
Kedua wajah bertemu. Sorot mata yang berbeda rasa dan pandangan.
Tanpa sadar, tangan Richard sudah membelai rambut panjang Lovie.
"Kalau kamu belum hamil juga. Kamu harus memaksa aku. Seperti waktu di hotel. Tampan, hamili aku!"
Richard, tampaknya sudah jadi meong nakal yang mengeong dan hendak mencari makanan di meja makannya.
"Kenapa aku harus begitu?" Tanya Lovie dan memang masih polos.
"Aku suka, kalau kamu yang meminta seperti waktu di hotel. Kamu manis banget, aku jadi gemes." Jawaban si meong nakal.
"Iya. Nanti aku akan begitu."
"Coba bilang sekarang. Aku mau mendengarnya."
"Nggak mau sekarang. Aku belum mandi."
"Memangnya, kalau kamu bilang begitu, harus mandi dulu?"
Idih, ini siapa yang oon. Richard apa Lovie yang polos.'
"Kita mau bercinta. Lebih baik, kita mandi dulu. Biar badannya segar, stamina oke dan wangi."
"Memangnya, kita mau bercinta?"
"Barusan Kak Richi nyuruh aku bilang, Tampan, hamili aku! Nah, itu tadi aku disuruh bilang begitu."
"Ya cuma bilang saja. Apa salahnya. Aku cuma mau dengar."
"Nggak mau, kalau aku bilang begitu. Berarti, aku mau bercinta."
"Owh, oke kalau begitu. Aku mandi dulu deh."
"Kak Richi."
"Hemm? Apa?"
"Tapi, aku takut."
"Takut?"
"Iya, takut berdarah lagi."
"Kamu tenang saja. Yang kedua nggak bakalan berdarah lagi. Nanti jadi enak."
"Enak? Seperti apa?"
"Nanti, kamu rasain sendiri."
"Tadi, aku cuma ngerasain sakit perih."
Richard meraih kepala Lovie dan lebih mendekat. Secepat kilat, Richard jadi mengecup kening Lovie.
"Istirahatlah. Aku mau pergi dulu. Nanti, aku ajak kamu makan malam di luar."
"Kemana?"
"Ke hotel."
"Nggak mau, aku takut bertemu Papi lagi."
"Terus, kamu akan ngumpet terus disini?"
"Iya, aku akan tetap disini sampai hamil."
Richard tak lagi menahan tawa, ia jadi tertawa gemas. Kemudian, ia berkata "Lovie, Lovie. Hamilnya bakalan lama. Nggak satu dua hari langsung jadi."
"Aku tahu. Paling tidak, dua minggu akan ada hasilnya."
"Mengapa aku merasa kalau Lovie memang gadis polos." Batin Richard sudah mulai terbuka.
"Ya sudah, aku tetap ingin disini. Aku ingin melihat foto keluarga kamu."
"Oke." Balasnya Lovie.
Disaat Lovie menunjukan foto-foto keluarganya. Yang berada di rumah sakit. Malah sibuk menonton berita.
"Anak orang kaya memang suka bertingkah aneh." Ucap sang Nenek.
"Memangnya, aku bukan anak orang kaya ya Nek? Papi juga orang kaya." Celetuk Jerry, suadara tiri Lovie.
Kakak perempuan yang bernama Jenny, jadi menyela obrolan, "Jerry sayang, Papi memang kaya. Tapi, tidak sekaya pemilik Rich."
"Memangnya, cara membedakan orang kaya sama kita gimana? Sama-sama punya rumah mewah dan mobil. Itu, mobil kita juga keren." Balasan dari Jerry.
Kedua orang tuanya sibuk menemui dokter dan kedua remaja ini yang menjaga si Nenek.
"Lovie, apa kamu melupakan Nenekmu?"
Sang Nenek jadi melamun dan Jenny mengganti saluran televisi.
"Semua acara TV sama saja. Kalau viral Hemm. Itu melulu beritanya. Di semua channel begitu semua." Ujar Jenny bawel.
"Kakak, memangnya kalau orang kaya seperti pemilik Rich. Itu orangnya seperti apa?"
__ADS_1
"Ya seperti tadi. Mereka gila. Suka berlebihan. Gara-gara mie instan doang, jadi berlebihan. Aku setiap hari makan mie instan, perutku tidak sakit."
"Emmh. Dia cuma ngeprank. Bikin kejutan sama orang tuanya. Seru juga kalau begitu. Aku jadi kepingin ngeprank Papi. Aku pura-pura saja, ketangkep polisi." Ucap Jerry.
Mendengar hal itu, Jenny jadi naik pitan, ia berkata "Bisa diem nggak. Atau aku sumpel mulutmu pakai pisang ini."
Kebetulan sekali, Jenny sedang menikmati buah pisang madu.
"Iih, cuma ngomong doang. Kakak jadi lebay. Aku cuma mau ngeprank. Apa yang salah dengan ucapanku?"
"Tahu ah, aku mau keluar dulu. Kamu jagain Nenek yang bener."
"Iya. Tapi jangan lama-lama perginya."
Jenny tengah pergi meninggalkan kamar perawatan sang Nenek tiri.
Jerry sibuk dengan ponselnya lagi dan tidak memperhatikan sang Nenek.
"Aku harus mencari Lovie. Aku yakin, Lovie tidak pergi jauh." Ucap sang Nenek dan perlahan turun dari ranjang pasien.
Setelah Lovie kabur dari sang Papi. Si Nenek jadi sakit. Apalagi, mendengar kalau cucu tirinya yang bernama Jenny sempat ditangkap oleh polisi. Kemudian putra dan menantunya ribut. Sampai akhirnya, si Nenek ini pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
Richard keluar dari IGD dan dibawa ke kamar rawat inap. Tidak berselang lama, Neneknya Lovie masuk IGD, di rumah sakit swasta yang sama.
"Lovie dimana?" Gumam si Nenek dan berjalan pergi. Infus yang tadinya masih melekat di punggung tangannya, jadi terlepas begitu saja.
Jarumnya masih menancap, darahnya jadi menetes dan tetap berjalan pergi, sampai tiada yang menemukannya.
"Jerry, Nenek kemana?"
"Nenek, tadi duduk disini."
"Jerr, Nenek kabur dari pintu balkon."
"Mana mungkin?"
"Ayo cari, ayo buruan Jerr."
Jenny mencarinya dan mengikuti jejak darah itu, sayangnya perlahan turun hujan sampai membahasi lantai.
"Aaah, sial. Nenek pakai acara kabur segala. Aku pasti kena omelan Mama lagi. Hissh!" Jenny merasa sebal.
"Papi, Mama. Nenek menghilang." Jerry yang mencari di lorong ruangan inap dan bertemu orang tuanya.
"Nenek menghilang? Apa maksud kamu?" Tanya sang Mama.
Papi Benny tanpa berkata apapun, sudah berlari pergi untuk mencari Ibunya.
"Iya, tadi masih ada. Tahu-tahu sudah pergi lewat balkon."
"Lewat balkon? Kamu serius?"
Nenek sudah pergi dan tidak ada yang menglihatnya. Sudah 15 menit berlalu dan semua petugas keamanan sudah bergerak mencari.
Papi Benny jadi memantau ke arah cctv.
"Pak, apa beliau ini. Ibu anda?"
"Iya, benar Pak."
"Beliau sudah pergi menaiki taxi."
Papi Benny jadi berfikir, untuk melihat rekaman CCTV tadi siang.
"Pak, boleh saya melihat rekaman CCTV tadi siang? Saya tadi kehilangan tas ransel putri saya. Soalnya, saya tadi terlalu fokus pada ibu saya."
"Silakan Pak. Di monitor sebelah. Ini ada rekaman dari jam pagi sampai sore ini."
"Terima kasih Pak."
Papi Benny berkesempatan untuk melihat ke layar monitor. Beliau sudah menghubungi teman detektifnya dan beliau segera mencari Neneknya Lovie.
"Itu, Lovie???" Papi Benny memperjelas bagian itu. Terlihat Lovie yang baru tiba di rumah sakit dan tampak wajah polosnya.
Ia memegang jaket dan menggendong tas ransel di bahu kirinya.
"Lovie. Itu beneran kamu sayang? Siapa wanita tua yang bersamanya?"
Papi Benny meminta ijin kepada petugas di ruang cctv, agar teman detektifnya juga bisa melihat rekaman ini.
1 jam kemudian
"Nenek." Panggilan Lovie.
Sang Nenek menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Lovie."
"Nenek kenapa basah kuyup begini?"
"Lovie, kamu akhirnya datang."
Sang Nenek memeluknya dan Lovie jadi kebingungan sendiri.
__ADS_1
Richard hanya sibuk memegang gagang payungnya.
Setelah menceritakan tentang keluarganya. Lovie ingin makan di tempat langganan bersama Nenek.
"Mie kuah kesukaan kamu. Nenek yakin, kamu pasti datang kesini."
"Nenek, kenapa memakai pakaian ini? Apa Nenek sakit?"
"Ayo duduk, kita makan bersama-sama."
"Nenek, jawab aku. Apa Nenek sakit?"
"Tidak. Aku tidak sakit. Aku cuma kangen kamu." Jawabnya menenangkan.
Lovie melepaskan jaketnya dan menyelimuti badan sang Nenek.
"Ayo pulang saja. Nenek nanti semakin sakit."
"Lovie, kamu belum makan Mie kuah kesukaan kamu."
"Aku lebih mencemaskan Nenek."
Wajah Lovie sudah masam dan tidak lagi berselera, untuk menikmati mie kuah kesukaannya.
"Kak Richi, aku akan mengantar Nenek pulang."
"Kamu yakin??"
"Iya."
"Aku akan temani kamu."
"Tidak perlu. Aku akan segera kembali."
"Baik. Aku mengerti."
Richard sudah terlanjur berada di warung mie tradisional, yang bertuliskan, Mie kuah Min-Ju, mie asal daerah Min-ju, tempat kelahiran Nenek.
"Lovie, aku jadi penasaran sama Mie yang kamu banggakan." Gumam Richard dan jadi memesan satu porsi mie yang sesuai nama. Hanya satu menu mie, yang sangat legendaris di kota Shindong.
Namun, Richard jarang sekali kulineran di tempat-tempat seperti ini. Richard seperti anak rumahan dan makannya juga terjaga. Misalkan, ingin makan di luar, tetap di restoran berbintang lima. Bukan warung kecil dan tampak sepi seperti ini.
"Tuan, ini mie yang anda pesan."
"Terima kasih."
Mencium aroma kuahnya, sudah terasa nikmat
Lovie dan Nenek sudah menaiki taxi. Warung mie tadi, tidak jauh dari sekolahnya Lovie.
"Aku jadi kangen sama Talita. Benar kata Kak Richi, aku harus ke sekolah dan pamitan secara baik-baik. Bukan melarikan diri."
Sang Nenek memegang lengan kanan Lovie dan tidak melepaskannya.
"Nenek, aku pergi cuma sebentar. Kenapa bisa sampai sakit?"
"Kamu kabur, Nenek pikir kamu diculik orang jahat."
"Mana ada yang berani menculik aku."
"Tadi itu, siapa?"
"Itu, pacarku. Apa Nenek tidak suka padanya? Dia tampan, sesuai tipe yang aku inginkan."
"Jangan pacaran. Aku tidak suka. Nanti kamu jadi seperti Jenny, yang nginep di hotel sama pacarnya."
"Nenek tidak perlu cemas. Lagian, kalau aku hamil. Nenek bisa cepat punya buyut."
"Kamu ini, dinasehati malah membalas omongan Nenek."
"Memang benar. Dari pada aku tinggal sama Ibu tiri. Lebih baik, aku tinggal sama keluarga pacarku. Mereka lebih baik, dari pada menantunya Nenek."
"Kamu jangan bilang begitu. Jessika ibu yang baik. Dia pandai merawat anaknya seorang diri. Dia janda sudah lama, tapi dia berjuang sendirian."
"Iya, iya. Terus saja dibanggain."
Keduanya saling memegang tangan dan terdiam tanpa membalas perkataan.
"Seandainya saja, Mami masih ada. Aku dan Nenek tidak akan begini." Lovie menoleh ke wajah sang Nenek.
Sang Nenek berkata "Kalau kamu pergi, aku akan ikut kamu."
"Mana boleh begitu. Nenek yang memilih Ibu Jessika. Ya sudah, Nenek harus mau dirawat sama dia. Seperti keinginan Nenek."
"Kamu makin besar, makin pinter ngelawan orang tua."
"Aku keturunan Nenek. Ya, pastinya mirip sama Nenek."
Sang Nenek jadi tersenyum. Setelah 30 menit perjalanan, mereka tiba di rumah sakit.
"Suster, ini nenek pasien yang tadi kabur."
"Lovie!"
__ADS_1
Lovie kembali pergi berlari dan menaiki taxi.
"Lovie!!!"