Tampan, Hamili Aku!

Tampan, Hamili Aku!
Bogem Mentah


__ADS_3

Suasana malam yang mencekam, saat melihat sorot mata mantan kekasihnya.


Lovie memalingkan wajahnya, saat Damian berjongkok dan menatap wajahnya.


Tangan kirinya menyentuh dagu dan mengangkat wajah Lovie.


"Kamu mau, aku mencium kamu disini." Ucap Damian, suara itu pelan tapi sudah bagaikan api, yang hendak membakar Lovie.


Lovie kembali memalingkan wajahnya.


Saat ini, pukul 9 malam. Hujan sudah reda, namun ada beberapa genangan air di sisi kanan kiri, gadis belia yang terduduk di atas paving basah.


"Ayo, aku akan mengantar kamu pulang."


"Aku tidak mau pulang."


Damian tersenyum, dan sedikit menggigit bibirnya sendiri.


Lovie yang merasa gelisah, membuat Damian semakin tergoda.


"Lovie. Ayo ikut aku."


"Nggak!"


"Ayolah! Jangan sampai aku memaksa kamu."


Suara Damian yang merayu Lovie, malah membuat Lovie membencinya.


"Damian, aku mohon. Kita sudah putus. Kamu sendiri yang mengatakannya."


"Lovie, kamu masih kekanakan. Aku bilang begitu, hanya untuk mengujimu."


"Menguji? Aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan. Cuiih." Lovie berani meludah di depan sang mantan.


"A, kamu memang sepertinya ingin aku bawa paksa." Ucapannya menggelikan.


Lovie menatap wajah Damian, yang sudah berubah garang.


Damian sepertinya sudah tersulut api yang dia buat sendiri. Lovie yang jadi terdiam dan merasa takut padanya.


Damian mencengkeram kedua lengan Lovie dan siap menggendong Lovie secara paksa.


"Lepasin aku! Damian, kamu jahat. Aku benci sama kamu."


Tangan Lovie yang memukul-mukul Damian. Damian sudah menggendong tubuh mungilnya Lovie di bahu kanannya.


"Lepasin aku! Tolong!!" Teriakan Lovie.


"Siapa yang akan menolongmu."


"Tolong!!!" Teriakan Lovie semakin kencang.


Richard yang keluar dari mini market melihat hal itu di depan matanya. Kaleng minuman yang dia pegang di tangan kanannya, jadi tampak penyok.


Richard meremas kaleng itu dan segera meleparnya. Berjalan mengejar pria yang menggendong Lovie.


"Lepaskan calon istriku." Ucap Richard.


Damian menatap sosok dewasa dan ia sesaat memandangi wajah Richard.


"Calon istri??" Damian yang bingung.


Lovie berkata "Kak Richi, bantu aku turun dari sini."


"Lepaskan Lovie. Atau, aku akan menghajar kamu."


Damian jadi tersenyum, ia berkata "Aku kekasihnya Lovie. Kamu pasti hanya bercanda. Mana mungkin, Lovie akan menjadi istrimu. Aku sangat mengenal keluarga Lovie."


"Lepaskan Lovie!!" Richard semakin menggertak Damian.


Damian tersenyum, dan merasa tertantang. "Kalau aku tidak mau, bagaimana?"


"Aku akan_" Belum selasai Richard berkata, genk motor Damian sudah mendekat.


Ada sekitar 12 motor gagah yang dikendarai oleh para pria keren.


Gaya mereka hampir mirip dengan Damian. Yang sok cool, sok asyik dan sok keren.


Memang, Lovie sempat tertarik karena Damian memang sosok cool. Bahkan, dari dulu jadi incaran para remaja. Namun kali ini, Lovie sangat membenci sang mantan.


Apalagi, Lovie pernah melihat Damian yang menjemput Jenny ke sekolah. Membuat Lovie kecewa. Padahal, ada banyak cewek lain di luar sana. Malah terang-terangan, pacaran sama saudara tirinya Lovie.


Damian, mulai menurunkan Lovie dari bahunya. Namun, Damian malah merangkul Lovie dan tidak melepaskannya.


"Kak Richi, pergilah." Pintanya dan Lovie sudah menangis.


"Tidak. Aku akan melawan dia."


Damian tertawa "Kamu berani melawan aku??"


Richard melihat ke sekelilingnya. Bila ia menghajar Damian. Para pemuda itu akan mengeroyok Richard.


"Ayo, majulah. Tonjok aku!"


Damian telah memposisikan wajahnya, agar Richard segera memukulnya.


"Kenapa aku juga malas mengotori tanganku ini." Kilah Richard, tampak tersenyum. Sebenarnya, malas meladeni anak yang masih labil seperti Damian dan para genknya.


"Lovie, lihatlah. Apa pria semacam itu, yang akan menikahi kamu?!" Wkwkwk.

__ADS_1


Damian malah ngakak, dan ia telah menertawakan Richard.


"Tertawalah sepuasnya. Sebelum mulut setanmu itu terluka parah."


"Ayo, lakukan semaumu. Ayo, pukul aku!"


Richard yang tidak mau terbawa emosi, tapi dia sudah terbawa suasana. Bila tidak segera bergerak. Dirinya malah menjadi tontonan para pemuda yang begajulan ini.


Buugh!


Tonjokan yang mengenai rahang pipi Damian. Sampai, Lovie ikut tersungkur.


"Lovie!" Richard mendekat dan memeluk Lovie.


"Kak Richi memang tampan."


Lovie jadi tersenyum, memegang erat kedua lengan Richard.


"Ayo kita pergi." Ucap Richard, yang siap mengangkat tubuh Lovie.


Damian tidak mau menyerah, ia meraih kerah leher Richard dan membalas tonjokannya.


Daash!


"Lovie!"


"Lovie!"


Keduanya tercengang, saat punggung Lovie terkena pukulan.


"Kamu menyakiti Lovie!" Teriakan Richard, dan ia semakin emosi.


Richard melawan balik Damian, semua anak buah Damian mendekat dan sudah membawa alat pukulnya. Dari tongkat bisbol, tongkat golf, dan ada pula yang membawa senjata tajam.


"Ayo, hajar aku!"


"Kak Richi, jangan Kak. Ayo kita pergi saja. Jangan ladeni Damian."


"Takut? Kamu pria dewasa, tapi cemen."


Kedua tangan Richard sudah mengepal dan mereka juga siap-siap menghajar Richard.


Kawasan ini memang sepi, tidak seramai di pusat kota. Hanya beberapa warung makanan yang masih terlihat ramai pelanggan. Namun, mereka tidak pernah menghiraukan anak-anak yang suka membuat kegaduhan di sekitarnya.


Lovie berkata "Kak Richi. Aku baik-baik saja. Ayo kita lari saja."


Sayangnya, ucapan Lovie tidak di dengar oleh Richard. Ia semakin terbawa emosi, saat Lovie terkena pukulan Damian.


"Ayo, tonjok aku!"


Damian sudah tampak menyeringai.


"Bos!"


Para pemuda itu tampak bingung, dan mereka memilih mundur. Damian telah menatap ke 6 pria dewasa, berbadan tinggi nan kekar.


"Kak Richi, mereka siapa?"


"Mereka pengawal pribadiku." Jawabnya Richard.


Damian menatap Richard, ia berkata "Oke, kamu sudah ada bantuan. Kamu masih tidak berani memukul aku?"


"Aku akan memukulmu di depan orang tua kamu." Jawabnya tegas.


"Gila. Pria dewasa aneh." Ledeknya.


"Pulanglah. Sana, mengadu kepada Ayahmu. Kalau aku sudah meninju mulutmu."


Damian, memegang bibirnya yang sudah berdarah. Pipinya jadi lebam kebiruan.


"Lovie, aku akan memberitahu Om Benny. Biar dia sendiri yang melepaskan kamu dari jeratan pria aneh ini." Damian malah necoros.


"Aku tidak mau pulang. Aku hanya ingin bersama Kak Richi." Lovie dari tadi sudah merangkul lengan kiri Richard.


Richard berkata "Aku memang pria aneh. Sampai Lovie, memilih aku."


"Kak Richi, sudahlah. Tidak perlu meladeninya."


"Lovie, kamu harus berhati-hati sama pria seperti dia." Ujar Damian, telunjuk kanannya menunjuk kepada Richard.


"Harusnya, aku yang bilang begitu." Balasnya Richard, yang terdengar kaku.


"Damian, jangan lagi ikut campur urusanku." Ucap Lovie tegas.


Lovie menarik lengan Richard, berjalan pergi.


"Bos, pipimu memar." Ucapnya sang teman genk Damian.


"Tidak masalah." Damian mengelus pipi.


"Apa kita sudah menyerah?"


"Kalian, ikuti kemana Lovie pergi. Jangan sampai kehilangan jejaknya."


"Siap Bos!" Balasnya, dua teman Damian dan langsung bersiap.


Damian, juga dipanggil Bos oleh mereka para pemuda yang suka mengendarai motor gagah. Mereka menyebut dirinya, genk CoKer (Cowok Keren).


Damian jadi tersenyum sendiri dan masih menatap ke arah Lovie berjalan pergi.

__ADS_1


Lovie masih memegang lengan tangan Richard. Sang bodyguard gagah telah membuka pintu mobil untuk Lovie.


"Sana naik ke mobil. Mereka akan mengantar kamu pulang."


"Aku tidak mau. Aku masih ingin bersama Kak Richi."


"Aku akan meminta ijin sama Papi dan Nenek kamu."


"Mereka semua pasti sedang menjaga Nenek di rumah sakit. Tadi itu, aku mengantar Nenek kembali ke rumah sakit."


Melihat wajah polos itu, Richard juga tidak tega. Perlahan, bibirnya Richard jadi tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu bisa pulang ke rumah Mommy."


Lovie tersenyum, ia berkata "Meskipun kita baru mengenal, aku merasa, kalau Kak Richi, orang baik."


"Aku orang baik?"


"Iya."


"Masuklah ke mobil ini."


"Aku mau sama Kak Richi."


"Aku masih ada urusan lain. Kamu akan dijaga sama mereka. Kamu bisa video call Mommy, dari layar yang ada di dalam situ."


"Baiklah kalau begitu." Balasnya Lovie.


Entah kenapa, tangan Richard dengan sendirinya meraih kepala Lovie dan mengecup keningnya Lovie.


Kedua mata Lovie sesaat terpejam dan merasakan kasih sayang dari seorang Richard.


"Kamu akan baik-baik saja."


Lovie hanya mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil sedan mewah warna hitam, milik Nyonya Nancy.


Damian ternyata masih menatap ke arah mereka dan menyaksikan asmara manis dari sang mantan kekasihnya.


"Apa pria itu, beneran kekasihnya Lovie??" Batin Damian penasaran.


Dua orang dari teman Damian, telah mengikuti mobil yang membawa Lovie pergi.


Ada satu mobil dan dua motor gede yang mengawal mobilnya Nyonya Nancy.


"Bos, ayo kita pergi." Ajak temannya Damian.


"Pergilah ke basecamp. Aku harus menemui Papinya Lovie."


"Baik Bos!"


Damian yang mendekati motor gagah warna hitam, tiba-tiba Richard menatapnya.


"Ckckck, anak bau kencur mau melawan aku." Gumamnya Richard.


"Kenapa dia menatap aku? Apa mau duel berdua saja?" Batin Damian, dan ingin menantang Richard.


Richard berjalan ke arah Damian. Lalu, Damian melihat para temannya yang satu persatu pergi meninggalkannya.


"Kamu mau ngapain? Kamu mau menghajar aku? Ayo silakan!!"


"Tidak." Wajah Richard telihat begitu polos.


"Lalu, kamu mau ngapain? Owh, karena temanku semuanya sudah pergi. Kamu mau menghajar aku? Kamu bawa senjata? Kamu mau membunuhku?" Damian malah merasa aneh sendiri.


"Tidak. Untuk apa aku mengotori tangan halusku ini." Richard tersenyum, mengelus telapak tangan kanannya sendiri.


Damian berkata "Kamu ingin membalas pukulanku tadi?"


"Harusnya, kamu yang meninju aku. Kamu tadi, salah sasaran."


Bughh!


Richard membalas lebih kencang.


Buuggh!


Damian sampai tersungkur ke aspal.


"Darah?!" Damian memegang hidungnya yang telah berdarah.


"Itu, tangan kamu. Kamu sudah menyentuh kekasihku." Richard melepaskan jaket dan meleparkan ke badan Damian.


Damian berubah gelisah, seolah dia akan habis dilalap Richard.


"Majulah, aku tidak takut." Damian semakin memancing.


"Benarkah??! Kamu tidak takut sama aku?"


"Teman-temanku belum pergi jauh."


"Mereka, hanya remahan kerupuk."


"Apa maksud kamu??"


Damian mencengkeram kerah baju Richard. Richard mencengkeram leher Damian lebih kencang.


"Tanganmu. Mau kanan dulu? Apa yang kiri dulu?"


"Kamu mau mematahkan tanganku?? Ayahku akan memenjarakan kamu."

__ADS_1


"Benarkah??" Richard memasang senyuman tipis nan sadis.


Tangan Damian, meraih sesuatu.


__ADS_2