
^^^Satu minggu kemudian.^^^
Gedung Glory, tempat pelaksaan acara olimpiade matematika.
Dari anak usia dini, hingga anak usia SMA.
Peserta dibagi menjadi beberapa regu kelompok, sesuai usia dan kemampuan dasar peserta. Nantinya, akan bersaing secara mandiri.
Latte dengan penampilan menawan, datang bersama temannya perwakilan dari sekolah. Ada teman Latte, anak laki-laki berusia 5 tahun. Lalu, ada pula yang berusia 6 tahun. Sesuai tingkatan level, anak usia dini.
Mama Lovie yang sudah tampil cantik dengan dandanan ala CEO. Kemeja putih di balut blazer warna nude dengan bawahan celana panjang senada warna blazer. Serta, memakai sepatu pantofel warna hitam dan tas selempang kecil.
Mama Lovie sudah tampak mendampingi putra tampannya ini. Mama Lovie juga tidak mau akan terjadi masalah panjang antara dirinya dan putranya. Apalagi, ini kali pertamanya, Latte akan mengikuti acara Olimpiade Matematika.
Setelah pada hari itu. Latte tidak mau bersama siapapun, kecuali dengan Mamanya. Seketika, sikapnya Latte jadi berubah manja. Makan, mandi, tidur dan semuanya serba Mama. Tidak mau dengan yang lain. Pokoknya, harus Mama. Padahal, biasanya tidak seperti itu.
"Aku ingin lihat. Seperti apa muridnya Mama, yang ingin merebut Mama dari aku." Batinnya anak ini, jadi hareudang.
Sudah sama miripnya dengan Papa Richard. Padahal anak kecil itu, juga tidak bermaksud merebut Mama cantiknya ini.
"Bu Guru Lovie." Suara gemasnya dan bertingkah manja kepada gurunya.
"Vani, kamu sudah datang. Jangan lupa berdoa, dan harus semangat."
Latte hanya melirik ke wajah itu, anak perempuan yang berusia 5 tahun dan sangat tengil. Tingkah gemas dan sangat ekspresif. Bahkan, memegangi tangan Mama Lovie.
"Bu guru Lovie harus selalu mendukung aku." Pintanya dan manja.
Terkadang seorang guru punya murid kesayangan. Begitu pula muridnya, ada guru yang gemari, bahkan sering kali bermanja dengan gurunya. Apalagi, bagi gadis kecil ini. Yang dari bayi, tidak punya orang tua kandung. Karena tragedi kebakaran yang menewaskan keluarga dan kerabatnya. Di pemukiman padat penduduk. Lalu, dari pihak daerah setempat membawa anak ini, di panti asuhan, yang dinaungi oleh pemerintah setempat.
Vanilla Alexander, nama anak kecil ini dan keturunan bule. Tampak berbadan mungil, rambut lurus nan panjang sepunggung dan sangat manis.
Latte, dari tadi memandang sengit gadis kecil ini. "Aku nggak mau kalah dari dia."
Anak sekecil ini, sudah memasang badan dan tidak mau kalah bersaing.
"Mama, aku mau pipis." Ucapnya Latte.
Vani melihat ke arah anak tampan itu, ia jadi terdiam dan perlahan melepaskan tangan Mama Lovie.
"Dia anaknya Bu guru Lovie? Dia sangat beruntung."
"Iya sayang, Mama antar kamu ke toilet." Tangan kanan Mama Lovie masih erat dipenggang oleh putranya dan ia jadi menoleh ke wajah murid manisnya ini.
"Vani, sama Bu guru Della dulu ya. Bu guru Lovie harus pergi dulu."
"Iya Bu guru."
Meski tampak wajah yang bersemangat, Vani merasa sangat gelisah.
Melihat ke sekitar aula ini, banyak orang tua yang hadir dan menyemangati putra putrinya. Kebanyakan, juga bersama guru dan Mamanya.
"Vani, ayo kita bersama peserta lainnya. Vani harus tetap bersemangat." Ucapnya Bu guru Della dan usia Bu guru yang satu ini sudah lebih tua dari Bu guru Lovie. Beliau juga sudah berkeluarga, dan anaknya juga sudah SD.
"Iya, Bu guru."
Gadis kecil ini, tampak digandeng sang guru, untuk ke kursi yang sudah disiapkan oleh panitia acara.
Papa Richard, juga melihat hal itu dari kejauhan. "Emh, jadi anak itu. Yang membuat Latte cemburu. Aku bisa mengundang dia, ke acara ulang tahun Latte."
Papa Richard malah jadi usil sendiri. Satu minggu yang tampak mengherankan, namun membuatnya bahagia.
Latte yang selesai dari toilet ia berkata "Mama cuma punyaku. Aku nggak mau membagi Mama sama dia."
Mama Lovie duduk berjongkok dan mengusap rambut putranya.
"Sayang, kamu ini bicara apa. Mama memang punya kamu. Vani cuma muridnya Mama. Kamu nggak boleh cemburuan begitu sama teman."
"Siapa bilang dia temanku. Aku nggak punya teman seperti dia. Aku juga nggak mau berteman sama dia. Aku benci dia."
Akan percuma bila dinasehati, Mama Lovie lantas berdiri dan menggandeng tangan mungilnya itu.
Latte memang rupawan, dari bayi hidungnya sudah lebih mancung dari hidungnya Lily. Bahkan, manik matanya berkilau kecokelatan. Bulu matanya juga lentik dengan alis mata yang menarik. Berkulit putih dan rambut hitamnya selalu tertata rapi, seperti gaya CEO.
Jam, sudah menunjukan pukul 8 pagi. Acara Olimpiade Matematika di kota Shindong, akan segera dimulai.
Seluruh peserta perwakilan dari setiap sekolah, akan segera menempati tempat duduk mereka.
Acara pembukaan dengan sambutan dari ketua panitia acara dan wali kota Shindong menjadi tamu penting dalam acara ini.
__ADS_1
Papa Richard mewakili Rich, dalam undangan yang tertera sebagai pendukung acara.
Lalu, ada perwakilan dari Hanz Group selaku donatur keuangan, yang tengah menunjang terlaksananya acara ini. Wakil dari Hanz Group adalah, CEO Ronaldo Gi Vanco.
Kemudian, dari penggiat acara ada CEO Rey, selaku perwakilan dari Sheen.
Para pria menawan, sudah duduk di kursinya dan Mama Lovie tampak menanti di luar bersama wali murid.
Sedangkan, para guru pendamping peserta olimpiade matematika, sudah duduk di kursi yang telah di sediakan.
Mama Lovie jadi berdebar. Dulu, sewaktu masih sekolah. Mama Lovie ingin sekali duduk di kursi peserta Olimpiade Matematika. Namun sayang, kepintarannya tidak mumpuni untuk mengejar para temannya.
"Latte sayang, Mama akan berdo'a untuk kamu. Mama akan terus mendukung kamu." Batinnya Mama Lovie, yang sangat senang sekali.
Keturunan, mendiang Mami Raisa akhirnya ada yang menuruni kepintarannya.
Meskipun, putrinya tidak memiliki kepandaian dalam hitung menghitung. Setidaknya, Lovie sudah melahirkan bibit unggul yang tampan nan cerdas. Walaupun, sikapnya masih arogan dan sangat menakutkan dimata orang lain. Termasuk Vanila, murid Bu guru Lovie, yang duduk di sebelah kiri Latte.
"Kenapa dia melihat aku begitu? Apa ada yang salah dengan bajuku?" Batinnya Vani.
Menunduk melihat ke pakaiannya yang ada bekas noda warna. Vani menoleh ke arah Latte dan ia merasa kalau Latte itu, sosok bocah nakal.
Dari tadi, tatapan dingin Latte, sudah menusuk perasaan Vani.
"Aku tidak akan kalah dari dia." Batin Latte yang menggebu-gebu.
Dalam hitungan waktu, kompetisi ini akan segera dimulai.
Tiga
Dua
Satu
Go!!
Panitia acara, sudah berjalan dan memantau di setiap barisan.
Sesi pertama, di kelompok anak usia dini.
Jari jemari dengan lincah menari di lembar soal matematika.
Dalam hitungan 2 menit, sudah ada yang menghentikan timernya.
Ting!
Panitia, langsung mengambil lembar jawaban dan menandai waktu selesainya.
Lalu, ada lagi yang menekan timernya.
Ting!
Ada lagi yang cepat menjawab soal itu.
Ting!
Dalam hitungan menit itu, semua peserta di kelompok anak usia dini, sudah selesai menjawab semua soalnya.
Dari penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian level 1.
Dalam waktu, 3 menit: 28 detik, semua peserta sudah selesai menjawab.
Latte dengan bangga, memasang wajah manis dan sangat menggemaskan. Sang Papa, turut bangga kepada putranya.
Bahkan, layar digital di hadapan sang Papa. Memperlihatkan semua peserta acara ini. Wajah putranya, sama miripnya dengan Papa Richard.
"Yes! Aku jadi yang pertama." Bangganya Latte dan sangat percaya diri.
Para peserta, kemudian berdiri dan meninggalkan meja peserta.
Bergantian, untuk sesi level dua. Sesuai anak usia 6-7 tahun dan seterusnya.
Para tamu undangan, juga melihat sendiri dan mereka yang melihat para perserta lomba. Mereka turut berdebar dan sangat membanggakan.
"Mama."
"Sayang. Lattenya Mama hebat." Mama Lovie kegemesan.
"Aku sayang Mama. Aku sayang Mama."
__ADS_1
Vanila, hanya bisa melihat pemandangan itu dan berjalan mendekati gurunya.
"Sebentar? Apa, kamu tidak lupa memberi nama kamu?"
"Tidak. Semuanya sudah ada nama dan nomornya."
"Owh, begitu. Soalnya, Mama nggak pernah ikutan jadi peserta."
"Anggap saja, yang bertanding Mama. Aku anaknya Mama. Aku lahir dari perut Mama. Iya-kan Mama?"
"Iya Latte sayang. Mama bangga sekali."
Mama Lovie tak henti menciumi putranya. Ia tadi, hanya bisa melihat dari layar lebar. Yang memperlihatkan semua peserta lomba.
Mama Lovie sampai menangis, karena rasa bangganya terhadap putranya ini.
"Mama kenapa menangis?" Jemari kecil itu, mengusap air mata sang Mama.
"Mama bangga sama Latte. Mama bangga sekali. Apapun hasilnya nanti, pokoknya Mama bangga sama Latte."
"Aku pasti juara pertama. Aku tadi yang pertama selesai."
"Iya sayang. Semoga, semua jawaban kamu benar dan tidak ada yang salah."
"Pasti Mama." Latte mencium pipi Mamanya.
"Sayangnya Mama pinter banget sih."
"Aku anaknya Mama. Jelas pintar dong."
Latte berada dalam gendongan Mama Lovie dengan rasa bangganya, Mama Lovie menciumi pipi Latte.
Sampai-sampai Mama Lovie tidak bermake-up dan tidak memakai Lipstik. Hanya demi, bisa menciumi putra tampannya ini.
Kedua tangan Latte mengalungi leher sang Mama. "Aku sayang Mama."
"Mama juga sayang Latte."
Vanila, hanya bisa membayangkan. Kalau dirinya juga punya Mama. Pasti, akan bangga kepada dirinya seperti Mama Lovie.
"Lovie."
"Ron."
Latte mengingat wajah itu, ia berbisik ke telinga sang Mama. "Mama. Orang tua itu yang menabrak aku."
Mama Lovie tersenyum, ia berkata "Latte sayang, ini Om Ron. Temannya Mama. Dia ini, Omnya Violla dari keluarganya Om Rey."
"Aku tidak pernah melihatnya bersama Violla." Balasnya begitu datar.
"Latte. Om Ron ini, kuliah di luar negeri. Om Ron, dulu juga jadi peserta Olimpiade Matematika. Sama seperti kamu sayang."
"Hallo Latte, Om Ron tadi melihat kamu dari layar. Kamu pintar sekali." Ron yang tidak basa-basi mengusap gemas rambutnya Latte.
Latte sepertinya tidak suka dengan cara Ron memperlakukannya. "Om jangan menyentuh kepalaku. Aku bukan anak kecilnya Om. Aku anaknya Mama."
"Om minta maaf ya. Om cuma gemas."
"Latte..."
"Papa."
πΌπΌπΌ
Hallo semuanya π€
Salam kenal dari Othor Vie-GV.
Cerita ini, hanya haluan dari othor saja dan hanya sekedar hiburan semata.
Bukannya othor tidak mau belajar dari tulisan-tulisan yang menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Namun, gaya tulisan othor ya begini saja. Dari awal nulis, juga niatnya untuk hiburan saja.
Bila kalian berkenan baca, silakan. Mohon maklum, bila masih banyak typo dan penekanan tanda baca yang kurang tepat.
Silakan nikmati, tulisannya dari awal sampai nanti selesai.
Silakan, sampaikan komentarnya, sekiranya memang ingin menyapa othor. Atau, ingin meluapkan perasaan, kepada tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita ini.
Terima kasihππ€π
__ADS_1