kecewa karena gagal. Gagal jadi juara pertama.


Hoo. . Ho.. Hoo.


"Kak Latte, kenapa menangis?" Lily yang sudah mendekati saudara kembarnya.


"Aku benci dia. Dia merebut Mama kita."


"Siapa yang merebut Mama kita??"


Hoo ho hooo.


Lucas mendengar suara tangisan Latte, ia juga datang mendekat. Padahal, Lucas juga baru pulang dari sekolah.


"Lily. Latte kenapa menangis?"


"Katanya, ada yang merebut Mama kita."


Lucas turut tengkurap di kasur itu, dan ia mengelus rambut Latte "Jangan menangis. Mama punya kamu."


"Kak Latte, aku akan membalas dia. Dia nggak boleh merebut Mama kita." Ucapnya Lily judes.


Suara Lily memang gemas manis, cetas-cetus kalau ngomong, bibirnya sampai lancip.


"Aku benci dia. Dia sudah genit sama Mama. Dia juga dipeluk sama Mama. Aku nggak suka."


Hikkss Hoo hoo.


"Hufh, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalas anak itu." Ucapnya Lily. Dia sudah seperti anak-anak imut tapi sadis. Mirip seperti pemain sinetron.


Perlahan, Latte jadi duduk di tengah kasur.


Kedua tangan dengan jemari mungil adik perempuannya, sudah mengusap air mata saudara kembarnya.

__ADS_1


"Jangan menangis."


"Lily. Dia anak perempuan. Kamu harus membalasnya."


__ADS_2