
^^^1 Bulan kemudian^^^
Suasana siang dengan terik matahari, Lovie yang keluar dari mobil, dan tangan Richard jadi menggandeng erat istrinya.
Istri?
Iya.'
Aku menerima Richard, dengan hati yang aku janjikan.
Saat, dimana dua insan yang berharap bahagia dan memadu kasih bersama. Lalu, di awal inilah, ujian pasangan ini datang mendekat.
Satu bulan yang lalu, kabar itu telah mengagetkan seluruh keluarga Nuca. Bahkan, Richard memilih pergi dan memohon kepada Papi Benny, agar segera menikahkan dirinya dengan putrinya Papi Benny, yang bernama Lovie.
Benar,
Aku akhirnya memantabkan diri dan berani melangkah bersama. Apapun yang akan terjadi nanti. Aku akan selalu menemani suamiku.
"Sayang."
"Kak Richi, tenanglah. Aku akan selalu ada di samping kamu."
"Iya."
Richard yang memang selalu tampil menawan. Kali ini, dirinya dan Lovie memakai busana couple dengan warna biru pastel.
Rumah sakit swasta ternama di kota Shindong. Ada ruangan khusus untuk keluarga Richard dan keluarga Jihan. Semua ini, sangat terjaga, rahasia dan aman. Tidak akan yang tahu, tentang masalah ini. Kecuali, memang orang luar atau anggota keluarga yang berniat buruk kepada mereka, dan menyebarkan kabar ini.
Richard dan Lovie, di dampingi orang tua. Jihan bersama kedua orang tuanya, yaitu Presdir Julian dan Nyonya Delia.
"Richard." Panggilan dari Jihan dan ia merasa akan ada kesempatan bersama Richard, apalagi akan membesarkan anak itu bersama-sama.
Richard tidak mau meladeninya. Dia mau test DNA, juga karena Lovie yang membujuknya. Liciknya Richard, ia mau test DNA asalkan sudah lebih dulu menikahi sang kekasih, Lovie.
Seorang dokter cantik, dan ada seorang profesor pemilik rumah sakit. Beliau ini, dr. Syilla dan Papanya. Yang datang memberikan dokumen.
Hasil test DNA, akan segera di ketahui.
Richard berdebar, telapak tangannya begitu dingin. Lovie bisa merasakan kegelisahan sang suami tercinta.
Lovie menoleh ke wajah itu, Lovie berbisik "Tenanglah, aku disini."
dr. Syilla menyampaikan sesuatu "Di mohon, Tuan dan Nyonya semuanya. Agar tenang. Apapun hasilnya nanti, tolong terima dengan besar hati."
"Baik dokter." Balasnya Presdir Nicholas yang tetap tegar dan tenang.
Nyonya Nancy, semenjak pertama bertemu anak kecil itu. Hatinya masih kecewa, sampai saat ini belum mau menyentuh anak itu, meski sudah tinggal di kediaman mewahnya.
Profesor, sebelumnya menjelaskan tentang genetika. Setelah, surat diberikan. Hasil test ini, 99,99 % menyatakan positif.
Richard dan Jihan adalah orang tua kandung dari anak kecil, yang bernama Lucas.
Richard dan Jihan, adalah orang tua anak yang berusia 4 tahun itu. Yang sudah lama dibesarkan orang luar dan akhirnya mendatangi Richard.
"Daddy." Lirihnya Nyonya Nancy dan dadanya terasa sesak sekali.
"Mommy harus kuat dan kita harus menerima cucu kita."
"Aku akan memikirkannya." Nyonya Nancy memilih keluar dari ruangan ini. Rasanya tidak kuat berlama-lama di ruangan ini.
Nyonya Delia berkata "Aku ingin, Richard menikahi Jihan."
Degh!
Dada Richard sudah bergemuruh, ia berkata "Jihan yang memulai. Bukan aku."
Presdir Julian memegang lengan mantan istrinya, ia berkata "Biarkan Richard yang merawat anak itu. Jihan, memang ingin jadi model."
"Papa, aku tidak begitu." Sahutnya Jihan.
Papanya Jihan melirikan mata kesal, dan berkata "Buktinya, sudah ada di depan mata."
Jihan kesal dan meremas sisi dress yang ia kenakan saat ini.
__ADS_1
Presdir Nicholas berkata "Julian, kita bisa bahas ini di hotel saja. Tidak baik kita berlama-lama di tempat ini."
"Nicholas. Aku tidak bisa. Meski anak itu keturunanku. Tapi Jihan tidak hamil anak itu, aku tidak mau menerimanya sebagai cucu kandungku."
"Papa, kenapa Papa kejam sekali?" Wajah itu, terlihat sangat sendu dan berani menyalahkan sang Papa.
"Kamu sendiri bagaimana, sampai punya pemikiran seperti itu. Kamu yang membuat anak itu, dengan kegilaanmu." Papanya sangat marah padanya, Jihan terdiam dan tidak bisa lagi berkata ini dan itu.
Nyonya Bianca di luar ruang ini, beliau tampak tenang. Suaminya, akan tetap mengikuti ucapannya. Mengingat akan Jihan yang memang tidak mengandung. Apa yang akan orang katakan kepada putrinya. Bisa saja berita itu akan cepat berlalu. Namun, akan terus diingat oleh mereka, orang-orang yang tidak menyukai Jihan.
"Papa, aku akan membesarkan dia."
"Baguslah, kalau begitu. Pergilah dari rumah Papa. Hiduplah dengan anakmu."
Jihan jadi keluar dari ruangan itu dan sudah tampak kesal.
Nyonya Bianca mendekat, ia berkata "Sayang, jangan menangis."
"Mama, Papa tidak mau mengakui cucunya sendiri."
Nyonya Bianca memeluknya dan sudah baper akan suasana ini. Mungkin, beliau hanya berpura-pura empati.
Ada perawat yang lewat membawa obat-obatnya. Jihan mencium aroma yang membuat dirinya seketika mual.
Hoek!
Hoeek!
Jihan menutup mulutnya, rasanya pusing sekali. Sampai kunang-kunang, sepertinya Jihan pingsan.
"Jihan!"
Jihan beneran pingsan dan Nyonya Bianca berteriak. Ini kesempatannya untuk memanfaatkan situasi.
Nyonya Nancy mendengar kabar tidak sedap. Kalau keluarga Jihan menuntut Richard agar menikahi Jihan. Nyonya Nancy jadi kembali ke ruangan, yang tadi telah disiapkan oleh dr. Syilla. Selaku, wakil dari pihak rumah sakit.
Jihan yang terbaring di ranjang pasien dan dr. Syilla sendiri yang memeriksa kondisi Jihan.
"Iya dokter. Minggu lalu, saya juga merasa pusing. Apa saya sakit keras, sampai saya pingsan?"
Pikiran Jihan, sudah mengarah untuk kembali mendekati Richard. Kalau dirinya sakit keras, akan memudahkan dirinya kembali kepada Richard dan akan memanfaatkan anaknya itu.
"Jihan, kamu sedang hamil."
"Hamil??!" Ekspresi yang sangat terkejut dan tidak terima akan ucapan itu.
"Benar, saya juga sudah USG. Ada janin yang sudah berkembang di dalam rahim kamu."
"Nggak! Ini nggak mungkin." Pekiknya Jihan.
Setelah dokter Syilla ke ruangan tempat keluarga berkumpul. Beliau mengatakan tentang kehamilan Jihan.
Spontan, Nyonya Delia bersuara kaget. "Apa dokter?? Jihan hamil???!"
Semuanya, juga terkejut.
"Benar Nyonya. Usia kehamilan jihan sudah 5 minggu." Jawabnya dokter.
Di hitung dari tanggalnya, kaburnya Jihan dari acara pertunangan memang sudah 1 bulan. Ya mungkin, waktu bercinta saat subur-suburnya dan tidak memakai pengaman.
Richard menyunggingkan bibirnya, berkata "Hamil? Seorang model dan ingin terus menjadi model, hamil tanpa suami?"
"Kak Richi." Lovie berusaha melerai suaminya.
"Dulu, dia berkata tidak mau hamil. Aku tetap bisa mengabulkan keinginannya. Lalu, dia mengkhianati aku." Richard tersenyum sinis, ia kembali berkata "Sekarang, dia menunjukan jati diri yang sebenarnya. Seperti itu, kalian semua memojokan aku, agar aku menikahinya. Aku bisa saja mengakui, Lucas. Karena, aku yang membuat masalahku sendiri. Tapi, aku tidak sudi menikahi Jihan."
Presdir Julian hanya bisa terdiam. Nyonya Delia dan Nyonya Bianca, jadi memalingkan wajah mereka.
Nyonya Nancy berkata "Meski aku tidak bisa mengakui Lucas sebagai cucu kandungku, itu karena keturunan kalian. Aku muak mendengar omongan kalian. Aku juga tidak akan membiarkan Richard bertanggung jawab seorang diri."
"Mommy, sudahlah."
"Kalau Julian tidak mau menanggung cucu yang dibuat putrinya itu. Aku juga tidak mau menanggung aib ini sendirian."
__ADS_1
"Mommy."
Saat ini pula, Lucas datang dengan wajah polosnya.
"Mama."
Suara imut nan gemas dan baru kali ini, memanggilnya Mama.
Lucas yang masuk ruangan, berlari mendekati Lovie dan memeluk tangan Lovie.
"Mama."
"Kamu, memanggilku Mama?"
"Iya, Mama."
Lovie memeluknya dengan lembut.
"Mama kenapa ninggalin aku? Bilangnya nggak akan pergi."
Lovie mengelus punggungnya, Lovie berkata "Lucas sayang, ayo kita pergi keluar."
"Mama, mau mengirim aku ke panti asuhan?"
"Siapa yang mengatakannya?"
Lovie menantapnya dengan wajah sendu. Mengelus kepala Lucas dengan gemas.
"Ante, mengatakan itu. Aku nggak mau tinggal di panti asuhan."
Melihat wajah polos itu, Richard juga tidak berani menatapnya. Presdir Nicholas juga memegang tangan istrinya, untuk meredam perasaan istrinya tercinta.
Presdir Julian, Nyonya Delia dan Nyonya Bianca sudah melihat sosok kecil nan tampan ini, begitu menggemaskan. Presdir Julian, dalam hati kecilnya juga tidak tega melihatnya. Namun, nama baik keluarganya sudah tercoreng, karena ulah putri kandungnya.
"Lucas sayang, ayo pergi sama Mama."
"Mama, mau mengantar aku ke panti asuhan?"
"Tidak sayang, kita harus membuat nama baru kamu. Ayo! Kita buat yang bagus."
Lucas mengangguk, karena Lovie sudah menjajikan kepadanya, untuk memberi nama panjang yang bagus.
Talita, sebagai Tante, ia yang dari kemarin sudah mengajari Lucas, agar memanggil Lovie dengan sebutan Mama, dengan begitu Jihan akan melihat sendiri, kalau Lucas memilih Lovie.
"Kak Richi, aku tunggu di luar."
"Iya, jangan jauh-jauh perginya."
"Baik."
Lovie membawa Lucas keluar ruangan itu dan bertemu dr. Syilla. Tadi setelah memberi kabar itu, dr. Syilla menunggu di luar ruangan.
"Lovie, apa kamu mau melihat Jihan dan mengenalkan Lucas padanya?"
"Tante Syilla, Lucas memanggilku Mama. Aku bisa apa? Aku tidak mau menyakitinya."
Talita yang bermain dengan Lucas di pojok ruang tunggu. Lovie melihat keceriaan anak kecil itu, rasanya juga tidak sanggup memberikan kepada Jihan. Jelas-jelas, keluarga Jihan hanya ingin memanfaatkan keadaan. Presdir Julian juga tidak mau mengakuinya, kecuali Richard mau menikah dengan Jihan.
Inilah, yang membuat Richard segera menikahi Lovie. Richard sangat tahu, kalau masalah ini, tidak akan bisa ditangani sendirian. Meskipun, harus memanfaatkan Lovie, dirinya memang tidak mau menikah dengan Jihan. Apapun yang terjadi, Richard tetap tidak mau ada hubungan dengan Jihan. Meski, sekarang ini ada anak yang harus mereka besarkan.
"Tante Syilla, aku harus bagaimana?"
Dr. Syilla mengelus bahunya, beliau berkata "Kamu sudah bisa bersikap dewasa. Apapun, keputusan kamu. Semuanya, akan menerima keputusan itu."
"Ibu mertuaku juga belum bisa menerima kehadiran Lucas. Aku tidak tega, setiap melihat Lucas jadi seperti anak tiri."
"Lovie."
"Aku tidak mau. Kalau Lucas terpisah dari Kak Richi. Sekarang, Jihan hamil. Aku akan menganggap, kalau Lucas anak kandungku, aku akan memberikan nama untuknya. Dia anakku, selamanya dia anakku."
"Baguslah, kalau begitu."
Jihan datang menyahut, "Aku tidak setuju, aku ibunya Lucas."
__ADS_1